Salah Kamar

Salah Kamar
Seumur Hidup


__ADS_3

"Tidak ada kata terlambat Vallen, selama aku masih bernafas, aku akan mengejar cintamu sampai kapanpun." kata Firman kemudian berjalan mengikuti Vallen keluar dari rumah sakit.


Vallen beberapa kali memalingkan wajahnya ke belakang.


"Astaga, dia di belakangku." kata Vallen sambil mempercepat langkahnya. Dia kemudian berlari menuju mobilnya lalu bergegas meninggalkan rumah sakit. Saat di dalam mobil, beberapa kali Vallen melihat ke spion mobilnya dan melihat Firman yang membuntuti di belakangnya.


"Laki-laki sombong itu juga membuntutiku, mau apa dia sebenarnya." gerutu Vallen sambil menatap Firman yang masih menaiki motor di belakang mobilnya.


Setelah sampai di rumahnya, bergegas Vallen memasukkan mobilnya ke dalam garasi kemudian keluar dari mobil dan langsung masuk ke kamarnya lalu mengintip Firman yang kini berada di depan rumahnya.


"Semoga dia tidak nekad menemuiku ke dalam rumah ini." kata Vallen sambil menggigit bibir bawahnya.


Sementara Firman yang baru saja sampai di depan rumah Vallen mengamati rumah minimalis dua lantai dengan halaman yang tidak terlalu luas itu sambil memarkirkan motornya.


"Jadi ini rumah Vallen." kata Firman sambil duduk di depan pos kamling yang ada di depan rumah tersebut.


"Hei apa itu, kenapa ada gorden yang bergerak-gerak di salah satu kamar di atas?"


Firman pun kemudian tersenyum, dia kemudian melambaikan tangannya mengarah pada kamar tersebut. Vallen yang sedang mengamati Firman pun begitu terkejut saat melihat Firman melambaikan tangan ke arahnya.


"Astaga, kenapa dia melambaikan tangannya padaku? Apakah dia tahu aku sedang mengamatinya?" kata Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar.


Sementara Firman pun semakin terkekeh.


"Vallen, aku tahu kamu sedang mengamatiku di balik gorden itu." kata Firman sambil tersenyum. Dia lalu mengambil ponselnya kemudian masuk ke aplikasi online food.


"Lebih baik sekarang aku mandi saja, bisa-bisa dia semakin besar kepala jika aku terus mengamatinya." gerutu Vallen kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi saat sedang mengeringkan rambutnya, tiba-tiba pintu kamar Vallen terbuka.


"Mama, ada apa ma?" tanya Vallen yang mulai dilanda cemas karena takut Firman akan menemui mamanya.


"Vallen, ini ada kiriman paket untukmu." kata Nurma sambil memberikan sebuah paper bag pada Vallen.


"Terimakasih ma."


"Dari siapa sih? Apa kamu sudah punya pacar baru?"


Vallen pun tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Belum, ma."

__ADS_1


"Ya sudah, mama ke bawah dulu. Mau menyiapkan makan malam."


"Iya ma."


Vallen kemudian mengambil satu kotak kardus karton di dalam paper bag, lalu membuka isinya yang berupa beberapa cup cake yang bertuliskan I ❤️ U VALLEN. Vallen pun tersenyum. Dia kemudian berjalan ke arah balkon kamar lalu mengintip Firman yang masih duduk di pos kamling itu sambil menatap ke arah kamarnya.


"Tidak semudah itu laki-laki sombong." gerutu Vallen.


"VALLEN!!! Makan dulu Nak!!" teriak Nurma dari lantai bawah.


"Iya ma." jawab Vallen kemudian berjalan ke meja makan. Nurma dan Stella pun kini sudah duduk di meja makan tersebut.


"Kak David belum pulang?" tanya Vallen saat duduk di samping Stella.


"Belum, ada meeting mendadak tadi sore."


"Oh."


Saat Vallen sudah menghabiskan makan malamnya, tiba-tiba David masuk ke dalam rumah dengan begitu tergesa-gesa.


"Ada apa Kak?"


"Di luar hujannya deras sekali, Vallen."


"Iya."


"Mungkin tidak terdengar Vallen, mama lupa belum mematikan televisi jadi suara hujannya tidak terdengar."


"Oh ya, mungkin saja. Aku sudah selesai makan, aku naik ke atas dulu." kata Vallen kemudian meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.


