Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Jean dan Raniel


__ADS_3

“Clark? Hey … Clark?”


Ciel berdiri di depan Clark sambil melambaikan tangan di depan wajahnya. Namun orang itu sama sekali tidak merespon dan hanya menatap kosong sembari tersenyum konyol. Seperti sosok yang telah menemui akhir hidupnya.


“Clark-”


Sebelum Ciel melanjutkan ucapannya, Clark tiba-tiba jatuh berlutut. Orang itu terlihat begitu menyesal. Membuat Ciel bingung harus menangis atau tertawa.


“Bukankah ada budak lain, Clark? Bagaimana kalau mencoba hal baru?”


Ciel benar-benar merasa seperti seorang guru yang sedang membujuk anak TK yang merajuk dan tidak ingin pulang ke rumah.


Mendengar ucapan Ciel, ekspresi kaku di wajah Clark berubah. Dia tiba-tiba berdiri lalu menepuk kedua sisi pundak Ciel dengan tangannya.


“Anda pasti tahu, Tuanku. Saya memang mengagumi anda dan ingin membuat harem seperti anda. Hanya saja, cinta saya hanya untuk para Centaur cantik. Anda pasti betapa indahnya-”


PLAK!!!


Bangunan Wild anda Happy Life bergetar seolah terkena gempa. Tubuh Clark yang tinggi dan kekar langsung roboh di tanah tak sadarkan diri. Melihat kadal konyol itu, Ciel mengehela napas panjang. Pemuda itu kemudian memegang kerah belakang Clark lalu menyeretnya pergi. Sebelum melewati pintu, Ciel menoleh ke belakang untuk melihat Norwen.


“Terima kasih karena repot-repot, Norwen. Karena tidak ada Centaur, orang ini malah merepotkanmu. Kalau begitu … kita bertemu lain kali.”


“S-Suatu kehormatan bisa melayani anda, Tuanku.”


Melihat sosok Ciel yang menyeret Clark pergi, Norwen seperti sedang melihat seekor husky yang diseret pulang oleh pemiliknya karena terlalu banyak bermain di luar. Dia hanya bisa tersenyum pahit sambil berdoa dalam hati.


Semoga Tuanmu menyisakan hidupmu, Lizardmen Bersayap.


...***...


Beberapa hari kemudian.


Pada jam makan siang, Ciel menghampiri Clark yang duduk di tepi lapangan sambil melamun.


“Kenapa? Masih memikirkan kejadian beberapa waktu lalu?”


Mendengar suara Ciel, tubuh Clark langsung terasa kaku. Tulangnya seolah berderit dan menjerit. Jiwanya berteriak untuk segera melarikan diri. Namun seluruh otot di tubuhnya kaku, benar-benar menyerah.


Menatap Ciel dengan ekspresi sedih, Clark menghela napas panjang.


“Jujur saja, Tuan. Saya masih sedikit kecewa. Padalah Saya selalu membayangkan. Tubuh dengan bulu pendek serta ekor yang halus, empat kaki ramping, kuku kuda hitam yang kuat … ditambah wajah menawan. Betapa bagusnya itu!”

__ADS_1


Aku bukan penggemar kuda, okay? Bagaimana aku bisa tahu hal-hal semacam itu?


Ciel mengeluh dalam hati. Dia tidak bisa tidak menggelengkan kepala. Pemuda itu benar-benar bingung bagaimana lingkungan bisa merubah sikap seseorang. Seorang kadal yang lahir dan hidup dengan kawanan kuda. Kadal itu benar-benar menganggapnya sebagai kuda. Hal seperti itu benar-benar unik di mata Ciel.


“Aku sudah memberi pesan kepada Norwen. Butuh waktu cukup lama, tetapi dia akan mencarikan banyak Centaur cantik. Jadi kamu bisa tenang,” ucap Ciel sambil mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh.


“Benarkah? Apakah itu benar, Tuan?”


Clark langsung berdiri dan mendekati Ciel. Dia hendak menepuk pundak Ciel dengan ekspresi bersemangat. Namun saat melihat tangan kanan Ciel yang terangkat, Clark mundur beberapa langkah dan tidak berani maju ke depan.


“Tentu saja itu benar. Jadi kamu harus berlatih dengan lebih serius mulai sekarang.” Ciel berkata dengan ekspresi dingin.


“Yosh! Aku harus melatik fisik dan stamina dengan baik. Jadi pada saatnya, aku tidak akan terlihat begitu buruk. Tiga … tidak! Targetku adalah lima!”


Clark mengambil tombaknya dengan ekspresi bersemangat. Setelah membungkuk sopan kepada Ciel, orang itu langsung menuju tempat latihan dengan semangat membara.


Melihat sosok Clark yang bodoh, Ciel tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. Dia hanya bisa tersenyum pahit sambil mengeluh dalam hati.


Orang ini …


Sore harinya, di ruang kerja Ciel.


Tok! Tok! Tok!


Ciel yang duduk santai di sofa sambil membaca buku berkata dengan ekspresi tak acuh. Pintu terbuka, Jean yang diikuti oleh sosok berjubah di belakangnya memasuki ruangan lalu menutup kembali pintu itu.


