Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Ikutlah Denganku


__ADS_3

Melihat makhluk di depannya menyerah, sudut bibir Ciel berkedut. Setelah menghela napas panjang, pemuda itu akhirnya menyarungkan kembali katananya.


Mungkin dia terlahir cerdas? Itulah kenapa dia cukup pintar untuk meninggalkan lingkaran dalam dan bertelur di sini?


“T-Tuan …”


Shana berlari ke arah Ciel dengan tergesa-gesa. Melihat napasnya yang naik turun, Ciel merasa agak heran.


“Ada apa?” Ciel memiringkan kepalanya.


“Dia sudah menyerah. Tolong jangan sakiti dia.”


“Aku tahu itu.”


Ciel mengerutkan kening. Dia merasa kalau Shana cukup terobsesi dengan Abyssal Basilisk itu. Pemuda itu tidak bisa tidak bertanya.


“Kenapa kamu melarangku untuk membunuhnya? Kamu sudah mendengar penjelasanku sebelumnya, kan? Abyssal Basilisk itu berharga.”


“T-Tapi … Bukankah Abyssal Basilisk itu terlalu imut untuk dibunuh?” Shana memiringkan kepalanya dengan tatapan polos.


Mendengar wanita yang biasanya terlihat seperti pejuang pemberani malah terlihat polos dan imut, Ciel tertegun. Hanya saja, apa yang membuat pemuda itu heran adalah preferensi Shana dalam menggambarkan hal imut. Dia langsung menoleh ke arah Abyssal Basilisk.


Tubuh besar … sisik hitam, cukup tajam sekaligus kotor … enam kaki dengan kuku sekuat belati … Belum lagi kepalanya, terlihat begitu ganas dengan mulut penuh dengan taring setajam pisau. Air luarnya yang sangat beracun.


Ciel kemudian menatap Shana dengan heran.


“Makhluk seperti ini … imut?”


“Bukankah itu imut?”


Shana balik bertanya dengan ekspresi aneh. Tatapannya seolah mempertanyakan apakah Ciel normal atau tidak, yang membuat pemuda itu terdiam. Wanita itu merasakan tatapan marah Abyssal Basilisk yang diarahkan kepadanya dan menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi malu.


Jelas, Abyssal Basilisk masih menyimpan dendam kepada Shana karena melukainya. Ya … meski cukup cerdas, makhluk itu masih tidak tahu kalau Ciel yang menyuruh Shana melakukannya. Pada akhirnya, makhluk itu marah kepada Shana yang sebenarnya tidak bersalah.


Mengabaikan mereka semua, Ciel akhirnya membuat kontrak tuan dan pelayan dengan Abyssal Basilisk. Lebih tepatnya kontrak hewan peliharaan seperti yang dia lakukan dengan Deschia sebelumnya. Selesai melakukan itu semua dan yakin kalau Abyssal Basilisk sudah menjadi salah satu bawahannya yang setia, Ciel mengangguk puas.


“Bawa kami ke sarangmu.”

__ADS_1


Mendengar perintah Ciel, Abyssal Basilisk berbalik menuju sarangnya. Ciel dan Shana mengikuti dari belakang. Setelah masuk dalam goa yang dalamnya lebih dari seratus meter dengan kemiringan sekitar dua puluh derajat, mereka akhirnya sampai dia tempat yang cukup luas.


Ciel menatap tanah berlumpur di bawahnya dengan ekspresi tidak senang. Hanya saja, ketika melihat sarang Abyssal Basilisk yang mirip sarang buaya dalam kehidupan sebelumnya, tetapi disembunyikan dalam goa, dia merasa agak bersemangat.


Berpura-pura tak acuh dari luar, Ciel berjalan menuju sarang. Melihat kalau Abyssal Basilisk menatapnya dengan gelisah, Ciel tersenyum.


“Tenang. Aku tidak akan menyakiti keturunanmu.”


Memahami perkataan Ciel, Abyssal Basilisk terlihat lega. Ciel kemudian mendekati sarang, setelah mengeceknya, dia tampak kaget sekaligus bahagia.


“Ada tiga telur!”


Melihat tiga telur yang sedikit lebih kecil daripada bola voli, Ciel mengangguk puas. Tidak seperti di dunia sebelumnya di mana hewan bisa memiliki banyak telur, di dunia ini para Demonic Beast tidak memiliki keuntungan seperti itu. Sebaliknya, semakin tinggi level Demonic Beast, telur atau keturunan yang dihasilkan semakin sedikit.


Normalnya, Abyssal Basilisk akan memiliki satu atau dua telur. Lagipula, mereka juga masih keturunan naga yang kuat dan langka. Melihat tiga telur di depannya, Ciel bisa membayangkan tiga Abyssal Basilisk raksasa yang mungkin bisa dianggap tank hidup.


Tiga tank hidup! Luar biasa.


Ciel sekali lagi mengangguk puas. Dia akhirnya mengeluarkan tiga jubah bulu hangat lalu membungkus satu per satu telur dengan hati-hati. Karena benda hidup tidak bisa dimasukkan ke tas atau cincin dimensi, pemuda itu berniat membawanya secara manual.


“Bantu aku membawanya, Shana.”


“Mari kembali.”


