Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Kota Golden Maple


__ADS_3

Keesokan paginya.


Ciel masih duduk tidak terlalu jauh dari api unggun yang telah padam. Pemuda itu menyesap secangkir teh dengan aroma herbal yang masih mengepul. Berpesta semalaman, dia sama sekali tidak mabuk atau kelelahan.


Sebaliknya, kebanyakan prajurit Centaur yang memberi penghormatan kepadanya sudah pulang atau tertidur di tempat.


Ciel kemudian melirik sosok yang duduk tidak jauh darinya. Sosok Clark menatapnya dengan ekspresi agak ragu. Kelihatannya hendak menyampaikan hal penting, tetapi takut akan sesuatu.


“Jika ada sesuatu yang ingin kamu ingin sampaikan, katakan saja, Clark.”


“Sebenarnya … sebenarnya saya punya permintaan, Tuan.”


“Apa itu?” tanya Ciel dengan ekspresi tak acuh.


“Bolehkah saya mengajak Caca untuk ikut kita berpetualang, Tuan?”


Mendengar itu, ekspresi tenang di wajah Ciel tiba-tiba menjadi stagnan. Pemuda itu kemudian menoleh ke arah Clark dan mengedipkan matanya. Tampak sedikit bingung.


“Bisakah kamu mengulanginya, Clark? Kelihatannya aku terlalu banyak minum. Aku tidak mendengarnya dengan jelas.”


“Bolehkah saya mengajak Caca untuk ikut kita berpetualang, Tuan?”


“...”


Menyadari kalau dirinya sama sekali tidak salah mendengar, Ciel menatap Clark dengan ekspresi tidak percaya. Dia sama sekali tidak percaya bahwa bawahannya sendiri memiliki sifat menyimpang seperti itu.


“Ketika kita kembali, kamu dilarang berada di dekat Eve. Pastikan bahwa kamu berada di jarak lebih dari seratus meter dari putriku! Kalau tidak …”


Ciel menatap Clark dengan ganas. Sementara si kadal langsung berkeringat deras. Kelihatannya lain kali tuannya tidak hanya akan mengikat lalu melemparkannya dari atas kastil. Mungkin saja, lain kali dia akan dilempar ke sungai penuh Demonic Beast kelaparan. Atau bahkan ke dalam kawah gunung berapi yang masih aktif.


“Anda salah paham, Tuanku. Saya tidak tertarik dengan Eve.”


“Jadi … kamu bilang Eve kecil sama sekali tidak imut dan menarik?” Ciel menatap dengan ekspresi dingin.


“...”


Clark tercengang. Di depan seorang ayah yang marah dan kehilangan rasionalitasnya, apapun yang dirinya lakukan tetap saja salah.


“Bukan begitu, Tuanku. Maksud saya-”


“Cukup, Clark.” Ciel menggeleng ringan. Ekspresinya kembali menjadi tak acuh seperti biasa. “Apapun itu, kamu dilarang membawa atau bahkan mengajak Caca pergi.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena tempat yang kita tuju cukup berbahaya. Kami tidak memiliki waktu untuk merawat anak kecil.”


“...”


Sadar bahwa ucapan Ciel sama sekali tidak salah, Clark hanya bisa menghela napas panjang. Awalnya dia berniat mengajak gadis kecil itu berpetualang lalu kembali ke Wilayah Black Lily. Si kadal bersayap berniat membesarkannya lalu menjadikan gadis itu sebagai pasangannya.


Ya … meski harus menunggu dan membesarkan selama hampir sepuluh tahun.


Jika Ciel tahu apa yang dipikirkan Clark, pemuda itu pasti akan kagum. Bukan hanya berniat menculik, bahkan orang itu ternyata berniat membesarkan seorang calon istri. Benar-benar hal yang agak tidak bisa disangka.


Akan tetapi, dikarenakan penolakan Ciel, Clark hanya bisa menyimpan pemikiran itu dalam hati. Tadi malam Clark juga sudah mencoba untuk mengajak putri bungsu Kepala Suku menari, tetapi ditolak dengan dingin. Gadis itu bahkan menatapnya dengan ekspresi menghina, cukup mirip dengan Zenara.


Siang harinya.


Tidak ada banyak hal yang terjadi. Selain untuk memuaskan keinginan Clark untuk mencari cinta sejati, Ciel memanfaatkan kesempatan itu untuk berdagang dengan Kepala Suku. Bisa ditebak, akhirnya sangat mulus. Pemuda itu berhasil mendapatkan bahan-bahan yang baik dengan harga miring. Bahkan beberapa rempah khas tempat itu.


“Apakah kalian akan pergi, Tuan Luciel?”


Mendengar pertanyaan Kepala Suku, Ciel mengangguk.