"Astaga, apakah laki-laki sombong itu masih di sana?" kata Vallen sambil berjalan ke arah balkon. Dia lalu melihat Firman yang masih duduk di pos kamling sambil menatap ke arah jendela kamarnya.


"Laki-laki sombong! Angkuh sekali dirimu!" gerutu Vallen kemudian mengambil ponselnya, dia lalu membuka blokiran pada nomor Firman kemudian meneleponnya.


[Halo Vallen.]


[Hai laki-laki sombong, lebih baik kau pulang sekarang. Hujannya sangat deras, bukankah besok kau juga harus masuk kerja, kau baru saja mendapat pekerjaan, memangnya kau mau dipecat begitu saja.]


[Ternyata kau masih memperhatikan aku.] kata Firman sambil terkekeh.


[Tidak usah terlalu percaya diri, aku melakukan ini semua bukan karena aku masih mencintaimu, aku hanya tidak ingin aku disalahkan jika sesuatu terjadi padamu.]

__ADS_1


[Tidak ada yang akan menyalahkanmu karena aku melakukan ini atas kemauanku.]


[Dasar laki-laki sombong, hujannya besar sekali Firman.]


[Tidak, sebelum kau mau menemuiku.]


[Dasar keras kepala!!] Bentak Vallen. Perasaannya kini begitu cemas.


"Oh Tuhan, aku tidak mau sesuatu terjadi padanya." gerutu Vallen sambil mengusap kasar wajahnya.


"Aku harus bagaimana? Bukankah tadi dia bilang baru mau pulang setelah aku menemuinya. Baiklah kalau begitu lebih baik aku menemuinya saja." kata Vallen lalu keluar dari kamarnya kemudian berjalan mengendap-endap di dalam rumah menuju ke pintu depan agar Nurma dan Stella yang sedang menonton televisi tidak melihatnya. Perlahan Vallen membuka pintu rumah lalu keluar dari rumahnya dan berlari menuju ke pos kamling. Firman yang melihat Vallen yang tampak begitu cantik mengunakan baju tidur dengan payung di tangan kanannya saat sedang berjalan menghampirinya dengan sedikit tegesa-gesa pun tersenyum.


"Akhirnya kau datang."


"Hujannya lebat sekali, lebih baik kau pulang saja."


"Tidak, sebelum kau memaafkan aku."


"Kau benar-benar keras kepala."


"Maafkan aku Vallen."


"Aku belum bisa, tolong jangan memaksaku. Bukankah tadi kau bilang jika aku menemuimu maka kau akan pulang? Sekarang aku sudah menemuimu, lebih baik kau pulang sekarang." kata Vallen sambil menatap Firman dengan begitu sinis. Namun Firman hanya tersenyum, dia kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Vallen, kemudian memeluknya.


"Vallen, aku sangat merindukanmu. Aku ingin kita bisa kembali bersama, aku begitu kehilangan dirimu. Maafkan aku, aku sangat mencintaimu Vallen." kata Firman sambil memeluk dan membelai rambut Vallen.


Vallen pun hanya bisa menangis dengan tersedu-sedu, hingga payung yang ada di tangannya pun terjatuh dan tubuh keduanya kini basah oleh air hujan.


"Vallen, maafkan aku." kata Firman sambil menempelkan wajahnya tepat di depan wajah Vallen yang masih menangis.


"Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu." kata Firman di depan wajah Vallen yang kini masih menangis, perlahan Firman pun mulai mencium bibirnya. Vallen yang begitu terbuai oleh hangatnya ciuman dari Firman di bawah derasnya hujan pun mulai membalas ciumannya.


'Vallen sudah mau membalas ciumanku, apakah ini berarti dia sudah memaafkan aku?' gumam Firman dalam hati sambil tersenyum.


'Astaga, ini tidak boleh terjadi. Tidak Vallen, kau tidak boleh luluh begitu saja.' gumam Vallen kemudian melepaskan ciumannya lalu mendorong tubuh Firman.


"Vallen." kata Firman sambil mengerutkan keningnya.


"Tidak aku tidak akan memaafkanmu! Aku membencimu Firman!" teriak Vallen kemudian berlari menuju rumahnya.


Firman pun menatap kepergian Vallen sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Benar kata Rayhan, menaklukkan hati Vallen itu sangatlah sulit dan aku sudah membuang kesempatan itu begitu saja saat dia membuka hatinya untukku. Jika Rayhan butuh waktu selama dua tahun, aku pun akan melakukan itu seumur hidupku."


__ADS_2