Ciel keluar dari sarang sambil memegang dua bungkusan hitam, di belakangnya ada Shana yang membawa sebuah bungkusan hitam dan juga Abyssal Basilisk yang mengikuti.


Melihat penampilan Ciel, para ksatria, Theo, Zenara, bahkan Clark tampak kaget dan kagum. Mereka tidak menyangka, apa yang dianggap sebagai masalah dan sangat berbahaya benar-benar diselesaikan oleh Ciel dengan mudah.


Bukan hanya mudah, itu bisa dibilang terselesaikan tanpa pertarungan yang tidak berarti. Makhluk yang tampak ganas dan kejam itu benar-benar tunduk kepadanya. Hal itu sudah bisa menjadi gambaran seberapa kuatnya Pangeran Luciel.


Para pengikut Ciel menjadi lebih bersemangat, tidak sabar dengan masa depan yang telah menanti mereka. Mengikuti sosok besar seperti itu, jelas membuat masa depan mereka lebih cerah daripada tetap tinggal di rumah mereka dan bertani seperti kebanyakan orang di wilayah itu.


“Biarkan saya yang membawanya, Tuan.”


Theo mendekati Ciel dengan penuh semangat. Sebagai tanggapan, Ciel tersenyum ringan. Dia kemudian menyuruh Theo dan Zenara masing-masing membawa satu telur. Tentu saja, pemuda itu memperingatkan mereka untuk hati-hati karena yang mereka bawa adalah telur berharga.


Setelah itu, mereka akhirnya kembali ke suku Centaur. Setelah berjalan beberapa waktu, Ciel dan rombongan akhirnya sampai. Di suku, Ciel yang kembali dengan kemenangan telah sangat disambut dan dihormati. Sedangkan Clark yang sudah mau mengantar mereka ke tempat berbahaya malah sama sekali tidak dianggap ada.

__ADS_1


Ciel melirik ke arah Dragonborn itu, melihatnya tampak begitu terbiasa, dia menggeleng ringan. Pemuda itu heran, bagaimana Clark bisa terus hidup di lingkungan yang semacam itu. Padahal, banyak orang selalu membicarakan keburukannya dan tidak menghargai kebaikannya, tetapi dia tetap bertahan.


Melihat ke arah keluarga kepala suku beserta Zod yang menyambut Clark, Ciel tersenyum lembut. Dia akhirnya sadar kenapa Clark tetap bertahan di lingkungan seperti itu meski terasa sangat berat.


“Karena keluarga, kah?” gumam Ciel.


Meski tidak mengetahui apakah ada kebencian atau tidak dalam hati anggota keluarga, tetap saja keluarga adalah orang yang paling dekat kita. Meski kita membuat masalah, dianggap tidak berguna, dan sebagainya … orang tua mungkin kecewa, tetapi mereka tetap saja menjadi salah satu pendukung yang paling dekat dengan kita.


Ciel merasakan tarikan di bajunya. Melihat ke arah Theo yang menarik bajunya, dia memiringkan kepalanya.


“Ada apa, Theo?” tanya Ciel.


“Saya tidak tahu kenapa anda terlihat bersedih, Tuan. Namun Theo ada di sini jika tuan ingin bercerita,” ucap Theo dengan hati-hati.


Ciel sempat terkejut, tetapi tatapannya kian melembut, senyum tulus terlihat di wajahnya. Senyum hangat yang jarang terlihat di wajah tampan sosok yang dijuluki Marquis of Blackfield itu.


“Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?” Ciel terkekeh.


“Tentu saja ibu saya, Tuan.” Theo menjawab dengan pasti.


Menggelengkan kepalanya, Ciel segera mencoba melupakan kenangan-kenangan yang tidak diperlukan itu. Dia merasa agak malu kepada dirinya sendiri karena membuat seorang anak seperti Theo mengkhawatirkannya.


Karena ketika sampai di suku hari sudah sore, Ciel dan rombongan akhirnya memutuskan untuk tinggal. Mereka merayakan malam dengan berpesta. Kebanyakan hidangan adalah masakan untuk vegetarian. Ciel merasa itu tidak buruk, tetapi yang membuat lebih spesial adalah minuman yang Centaur buat dari beberapa jenis buah aneh dan madu. Rasanya benar-benar membuat Ciel merasa cukup puas.


Keesokan harinya di rumah kepala suku.


“Jadi … apa yang ingin anda bicarakan dengan keluarga kami, Pangeran Luciel?”


Kepala suku yang terlihat lebih sehat menatap Ciel dengan heran. Tidak menyangka kalau pemuda itu ingin bertemu dengannya dan membahas sesuatu sebelum pergi.


Ciel melihat kepala suku, istri kepala suku, Zod, dan Clark. Tatapannya berhenti saat memandang Clark.


“Clark … selain kurang dihargai, menurutku, bakatmu sangat sia-sia jika kamu terus bersembunyi di tempat seperti ini.


Ikutlah denganku dan jadi pengikutku! Selain menjadi lebih kuat, aku yakin dunia luar akan membuatmu lebih bebas! Membuatmu lebih mengerti arti kehidupan!”


Clark yang awalnya melamun langsung menatap Ciel dengan ekspresi terkejut. Benar-benar wajah kadal yang melamun. Tidak menyangka … ada orang yang akan berkata seperti itu kepadanya.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2