“Aku sudah membaca surat darimu. Aku tidak bilang kalau diriku bisa melakukannya, tetapi aku bisa mencoba. Hanya saja … apakah dia yakin untuk melakukannya? Lagipula, ini berbahaya dan memiliki resiko kematian.”


Jean hanya diam, tetapi kedua tangannya mengepal. Pemuda itu tampak tidak setuju. Namun hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Hanya berdiri dengan mantap di sana sambil menemani sosok berjubah di belakangnya.


“Kalau tidak salah, namamu Raniel?” Ciel berkata santai. “Buka jubahmu.”


“Baik, Tuan.”


Suara wanita yang lembut terdengar. Jubah dibuka secara langsung tanpa penundaan. Benar-benar menunjukkan sosok cantik sekaligus mengerikan.


Wanita itu adalah salah satu bawahan Jean. Dia memiliki penampilan yang seharusnya cantik, tetapi dirusak oleh bagian tubuh yang berubah menjadi serangga. Satu tangan berubah menjadi penjepit, ekor dengan sengatan di punggung, separuh wajah seperti serangga dan beberapa bagian tubuh dilapisi sisik hijau. Ya … dia adalah Entomancer yang gagal dan separuh tubuhnya berubah menjadi kalajengking.


“Kamu yakin ingin mencoba kembali normal? Tidak hanya sulit. Sekali lagi aku katakan, kamu mungkin mati.”


“Saya yakin, Tuan. Siapa wanita yang tidak ingin tampil cantik di depan kekasihnya? Jika rasa sakit dan pengorbanan itu sesuai dengan masa depan yang saya harapkan. Saya tidak keberatan bahkan jika resikonya adalah kematian.”

__ADS_1


“Kekasih?” Ciel langsung menatap ke arah Jean.


Jean sama sekali tidak menutupi hal itu. Dia malah tampak cemas dan segera membujuk Raniel.


“Kamu tahu, Ran? Aku sama sekali tidak keberatan jika kamu terlihat seperti itu. Bukan hanya aku, bahkan keluargaku-”


“Aku tahu itu, Jean. Aku tahu kamu memperlakukanku dengan baik bahkan jika penampilanku mengerikan seperti ini. Kedua orang tua dan adik-adikmu juga sangat baik. Tidak hanya memandangku secara fisik. Aku benar-benar bersyukur, tapi …


Tapi aku juga ingin menjadi istri yang baik. Wanita cantik yang bisa membuatmu nyaman. Aku juga ingin menjadi menantu sekaligus kakak ipar yang baik. Kita belum melakukannya, aku juga yakin kamu tidak keberatan dengan fisikku yang seperti ini.


Hanya saja, aku benar-benar menjadi wanita cantik sekaligus istri yang baik untukmu. Jika aku mati, itu berarti aku tidak pantas untukmu dan akan ada yang lebih baik untukmu di masa depan. Jadi izinkan aku melakukannya, okay?”


Melihat ke arah Raniel, Jean menghela napas tanpa daya. Dia tersenyum lembut sambil berkata, “Pastikan kamu bertahan, okay? Jangan tinggalkan aku sendiri.”


“Sayang.” Raniel menatap Jean dengan ekspresi penuh syukur.


Jean kemudian berjalan mendekati Ciel yang duduk sambil membaca buku. Meski itu agak mengharukan, pemuda itu benar-benar mengabaikan drama sinetron di antara keduanya. Dari ekspresinya, bahkan Ciel seperti tidak menganggap keduanya ada dalam ruangan.


Dug!


Bersamaan dengan suara itu, dahi Jean berada di lantai. Pemuda itu bersujud di depan Ciel lalu memohon.


“Tidak peduli dengan harganya, tolong bantu Ran, Tuanku! Bahkan jika anda menyuruh saya pergi ke medan perang, memburu para penjahat, atau bahkan mengelola banyak hal sekaligus … saya dengan tulus melakukannya. Jadi tolong!


Tolong bantu Ran!”


Melihat Jean yang bersujud di depan Ciel, Raniel merasa sudut matanya basah. Sementara itu, Ciel menutup buku lalu mengalihkan pandangannya dengan ekspresi tak acuh.


Sosok pemuda kuat. Terlihat tampan, cerdas, berbakti kepada orang tua, pendiam tetapi selalu membantu para juniornya, dan dengan tulus mencintai kekasihnya.


Melihat sosok seperti itu sebagai bawahan, Ciel merasa bangga. Dia menggeleng ringan lalu berkata dengan lembut.


“Bangun. Aku tidak suka seseorang bersujud di depanku. Lagipula, aku bukan Dewa atau semacamnya.”


“...”


Jean merubah posisinya dari bersujud menjadi berlutut. Mendongak ke atas, dia melihat sosok Ciel yang memandangnya dengan senyum lembut. Hanya kalimat singkat yang terucap dari bibir pemuda itu, tetapi membuat Jean merasa sangat bersyukur.


Dengan ekspresi lembut di wajahnya, Ciel berdiri di depan Jean lalu sedikit membungkuk sembari menepuk pundaknya.


“Serahkan saja padaku.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2