Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Kedatangan Para Tamu


__ADS_3

Tengah malam, di dalam kamar Pangeran Heath.


Duduk di depan cermin, pemuda yang tampak jujur memandangi dirinya sendiri. Saat ini, senyum ramah sama tidak terlihat di wajahnya. Ekspresinya tampak begitu datar.


“Ya. Semua itu bukan takdir, tetapi nasib yang dibuat oleh pilihan yang salah. Ayah salah, dia seharusnya tidak memilih kakak bodoh yang tidak bisa diandalkan. Bukankah aku sudah baik selama ini? Aku melakukannya dengan jujur, baik, dan terbuka.


Kenapa … kenapa Ayah sama sekali tidak mengerti?”


Memandangi dirinya sendiri yang berada di cermin, Heath memegangi kepalanya sendiri. Mulai menjadi lebih tertekan. Dia benar-benar baru kali ini meragukan sesuatu dalam hidupnya.


“Tidak … tidak … mungkin saja karena aku terlalu baik? Iya, kan? Ayah memilih kakak karena aku kurang tegas. Mungkin karena itu, kan?”


Heath menunduk, mulai agak ragu. Kebaikan dalam hatinya sendiri yang selalu mementingkan orang lain membuatnya dalam kondisi seperti itu.


“Apakah Ayah tidak bisa mengatakannya begitu saja? Daripada si bodoh itu, aku jauh lebih bisa diandalkan. Apakah Kerajaan ini memerlukan sosok yang lebih kejam dan tegas?


Aku bisa … ya! Aku bisa!”


Heath memegangi kepalanya. Menatap cermin, wajah yang seharusnya ramah digantikan wajah terdistorsi, tampak penuh rasa marah, sakit dan bimbang.


“Daripada si bodoh yang mementingkan uang dan bertingkah seperti monyet di musim kawin, selalu mencari gadis-gadis untuk di ajak tidur … aku lebih baik!


Aku berpendidikan lebih baik! Aku juga lebih mengerti sisi bangsawan atau rakyat biasa! Aku lebih menyayangi Kerajaan ini! YA! AKU LEBIH MENYAYANGI KERAJAAN INI!”


Pyarr!


Cermin di depan Heath hancur oleh pukulannya. Banyak serpihan cermin jatuh ke karpet. Pemuda itu menunduk, melihat kepalan tangannya yang terluka. Di mana darah mengalir dari sana.


“Jika memang kurang tegas dan kejam, aku akan melakukannya. Daripada harus hancur, biarkan aku yang melakukan semuanya.”


Mengangkat kepalanya, ekspresi dingin dan tak acuh terlihat di wajah Pangeran Heath.


...***...


Keesokan harinya.


Membuka matanya, Ciel merasa agak kedinginan. Pemuda itu entah kenapa merasa bahwa dirinya telah melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan. Namun Ciel juga bingung.


“Apakah perkataan santai seperti itu bisa mempengaruhi seseorang? Belum lagi Pangeran? Seharusnya tidak, kan? Ya … sepertinya aku terlalu banyak berpikir.”


Tok! Tok! Tok!


Mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, Ciel segera menjawab.


“Masuk.”


Sosok ketiga budak baru memasuki ruangan. Mereka masih memakai pakaian maid, tetapi diganti dengan pakaian dengan bahan yang lebih bagus. Selain itu, terlihat sedikit lebih ketat. Secara samar menampakkan lekuk tubuh indah mereka.

__ADS_1


“Anda sudah bangun, Tuan.”


“Ya. Aku baru saja bangun.” Ciel menjawab santai. “Memangnya ada apa, Eileen?”


“Kalau begitu saya akan menyiapkan bak. Kami akan memandikan anda. Tentu saja, anda boleh melakukan hal yang lainnya juga.” Eileen berkata dengan ekspresi malu-malu di wajahnya.


“...”


Mendengar itu, Ciel terdiam sejenak. Dia kemudian menghela napas panjang.


“Tidak. Biarkan aku mandi sendiri, siapkan saja airnya.”


“T-Tapi, Tuan …”


“Ada apa, Eileen?”


“Anda memberi kami posisi lebih baik. Makanan yang lebih enak. Dan banyak keuntungan lain. Jika tidak melakukan apa-apa … kami merasa tidak nyaman.


Kami … merasa tidak melakukan hal yang seharusnya.”


Melihat ekspresi tertekan di wajah Eileen, bahkan Jasmine dan Bianca. Ciel sebagai tuan merasa agak kasihan. Namun dia tahu tidak boleh melakukan hal yang melebihi batas. Setelah berpikir sebentar, pemuda itu akhirnya bicara.


“Siapkan saja airnya, aku akan mandi sendiri. Untuk apa yang harus kalian lakukan, aku akan memberitahu setelah itu.”


