
“Siapa namamu?”
Ciel bertanya kepada gadis kecil yang gemetaran di depannya. Dia sempat kaget karena gadis itu benar-benar mampu merasakan mana dalam tubuhnya meski telah disembunyikan. Pemuda itu belum menemukan bakat pendeteksi sekuat ini selain skill ‘Eye of The Lord’ miliknya.
“N-Nama … Nama saya Tania, T-Tuan.”
“Bagus, Mulai sekarang kamu bisa menjadi pengikutku.”
Ciel mengangguk puas sembari menepuk dan mengelus kepala gadis itu.
Sementara itu, Norwen yang melihat Ciel sangat antusias terhadap seorang ‘Dhampir’, matanya menjadi cerah. Dia dengan perlahan mendekati pemuda itu lalu berkata sopan untuk menyarankan.
“Jika anda menyukai Dhampir, saya memiliki beberapa produk unggulan yang tidak kalah dengannya, Tuanku.”
Bukannya ekspresi tertarik atau senyum hangat yang menyambut Norwen, tetapi tatapan dingin Ciel. Pria paruh baya bulat itu langsung tercengang. Dia merasa bingung dalam hati.
Apakah aku salah? Bukankah pelayan Pangeran Luciel juga Dhampir? Atau … dia menyukai hal-hal yang lebih muda?
Haruskah aku menanyakannya? Tidak! Lihat tatapan itu! Jika aku banyak bicara … Pangeran Gila itu pasti akan membunuhku!
Melihat Norwen yang melongo dengan keringat deras di sekujur tubuhnya, sudut bibir Ciel berkedut. Ketika dia hendak mengatakan sesuatu, pemuda itu merasakan tarikan kecil di pakaiannya.
Pada saat menoleh, Ciel melihat Tania dengan gugup menarik sudut pakaiannya dengan tangan kecilnya. Gadis itu terlihat ketakutan, tetapi sebuah tekad terlihat di matanya.
“Beraninya kamu menarik pakaian Pangeran Luciel, penguasa wilayah Southfield ini!” teriak Norwen.
Budak lain yang berbaris langsung menatap Ciel dengan ekspresi ketakutan. Meski mereka budak, orang-orang itu masih mendengar kabar dunia luar dari mulut Norwen. Salah satunya adalah keganasan penguasa wilayah baru yang membakar seluruh Kota Blackrock beserta penghuninya.
Tania langsung melepaskan tangannya, jatuh ke tanah dengan wajah pucat. Ciel yang melihat itu menggeleng ringan. Dia langsung melirik Norwen.
“Kamu diam dulu, Norwen.” Ciel berkata santai.
“Sesuai perintah anda, Pangeran Luciel.”
Mendengar jawaban Norwen, Ciel mengangguk. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Tania.
“Katakan, ada apa?” tanya Ciel.
Tania terlihat panik dan gugup. Gadis itu bangkit dan berdiri sambil memandang Ciel dengan ragu. Dengan ekspresi takut-takut, dia membuka mulutnya.
“Jika … Jika anda membeli saya. B-Bisakah anda juga membeli ayah saya, T-Tuan?”
“Ayah?”
Ciel tampak heran. Dia kemudian melihat ke arah Norwen, meminta penjelasan.
“Sebenarnya Tiana menjadi budak karena ayahnya tidak mampu membayar hutang yang dia pinjam untuk menyembuhkan istrinya.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan ibunya?” tanya Ciel.
“Maaf, Tuan. Ibunya … tidak bisa diselamatkan.” Norwen menggeleng ringan.
“Apakah ayah Tiana dijadikan budak pekerja tambang?”
“Memang. Karena levelnya yang rendah dan tidak memiliki skill baik untuk dijadikan budak petarung, dia dijadikan budak kasar. Untuk penampilannya … tidak ada yang bisa diharapkan dari pria paruh baya.”
Ciel mengangguk. “Bawa dia keluar. Tiana dan orang-orang yang aku pilih ditambang orang itu, jumlah semuanya.”
“Terima kasih atas kebaikan anda, Tuan!” ucap Norwen dengan senyum bahagia di wajahnya. Orang itu bahagia karena jarang ada orang yang membeli budak dalam jumlah besar kecuali para budak kasar.
Melihat pria paruh baya pendek dan bulat terus berterima kasih, Ciel hanya bisa menggeleng ringan. Setelah menjumlah semua uang dan diberi diskon yang adil, Ciel segera membayar. Sedangkan untuk kontrak budak, dia akan melakukannya di kastil. Kontrak budak yang dilakukannya lebih baik daripada miliki pedagang seperti ini.
Nyawa seseorang tidak lebih berharga dari emas.
Memikirkan itu, Ciel menghela napas panjang. Pada saat dia hendak kembali, pemuda itu mendengar raungan dari sudut ruangan. Cukup jauh, tempatnya terlihat lebih kotor dibanding dengan tempat para budak kasar.
“Tempat itu?” tanya Ciel dengan ekspresi penasaran.
“Sebuah tempat kotor yang sebaiknya tidak anda lihat, Tuan.” Norwen berkata dengan ekspresi pahit.
Ciel menatap ke arah Camellia sebelum berkata, “Karena transaksi telah selesai, kamu bisa kembali terlebih dahulu dan mengatur mereka, Camellia.”
“Sesuai perintah anda, Tuan.”
