
Sial! Aku berlebihan!
Ciel yang telah melepaskan anak panah itu langsung terkejut. Dia tidak menyangka kalau dirinya seceroboh ini. Melihat anak panah yang melesat, pemuda itu menjadi pucat. Jika itu sampai mengenai Zack … hal yang buruk pasti terjadi.
Pada saat itu, Kaisar Julius menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Zack. Entah sejak kapan selesai merapal, tangan kanan Kaisar Julius diselimuti oleh api yang membentuk seperti cakar naga. Dengan ekspresi dingin, dia langsung meraih anak panah hitam yang tiba-tiba muncul di depannya.
Suara ledakan yang teredam terdengar. Kaisar Julius tampak tak acuh dari luar, tetapi merasa terkejut dalam hatinya.
Meski telah menggunakan sihir Flame Dragon Claw … anak panah ini benar-benar membuat tanganku mati rasa?
Membayangkan apa yang terjadi jika anak panah itu sampai mengenai Zack, wajah Kaisar Julius tampak muram.
“Apa maksud semua ini, Luciel? Kamu benar-benar menggunakan sihir semacam itu kepada temanmu sendiri! Apakah kamu ingin membunuhnya!” seru Kaisar Julius dengan tatapan dingin.
“Aku-”
“Yang Mulia Kaisar, tolong jangan memarahi Pangeran Luciel! Saya sendiri yang memintanya untuk serius agar bisa membandingkan kekuatan kami,” ucap Zack dengan nada hormat tetapi tegas.
Mendengar si berisik yang biasanya dia acuhkan membelanya, Ciel merasa agak terharu. Pemuda itu merasa cukup beruntung. Meski tidak memiliki banyak teman, dia memiliki seorang teman yang peduli kepadanya.
“Saya tahu diri saya masih sangat lemah. Jadi … tolong izinkan saya untuk mengikuti Pangeran Luciel ke perbatasan selatan untuk mencari pengalaman!” tambah Zack dengan nada bersemangat.
Ikuti aku ke perbatasan selatan?
Ciel merenung. Hatinya tiba-tiba menjadi dingin. Pemuda itu menatap Zack dengan ekspresi kosong.
Sial! Jadi ini maksudmu! Tidak mungkin! Aku tidak akan menambahkan satu variabel yang akan membuat rencanaku berantakan!
“Kelihatannya itu bukan ide yang buruk.”
“Ayah!” seru Ciel dengan segera, “Meski perbatasan selatan adalah wilayahku dan aku sudah mulai mengelolanya, masih banyak hal yang cukup berbahaya di sana. Jika sesuatu sampai terjadi dengan Zack, Duke Flamehart pasti akan merasa sedih.”
Zack yang mendengar ucapan Ciel merasa kalau dirinya dikhawatirkan. Dia tidak bisa tidak terharu. “Argh! Sahabatku! Kamu ternyata benar-benar mengkhawatirkanku! Aku tahu … alasan kenapa kamu menggunakan sihir semacam itu pasti karena kamu yakin Yang Mulia Kaisar akan turun tangan. Kamu pasti berniat membuatku melihat kalau dunia ini berbahaya! Kamu benar-benar orang yang sangat baik, Sahabatku!”
Aku? Orang baik? Kamu berlebihan! Aku hanya tidak ingin kamu mengikutiku!
Ciel meraung dalam hati. Pemuda itu merasa pahit dan hina. Dalam pandangan temannya, dirinya benar-benar dianggap begitu baik. Kepolosan temannya itu kadang membuat hati nuraninya sedikit terluka.
“Zack … Aku senang Ciel memiliki sahabat sepertimu. Dan kamu Ciel, meski memanfaatkan ayah itu ceroboh, niatmu begitu tulus, jadi aku memaafkanmu.” Kaisar mengangguk, merasa senang karena putranya yang pemalas ternyata adalah anak yang baik. Bukan hanya itu, dirinya juga senang menyadari kalau putranya sebenarnya masih memiliki teman sejati.
__ADS_1
Ugh! Hatiku!
Ciel menyentuh dadanya dengan ekspresi pucat. Pemuda itu merasa hati nuraninya meneriaki dirinya sendiri dan menyebutnya sebagai sampah. Benar-benar tidak tertahankan!
“Meski kamu tidak bisa mengikutiku. Zack … kamu boleh datang berkunjung di musim semi tahun depan. Aku rasa … itu sudah cukup aman.”
“Benarkah? Aku pasti akan datang! Aku janji!” ucap Zack dengan nada bersemangat.
Jangan datang dan jangan berjanji! Sial! Apakah kamu tidak tahu kalau itu basa-basi!
Ciel mengutuk dalam hati. Bingung harus menangis atau tertawa. Namun karena ucapan telah keluar, dia tidak bisa menariknya. Lagipula, dirinya bukanlah tipe orang yang menjilat ludahnya sendiri.
