Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Putra dan Putri Ratu Lilith


__ADS_3

Sebagai tanggapan, Ciel hanya tersenyum ramah sambil melambai.


“Terima kasih atas sambutan kalian. Maaf, aku sedang buru-buru karena harus segera menemui Yang Mulia Ratu.”


Mengandalkan nama ‘Yang Mulia Ratu’, Ciel dengan mudah menyingkirkan para penjilat itu. Salah satu orang itu buru-buru berbicara.


“Karena ini adalah kepentingan yang melibatkan Yang Mulia Ratu, tentu saja kami tidak berani menunda. Perjalanan aman, Pangeran Luciel.”


“Terima kasih.”


Setelah mengatakan itu, Ciel segera melewati gerbang istana sambil menunggangi Deschia. Para ksatria kagum ketika melihatnya. Bahkan di istana, tunggangan seperti itu masih bisa dibilang kelas atas.


Halaman depan istana sangat luas, ada air mancur dan banyak kebun bunga yang terawat dengan baik. Bahkan lantainya tersusun dengan rapi dan sangat bersih. Ciel segera melewati halaman depan memutari istana utama dan menuju ke Istana Utara.


Melihat bangunan tinggi, putih, dan megah itu membuah Ciel menghela napas panjang. Dia tidak menyangka akan segera kembali ke sini. Pemuda itu bahkan belum pergi selama satu tahun, tetapi ibunya benar-benar memanggilnya kembali.


Sampai di halaman depan Istana Utara, para ksatria yang berada langsung di bawah Ratu Lilith langsung memberi hormat. Salah satu ksatria bahkan berteriak dengan lantang.


“Pangeran Luciel telah tiba!” seru ksatria itu.


“Selamat datang kembali, Pangeran Luciel!” seru ksatria lainnya secara serentak.


Sudut bibir Ciel berkedut. Dia merasa kalau sambutan ini terlalu berlebihan. Lagipula, pemuda itu pernah melihat para ksatria mengantarnya pergi dari istana dengan wajah dingin. Sebaliknya, mereka menyambutnya dengan hormat.


Pintu utama istana terbuka, sosok wanita cantik muncul memakai gaun hitam dengan ornamen dan hiasan berwarna perak. Di belakangnya, tampak seorang gadis berpenampilan mirip dengan wanita itu. Melihat Ciel yang menaiki seekor Wyvern dari kejauhan, keduanya tampak terkejut.


“Selamat datang di rumah, Ciel kecil. Senang rasanya mau menemui ibu.”


Ciel yang melihat ibunya merasa agak aneh. Biasanya wanita itu lembut dan baik kepadanya. Namun sekarang Ciel dengan samar merasakan perasaan mengancam darinya.


Sampai di dekat tangga yang mengarah ke pintu, Ciel turun dari punggung Deschia. Dia menepuk kepala Wyvern itu sambil berbisik, “Tunggu sebentar di sini.”


Setelah membuat Deschia menunggu, Ciel segera menghampiri ibu dan adiknya. Sampai di depan keduanya, pemuda itu meletakkan satu tangan di dada kiri sebelum membungkuk hormat.


“Putra anda pulang, Ibu.”

__ADS_1


“Begitu sopan?” Ratu Lilith memiringkan kepalanya. “Kelihatannya kamu bersenang-senang di perbatasan selatan. Sejak kecil, ibu belum melihatmu seaktif ini. Kamu bahkan terlihat sedikit lebih kurus.”


Meski mengatakan demikian, Ciel yang memandang mata ibunya sudah mengerti apa yang wanita itu maksud.


‘Jadi kamu punya kemampuan? Jadi selama ini kamu membohongi ibu yang setiap hari bersedih memikirkan masa depanmu? Kamu benar-benar berani …’


Uhuk!


“Mungkin karena daerah itu cukup asri, jadi putra ini merasa ingin bermain-main.” Setelah memilih kata, Ciel akhirnya mengatakan itu.


“Hehehehe …” Ratu Lilith memandang Ciel dengan senyum di wajahnya. “Ibu benar-benar penasaran dengan petualangan kecilmu. Kamu tidak keberatan untuk bercerita kan, Ciel kecil?”


“I-Itu … Itu bisa diatur, Ibu. Namun putra ini harus mengantar Deschia ke kandang. Dia agak kurang jinak dengan orang lain. Aku takut dia akan menggigit orang sampai mati.”


Ciel langsung membuat alasan tanpa berkedip, seolah sudah sangat ahli dalam melakukan hal itu. Ratu Lilith yang melihat putranya mulai beralasan tampak muram. Menahan amarah, wanita itu berkata, “Baik. Lakukan apa yang kamu ingin lakukan seperti biasanya.”


