Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Aku Terpaksa Melakukannya


__ADS_3

Sepuluh hari setelah Ciel mendapat surat.


Pangeran itu sedang duduk menunggu sesuatu sambil menatap langit biru luas tanpa awan. Matahari bersinar begitu terang sampai-sampai membuatnya hampir buta.


Ugh! Panas! Kenapa aku harus tetap menyiapkan ini dan itu di hari panas seperti ini?


Suara tapal kuda terdengar dari kejauhan. Mendengar itu, Ciel merasa agak bersemangat. Sebuah kereta kuda akhirnya sampai di depan bangunan utama kastil.


“Maaf membuat anda menunggu, Tuanku.”


Beberapa sosok yang turun dari kereta kuda langsung menyapa Ciel.


“Sama sekali tidak. Aku senang kamu datang tepat waktu, Mr. Lawrence.”


“Itu sebuah keharusan,” ucap Viscount Lawrence dengan sopan.


Sementara itu beberapa orang yang mengikuti Viscount Lawrence tampak kagum saat memandang Ciel. Bagi mereka, pemuda itu seperti legenda hidup. Level 5 (menengah) di usia 15 tahun, ahli sihir yang kuat dan pemimpin yang hebat. Sekarang, pemuda itu bahkan menjinakkan seekor Wyvern.


“Apakah barang itu sudah siap?” tanya Ciel.


“Tentu saja sudah, Tuanku. Meski waktunya agak terlalu singkat, saya rasa ini masih pantas.”


Mendengar itu, Ciel menghela napas panjang. Pemuda itu memandang orang yang mengikuti Viscount Lawrence, para pengrajin yang bekerja keras dalam waktu singkat yaitu satu minggu.


“Kalian pasti lelah karena permintaanku yang mendesak. Maaf telah merepotkan,” ucap Ciel dengan senyum tulus.


“Sama sekali tidak, Tuanku! Bisa membuat sebuah pelana untuk Wyvern milik anda adalah suatu kehormatan bagi kami!” ucap salah satu pengrajin dengan ekspresi bahagia.


“Kalau begitu bisa kalian bawakan pelana itu ke kandang?”


“Sesuai keinginan anda, Tuan!”

__ADS_1


Meski disebut dengan kandang, bangunan yang mereka tuju adalah sebuah bangunan besar dengan tembok berwarna putih dan pilar-pilar besar menopangnya. Bangunan itu bahkan lebih baik daripada rumah seorang pedagang kaya.


Masuk ke dalam ‘kandang’, mereka melihat lorong yang amat panjang. Di setiap kanan dan kiri lorong terdapat sebuah ruangan dengan luas 10 x 10 meter tanpa pintu. Hanya berbatasan tembok satu sama lain.


Di sisi kanan ada 7 ruangan dan di sisi kiri ada 6 ruangan yang difungsikan untuk tempat tinggal peliharaan pemilik kastil dan orang kepercayaannya. Ada juga satu ruang yang digunakan untuk menyimpan beberapa peralatan untuk kebersihan serta kotak-kotak kayu yang berisi berbagai jenis makanan. Kebanyakan dari mereka berisi daging.


Di sisi kiri, hanya ada satu ruang yang terisi. Makhluk yang ada di dalamnya adalah Four Winged Snow Eagle. Di sisi kanan juga masih terisi satu. Tentu saja itu adalah Deschia, Darkfrost Wyvern milik Ciel.


Melihat makhluk yang sedang berbaring santai itu membuat orang-orang merasa takjub. Sementara itu, Ciel merasa cukup jengkel.


Dasar pengkhianat! Ketika tuanmu sibuk melakukan banyak hal, kamu benar-benar hanya makan dan tidur. Dasar tidak berbakti!


“Perkenalkan, dia adalah Deschia.” Ciel berkata ketika mendekati Deschia bersama Viscount Lawrence dan beberapa orang lainnya.


“Ini Frost Wyvern? Kenapa saya merasa ini berbeda dengan yang ada dalam buku, Tuan?”


“Ini bermutasi. Tentu saja hanya warnanya. Lihat saja bentuk dan ukurannya, masih sama dengan Frost Wyvern biasa.”


“Namun bisa menundukkan Frost Wyvern … anda benar-benar luar biasa, Tuan.”


Deschia yang merasakan aura Ciel di sekitar membuka matanya. Makhluk itu menggeleng ringan sebelum akhirnya mengikuti instruksi Ciel untuk berdiri seperti biasa. Tentu saja, berdiri dengan dua kaki dan dua sayap sebagai penopang.


