Salah Kamar

Salah Kamar
Taksi Online


__ADS_3

Darah segar pun kini mengalir di wajah Rima. "Ilham, sakit." kata Rima sambil memegang kepalanya.


"Tidak usah mengeluh, itu hanyalah luka kecil."


"Tapi sakit sekali Ilham."


"Dasar manja, lebih baik kau membeli kain kasa dan betadine untuk mengobati kepalamu itu!" bentak Ilham sambil meninggalkan Rima dan masuk ke dalam kamarnya.


Dengan bersusah payah, Rima kemudian bangkit. "Apa masih ada apotik yang buka di dekat sini? Tapi jika tidak diobati rasanya sakit sekali."


Dia lalu mengambil sebuah sapu tangan untuk menekan bagian kepalanya yang terluka agar darah berhenti mengalir. Setelah itu dia lalu keluar dari rumah dan mulai berjalan menggunakan tongkat.


Setelah berdiri di tepi jalan, Rima kemudian mengambil ponselnya untuk memesan taksi online. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil pun berhenti di depannya. Baru saja kaca mobil tersebut dibuka, Rima sudah membuka pintu mobil kemudian naik ke dalamnya.


'Ini pasti taksi online pesananku.' kata Rima saat memasuki mobil tersebut dan bergegas memasukan ponsel ke tasnya.


"Ke apotik ya Pak, alamat sesuai order."


Laki-laki itu kemudian mengangguk, sesekali dia memandang ke arah cermin untuk mengamati Rima yang kini tampak begitu kesakitan.


"Anda baik-baik saja?"


"Ya, kepala saya hanya terbentur."


"Tapi banyak sekali darah yang keluar di kepala anda, saya juga melihat robekan yang cukup dalam di kepala anda. Lebih baik saya mengantarkan anda ke rumah sakit saja."


"Oh tidak perlu." jawab Rima sambil memegang kepalanya.


"Tapi jika pendarahan itu tidak dihentikan anda bisa pingsan karena kehilangan banyak darah."


Mendengar perkataan laki-laki itu, Rima pun mulai bimbang.


"Bagaimana Nyonya, saya antarkan anda ke rumah sakit saja ya." kata laki-laki itu. Perlahan Rima pun menganggukkan kepalanya.


"Bagus, luka anda memang seharusnya diobati." kata laki-laki itu.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit dan Rima langsung mendapat perawatan di ruang UGD. Lelaki itu pun menunggu di samping Rima sambil menanyakan keadaan Rima pada dokter yang sedang menanganinya.


"Bagaimana dok?"


"Lukanya cukup dalam dan banyak sekali darah yang sudah dikeluarkan. Lebih baik Nyonya Rima dirawat disini dulu, saya akan memberikan infus untuknya agar kondisinya tidak terlalu lemah. Setelah infus itu habis, anda boleh membawanya pulang."


"Baik dok, terimakasih banyak."


Dokter tersebut lalu meninggalkan Rima sendirian bersama lelaki yang menolongnya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak."


"Tidak apa-apa."


"Anda bisa meninggalkan saya sekarang, bukankah anda pengemudi taksi online? Jika anda menunggu saya disini pekerjaan anda akan terganggu."


Lelaki itu pun kemudian tersenyum. "Aku bukanlah pengemudi taksi online."


Rima pun kemudian menutup mulutnya. "Oh maaf, mobil anda tadi tepat berhenti di depan saya, jadi saya mengira anda adalah taksi online yang saya pesan. Sekali lagi saya minta maaf."


"Tidak apa Rima, mungkin saya memang pantas menjadi supir taksi online seperti yang anda pikirkan. Hahahaha."


Rima pun kemudian ikut tertawa mendengar perkataan lelaki itu. "Hei, anda sudah mengenal saya tapi saya belum mengenal anda. Siapa nama anda?" tanya Rima.


"Drey."


"Wow, nama yang bagus sesuai dengan wajah anda yang sepertinya memiliki darah campuran."


Drey pun kemudian tersenyum.


"Lebih baik anda tidur, ini sudah masuk dini hari. Besok saat anda terbangun, infus itu pasti sudah habis dan anda bisa segera pulang."


"Baik Drey, terimakasih."


🍀🍀🍀🍀


"Rima, apa kau sudah membelikan aku sarapan?" teriak Ilham karena melihat Rima yang tidak ada di sampingnya.


"Rima..." panggil Ilham kembali.


Namun tak ada jawaban. Dia lalu bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah meja makan. "Tidak ada makanan?"


"Dasar wanita bodoh, tidak bisa diandalkan!" gerutu Ilham sambil berjalan di dalam rumah untuk mencari Rima. Namun Ilham tidak menemukan Rima di dalam rumah itu.


