Salah Kamar

Salah Kamar
David


__ADS_3

"Untuk apa kau kesini? Bukankah hubungan kita sudah selesai?" bentak Stella.


"Stella, maafkan aku. Aku tak bermaksud mengakhiri semua ini, tapi..."


"Tapi apa? Kau meninggalkanku dan menghilang tanpa kabar, kau tidak tahu betapa hancurnya diriku saat itu."


"Maafkan aku Stella, aku tidak bermaksud menyakiti dirimu, tapi aku terpaksa melakukan itu semua karena orang tuamu,"


"Apaaaa? Apa maksudmu David?"


"Ya, Mamamu sudah tahu hubungan kita, dia tahu kau berselingkuh denganku."


"Bagaimana mungkin? Bukankah Mama masih berada di New York?"


"Iya Mamamu memang masih berada di New York tapi dia memiliki mata-mata yang mengawasi gerak-gerik kita beberapa bulan terakhir."


"Ja.. Jadi Mama sudah tahu hubunganku denganmu?"


"Iya Stella, anak buah Mamamu datang ke kantorku dan mengancamku untuk menjauhimu, awalnya aku tidak mempedulikan mereka namun semakin lama teror yang mereka lakukan padaku semakin menggangguku bahkan juga keluargaku. Mamamu sangat takut kau bercerai dari Revan jika kita terus berhubungan."


"Lalu, kau meninggalkanku begitu saja tanpa alasan? Kau benar-benar lelaki yang kurang ajar, David! Tega sekali kau melakukan semua itu padaku!"


"Bukankah sudah kukatakan jika Mamamu mengancam keselamatan keluargaku, karena itulah aku terpaksa meninggalkanmu!"


"Lalu kenapa kau sekarang kembali lagi padaku?"


"Karena aku masih mencintaimu, Stella. Aku tidak bisa hidup tanpamu, satu bulan terakhir ini hidupku benar-benar menderita tanpa kehadiranmu."


"Heh, bukankah kau lebih takut pada ancaman Mamaku? Kenapa tiba-tiba kau datang sekarang setelah membuat kehidupanku hancur!"


"Aku tidak takut dengan ancaman Mamamu karena aku sudah memiliki jabatan Stella, Bukankah itu yang orang tuamu mau? Dia tidak merestui hubungan kita karena dulu aku hanyalah seorang dokter biasa. Beberapa hari yang lalu aku resmi menjabat sebagai direktur rumah sakit, Stella. Sekarang aku sudah tidak takut dengan semua ancaman mereka, karena kini aku sudah memiliki segalanya."


Stella hanya melihat David yang berbicara dengan begitu berapi-api dengan tatapan tajam. "Lalu, apa yang kau inginkan?"


"Kembalilah padaku, Stella. Ceraikan suamimu yang tidak kau cintai itu, lalu kita lanjutkan hubungan kita kembali. Menikahlah denganku, Stella."


Stella begitu terkejut dengan yang dikatakan David. "Menikah?"


"Ya menikahlah denganku." kata David sambil menggenggam tangan Stella.


"Tidak, aku tidak mau! Mudah sekali kau memintaku untuk kembali padamu setelah kau mencampakan aku begitu saja! Memangnya kau pikir aku barang yang bisa kau dapatkan sesukamu?"

__ADS_1


"Tapi Stella, aku masih sangat mencintaimu!"


"Tolong lupakan aku karena aku kini sudah kembali pada suamiku! Dan jangan pernah sekali-kali kau mengganggu kehidupanku, David!" kata Stella sambil meninggalkan David dan berjalan menuju kamar.


"Stellaaaa... Stellaaaa." teriak David berulang-ulang yang tidak diindahkan oleh Stella.


David akhirnya meninggalkan rumah itu dengan kekecewaan dan rasa sakit yang memenuhi isi hatinya. Dia lalu berjalan ke arah mobil dengan langkah gontai sambil terus menatap rumah Revan.


'Suatu saat kau pasti akan kembali padaku, Stella, seperti janji kita untuk hidup bersama sampai maut memisahkan.' gumam David sambil menghapus air mata di ujung matanya.


Stella masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang begitu campur aduk, di dalam hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia masih sangat mencintai David, namun ego nya membuat dia mengindahkan rasa cinta itu dan memilih untuk mendapatkan cinta dari Revan.


"Tidakkk... Aku tidak ingin kembali pada David, jika aku kembali pada David, itu sama saja aku menyerah pada wanita ja*ang seperti Giselle! Enak saja aku sampai bisa dikalahkan oleh wanita miskin yang tidak sepadan denganku!" kata Stella di dalam kamar sambil menatap kepergian David dari rumah itu.


