Salah Kamar

Salah Kamar
Kompromi


__ADS_3

"Pak Lukman, bukankah sudah pernah kubilang padamu agar berhati-hati dengan Ilham. Dia sebenarnya sangat berbahaya karena karena mengalami masalah kejiwaan, lihat karena kecerobohanmu kau jadi terluka seperti ini."


"Iya komandan, maafkan saya. Lain kali saya akan lebih berhati-hati dengan Ilham."


"Ya, jika kau tak sanggup menanganinya aku bisa menggantikanmu dengan penyidik lain."


"Tidak komandan saya masih sanggup."


TOK TOK TOK


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk." jawab Lukman.


Seorang office boy lalu memberikan mereka secangkir teh. Mereka kini pun tampak asyik menikmati teh tersebut.


Sementara Ilham yang sudah ada di dalam selnya kini pura-pura tertidur. "Sebentar lagi kau akan merasakan akibatnya dasar laki-laki sombong!" kata Ilham yang kini pura-pura tidur di balik selimut.


Tiba-tiba sebuah teriakan dari arah ruangan penyidik pun mulai menggema.


"PAK LUKMAN.." teriak salah seorang polisi di ruangan tersebut. Lalu polisi-polisi lain pun mulai berdatangan menghampiri Lukman yang kini terkapar tidak berdaya.


'Hahahhhahahah, jadi kau sudah bertemu dengan malaikat mautmu Lukman?' kata Ilham dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


☘️☘️☘️☘️☘️


"Kau kemana saja Drey? Istrimu baru saja pulang dari rumah sakit tapi kau sudah keluyuran tidak jelas."


"Mama, kenapa mama berkata seperti itu? Apa mama tidak lihat apa yang Drey bawa?' kata Drey sambil memperlihatkan sebuah koper dan dua buah tas kecil di tangannya."


"Loh... Loh.. Loh, koper apa itu? Kau seperti habis dieliminasi saja Drey." kata mamanya sambil terkekeh.


"Mama, kebanyakan nonton tv sih."


"Memangnya kamu habis darimana?"


"Ambil barang-barang Rima, ma. Bukankah mama sendiri yang bilang pada Drey agar Rima tinggal di sini saja, jadi Drey mengambil barang-barang milik Rima."


"Oh bagus Drey, memang seharusnya seperti itu. Rima akan aman jika hidup di sini bersama mama karena mama akan menjaga Rima dan cucu mama dalam kandungannya sebaik mungkin."


Mendengar perkataan mamanya, Drey pun terdiam.


"Drey, kenapa kamu bengong? Cepat kau masuk ke kamarmu dan temui Rima, jangan terlalu lama meninggalkannya Drey, siapa tahu dia membutuhkan sesuatu."


"Iya ma." jawab Drey sambil berjalan ke kamarnya.


CEKLEK


Drey pun membuka pintu kamar, tampak Rima yang sedikit terkejut karena saat itu dia terlihat sedang mengelus perutnya.

__ADS_1


"Maaf jika aku mengagetkanmu."


"Tidak apa-apa."


"Sepertinya kau sedang sedih?"


Rima pun kemudian tersenyum. "Kenapa dia harus datang dalam kehidupanku di saat seperti ini?"


"Maksudmu?"


"Dia." kata Rima sambil mengelus perutnya.


"Rima, ini sudah takdir. Percayalah ini adalah jalan terbaik dari Tuhan. Anak itu adalah anugerah terbesar dalam kehidupanmu."


"Iya Drey, terimakasih. Tapi bagaimana dengan mamamu?"


"Kita pikirkan nanti."


"Tapi bagaimana jika dia selalu memaksa kita untuk menikah secara resmi?"


"Jika kau tidak keberatan setelah bercerai dari Ilham, menikahlah denganku Rima."


Rima pun begitu terkejut mendengar perkataan Drey.


"Aa..Apa kau bilang Drey? Menikah denganmu?"


"Jika kau tidak keberatan tentunya, aku tidak akan memaksamu, kau masih memiliki banyak waktu untuk berfikir sampai anak itu lahir." kaya Drey lagi.


Rima pun kemudian tersenyum. 'Semakin rumit.' kata Rima dalam hati.


"Rima, sebenarnya ada yang ingin kuceritakan padamu."


