
Laras sedikit tergesa-gesa masuk ke dalam kantornya, dia begitu terburu-buru hingga mengabaikan beberapa panggilan dari Kenan.
'Sial gara-gara aku bercinta dengan Ramon, aku jadi kesiangan seperti ini, belum lagi memikirkan uang sebanyak lima miliar yang semalaman membuatku semakin pusing, darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu,' kata Laras dalam hati.
"Dinda, apa Kenan sudah datang?" tanya Laras pada Dinda.
"Kamu ngomong apa, Laras? Kamu sekretarisnya masa tudak tahu jadwal Pak Kenan hari ini?"
"Maksud kamu bagaimana, Dinda?"
"Hellooow Laras, bukankah hari ini Pak Kenan cuti, dia cuti selama tiga hari pergi ke Singapore untuk menghadiri pernikahan kerabatnya, kamu bagaimana? Hal seperti itu saja tidak tahu!" gerutu Dinda.
Laras lalu mengambil ponselnya, puluhan chat dan panggilan dari Kenan menghiasi layar ponselnya. 'Oh ****, kupikir Kenan marah padaku karena semalaman aku tidak pulang ke rumah, ternyata dia tidak tahu jika aku tidak pulang,' gumam Laras. Ponselnya pun kembali berbunyi. Pada layar ponsel, tertera nama Kenan.
[Halo, Kenan.]
[LARAS APA YANG SEBENARNYA KAMU LAKUKAN! DARI TADI SAYA KIRIM PESAN TAPI TIDAK ADA SATU PUN YANG KAU BALAS!!! TELEPON PUN TIDAK KAU ANGKAT!!! KEMANA SAJA KAMU LARAS!]
Laras kemudian menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya karena bentakan Kenan begitu memekakan telinganya.
'Hihhh galak banget jadi orang, bisa-bisanya Olive tahan hidup sama cowok model gini,' batin Laras.
[LARASSSS KAMU MASIH DENGAR SUARA SAYA KAN? KENAPA KAMU DIAM SAJA?"]
[Iya Kenan, maaf aku sedikit kaget.]
[Kaget.. Kaget, makanya kerja yang bener jangan cuma bisa kegenitan jadi orang.]
[Iya Mas, maaf tadi Laras bangun kesiangan, jadi sejak bangun tidur Laras belum sempet ngecek handphone Laras.]
[Ya sudah, sekarang kamu kerjakan beberapa pekerjaan yang sudah kukirimkan, jangan lupa kalau sudah selesai kamu kirimkan kembali. Untuk tiga hari kedepan kamu kosongkan jadwal pertemuan saya dengan klien, karena saya sedang cuti untuk menghadiri pernikahan kerabat saya.]
[Iya, Iya.]
[Jangan cuma iya saja, kerjakan semua pekerjaan dengan benar, dan jangan sampai kejadian ini terulang lagi, kamu harus siap kapanpun saya hubungi, jika kamu seperti ini lagi, kamu langsung saya pecat!!!]
[Iya maaf.] kata Laras sambil menutup panggilan dari Kenan.
__ADS_1
"Huh dasar, sudah cerewet, galak lagi! Lihat saja kalau aku udah nikah sama Ramon, kau dan Calista yang akan pertama kali merasakan pembalasanku, Kenan," kata Laras sambil menggerutu.
'Eh, Kenan dan keluarganya ada di Singapura? Jadi, rumah mereka kosong? Hanya ada pembantu dan satpam penjaga di depan?' gumam Laras sambil tersenyum nakal.
"Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku, aku sudah memiliki jalan keluar untuk mendapatkan uang sebanyak lima miliar. Hahahaha."
"Laras kamu ngapain pagi-pagi bukannya kerja malah ketawa tidak jelas seperti itu."
"Tidak boleh mengganggu kebahagiaan orang lain, Dinda."
"Iya... Iya yang punya pacar baru memang bahagia terus," kata Dinda yang membuat Laras semakin tersipu malu.
'Kau tenang saja Ramon, aku pasti akan mendapatkan uang sebanyak lima miliar yang kau inginkan, dan setelah aku berhasil mendapatkan uang itu, kita bisa menikah dan aku akan meninggalkan pekerjaan ini, setelah itu akan kubuat Calista menyesal pernah menghina dan merendahkanku,' batin Laras sambil tersenyum menyeringai.
