
Satu setengah bulan kemudian.
Usai perang yang memakan banyak korban, sosok Ciel menghilang begitu saja dari Kerajaan Black Star. Dengan hilangnya sebuah kota di pusat Zevirrius’s Duchy, The Doom Knight mulai menjadi salah satu legenda abadi.
Sementara itu, di sebuah tavern yang sederhana.
Dalam kedai minuman tersebut, terlihat lelaki tua yang tampak sangat ramah. Seluruh rambutnya di kepala, bahkan kumis dan jenggotnya berwarna putih karena usia. Namun wajahnya tampak sehat, rambutnya disisir rapi, benar-benar masih bersahaja di usianya.
Lelaki tua itu mengenakan jubah hitam, tetapi nyaris tidak bisa menyembunyikan sosoknya yang luar biasa.
“Pesanan anda, Pak.”
Melihat seorang pelayan yang datang membawakan pesanan, lelaki tua itu tersenyum ramah.
“Terima kasih,” ucap lelaki tua tersebut.
Ketika beberapa cangkir bir dan beberapa piring camilan diletakkan, pelayan itu mengangguk sopan sebelum pergi. Pada saat itu juga, sosok kepala seperti kadal bertanduk dengan sisik merah muncul dari balik jubah hitam lelaki tua itu.
“Hey, kamu tidak boleh seperti itu. Jangan keluar jika aku tidak meminta, Crimson.” Lelaki tua itu terkekeh,
Makhluk yang disebut dengan Crimson itu menatap lelaki tua dengan mata bulat yang tampak jernih, tetapi penuh dengan penyesalan.
“Hehehe … tidak apa-apa. Namun lain kali kamu harus lebih disiplin.”
Seolah mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki tua itu, Crimson kecil mengangguk dengan patuh.
Pada saat itu, sosok berjubah lain berjalan mendekati lelaki tua itu sebelum mengeluh.
“Seperti biasa, anda malah menghabiskan waktu untuk bercampur di tempat semacam ini, Guru. Benar-benar melelahkan untuk mencari anda.”
Mendengar suara pemuda dari balik tudung, lelaki tua itu menyesap bir dalam cangkir sebelum bertanya.
“Ada apa sampai repot-repot mencariku?”
Mendengar ucapan lelaki tua itu, sosok berjubah tiba-tiba berlutut. Akhirnya, suara yang serius terdengar.
“Saya datang untuk melapor, Tuan Will. Jenderal baru bernama Louie tumbang.”
“Jadi begitu …” Lelaki tua itu mengusap dagu. “Aku sudah bilang tidak perlu menggunakan cara aneh untuk naik tingkat.”
“Juga …” Pemuda yang berlutut tampak ragu.
“Katakan saja.”
“Senior Aragil … dia juga tumbang.”
__ADS_1
“...”
Suasana langsung menjadi sunyi. Lelaki tua itu tiba-tiba terdiam sejenak sebelum menghela napas panjang. Dia kemudian menyesap bir dalam cangkir sebelum berkata dengan nada menyesal.
“Padahal dia murid yang baik. Bahkan aku sudah menganggapnya sebagai seorang putra. Namun … bocah itu benar-benar memilih jalannya sendiri.
Karena kamu mati tanpa penyesalan, lelaki tua ini akan bersulang untukmu, Aragil.”
Setelah mengatakan itu, Tuan Will mengangkat cangkir bir lalu meminum isinya sampai habis dalam sekali jalan. Meletakkan cangkir kosong ke atas meja, lelaki tua itu melirik ke arah pemuda yang berlutut di tanah.
“Apakah ada yang lain?”
“Guru, soal setelan itu-”
“Cukup. Meski dulunya memang item paling berharga di tanganku, aku sudah menyerahkannya kepada Aragil. Apapun yang terjadi dengan benda itu sekarang, sama sekali tidak ada hubungannya denganku.”
“...” Pemuda itu hanya diam.
Sambil memberi makan Crimson, Tuan Will tersenyum lembut sebelum berkata.
“Yang lebih penting … kamu harus bisa menjaga diri. Lelaki tua ini memiliki punggung yang rapuh, mungkin akan meninggalkanmu kapan saja.”
Mendengar itu, pemuda berjubah hitam ingin mengeluh. Sosok yang begitu kuat seperti Tuannya benar-benar bertingkah seperti lelaki tua biasa, benar-benar tidak cocok. Namun dia masih menjawab.
...***...
Di pegunungan jauh di bagian tengah benua.
“Seperti yang diharapkan dari Putri Silvia.”
