Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Skakmat


__ADS_3

BLARRR!!!


Ditemani dengan ledakan keras, gerbang Kastil Scarlet Roze terbuka. Ribuan pasukan dengan armor perak dengan bercak darah di sebagian tempat langsung menerobos masuk. Mereka semua adalah prajurit elit di bawah Duke Raevern.


Sosok Duke Raevern juga memasuki kastil di belakang para prajurit. Melihat situasi kastil yang begitu sepi, dia merasa situasinya tidak beres.


“Segera cari penghuni kastil! Aku tidak percaya ribuan orang yang mundur ke kastil bisa menghilang begitu saja!”


“Sesuai perintah anda, Pak!” seru para prajurit bersamaan.


Para prajurit mulai maju dan menggeledah kastil. Setelah beberapa jam, seseorang melapor dengan ekspresi wajah agak pucat.


“Maaf, Pak! Jejak Marcus Bathory beserta para pengkhianat sama sekali tidak ditemukan. Namun …”


“Ada apa???” Duke Raevern mengangkat alisnya.


“Ditemukan sebuah laboratorium besar di bawah kastil.”


“Bawa aku ke sana.”


“Baik, Pak!”


Memasuki bangunan utama kastil, Duke Raevern kemudian menuju ke sebuah ruangan luas penuh dengan lukisan para kepala Keluarga Bathory. Di tengah ruangan, ada air mancur dengan sebuah patung wanita cantik di tengahnya.


Patung itu telah bergeser dan di bawahnya ada anak tangga menuju ruang bawah tanah. Karena prajuritnya telah memeriksa, Duke Raevern dengan percaya diri menuruni anak tangga. Namun setelah turun cukup dalam dan sampai di ruangan yang begitu luas, dia tercengang.


Di bawah tanah, ada sebuah ruang besar kira-kira mirip dengan ukuran stadion basket nasional. Di sana ada banyak alat-alat aneh dan juga banyak sel. Mengecek bagian sel, Duke Raevern menggertakkan gigi dengan marah.


Selain sel yang berisi berbagai macam Demonic Beast, ada sel yang berisi iblis-iblis dari yang muda sampai remaja. Mereka semua memakai pakaian compang-camping, jelas dari kalangan tidak mampu. Karena tidak mungkin asal menargetkan orang, Marcus jelas cukup cerdik untuk ‘merekrut’ satu per satu anak dari daerah miskin.


“Periksa apakah tidak ada kelainan pada mereka. Jika aman, bebaskan mereka.”


Setelah memerintah pasukannya, Duke Raevern pindah ke tempat lain. Dia melihat banyak mayat yang ditumpuk. Meski sebagian dari mayat masih memiliki wujud agak normal, kebanyakan dari mereka memiliki bentuk aneh. Seolah boneka yang dijahit dari bagian-bagian boneka lain yang berbeda.

__ADS_1


“Marcus … keparat itu.” Duke Raevern menjadi semakin tidak sabar.


Meninggalkan tempat itu, dia kemudian menuju lokasi lain. Tempat itu adalah sel individual. Berbeda dengan sel tahanan yang bercampur, di dalamnya terdapat anak-anak yang berhasil di kembangkan. Mereka semua memiliki ekspresi kosong, seolah telah kehilangan semua emosi mereka.


Melihat ekspresi di wajah mereka, Duke Raevern mengingat ketika sedang melawan pasukan Marquis Bathory di medan perang. Selain memiliki kemampuan di atas prajurit rata-rata, mereka sama sekali tidak takut mati. Benar-benar terus berbaris dan bertarung seperti robot yang diprogram untuk berperang.


Ketika dia mendekati salah satu sel, seorang anak bangkit dan tiba-tiba mencoba menyerangnya. Benar-benar seperti robot yang menyerang orang asing. Hal itu membuat Duke Raevern semakin menyesal.


Sambil berbalik pergi, dia memberi perintah kepada prajurit di bawahnya.


“Hapus mereka. Pastikan menghabisi dalam satu pukulan. Jangan biarkan mereka merasa kesakitan.”


“...”


Tidak menjawab, para prajurit hanya memberi hormat dengan ekspresi tertahan.


Duke Raevern kemudian menuju ke ruangan terakhir yang jika dia tidak salah tebak, sebelumnya memiliki penjagaan paling ketat.


Jelas itu adalah jebakan. Jika Duke Raevern tidak berhati-hati, dia takut kalau itu akan memicu jebakan. Dari betapa rumitnya jebakan itu, pria itu menebak kalau jebakan itu dipicu, bukan hanya merusak apa yang ada di dalam tabung kaca … mungkin saja juga meledakkan seluruh ruang bawah tanah.


