Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Locked Down


__ADS_3

Di halaman belakang bangunan kastil, Ciel berdiri tenang di atas tempat latihan luar ruangan. Melihat hampir semua tempat diwarnai dengan warna putih, pemuda itu memejamkan matanya.


Sudah musim dingin, kah?


Seperti yang Ciel pikirkan, musim dingin telah datang. Kebanyakan pohon terlihat tanpa daun, salju yang turun mewarnai bumi dengan warna putih. Pada saat seperti ini … Ciel merasa dunia menjadi lebih tenang.


Alasannya sederhana. Banyak orang yang lebih memilih tinggal di rumah mereka. Selain tidak ada olah raga modern seperti ski atau ice skating, pada saat seperti ini, dunia menjadi lebih berbahaya.


Tidak seperti iblis yang menumpuk makanan di musim gugur sebelumnya, kebanyakan Demonic Beast tidak secerdas itu. Memang ada beberapa yang memiliki perilaku untuk menimbun makanan musim dingin atau pergi berhibernasi, tetapi kebanyakan justru melakukan sebaliknya.


Karena karnivora tidak mungkin menimbun daging, sementara banyak herbivora yang melakukannya, rantai makanan menjadi kurang seimbang. Banyak Demonic beast karnivora yang kelaparan karena kekurangan buruan dan akhirnya keluar hutan untuk mencari mangsa.


Hal seperti itu sangat berbahaya bagi para iblis level rendah. Jika mereka tanpa sengaja bertemu dengan Demonic Beast yang berbahaya apalagi kelaparan, jelas mereka akan menjadi makanan yang sangat nikmat dan bergizi.


Berbeda dengan para bangsawan. Karena sebagian besar mereka memiliki level yang relatif baik, mereka malah membuat sebuah acara perburuan. Ya … seperti yang dilakukan orang-orang di kehidupan Ciel sebelumnya pada saat musim dingin.


Bedanya, di dunia ini tidak ada sniper yang sekali ‘dor’, hewan akan sekarat. Dunia ini lebih mengandalkan item seperti busur, dan yang Ciel anggap parah … itu agak remeh untuk mengalahkan para Demonic Beast. Meski dengan sihir membuat semuanya berbeda.


Tanpa sihir, sulit membayangkan bagaimana seseorang dengan busur dan anak panah yang remeh untuk membunuh celeng atau rusa setinggi dua setengah meter. Belum lagi jika mereka bertemu dengan gerombolan celeng. Membayangkan mati diinjak-injak belasan celeng raksasa, itu pasti terasa sangat menghina.


Membuka matanya, Ciel melihat arah tertentu. Di sana terlihat sosok Ariana dan Elena yang menggunakan pakaian musim dingin yang terbuat dari bahan hangat. Selain itu, mereka juga memegang busur di tangan.


“Hari ini lebih dingin. Jika terasa berlebihan, kalian boleh beristirahat dalam kastil.”


“Tidak, Sayang. Sudah kewajiban saya membantu anda. Khususnya pada latihan seperti ini.” Ariana berkata tanpa perubahan ekspresi.


"Saya juga,” tambah Elena.


Apa yang Ciel lakukan sekarang adalah mempelajari teknik yang sekitar tiga minggu lalu dia pilih. Setelah beberapa waktu belajar, pemuda itu benar-benar merasa teknik itu sangat cocok untuknya.


Di kedua sisi pinggang Ciel, terlihat dua pedang hitam indah. Keduanya mirip pedang khas Jepang di kehidupan sebelumnya, katana.


Sebenarnya, pedang berbentuk seperti ini sangat jarang di dunia ini. Menurut informasi yang Ciel dapat, ada sebuah kerajaan di timur yang memang menggunakan senjata ini.


Kebanyakan katana di simpan dalam tempat penyimpanan harta kekaisaran karena orang-orang dari Royal Family tidak terlalu cocok dengan jenis senjata ini. Namun karena itu hadiah dari Marquis atau Duke yang sudah repot-repot memberi senjata ‘unik’ dengan bahan berkualitas tinggi, sebagai penghargaan, item itu disimpan dalam tempat penyimpanan harta.


Alasan kenapa Ciel memilikinya, tentu saja karena dia mencuri-


Tidak. Daripada kata ‘curi’, kata ‘merawat’ barang yang kurang diinginkan lebih cocok. Dengan kata lain, hampir semua katana dalam ruang penyimpanan ‘dirawat’ oleh Ciel.

__ADS_1


Awalnya, Ciel berharap untuk menggunakannya tetapi tidak ada teknik yang cocok. Belum lagi, dia terlalu malas untuk berlatih. Jadi, itu menjadi item koleksinya.


Sebenarnya, teknik yang Ciel pelajari kali ini juga seharusnya tidak menggunakan katana, tetapi pedang pendek dengan bilah lebih lebar. Alasannya, bilah yang lebih lebar lebih mudah digunakan untuk menangkis anak panah atau proyektil lainnya. Namun …


‘Bukankah ini sama-sama belajar? Menambah sedikit fokus dalam tangkisan tidak masalah, kan?’


‘Lagipula, ini terlihat lebih keren. Siapa lelaki yang tidak ingin menjadi lebih keren jika ada kesempatan?’


Ya … hal semacam itu yang ada dalam kepala Ciel.


