
"Hujannya lebat sekali, untung saja kau tidak lupa untuk membawa mantel." gerutu Vallen saat masuk ke dalam rumah Firman.
"Hahahaha tapi kau senang kan menikmati hujan sepanjang jalan bersamaku?"
"Apapun itu, aku sangat bahagia jika bersama denganmu." jawab Vallen sambil terkekeh. Firman pun ikut tersenyum.
"Sebaiknya cepat ganti bajumu, lalu tidur."
"Tidur denganmu lagi kan? Seperti tadi malam."
"Iya tuan putri sayang." jawab Firman yang membuat Vallen tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam rumah kemudian mengganti pakaian mereka, lalu merebahkan tubuh mereka di sofa bed depan televisi.
"Dingin sekali, Firman."
"Mendekatlah, lalu tidur dalam pelukanku." jawab Firman sambil membuka tangannya, melihat tangan Firman yang sudah terbuka, Vallen pun bergegas menubruk tubuh Firman.
"Vallen, hati-hati kau sudah menendang asetku!!" teriak Firman yang membuat Vallen terkekeh.
🥀🥀🥀🥀🥀
JEDERRRR
Hujan masih saja turun dengan begitu deras disertai kilat dan guruh yang menyambar-nyambar. Delia dan Dimas pun saling berpandangan disertai tatapan yang begitu cemas, mereka hanya bisa duduk di dalam pos kamling tersebut dan mengurungkan niatnya ke rumah Firman sampai hujan reda.
"Kita telah mengambil keputusan yang salah, Dimas. Hujan turun dengan begitu deras, bagaimana jika semalaman kita terjebak di pos ini, ini sudah sangat malam dan hujan belum juga berhenti. Bagaimana dengan Shakila jika malam ini dia menangis dan mencariku? Lalu bagaimana dengan ibumu? Apa yang akan dipikirkan oleh ibumu jika kita tidak pulang semalaman dan malah tidur di pos kamling seperti ini?"
"Kau berisik sekali, Delia. Aku tidak mau pulang hujan-hujanan seperti ini. Kau tahu sendiri jika kepalaku sedikit pusing karena pukulan Firman tadi siang, aku tidak ingin sakit di kepalaku semakin bertambah jika kita pulang sambil hujan-hujanan."
"Bukankah kau bisa minum obat sakit kepala, Dimas? Kau jangan terlalu banyak alasan, aku ingin kita pulang secepatnya!"
"Tapi kita tidak boleh membuang kesempatan begitu saja, Delia."
"Kita bisa melakukannya besok pagi, coba kau pikir dengan akal sehatmu, jika aku pergi malam-malam saat sedang hujan seperti ini hanya untuk meminta maaf dan memberikan mereka makanan, itu justru akan membuat mereka curiga."
Dimas lalu mengernyitkan keningnya.
"Kau benar juga, jika kita terlalu memaksakan diri di saat hujan deras seperti ini, tentu akan membuat mereka curiga."
__ADS_1
"Jadi, lebih baik kita pulang sekarang saja, aku sudah sangat kedinginan, Dimas."
"Baik, baik Delia. Kita pulang sekarang, ayo cepat naik." kata Dimas yang mulai menaiki motornya. Delia pun kemudian membonceng Dimas menaiki motor tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di rumah Dimas dengan tubuh yang basah kuyup.
HATCHI HATCHI
"Kau kenapa Delia? Apa kau flu?"
"Mungkin, tubuhku sebenarnya tidak terlalu kuat jika terkena hujan, itulah sebabnya aku mengajakmu untuk pulang."
"Oh lebih baik kau langsung berganti baju lalu minum saja obat flu yang ada di nakas sebelah tempat tidurku, aku ganti baju ke belakang dulu, jangan lupa kau ambilkan juga obat itu untukku lalu taruh di atas nakas."
"Iya." jawab Delia sambil berjalan meninggalkan Dimas.
"Obat flu nya ada di laci kedua di nakas sebelah tempat tidurku, kau jangan sekali-kali membuka laci pertama." tambah Dimas lagi saat Delia sudah berlalu meninggalkan dirinya.
"Apa yang Dimas katakan? Aku tidak terlalu jelas mendengarnya."
"Di laci ke berapa Dimas?"
'Oh ya, di laci pertama.' gumam Delia.
"Kau jangan sekali-kali membuka laci pertama Delia." jawab Dimas tapi Delia telah berlalu. Dia berjalan ke kamar Dimas lalu mengganti pakaiannya, kemudian mengambil sebuah botol yang berisi beberapa tablet obat berwarna putih.