“Apakah kalian tamu undangan dari festival itu, Teman-teman dari jauh?” tanya Kepala suku dengan ekspresi terkejut.


“Bisa dibilang seperti itu.”


“Kalau begitu, saya beserta seluruh anggota suku ini berharap semuanya lancar tanpa halangan.”


Melihat para Centaur yang sangat baik dan ramah kepada mereka, Ciel memberi mereka senyuman hangat yang agak langka. Pemuda itu kemudian berbicara.


“Terima kasih. Kalau begitu … kami pergi.”


Dengan demikian, Ciel dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan. Karena sudah dua kali singgah, mereka berniat untuk mengunjungi satu kota lagi sebelum menuju ibukota Kerajaan Natrace, Kota Golden Maple!


...***...


Waktu kembali berlalu.


Tanpa terasa, sudah satu minggu sebelum pesta dan festival akan diadakan. Pada saat itu juga, Ciel dan rekan-rekannya akhirnya tiba di Kota Golden Maple.


Ketika Black Wyvern dan Pelican raksasa turun dari langit, para ksatria yang menjaga tembok kota tampak terpesona. Mereka tidak tahu bahwa akan ada tamu yang datang dengan cara epic seperti itu.

__ADS_1


Jika kebanyakan tamu datang dengan kereta kuda atau tunggangan pribadi yang rata-rata makhluk darat, Ciel dan rekan-rekannya benar-benar datang lewat udara. Hal yang tidak biasa dan terlihat lebih mempesona di mata banyak orang.


“Pemuda tampan yang menunggangi Black Wyvern,” gumam kapten penjaga. “Apakah anda Pangeran Luciel dari Kekaisaran Black Sun?”


Mendengar bagaimana orang-orang itu menyebutkan namanya, ekspresi Ciel agak aneh.


“Apakah kalian mengenalku?”


Para ksatria yang menjaga tembok kota saling memandang. Sementara itu, kapten ksatria malah memberi Ciel sebuah senyum ramah dan antusias.


“Selama itu di kota-kota besar baik di dalam Kekaisaran Black Sun atau Kerajaan di sekitarnya, nama anda pasti sering terdengar. Banyak dari kami yang telah mendengar tentang prestasi anda.


Selain itu, penampilan anda cukup mudah dikenali. Tampak luar biasa, elegan, dan mendominasi!”


Melihat bagaimana seorang pria paruh baya menatapnya seperti fan girl yang tergila-gila dengan idolanya, sudut bibir Ciel berkedut. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka namanya akan menjadi begitu populer. Padahal dirinya berusaha tidak menyolok dan menyembunyikan kekuatannya sendiri.


Ini akan menjadi merepotkan.


Kalimat itu langsung terlintas dalam benak Ciel. Dia berharap bahwa dirinya tidak dikenali lalu mengikuti pesta dengan tenang lalu pulang. Datang dan pergi tanpa banyak masalah!


Hal itu mustahil terjadi sekarang. Jangankan para bangsawan, bahkan ksatria pun mengetahui beberapa hal tentangnya. Tentu saja, di mata banyak orang dia adalah iblis level 5 (akhir) meski sebenarnya menyembunyikan kekuatannya sendiri.


“Izinkan kami mengantarkan anda, Pangeran Luciel!”


Melihat kapten yang antusias, Ciel tersenyum pahit sebelum mengangguk.


“Baik.”


Setelah mendengar persetujuan Ciel, mereka tampak sangat bahagia. Ciel dan rekan-rekannya kemudian di antar menuju pusat kota. Lebih tepatnya ke sebuah istana. Bukan istana utama atau istana istri Raja, tetapi istana tamu.


Ya. Kerajaan Natrace memang sangat berbeda dengan Kerajaan lainnya. Mereka membangun sebuah istana untuk tempat tinggal para tamu yang datang ketika ada festival. Berusaha memuaskan para tamu layaknya tuan rumah yang memperkenalkan kelebihan dari bangsanya.


Melihat banyak kereta kuda yang telah diparkir di sana, Ciel tahu bahwa dirinya sama sekali tidak terlalu awal. Namun dirinya sendiri juga bukan yang terkahir. Pada saat mereka tiba.


Sekelompok orang dengan pakaian bangsawan yang dipimpin oleh lelaki tampan dengan senyum ramah menghampiri Ciel dan yang lainnya. Lelaki itu tersenyum dengan tulus, sama sekali tidak ada kebohongan. Hal yang membuat Ciel menjadi terkejut.


Menurutnya, sosok yang datang menghampirinya itu adalah definisi dari ... orang baik.


Agak ragu, Ciel menggunakan skill ‘Eye of The Lord’. Namun setelah menggunakan skill itu, dia malah tertegun. Tidak percaya dengan apa yang telah dilihat oleh matanya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2