"Apa?"


"Sebenarnya hari ini aku begitu bingung saat pulang dari rumah sakit dan mama memaksamu untuk tinggal di rumah ini, aku begitu cemas saat harus mengambil barang-barang milikmu yang ada di kontrakanmu. Aku tidak takut bertemu dengan Ilham, namun yang aku khawatirkan adalah jika aku bertemu dengannya ini bisa membahayakan bagi keselamatanmu, aku takut dia mengetahui persembunyianmu."


"Ya, aku pun mencemaskan hal yang sama denganmu Drey. Tapi bagaimana kau bisa mengambil semua barang-barang itu? Apakah disana kau tidak bertemu dengan Ilham?"


Drey pun kemudian tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum Drey?"


"Kau aman sekarang, Rima."


"Aman?"


"Ya, kau sekarang sudah aman karena Ilham sudah dipenjara."


"Benarkah itu?"

__ADS_1


"Ya, tadi saat aku ke kontrakanmu aku sedikit terheran-heran karena kontrakan itu terlihat begitu sepi dan teras rumahnya pun tidak terawat dan berdebu. Lalu aku menanyakan pada warga di sekitar rumah itu dan mereka mengatakan jika Ilham telah ditangkap polisi. Satu minggu yang lalu dia ditangkap polisi."


"Satu minggu yang lalu bukankah aku masuk ke rumah sakit karena pendarahan? Jadi dia ditangkap polisi beberapa saat setelah kita pergi ke rumah sakit?"


"Ya, kemungkinan seperti itu."


"Apakah Leo dan Calista yang melaporkan dia ke polisi?"


"Mungkin, tapi tadi warga tersebut mengatakan padaku jika Ilham ditangkap katena kasus teror dan penusukan."


"Astaga." kata Rima sambil menutup mulutnya.


"Jadi mereka semua sudah tahu jika yang melakukan penusukan malam itu adalah Ilham."


"Jadi kau tahu tentang semua kejahatan suamimu, Rima?"


Rima pun kemudian mengangguk.


"Tapi kenapa selama ini kau diam saja dan menutupi kejahatan suamimu?"


"Ya ini adalah salah satu kebodohanku, dia selalu berhasil membujukku dan aku selalu terpedaya oleh rasa cintaku padanya. Sekarang aku menyesal atas semua kebodohanku." jawab Rima, air mata pun kini mulai mengalir di wajahnya.


"Hei, Rima jangan menangis. Maaf jika aku sudah membuatmu bersedih."


"Tidak apa-apa Drey."


Tiba-tiba Drey mengeluarkan ponselnya.


"Lihat ini, undangan digital." kata Drey sambil memperlihatkan sesuatu di ponselnya.


"Itu undangan pernikahan dari Vian, teman kantorku dulu saat kami bekerja di Australia. Saat ini dia pulang ke Indonesia untuk melangsungkan pernikahan, maukah kau ikut pergi denganku ke pesta pernikahannya?"


Rima pun kini terlihat begitu bingung, dia menatap Drey sambil mengigit bibirnya. "Aa...Aku.."


"Tidak usah ragu Rima, disana kau bisa bersenang-senang dan melupakan semua masalahmu, bukankah saat ini kau sudah aman karena Ilham sudah masuk penjara? Jadi tidak ada yang perlu kau cemaskan. Bagaimana kau mau ikut bersamaku ke pesta itu kan?"


"Kau benar Drey, baiklah aku ikut ke pesta pernikahan temanmu itu." jawab Rima sambil tersenyum.


☘️☘️☘️☘️☘️


"Pesan dari siapa Olive?" tanya Kenan saat melihat Olivia memperhatikan sebuah pesan di ponselnya.


"Dari Vian, ini undangan pernikahan dari teman kantorku dulu saat kami bekerja di Australia. Beberapa hari lagi dia akan melangsungkan pernikahan."


"Oh."


"Kenan, tiga hari lagi apa kau punya waktu luang? Jika kau tidak sibuk kau mau kan menemani aku datang ke pesta pernikahan Vian?"


Kenan pun kemudian tersenyum, dia lalu mendekat pada Olivia dan memeluknya. "Tentu aku akan menemanimu pergi ke pesta pernikahan temanmu." jawab Kenan.

__ADS_1


__ADS_2