Seorang ksatria dengan armor merah berlutut di depan seorang gadis. Gadis itu tampak pendek, tetapi jelas sangat cantik. Memiliki mata bagai rubi, rambut hitam yang dikucir twintail, serta kulit cokelat yang eksotis.
Gadis itu mengenakan armor perang berwarna perak dengan garis merah. Berbeda dengan penampilannya yang tampak manis dan imut, ekspresinya benar-benar datar dan dingin. Dia memegang sebuah tombak yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Serta, di belakang gadis yang berdiri angkuh itu …
Terlihat lebih dari seratus Wyvern merah yang bersujud kepadanya! Benar-benar tunduk kepada gadis itu!
“Setelah menundukkan Raja Darkflame Raptor, sekarang anda menundukkan Raja Flame Wyvern. Seperti yang diharapkan dari Putri Silvia.
Jika seperti ini, calon suami-”
“Jonas!” ucap Putri Silvia dengan ekspresi dingin.
Melihat ujung tombak yang diarahkan kepada dirinya, ksatria bernama Jonas itu menggigil ketakutan.
“Aku sudah bilang … aku tidak tertarik untuk menikah dan memiliki anak. Apa yang aku inginkan adalah kekuatan!”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Putri Silvia mengangkat tombaknya. Sosok Raja Flame Wyvern mendekatinya. Gadis itu kemudian melompat ke punggung Wyvern.
“Terbang kembali ke Istana.”
Dengan perintahnya, Raja Flame Wyvern yang diikuti lebih dari seratus Wyvern dewasa naik ke langit. Pergi dengan cara yang ganas dan mendominasi.
Sementara itu, ksatria bernama Jonas tampak tertekan. Melihat ke arah Putri Silvia pergi, dia tersenyum pahit.
“Maafkan saya, Rajaku. Namun Putri anda … benar-benar terlalu keras kepala untuk dibujuk.”
...***...
Dalam ruang rahasia Istana Utara, Royal Capital of Black Sun Empire.
“Huh … Huh … Aku bilang, TUNDUK!”
Dengan tangan kiri yang penuh dengan darah, sosok Ciel memegang Dragon Slayer Armor sembari menggertakkan gigi.
Dragon Slayer Armor, sebuah armor yang sepenuhnya terbuat dari bagian-bagian Naga dewasa yang kuat. Lengkap bersama dengan jiwanya. Ada sebutan lain untuknya yaitu … Living Armor.
Ya, benda yang ditempa dengan cara yang telah hilang itu benar-benar hidup. Bahkan, menjadikan penggunanya sebagai inang. Sekali menggunakan Armor tersebut, kekuatan inangnya akan meningkat drastis dengan cepat karena memiliki bakat layaknya seekor Naga.
Akan tetapi, ada harga yang harus dibayar. Sekali memakai armor tersebut, mereka akan menyatu. Dengan kata lain, tidak bisa dilepas kecuali sosok itu mati.
Apa yang Ciel lakukan setelah kembali ke Istana adalah menemui ayahnya, lalu mulai menyempurnakan Dragon Slayer Armor dengan teknik terlarang. Membuatnya menjadi boneka layaknya golem yang disempurnakan dengan teknik alkimia.
Mengorbankan banyak barang berharga dan banyak darahnya sendiri, Ciel berusaha merubah armor itu dengan teknik terlarang. Hanya saja, prosesnya tidka berjalan lancar dan terlalu memakan banyak waktu.
Jiwa Naga di dalamnya terlalu kuat! Harus mengikis dan menundukkan perlahan!
Pada saat kesadaran Ciel bertarung dengan jiwa Naga untuk menundukkannya, pemuda itu tiba-tiba terkejut.
Melepaskan tangannya dari Dragon Slayer Armor, Ciel mundur beberapa langkah. Pada saat itu juga, Dragon Slayer Armor yang awalnya berdiri seperti patung teba-tiba bergerak lalu berlutut di depan Ciel.
Mengingat bagaimana ada serpihan jiwa kecil selain jiwa Naga yang pudar tetapi keras kepala, Ciel memutuskan untuk menghancurkan jiwa Naga dan menaklukkan serpihan jiwa kecil itu. Hasilnya seperti yang dia lihat.
Melihat baju perang yang hidup, Ciel menarik pedangnya dan meletakkannya di pundak Dragon Slayer Armor.
Layaknya upacara pemberkatan ksatria, Ciel berkata.
“Untuk menjaga diriku, rumahku, dan orang-orang yang aku sayangi. Menjadi pedang tajam sekaligus perisai kuat yang ada di tanganku. Mengingat salah satu ksatria yang aku hormati dalam hidup ini, mulai sekarang namamu adalah …”
“ARAGIL.”
>> END OF BOOK 1.
__ADS_1