"Ini pasti obat flu nya, aku masih ingat Dimas menyuruhku untuk mengambil obat ini di laci pertama." kata Delia sambil menaruh satu tablet obat tersebut di atas nakas untuk Dimas.
"Lebih baik sekarang aku tidur agar aku tidak sakit, biar saja Dimas mengambil obat ini sendiri." kata Delia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang di samping Shakila yang sudah tidur dengan begitu lelap. Beberapa saat kemudian, Dimas pun masuk ke kamar itu.
"Sudah kau ambilkan obat untukku, Delia?"
"Sudah kutaruh di atas nakas." jawab Delia sambil memejamkan matanya.
Dimas kemudian mengambil obat tersebut lalu meminumnya. Dia kemudian berjalan keluar dari kamarnya untuk tidur di kamar tamu seperti biasanya saat Delia dan Shakila tidur di rumah mereka.
"Kenapa tiba-tiba panas sekali?" gerutu Delia. Dia kemudian bangun lalu duduk di atas ranjang sambil membuka kimono pada baju tidurnya.
"Kau kenapa, Delia?" tanya Dimas saat melihat Delia yang kini terlihat duduk di atas ranjang. Dia lalu mengurungkan niatnya keluar dari kamar itu kemudian berjalan mendekati Delia.
__ADS_1
"Dimas, aku tidak tahu kenapa aku seperti ini, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku."
"Kau kenapa?"
"Entahlah, rasanya panas sekali."
"Apa perlu kudinginkan AC nya?"
"Ya." jawab Delia yang kini mulai mengikat rambutnya hingga terlihat leher mulusnya. Dimas pun mengambil remote AC yang terletak di dekat Delia kemudian menurunkan suhu di ruangan tersebut.
Melihat Delia yang kini memperlihatkan lekuk tubuhnya, perasaan Dimas pun semakin tak menentu. Jantungnya pun kian berdegup semakin kencang, Dimas pun mulai tidak bisa mengendalikan ha*rat yang kini telah menguasai jiwanya. Setelah menaruh remote AC tersebut, Dimas pun mendekat ke arah Delia yang kini masih duduk di atas tempat tidur karena menahan perasaan tak menentu yang begitu berkecamuk di dalam dadanya.
'Kenapa tiba-tiba aku seperti ini? Kenapa rasanya aku sangat menginginkan Dimas.' gumam Delia yang melihat Dimas mulai mendekat ke arahnya.
"Delia." panggil Dimas yang kini duduk di depan Delia di atas ranjang. Perasaan Delia pun semakin tak menentu.
'Oh tidak, kenapa aku sangat menginginkannya?' gumam Delia dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar. Dimas kemudian membelai wajah Delia yang membuat dirinya semakin terbuai pada sentuhan Dimas.
"Delia, malam ini aku begitu menginginkanmu." kata Dimas sambil membelai wajah Delia.
"Aku juga." jawab Delia sambil menganggukkan kepalanya.
"Benarkah?"
"Iya Dimas."
Perlahan Dimas pun mulai mendekatkan wajahnya pada Delia kemudian mencium bibirnya dengan begitu bergairah.
"Delia, kau begitu menggairahkan." kata Dimas sambil menanggalkan pakaian Delia satu per satu hingga menyisakan sebuah pakaian dalam berenda warna hitam yang semakin membuat hasrat Dimas semakin menggebu-gebu. Dia kemudian menikmati seluruh bagian tubuh Delia yang membuat Delia mengeluarkan de*ahan dan e*angan yang semakin membuatnya bernaf*u, kini keduanya pun tenggelam dalam permainan panas disertai e*angan dan de*ahan yang memenuhi seluruh bagian sudut kamar.
🥀🥀🥀🥀🥀
"Ini sudah pagi, tapi kenapa Delia belum keluar dari kamar Dimas?" kata Fitri sambil berjalan ke kamar Dimas. Namun betapa terkejutnya Fitri saat membuka kamar itu dan melihat Dimas dan Delia yang tidur berpelukan di atas ranjang dengan tubuh telanjang yang hanya tertutup oleh selimut, seketika dia pun berteriak.
"DIMAS APA-APAAN INI!!! BUKANKAH SUDAH KUKATAKAN JIKA KAU MALAM INI TIDUR DI KAMAR TAMU, BUKAN DI SINI!! KAU SUDAH SALAH KAMAR DIMAS!! KALIAN HARUS SECEPATNYA MENIKAH!!!" teriak Fitri yang begitu menggema di seluruh sudut rumah.
NOTE:
Judulnya aja Salah Kamar jadi tetep ada adegan Salah Kamar ya dear 😉
__ADS_1