Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Benar-benar Tak Tertahankan


__ADS_3

“Jadi … kamu berniat merahasiakan hal itu?”


Mendengar pertanyaan Kaisar Julius, Ciel mengangguk lembut.


“Sampai kapan?” tanya Kaisar Julius.


“Sampai tidak ada satu hal pun di dunia yang bisa mengancam nyawaku.” Ciel menjawab santai sambil mengangguk dengan ekspresi tak acuh. “Lagipula, menyimpan lebih banyak kartu truf itu bagus.”


“Menyembunyikan terlalu banyak juga bukan hal yang baik.” Kaisar Julius menggeleng ringan.


“Kalau begitu, Ayah. Jika anda melihat anak di kubu musuh, mungkin itu dari kerajaan lain yang memiliki bakat luar biasa dan dapat mengancam anda, apa yang akan anda lakukan?”


“...”


Kaisar Julius diam. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Ciel. Hanya saja, pria itu merasa putranya terlalu berhati-hati. Bahkan bocah itu merahasiakan semuanya dari keluarganya sendiri. Hal itu membuat Kaisar Julius, sebagai ayahnya, sedikit kecewa.


“Lupakan saja, Ayah. Anda harus menganggap saya adalah iblis kecil dengan sihir api hitam, gravitasi, dan memiliki fisik yang sedikit lebih baik.” Ciel tersenyum lembut. “Juga, maaf karena mengecewakan anda, ibu, dan kakek. Sebagai junior, hal semacam ini sebenarnya tidak pantas dilakukan. Hanya saja, saya mungkin menderita paranoid. Merasa saya harus menyimpan semuanya sendiri. Jika tidak, saya akan merasa cemas akan bahaya. Putra ini berharap Ayah bisa mengerti.”


Menghela napas panjang, Kaisar Julius memejamkan mata sebentar. Mencoba yang terbaik untuk tidak terbawa suasana, dia mengangguk ringan.


“Saya akan merahasiakan semuanya dari ibu, kakek, dan semua orang. Namun, jika Kekaisaran Black Sun dalam ancaman. Sebagai Kaisar, Ayah berharap kamu mau menunjukkan seluruh kekuatanmu untuk membela tempat ini.”


“Aku menolak.” Ciel berkata tegas, membuat Kaisar Julius terdiam.


“...”


“Bukan untuk kekaisaran ini. Lagipula, terlalu banyak bangsawan korup dan menjijikkan. Saya tidak menyukai mereka. Jika saya menunjukkan seluruh kekuatan, itu bukan untuk kekaisaran, tetapi …


Untuk keluarga dan orang-orang yang saya sayangi.”


Setelah diam cukup lama, Kaisar Julius akhirnya menyetujui Ciel. Dia tidak memaksa putranya untuk mengangkat patriotisme atau semacamnya. Dia juga tidak memaksa Ciel yang memiliki bakat luar biasa menjadi kaisar berikutnya. Kaisar Julius sadar, sebagai seorang Ayah, bukan hal yang baik untuk mengekang putra dan putrinya.


Banyak jalan di masa depan. Jika mereka ingin membuat jalan, sebagai orang tua, tugasnya adalah mendukung mereka. Sedangkan ketika mereka bingung dan bimbang tidak tahu harus berbuat apa, tugas orang tua adalah menunjukkan jalannya.


Menghakimi dan menyuruh anak untuk menjadi apa yang mereka inginkan bukanlah solusinya.


“Lain kali, jika kamu membutuhkan bantuan Ayah, katakan saja.” Kaisar Julius berkata dengan ekspresi lembut.

__ADS_1


“Kalau begitu … saya ingin uang, Ayah!”


Melihat Ciel yang begitu langsung, ekspresi Kaisar Julius stagnan. Sadar kalau putra bungsu sedang menggodanya, pria itu terkekeh. Ayah dan anak yang jarang bertemu, terkekeh sambil menikmati waktu singkat mereka bersama.


Meski tugas orang tua adalah mendukung anak-anaknya, Ciel sebagai anak juga mengetahui apa yang benar dan salah. Sebagai seorang putra, menjadi berbakti adalah hal utama. Selain itu, meski membutuhkan dukungan, selama dia bisa, melakukannya secara mandiri adalah pilihan terbaik. Ketika terdesak, barulah mencari yang lebih tua untuk meminta saran atau bantuan.


Ayah Ciel adalah seorang Kaisar yang memiliki harta dan tahta. Jika dia ingin, selama meminta, semua bisa terwujud. Hanya saja, meminta kepada orang tua untuk keegoisan pribadinya bukan gaya Ciel. Jadi dia ingin melakukan semuanya dengan caranya sendiri.