***


Calista tampak memarkirkan mobilnya di sebuah rumah sakit. Kemudian dia dan Rima turun dari mobil dengan sedikit tergesa-gesa.


"Ayo Kak, sepertinya kita sudah terlambat." kata Rima setelah keluar dari mobil.


"Aduh Rima, kalau saja kamu mau melanjutkan kuliah tentu kamu tidak usah repot-repot mendaftar pekerjaan seperti ini." gerutu Calista saat masuk ke dalam rumah sakit.


"Iya... Iya terserah kamu saja."


"Sepertinya itu ruang interviewku."


"Oh iya coba kau masuk Rima, aku tunggu di sini ya." kata Calista.


"Iya Kak, tunggu aku."


"Semoga berhasil." kata Calista sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Calista lalu duduk di sebuah kursi panjang di dekat ruangan tempat Rima melakukan interview. Dia lalu mengambil ponselnya kemudian tampak sibuk mengirim pesan pada Leo sambil sesekali tersenyum dan menutup mulutnya. Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah tepukan di bahunya.


"Stella." kata seseorang yang menepuk bahunya. Calista lalu mengalihkan pandangannya dari ponselnya kemudian beralih menatap seseorang yang kini berdiri di sampingnya.


Laki-laki itu pun terkejut saat melihat Calista, dia sedikit terlihat salah tingkah karena ternyata dugaan dia salah. "Eh em maaf sepertinya saya salah orang, saya pikir anda teman saya." kata laki-laki itu gugup.


"Oh tidak apa." jawab Calista sambil tersenyum.


"Sekali lagi, saya minta maaf, permisi." kata laki-laki itu sambil tersenyum kemudian meninggalkan Calista yang masih sibuk menatapnya.

__ADS_1


"Apa dia bilang? Stella? Hih jangan-jangan yang dia maksud Stella mantan istri Revan. Enak saja aku disamakan dengan wanita menjijikan seperti dia." gerutu Calista sambil menatap laki-laki itu yang kini berjalan menjauhinya.


"Sial kenapa bayang-bayang Stella selalu saja muncul dalam pikiranku!" umpat laki-laki itu sambil masuk ke dalam sebuah ruangan dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa dan tiba-tiba dia pun menabrak seorang.


BRUUUGGHHH


"Maaf saya sedikit tergesa-gesa." katanya pada seorang wanita yang ditabraknya.


"Oh tidak apa, saya juga sedikit ceroboh karena tidak terlalu memperhatikan sekitar saat berjalan."


"Iya, saya permisi dulu."


"Iya." jawab wanita itu kemudian berjalan keluar ruangan, namun saat akan melangkahkan kakinya, sesuatu yang dia injak di bawah kakinya terasa begitu mengganggu."


"Apa ini." katanya sambil mengambil sebuah name tag di bawah kakinya.


"Mungkin milik laki-laki yang menabrakku tadi, lebih baik kukembalikan." Namun saat dia membalikkan badannya, dan mencari lelaki yang menabraknya, lelaki itu kini sudah tidak terlihat.


"Ya sudah lebih baik kubawa saja dulu, besok-besok akan kukembalikan lagipula mulai besok aku kan sudah bekerja di rumah sakit ini." katanya sambil keluar dan berjalan mendekat pada seseorang yang kini sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Kak Calista."


"Udah selesai Rim?"


"Udah." jawab Rima sambil tersenyum.


"Terus gimana?"


"Alhamdulillah, akhirnya aku diterima kerja di sini." jawab Rima sambil sedikit berteriak.


"Syukurlah, Alhamdulillah Rim." jawab Calista sambil memeluk Rima.


"Awwwww." teriak Calista saat melepaskan pelukannya karena bajunya tersangkut sebuah benda.


"Apa itu Rim?" tanya Calista sambil menarik baju yang tersangkut di benda itu.


"Oh maaf kak, bajumu jadi tersangkut ya? Ini name tag, tadi aku bertabrakan dengan seseorang dan name tag ini terjatuh, jadi aku menyimpannya dan akan kukembalikan besok saat aku bertemu dengannya lagi."


"Oh ya udah, kita pulang yuk." kata Calista sambil menarik tangan Rima.


"Ayo." jawab Rima sambil melihat name tag yang ada di tangannya bertuliskan sebuah nama dr David Yudha Pradana.

__ADS_1


__ADS_2