Meski agak kecewa, ketiganya mengangguk sambil berkata secara bersamaan.


“Ya … di sana. Itu terasa cukup baik.”


Ciel duduk di tepi ranjangnya. Di belakangnya, terlihat sosok Eileen yang memijat pundaknya. Sebagai service, sesekali wanita itu menggoda tuannya dengan menempelkan miliknya ke punggung pemuda itu.


Ciel yang merasakan sesuatu kenyal dan lembut menekan punggungnya menahan diri. Di lantai, terlihat sosok Jasmine yang duduk sambil memijat kakinya. Sedangkan di sebelah kanan Ciel, sosok Bianca sibuk mengupas buah dan memotongnya kecil-kecil. Dia akan menyuapi sesekali ketika tuannya memintanya.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk.” Ciel berkata santai.


Ketika pintu terbuka, tiga sosok masuk ke dalam ruangan. Mereka adalah Clark, Savian, dan Ferel. Pada saat mereka masuk ke kamar dan melihat sosok Ciel yang begitu ‘santai’, mereka tidak bisa tidak terkejut.


Savian tersenyum pahit. Ferel tidak menutupi ekspresi iri di wajahnya. Sedangkan Clark, dia malah melamun. Kelihatannya sedang membayangkan dirinya dilayan oleh para Centaur cantik dengan cara yang sama.


“Apakah ada sesuatu yang penting?”


Suara Ciel memecah keheningan. Sadar niat mereka menemui pemuda itu, Savian segera menjelaskan.


“Apakah anda tertarik untuk turun ke lantai satu, Pangeran Luciel?”


“Tidak. Aku tidak tertarik dengan tempat seperti itu.”

__ADS_1


“Apakah anda tidak penasaran, Pangeran Luciel?” tanya Ferel.


“Penasaran dengan apa?”


Ciel memandang ketiga orang yang datang kepadanya dengan ekspresi bosan. Sementara itu, sudut bibir Ferel dan Savian berkedut. Namun mereka berhasil menahan diri untuk tidak mengumpat.


Savian berkata, “Para Pangeran akan tiba bersamaan di hari ini. Baik Pangeran dari Kekaisaran Black Sun atau empat kerajaan lainnya.”


“Haruskah aku peduli dengan mereka?”


Mendengar kalimat itu terucap dari mulut Ciel, Ferel dan Savian terdiam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya sosok pangeran di depan mereka lebih tahu. Namun melihat bagaimana ekspresi Ciel, mereka tidak berani menyela.


“Baiklah. Aku akan turun.” Ciel berkata dengan ekspresi tidak terlalu puas. “Benar-benar merepotkan …”


Beberapa waktu kemudian.


Sosok Ciel yang diikuti oleh Clark, Savian, dan Ferel muncul di lantai pertama. Pemandangan yang membuat banyak bangsawan lain tampak cukup kaget. Kebanyakan dari mereka adalah bangsawan dari Kerajaan Natrace.


Sedangkan sisa tamu, masih ada beberapa perwakilan Duke dari Kerajaan lain. Kebanyakan belum datang. Khususnya dari Kekaisaran Black Sun. Selain dirinya sendiri, Ciel bahkan tidak melihat tujuh tamu lainnya.


Pada saat itu, Ciel melihat sosok Heath yang muncul. Melihat dirinya, orang itu mengangguk sambil tersenyum. Tampak masih ramah seperti biasanya.


“Apakah menunggu para tamu, Pangeran Luciel?”


“Ya …” Ciel tampak bosan. “Lebih tepatnya para Pangeran itu. Meski enggan, sebagai yang lebih dahulu datang, paling tidak aku harus menyapa mereka.”


“Anda masih jujur seperti biasa.” Melihat ekspresi bosan Ciel yang tidak ditutup-tutupi, Heath tersenyum.


Keduanya pun menunggu sebentar.


Setelah beberapa waktu, akhirnya barisan kereta kuda akhirnya tiba. Setelah melihat sekilas, Ciel menghitung ada dua puluh gerbong kereta. Tujuh di antaranya memiliki lambang Kekaisaran Black Sun.


Empat dari Kerajaan Iron Blood …


Empat dari Kerajaan Vastoreen …


Tiga dari Kerajaan Blue Spark …


Tiga dari Kerajaan Ambersea …


Tujuh dari Kekaisaran Black Sun …


Melihat kereta kuda yang berhenti dalam kelompok masing-masing, ekspresi Ciel tidak berubah. Pemuda itu masih memasang ekspresi bosan dan malas di wajahnya. Dia hanya sedikit mengeluh dalam hati.


Dari banyaknya tamu, aku harap tidak akan ada masalah yang merepotkan.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2