"Dasar wanita sialan! Kemana dia?" kata Ilham lagi.


Tiba-tiba saat itu juga dia mendengar suara ketukan pintu. 'Untuk apa Rima mengetuk pintu di rumah ini! Dasar wanita bodoh!' kata Ilham dalam hati sambil berjalan ke arah pintu.


"Kau kemana saja Rima?" bentak Ilham saat membukakan pintu. Namun begitu terkejutnya dia saat melihat yang berdiri di depan pintu adalah Leo dan Calista.


"Emh.. E.. Leo, Calista. Ada apa kalian pagi-pagi datang ke sini?" kata Ilham dengan gugup.


Leo dan Calista pun berpandangan sambil mengerutkan kening mereka. "Memangnya Rima kemana Ilham?" tanya Calista.


"Ri..Rima sedang membeli sarapan untukku." kata Ilham sambil menyembunyikan rasa takutnya.

__ADS_1


"Membeli sarapan? Kenapa kau tega sekali membiarkan istrimu membeli sarapan untukmu."


"Memangnya kenapa Calista, dia istriku."


"Ilham, kemarin Calista bercerita padaku jika Rima mengalami retak di kakinya, jadi pagi ini aku datang kesini untuk melihat keadaannya. Tapi ternyata kau benar-benar membuatku merasa terkejut, Ilham. Rima sedang sakit, kenapa kau tega menyuruh dia membelikan sarapan untukmu di luar? Membayangkan dia berjalan saja itu pasti sudah sangat sulit, apalagi berjalan jauh untuk membelikan sarapan untukmu." kata Leo sambil menatap tajam pada Ilham.


"Tapi Leo, Calista, Rima sendiri yang menginginkan untuk membelikan sarapan untukku padahal aku sudah menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah saja."


"Benarkah seperti itu Ilham? Kau memperlakukan Rima dengan baik kan?"


"Ya tentu saja, aku selalu memperlakukan Rima sebaik mungkin. Lebih baik sekarang kalian masuk dulu sambil menunggu Rima, bukankah hari ini akhir pekan, kalian pasti memiliki banyak waktu hari ini."


Leo dan Calista pun kemudian mengangguk. Mereka lalu duduk di sofa sambil menanti Rima. Hampir setengah jam lamanya mereka menunggu, tetapi Rima tak kunjung terlihat batang hidungnya.


"Ilham, sebenarnya Rima pergi kemana?" tanya Leo yang mulai curiga.


'Breng*ek! Sebenarnya kemana perginya wanita ****** itu.' kata Ilham dalam hati.


"Kenapa kau diam Ilham? Memangnya kemana Rima pergi?" tanya Calista saat melihat Ilham yang kini terlihat mulai bingung.


"Sebentar, biar kuhubungi." kata Ilham kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Rima. Namun ponsel Rima sekarang sudah tidak aktif.


"Tidak aktif." kata Ilham lagi.


Calista dan Leo pun semakin cemas melihat tingkah Ilham. Calista lalu berbisik di telinga Leo. "Aku takut sesuatu terjadi pada Rima, Leo."


Leo pun mengangguk. "Aku juga Calista."


Disaat itu pula tiba-tiba pintu rumah pun terbuka. Tampak Rima membuka pintu rumah dibantu oleh seorang lelaki blasteran di sampingnya.


"Rima kau kemana saja? Ada apa dengan kepalamu?" tanya Calista yang langsung mendekat padanya disertai raut wajah yang begitu cemas.


"Anda siapa?" tanya Calista pada Drey.


Rima pun hanya terdiam, dia lalu melirik pada Ilham yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.


"Emh maaf jika saya sudah lancang, tadi malam saya bertemu Rima saat dia sedang memesan taksi online, dan dia mengira saya adalah pengemudi taksi online yang dia pesan. Melihat keadaan Rima dengan luka robek di kepalanya, saya lalu saya berinisiatif membawanya ke rumah sakit. Itu saja, jadi tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak pada kami."


Leo pun mendekat ke arah lelaki itu. "Terimakasih banyak." kata Leo.


"Tidak apa-apa, kita harus saling menolong. Saya permisi dulu." kata lelaki itu kemudian pergi dari rumah kontrakan Ilham.


Leo pun kemudian berbalik menatap pada Ilham.


"ILHAM SEBENARNYA APA YANG TELAH TERJADI? KAU MENGATAKAN JIKA RIMA MEMBELIKAN SARAPAN UNTUKMU TAPI TERNYATA DIA BARU SAJA PERGI DARI RUMAH SAKIT DENGAN LUKA ROBEK DI KEPALANYA!" Bentak Leo pada Ilham.

__ADS_1


Seketika wajah Ilham pun memuncat.


"Emmm.. Itu.."


__ADS_2