“Berikan aku kotak kayu itu. Biarkan aku sendiri yang memasangnya. Ngomong-ngomong … kalian hanya perlu memberitahuku bagaimana cara menggunakannya.”


Mengikuti instruksi, Ciel pertama-tama mengambil sebuah lapisan persegi yang cukup luas, 1 x 1 meter lalu menaruhnya di punggung Deschia sebagai alas. Kemudian Ciel baru memasang pelana di atasnya. Namun desain pelana itu sendiri cukup unik, berbentuk kursi pendek tanpa kaki dengan warna hitam.


Ciel merasa bahan yang digunakan untuk membuat pelana ini sangat baik dan nyaman digunakan. Pemuda itu juga merasa kalau pelana bisa dikatakan cukup empuk dan lembut.


Ciel kemudian mengikat tali (girth) ke pangkal sayap kiri dan kanan Deschia agar pelana terpasang kuat dan tidak bergeser. Dia juga memasang tali di perut bagian bawah dan membuat pelana itu benar-benar kokoh. Tampak seperti singgasana kecil di punggung Wyvern. Terakhir, Ciel memasangkan tali kekang ke pangkal leher Deschia.


Jika di kuda, tali kekang biasanya digunakan di kepala untuk mengatur pergerakan si kuda. Namun Deschia sebenarnya tidak membutuhkan hal itu. Alasan tali kekang dipasang tentu saja agar Ciel bisa memegangnya untuk menjaga keseimbangan dan juga memberi perintah seperti berhenti, naik, turun, dan semacamnya jika perlu.

__ADS_1


Melihat kalau semuanya terpasang dengan baik, Ciel mengangguk puas.


“Apakah ada yang membuatmu merasa tidak nyaman, Deschia?”


Mendengar pertanyaan Ciel, Deschia menggeleng. Meski merasa agak aneh, dia merasa kalau mengenakan hal seperti ini sama sekali tidak terlihat buruk.


“Baguslah kalau begitu!” ucap Ciel sebelum menghela napas lega.


Ciel kemudian langsung berpamitan dengan Deschia dan menyuruh Wyvern itu untuk membiasakan diri. Dia kemudian mengajak Viscount Lawrence dan yang lain untuk makan siang bersama. Tentu saja itu perjamuan yang cukup besar dan mewah. Setelah itu, Ciel mengirim mereka pergi.


Tentu saja Ciel menawari mereka untuk tinggal, tetapi Vicount Lawrence berkata kalau sebenarnya lelaki paruh baya itu juga sibuk. Tidak bisa bermain-main karena masih banyak yang perlu dilakukan.


Ciel memberi rasa terima kasih dan memberi sedikit ‘bekal’ untuk mereka bawa pulang.


Di sore harinya, Ciel mencoba menaiki Deschia untuk terbang mengelilingi langit di atas Kota Black Lily. Benar saja, dia merasakan rasa nyaman yang berbeda saat menaiki Deschia kali ini. Pemuda itu benar-benar puas dengan kecakapan Viscount Lawrence dan anak buahnya.


Setelah berkeliling, Ciel mengembalikan Deschia ke tempat tinggalnya sebelum melepas kembali pelana dan lainnya. Dia kemudian kembali ke bangunan utama kastil. Pemuda itu segera mandi sore. Setelah berganti pakaian dan merasa segar, barulah dia memanggil Elena dan Camellia.


“Apakah ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya Camellia.


“...” Elena juga memandang Ciel dengan ekspresi tenang.


“Besok aku akan berangkat. Camellia, urusan politik dan kepentingan wilayah di tanganmu. Sedangkan Elena, urusan militer, aku serahkan kepadamu.”


“T-Tapi Tuan. Apakah saya tidak bisa ikut?” tany Camellia dengan ekspresi sedih.


“Aku akan pergi bersama Deschia. Aku memerlukan kalian untuk menjaga wilayah ini untukku. Juga …” Ciel memandang keduanya. “Mulai besok, sebarkan selebaran itu. Ketika aku kembali, aku akan segera melanjutkan dengan rencana berikutnya.


“Sesuai dengan perintah anda, Tuan!”


Setelah beberapa percakapan, akhirnya Camellia dan Elena pergi. Dari balik jendela kantornya, Ciel memandang langit sore dengan ekspresi tak berdaya.

__ADS_1


Bukannya aku rindu rumah. Aku benar-benar terpaksa melakukannya!


>> Bersambung.


__ADS_2