Seperti biasanya?


Mendengar itu membuat Ciel merasa bersemangat. Dia buru-buru membungkuk sopan sambil berkata, “Terima kasih banyak, Ibu.”


Melihat Ciel pergi dengan ekspresi riang, sudut bibir Ratu Lilith berkedut, Tidak lama kemudian, wanita itu tersenyum misterius.


Meski tidak tahu kenapa tuannya begitu bahagia, Deschia dengan santai menggosokkan kepalanya dalam dekapan Ciel. Pemuda itu langsung tersenyum sebelum akhirnya pergi meninggalkan si Wyvern sendiri.


Tidak langsung pergi menemui ibunya, Ciel yang sudah terbiasa tidak diperhatikan memilih pergi diam-diam. Dia memutari bangunan Istana Utara. Sampai dia melihat jendela kamarnya, pemuda itu akhirnya berhenti. Ciel berencana untuk memainkan trik lamanya, datang dan pergi lewat jendela.


Selama belum makan malam, Ciel tidak ingin diinterogasi oleh ibunya. Jika saat makan malam, dia pasti tidak terlalu banyak ditanyai karena akan ada kedua kakak dan juga istri dari kakak lelakinya.


Aku merindukan ranjang empuk dan tumpukan buku menarik itu.


Pikir Ciel ketika dirinya mulai melayang perlahan. Namun ketika dia menginjakkan kaki ke balkon di luar kamarnya, pemuda itu tercengang ketika melihat apa yang berada di dalam kamar.


Di sana, Ratu Lilith duduk di atas kursi dekat meja belajarnya sambil tersenyum ke arahnya yang hendak masuk lewat jendela. Ciel langsung merasa seperti seorang pencuri kecil yang dipergoki oleh pemilik rumah.


“Kamu mengingatkanku saat memergokimu keluar dari jendela ketika membolos kelas baik itu pelajaran sihir atau berpedang, Ciel kecil.”

__ADS_1


“Ya … putra ini sedang bernostalgia, Ibu.”


“Hehehe … bernostalgia? Meski kurang empat bulan keluar dari rumah?”


“...”


“Sekarang kamu perlu menjelaskan semuanya kepada ibu, Ciel kecil.”


“Sebenarnya …”


Tok! Tok! Tok!


“Masuk,” ucap Ratu Lilith dengan ekspresi tidak senang. Melihat kalau yang masuk adalah Lilia, dia bertanya, “Ada apa, Lilia?”


“Ibunda … Itu … Ayahanda, Kak Alex, dan Kak Julia dalam perjalanan ke Istana Utara.”


Hmmm??? Kenapa begitu tiba-tiba? Tidak masalah. Hal ini malah membuatku bisa lepas dari interogasi ibu.


Pikir Ciel dengan senyum lega di wajahnya.


“Ciel kecil, kamu ikut dengan kami untuk menyambut saudara dan saudarimu yang telah tiba.” Ratu Lilith langsung memerintah.


“Tapi aku lelah … Ah! Maksudku, baiklah Ibu.” Melihat ibunya yang menatap dingin, Ciel langsung menjadi bocah penurut.


Meski agak malas, dia bersama dengan ibu serta adiknya menunggu di depan pintu Istana Utara. Tidak lama kemudian, sebuah kereta kuda mendekat. Pada saat berhenti, dua sosok keluar dari sana.


Yang satu adalah wanita berusia sekitar 20 tahun dengan rambut merah menyala ditambah iris biru layaknya langit. Dia tampak tinggi, elegan, dan cantik. Namun jelas … wanita itu memiliki sikap arogan yang tidak ditutup-tutupi.


Sementara yang satunya adalah seorang lelaki tampan berusia 20 tahun, dia memiliki rambut perak dengan iris merah bak rubi. Kulitnya tampak pucat dan pandangannya terlihat begitu dingin. Dia memakai pakaian berwarna putih dicampur sedikit hitam dengan ornamen emas.


Lelaki itu adalah kakak kandung Ciel sekaligus Pangeran ke-4, Alexander Dawnbringer.


Alexander tidak mengucapkan sepatah kata, tetapi tiba-tiba menghilang dari tempatnya. Ketika muncul, dia terlihat di depan Ciel sambil mengayunkan pedang yang diselimuti elemen angin tajam dan ganas tepat ke leher adiknya.


Ciel yang tidak menduga kakaknya sendiri tiba-tiba menyerangnya langsung menghindar. Sosoknya seolah berkedip, tiba-tiba muncul di sisi lain.

__ADS_1


Ciel dan Alexander saling memandang dalam diam.


>> Bersambung.


__ADS_2