Melihat sosok yang di dalam tabung kaca, Duke Raevern merasa agak rumit.


“Tidak peduli apa itu … jelas itu sangat berharga.”


Duke Raevern berpikir untuk melaporkannya kepada Kaisar Julius, tetapi selain pujian dan beberapa hadiah kecil, paling-paling dia dianggap berkontribusi untuk Kekaisaran Black Sun.


Dia kemudian mengingat sosok pemuda tampan yang terlihat begitu dingin. Meski terlihat tak acuh terhadap banyak hal, sosok itu jelas memiliki visi ke depan. Sosok jenius … dan bukan sembarang jenius.


“Jika hal itu berguna bagi Pangeran Luciel dan di kemudian hari dia diangkat sebagai kaisar … Keluarga Raevern pasti mendapat banyak manfaat karena mendukungnya.”


Memikirkan masa depan, sudut bibir Duke Raevern terangkat. Dia terlihat begitu bahagia. Untuk saat ini, pria itu memutuskan untuk menjaga tempat ini tetap rahasia.


...***...

__ADS_1


Marcus Bathory yang memimpin kurang lebih dua ribu pasukan muncul di sebuah bukit paha hutan yang cukup jauh dari Kota Scarlet Roze. Mulai dari sana, Marcus memimpin rombongan untuk terus menuju ke arah barat daya, menuju lokasi perbatasan antara wilayahnya dengan wilayah Blackfield.


Alasan dia menuju ke arah itu karena itu adalah satu-satunya cara. Arah lain tidak bisa dilalui karena harus bertemu dengan kota-kota besar yang dijaga oleh pasukan Aliansi Bangsawan South Duchy setelah mereka menaklukkan dan menempatinya.


Selain itu, Marcus berniat lari ke arah itu karena lokasi perbatasan relatif sepi. Tidak hanya itu, perbatasan yang dia tuju adalah perbatasan antara tiga wilayah. Selain wilayahnya dan wilayah Ciel, di sana juga ada wilayah netral yaitu Shadowmist Forest.


Meski cukup berbahaya, Shadowmist Forest bisa menjadi tempat untuk mereka berlindung. Selain itu, di sana juga banyak hal-hal yang cukup berharga baik itu tanaman, Demonic Beast, dan sebagainya. Marcus berniat untuk membuat kediaman di sana untuk mengungsi sementara.


Jika sudah lewat beberapa waktu dan Curses of Shadow tidak menjemput mereka, Marcus berniat untuk bergabung dengan kerajaan tetangga. Meski di Kekaisaran Black Sun dia bergelar Marquis, dengan kekuatannya, dia bisa menyamai rata-rata Duke dari kerajaan tetangga. Tentu saja, selama Keluarga Bathory bersembunyi, kerajaan itu tidak akan menolak orang-orang kuat yang bergabung dengan mereka.


Hanya saja … Marcus tidak mengetahui kalau rencananya telah diprediksi oleh Ciel dan Duke Raevern.


Setelah berhari-hari terus melarikan diri dan hampir sampai di perbatasan, Marcus dan pasukannya akhirnya sampai di padang rumput yang luas. Hanya saja, setelah melewati setengah padang rumput, dia melihat puluhan ribu prajurit yang berbaris di sana. Matanya langsung menyipit ketika melihat bayangan hitam yang terbang di langit menuju ke arahnya.


Ketika sosok itu semakin dekat, dia bisa melihat jelas sosok pemuda tampan yang menaiki seekor Wyvern hitam.


“Luciel Dawnbringer …”


Marcus bergumam pelan. Dia tidak menyangka bocah yang lebih muda dari putranya sendiri itu melakukan banyak keajaiban. Selain itu, sosok Luciel yang tampak tak acuh entah kenapa membuat Marcus merinding.


Sosok Ciel tiba-tiba meniup sebuah peluit aneh. Dengan aba-abanya, seluruh barisan langsung bergerak dua arah. Gerakan itu terus berlangsung cukup lama. Namun, Marcus dan rombongan yang sudah kelelahan tidak bisa berbuat apa-apa.


Lima puluh ribu prajurit mengelilingi Marcus dan pasukannya dengan jarak yang cukup jauh. Jelas itu jarak yang aman dan serangan tidak akan langsung diluncurkan.


Sosok Ciel semakin mendekat, setelah berjarak kurang dari lima puluh meter, dia berhenti. Deschia mendarat di tanah. Pemuda itu melihat pasukan yang bisa dibilang terlihat menyedihkan lalu menggeleng ringan.


“Usahamu sia-sia, Marcus. Ya, bagaimana mengatakannya …”


Ciel memandang Marcus dengan tatapan dingin.


“Skakmat.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2