Apa yang mengejutkan adalah, Ciel benar-benar bisa menggunakan katana dengan lebih leluasa. Meski membutuhkan konsentrasi lebih dalam teknik menangkis, katana juga bukan tanpa keuntungan. Bilahnya yang sangat tajam, bentuknya yang sederhana serta ringan … ditambah teknik yang Ciel pelajari, itu menjadi serangan yang lebih cepat dan mengerikan.


Sesuatu yang menargetkan pembunuhan instan!


“Baiklah. Kita lanjutkan latihannya,” ucap Ciel santai sembari menarik kedua katana.


Ekspresi Elena dan Ariana langsung berubah menjadi serius. Keduanya mengambil anak panah, menarik tali busur sembari mengarahkan kepada Ciel. Suara anak panah yang membelah udara terdengar kemudian.


Meski diarahkan ke titik fatal Ciel, pemuda itu masih memasang ekspresi bosan. Sedikir melambaikan katana, anak panah itu ditepis dengan mudah.


Puluhan anak panah datang satu per satu. Ariana dan Elena selalu mengincar titik vital Ciel, tetapi pemuda itu dengan santai menangkisnya. Selain tidak menghindar atau bahkan bergerak dari tempatnya, ekspresi bosan dan ogah-ogahan di wajah Ciel membuat kedua wanita itu frustrasi.


Pada saat itu …


“Kenapa kamu terus melakukan itu, Ariana? Kamu benar-benar mengincar apa yang ada di antara kedua kakiku!” seru Ciel dengan ekspresi muram.


Sementara Elena sedikit merah karena malu, Ariana memiringkan kepalanya tanpa merubah ekspresi.


“Bukankah itu titik yang fatal bagi laki-laki? Salah?”


“Itu benar, tapi …”


Sudahlah! Sulit untuk membicarakan hal memalukan semacam ini.


Ciel merasa agak dingin di selakangan. Dia mengembuskan napas panjang, membuat kepulan uap yang jelas dari mulutnya. Pemuda itu merasa beruntung karena memiliki refleks yang bagus. Jika sesuatu terjadi pada ‘tongkat penyangga langit’ miliknya, masa depannya pasti dalam bahaya.


“Kita sudahi latihan hari ini. Segera masuk ke dalam dan istirahat sebentar. Setelah itu, mandi dengan air hangat.”


“Baik, Sayang.”

__ADS_1


“Sesuai keinginan anda, Tuan.”


Setelah mandi dan duduk di ruang kerja dengan pakaian santai. Memejamkan matanya, dia mulai mengenang beberapa hal yang terjadi dalam tiga minggu latihan fisiknya.


Pada minggu pertama, 1000 kali push up, sit up, squat, dan lari 100 kilometer … dia berhasil melakukannya tetapi merasa agak berlebihan.


Pada minggu kedua, Ciel mengubah porsinya menjadi 500 kali push up, sit up, squat, dan lari 50 kilometer … tapi, masih agak berat. Ya, daripada berat … pemuda itu agak malas melakukannya.


Pada minggu ketiga, Ciel lagi-lagi mengubah porsi menjadi 250 kali push up, sit up, squat, dan lari 25 kilometer.


Pada saat itu, dia sempat bermimpi.


Ciel bermimpi kalau dirinya mengalahkan semua Jenderal dari Curses of Shadow dalam pertarungan 1 vs 13. Masalahnya, dalam mimpi, dia memakai pakaian kuning, jubah putih, sepatu dan sarung tangan karet berwarna merah.


Lebih parahnya, dalam mimpi, Ciel merasa kalau rambutnya lenyap dan bisa merasakan semilir angin di kulit kepala. Selain lebih tampan dan ada dua tanduk di kepala … penampilannya benar-benar mirip dengan orang itu.


Ketika bangun dari mimpi buruk, Ciel langsung menyentuh kepalanya dan merasa lega. Sekarang, dia diam-diam berpikir.


Apakah aku benar-benar harus melakukan latihan seperti ini?


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan terdengar. Ciel langsung berkata, “Masuk.”


Setelah ucapan Ciel, sosok Camellia masuk ke dalam ruangan lalu berjalan mendekat. Melihat Ciel, gadis itu mengangguk sopan.


“Apakah kelima Viscount telah menjawab?” tanya Ciel.


“Sudah, Tuanku. Mereka menyetujui perintah anda. Namun … saya benar-benar bingung, Tuan.”


“Kenapa? Alasan aku menutup seluruh wilayah agar tidak berhubungan dengan wilayah lain?” tanya Ciel.


“Bukan. Saya mengerti kalau anda memiliki pemikiran sendiri, Tuanku. Saya tidak akan membantah atau mengeluh.


Hanya saja … kenapa sampai repot-repot membunuh semua yang mencoba masuk dan keluar dari wilayah anda? Bahkan seekor burung?”


Melihat Camellia yang sekarang lebih patuh dan benar-benar penasaran, Ciel tiba-tiba menarik tangannya. Karena tidak siap, gadis itu langsung jatuh ke dalam pelukannya. Wajah Camellia langsung merah.


Sementara itu, Ciel tersenyum misterius.

__ADS_1


“Alasan aku mengunci wilayah … tunggu saja. Akan ada hal menarik di musim dingin ini.”


>> Bersambung.


__ADS_2