“Ngomong-ngomong … apakah anda bisa merusak dan mengganti batasan darah pada artifak itu, Ayah?” tanya Ciel.


“Tentu saja aku memiliki cara. Hanya saja, itu memerlukan waktu. Dalam satu minggu, aku akan mengembalikannya kepadamu. Lalu kamu bisa memberinya makan dengan darahmu sehingga batasan darah baru tercipta dan hanya kamu yang bisa menggunakannya.”


“Terima kasih, Ayah.”


“Soal itu, Luciel.”


“Iya?” Ciel menatap Kaisar Julius dengan ekspresi aneh.


“Jujur saja. Di mana kamu mencuri senjata artifak ini? Jelas, ini bukan hal yang dimiliki orang biasa. Bahkan di Kerajaan tetangga, mungkin hanya Raja yang memilikinya.”


Sudut bibir Ciel berkedut sebelum menjelaskan.


“Aku mendapatkannya dari salah satu Jenderal Curses of Shadow, Vesperr.”


“Vesperr? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu,” gumam Kaisar Julius. Setelah mengingat laporan tentang beberapa Jenderal Curses of Shadow yang muncul, pria itu langsung menoleh ke arah Ciel dengan ekspresi heran.


“Jangan bertanya, Ayah. Ya, aku membunuh Vesperr tanpa melaporkannya.”


“Bukankah Vesperr adalah iblis level 6 (awal)? Ditambah dengan senjata artifak ini …”


“Tidak perlu menyindir, Ayah. Kamu pasti tahu … dengan bantuan Guru, aku yang mengalami kemacetan akhirnya naik ke level 6 (awal).”


“Level 6 (awal) …”


Kaisar Julius memandang Ciel dengan ekspresi heran. Tidak menyangka kalau putranya benar-benar memiliki bakat yang luar biasa. Sampai dirinya tidak bisa membandingkan sosok Ciel dengan semua jenius yang pernah dia temui.


“Kamu memiliki kekuatan setara dengan para Duke, kenapa kamu harus menyembunyikannya, Nak?” tanya Kaisar Julius.

__ADS_1


Menurutnya, selain dirinya atau ayahnya, yaitu Kaisar sebelumnya, tidak ada yang memiliki ancaman yang kepada Ciel dalam Kekaisaran Black Sun. Bahkan para mantan Duke tidak akan berani ikut campur dengan urusan semacam itu karena sudah membuat kesepakatan tertentu.


“Tidak perlu dilanjutkan, Ayah. Apa yang paling penting adalah aku baik-baik saja.” CIel berkata dengan nada bosan.


“Lain kali kamu harus berhati-hati. Jangan sampai kesombongan menuntunmu ke pintu kematian. Jangan meremehkan musuh walau mereka lemah. Ingat untuk menjaga diri.”


“Saya mengerti, Ayah. Kalau begitu, senjata artifak akan saya serahkan kepada anda. Karena urusan telah selesai, putra ini akan kembali.”


Ciel bangkit lalu berjalan meninggalkan ruangan. Namun sebelum mencapai pintu, suara Kaisar Julius terdengar.


“Bagaimana kalau menghabiskan waktu di Istana untuk hari ini?”


“Saya sudah berada dalam ruangan ini selama kurang lebih satu jam. Jika terlalu lama berada di Istana, saya takut para pangeran lain akan cemburu dengan hal semacam itu.


Lagipula, saya tidak ingin racun mematikan ada di atas piring atau dicegat bandit ketika pulang.”


Tanpa menoleh ke belakang, Ciel meninggalkan ruangan.


Melihat punggung putranya, Kaisar Julius menghela napas panjang. Diam-diam dia mengeluh dalam hati.


Iblis level 6 (awal) takut dihentikan oleh bandit di jalan? Omong kosong.


...***...


Tanpa terasa, enam hari berlalu begitu saja.


Waktu duel akhirnya tiba. Ciel menuju ke arena khusus naik kereta kuda bersama ibu, kakak, dan adik perempuannya. Tempat itu mirip dengan Colosseum, bangunan yang digunakan untuk menonton hiburan berupa pertarungan gladiator.


Hanya saja, Colosseum di tempat ini lebih mirip arena publik yang digunakan untuk berduel. Tentu saja, karena tempat publik, akan banyak warga di Royal Capital yang akan menontonnya. Kelihatannya fraksi Ratu Victoria menganggap kekuatan Ciel hanya ilusi yang dibuat dengan propaganda dan berniat mempermalukannya.


Melihat tempat yang begitu ramai, sudut bibir Ciel berkedut. Dia hanya bisa mengutuk orang-orang dalam hatinya.


Sial! Entah kenapa aku merasa seperti makhluk langka yang diperlihatkan dalam acara pertunjukan.


Benar-benar tak tertahankan.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2