Melihat ekspresi serius Ciel, Camellia sama sekali tidak menolak dan langsung patuh. Dia segera mengatur Tania, ayah Tania, dan sembilan belas orang lainnya untuk kembali ke Kastil Black Lily.
“Aku ingin melihat-lihat.”
“Tempat itu kotor, Tuan. Jadi mohon maaf jika itu membuat anda kurang nyaman.”
“Tidak masalah.” Ciel menggeleng ringan.
Sadar kalau Ciel bersikeras, Norwen sama sekali tidak menolak. “Tolong ikuti saya.”
Mengikuti Norwen, Ciel mulai melewati sel berisi para budak kasar. Setelah itu, dia akhirnya sampai di tempat budak-budak tawanan perang. Mereka terlihat lusuh dan juga sangat kurus.
Mereka berdua kemudian sampai di sebuah ruang kecil di sudut. Di dalam ruangan terlihat seorang wanita pada usia awal tiga puluhan dan seorang pemuda di usia sekitar 12 tahun.
Keduanya memiliki ciri khas yang sama. Rambut berwarna abu-abu lurus, terlihat halus dan lebat. Iris mata berwarna hitam legam. Namun ketika melihat keduanya, CIel langsung bergumam, “Lycan?”
“Saya terkejut anda mengetahuinya, Tuanku. Keduanya memang dari ras Lycan.”
Lycan bisa dibilang mirip atau hampir sama dengan Werewolf. Mereka tampak normal, tetapi saat bertarung, mereka bisa merubah wujud mereka menjadi sosok serigala humanoid yang ganas dan kuat.
“Kenapa mereka ada di sini?” tanya Ciel.
__ADS_1
“Mereka adalah tawanan perang. Dalam pembersihan wilayah sebelumnya, mereka ditangkap karena berhubungan dengan salah satu Count yang berkhianat. Ibunya adalah budak Count dan bocah itu bisa dibilang putra haram Count.”
“Bukan itu yang aku maksud.” CIel langsung menatap Norwen dengan ekspresi dingin.
“Alasan kenapa mereka di sini dan belum dibeli sampai sekarang karena kegigihan sang anak. Bocah itu memiliki kemauan kuat, kontrak budak biasa tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya.
Sedangkan kontrak budak kelas tinggi yang nyaris mutlak, tidak ada yang mau menghabiskan uang untuk hal semacam itu.
Sebenarnya anak itu, Theodore, memiliki keinginan yang sama seperti Tania untuk dibeli bersama ibunya.”
“Lalu kenapa tidak ada yang mau membelinya?” tanya Ciel.
“Itu karena … ibunya sakit keras. Bukan hanya luka fisik yang sulit disembuhkan, tetapi juga kutukan.
Dibandingkan harga untuk menyembuhkan ibunya, harga kontrak budak kelas tinggi lebih murah. Jadi … tidak ada yang mau melakukannya.”
Ciel kemudian menatap keduanya kemudian mengaktifkan skill ‘Eye of The Lord’. Tubuh Ciel tiba-tiba gemetar. Ekspresi terkejut terlintas di benaknya. Dalam diri Theodore, dia melihat 3 bakat bawaan.
Dari orang-orang yang pernah Ciel lihat, baru dirinya sendiri dan bocah itu yang memiliki skill bawaan semacam itu. Apalagi ketika melihat ketiga skill yang bernama Berserk, Stormbringer, dan Lunar Knight … ekspresi penuh keinginan terlintas di mata Ciel.
Sial! Benar-benar ada harta karun dalam tempat kotor seperti ini!
Namun ketika melihat kondisi ibunya yang sekarat, Ciel menghirup udara dingin.
“Buka pintunya … sekarang!”
Mendengar Ciel yang tiba-tiba marah, Norwen bingung. Namun dia dengan segera membuka pintu.
Ciel langsung memasuki ruang kecil dan sempit itu. Theodore yang melihatnya langsung berdiri di depan ibunya sambil menggeram. Meski kedua tangannya dirantai, bocah itu tampak tidak takut sama sekali dan malah berteriak.
“Siapa kamu! Apa yang kamu-”
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Ciel tiba-tiba menarik rantai yang menyambung dengan kerah di leher Theodore. Dia tanpa ragu membuang bocah itu ke samping.
Mendekati wanita yang memejamkan matanya dengan ekspresi pucat layaknya kertas, Ciel langsung mengambil sesuatu dari tas dimensi di pinggangnya. Apa yang dia ambil ada dua potion.
Tanpa ragu, Ciel langsung menjejalkan satu potion ke mulut wanita itu, memaksanya untuk minum. Setelah satu botol habis, Ciel langsung berdiri dan membuka satu lagi botol potion. Bukan untuk wanita itu minum, tetapi Ciel mengguyurkan ke sekujur tubuhnya.
“Apa yang kamu lakukan kepada ibuku!” teriak Theodore yang bangkit mencoba menyerang Ciel.
Menghindari serangan bocah itu dengan mudah, Ciel menatapnya dengan ekspresi dingin.
“Untuk sekarang ibumu selamat.”
“Apa-”
Theodore langsung menoleh ke arah ibunya. Wajahnya berangsur-angsur membaik. Napasnya yang melemah mulai kembali stabil. Bocah itu kemudian kembali menatap Ciel dengan ekspresi kaget. Namun apa yang dikatakan orang itu lebih mengagetkannya.
__ADS_1
“Jadilah pengikutku … aku akan menjamin keselamatan dan kesehatan ibumu.”
>> Bersambung.