***
Giselle begitu gugup mendengar kata-kata Olivia. "Jangan asal bicara ya, siapa kau sebenarnya? Pagi-pagi sudah ada di rumah orang!"
"Bicara yang sopan Giselle, dia Olivia, adikku!" bentak Calista.
"Jaga kata-katamu Giselle, itu adalah bagian masa lalu! Aku dan Olive juga sudah tidak memiliki perasaan apapun, kini kami sudah bahagia dengan kehidupan kami masing-masing!" kata Leo yang amarahnya terpancing mendengar perkataan Giselle.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Giselle, kata Olive dia bertemu denganmu beberapa hari yang lalu di rumah sakit?" tanya Calista.
"Kalian jangan mengada-ada, kalian berdua sengaja kan ingin memojokkanku dan membuatku bercerai dari Leo?"
"Giselle bukankah saat itu kau sendiri yang bilang padaku jika kau telah keguguran? Kenapa tiba-tiba kau tak mengakui kata-katamu sendiri?" kata Olivia.
"BOHONG, JANGAN BERBOHONG DI DEPAN SUAMIKU OLIVIA!!"
"Kau atau aku yang berbohong Giselle?"
"Tentu saja kau, Olive!" bentak Giselle.
"Baik, sepertinya kita harus membuktikan kata-katamu jika kau saat ini sedang hamil anak dari Leo," kata Olivia.
"Apa maksudmu Olive?"
__ADS_1
"Buktikan jika kau saat ini masih hamil anak Leo, ayo kita ke dokter, Giselle!"
Giselle lalu mengarahkan pandangannya pada Leo. "Lihatlah Leo, mereka sedang mempermainkanku," rengek Giselle.
"Sepertinya mereka benar Giselle, jika kau tidak ingin dituduh macam-macam oleh mereka, kau harus membuktikan jika saat ini kau benar-benar sedang hamil."
"Apa maksudmu Leo, jadi kau juga tidak percaya padaku? Bukankah saat itu kau lihat sendiri hasil tespack dan hasil USG dari dokter jika aku tengah mengandung anakmu?"
"Iya benar Giselle, saat itu kau memang benar-benar hamil, tapi Olive mengatakan jika beberapa hari yang lalu, dia bertemu denganmu di rumah sakit saat kau keguguran, jadi bisa saja saat ini kau sudah tidak hamil bukan? Lagipula, saat itu aku dan Calista pergi beberapa hari dari rumah, kami juga tidak tahu semua yang terjadi padamu, semua kemungkinan masih bisa terjadi Giselle."
"Jadi kau juga ikut menuduhku seperti mereka Leo?"
"Aku tidak menuduh, hanya menanyakan bukti karena bagaimanapun juga aku adalah suamimu, aku berhak tahu semua yang telah terjadi padamu."
"Kau memang selalu membela Calista, Leo, kau bahkan tidak pernah berusaha adil padaku! Yang ada di hatimu hanyalah ada Calista!"
"Giselle, kenapa kau berbicara seperti itu? Aku hanya memintamu membuktikan jika saat ini kau sedang hamil! Sekarang juga, ayo ikut aku ke rumah sakit, dan mari kita buktikan siapa yang sudah berkata jujur dan siapa yang sudah berbohong di sini!"
"Emhhh.. Tapi Leo," kata Giselle sambil mengiba.
"Cepat bersiaplah dan kita akan ke rumah sakit sekarang!!!"
Giselle begitu takut mendengar kata-kata Leo, dia lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. "Olive, bagaimana kandunganmu?"
"Aku baik-baik saja Leo."
"Kalau begitu bersiaplah, kalian juga akan ikut ke rumah sakit bersamaku dan Giselle."
"Baik Leo," jawab Calista dan Olivia sambil tersenyum.
"Kami ke kamar dulu Leo, nanti kami menyusulmu sarapan."
"Iya Calista."
Calista lalu mengajak Olivia masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Leo duduk di meja makan sambil menikmati sarapan yang sudah disediakan oleh Bi Asih. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan dari kamar Calista.
"TIDAK."
__ADS_1