“Kalau begitu kalian lanjutkan. Kami akan pergi,” ucap Kaisar Julius.
Melihat keluarganya dan Ratu Elizabeth pergi, Ciel, Zack, dan Ariana memberi hormat.
Pada saat orang-orang itu telah menghilang dari pandangan, Ariana segera mendekati Ciel sambil membawa nampan yang di atasnya ada segelas air dingin. Gadis itu juga membawa sebuah handuk yang menggantung di bahunya.
“Minuman dingin, Sayang.”
Ciel mengerjap sebentar. Melihat Ariana, dia tiba-tiba mengingat Camellia yang biasanya selalu mengikuti dan mengurus kebutuhannya. Pemuda itu mulai merindukannya.
“Ini sudah kewajibanku, Sayang.”
Zack yang melihat keduanya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Pada akhirnya, dia hanya bisa menghela napas panjang sebelum pergi ke sudut ruang latihan dan mengambil handuk serta air dingin sendiri.
Ketika sampai di rumah! Aku akan meminta ayah untuk mencarikan tunangan yang lebih baik!
Zack menggerutu dalam hati, merasa agak iri kepada sahabatnya. Sebelumnya, Ciel memiliki Camellia yang selalu mengikutinya dan mengurusnya. Sedangkan sekarang, ketika memiliki tunangan, orang itu juga mendapat tunangan yang begitu berbakti.
Dunia ini memang tidak adil.
Zack sekali lagi menghela napas panjang dan tersenyum pahit.
Setelah makan siang bersama, Zack akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah yang dibeli Duke Flamehart di Royal Capital. Dia berkata akan mampir lagi besok pagi, membuat Ciel bingung harus berkata apa.
Sore harinya, Ciel terlihat sedang bersantai dalam bangunan kecil di tengah danau kecil belakang Istana Utara. Di belakang istana, ada sebuah taman bunga luas dengan berbagai jenis bunga. Di tengah-tengahnya, ada sebuah danau buatan dengan banyak ikan hias dan bunga air.
Sejak kecil, Ciel biasanya bersantai di sana sambil membaca buku dan memakan berbagai macam buah-buahan. Sebenarnya tempat itu biasanya digunakan untuk bersantai anggota keluarga saat senggang. Namun karena Ciel menjajah tempat itu, semua orang menyerah dan membiarkan tempat itu menjadi tempat pribadi milik Ciel.
__ADS_1
Meski Ciel sudah pergi ke perbatasan utara, tempat itu tidak digunakan karena sudah terbiasa menganggap danau buatan itu sebagai tempat yang harus dijauhi. Lagipula, tidak ada yang ingin dekat-dekat atau mencoba mengunjungi si Pangeran Sampah. Tentu saja, ada pelayan yang bertugas membersihkan tempat itu setiap harinya.
“Sungguh nostalgia,” ucap Ciel yang duduk di kursi santai sambil melihat danau yang dipenuhi ikan.
“Meski baru tiga bulan?”
Mendengar suara Ariana, sudut bibir Ciel berkedut. Dia langsung berkata, “Tidak ada salahnya merindukan rumah meski baru beberapa hari!”
“Begitu.” Ariana berkata singkat tanpa mengubah ekspresi.
“Ngomong-ngomong … kamu akan pulang besok, Ariana?”
“Kami berniat tinggal di Istana Utara selama empat hari empat malam. Menurut jadwal, besok kami akan kembali.”
“Menurut jadwal?” Ciel menoleh ke arah Ariana.
“Setelah beberapa kali berbicara dengan Ibunda, beliau memutuskan. Mulai sekarang, aku akan mengikutimu, Sayangku. Aku juga akan pergi ke perbatasan selatan Kekaisaran Black Sun.” Ariana mengangguk lembut.
“Tidak mungkin!” seru Ciel.
Pada saat dirinya pusing, tiba-tiba ada suara menyela.
“Pangeran Luciel, saya datang untuk melapor.”
Melihat seorang maid cantik yang datang, Ciel bingung. Tidak biasanya sampai seorang maid datang mengganggu waktu santainya.
“Ada apa?” tanya Ciel.
“Seseorang datang berkunjung dan ingin menemui anda. Dari identitasnya, orang itu adalah putra seorang Duke dari Kerajaan Black Star.” Tidak berani lalai, maid itu berkata dengan sopan ketika menjelaskan situasinya.
Kerajaan Black Star?
Ciel langsung melirik ke arah Ariana saat menggumamkan itu. Dia tidak bisa tidak menghela napas panjang. Menggerutu dalam hati.
Tamu tidak diundang … masalah.
Sial! Izinkan aku beristirahat sejenak!
>> Bersambung.
__ADS_1