Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Ada Yang Bisa Menjelaskan?


__ADS_3

Tanpa terasa, beberapa waktu telah berlalu.


Ciel dan yang lainnya telah berangkat dari Royal Capital. Karena harus membawa kembali tiga belas pelayan baru, dia tidak bisa bergegas dengan menaiki Black Wyvern. Mereka harus memperlambat untuk mengembangi kereta kuda di mana para pelayan berada.


Sebenarnya Ciel ingin pergi terlebih dahulu. Akan tetapi, dia agak khawatir kepada ketiga belas pelayan baru. Meski mereka keturunan bangsawan yang jatuh dan memiliki bakat yang baik, mereka belum terlatih dan memiliki level rendah. Pemuda itu khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi kepada mereka.


Ciel sangat membutuhkan para pelayan itu. Jika sampai sesuatu terjadi kepada mereka, dia akan sangat menyesal. Belum lagi, bisa dibilang mereka adalah hadiah pemberian kakak perempuannya. Apabila sesuatu yang buruk terjadi kepada para pelayan yang Julia beli dengan tabungannya, dia pasti akan kecewa kepada Ciel.


Setelah beberapa waktu, mereka akhirnya sampai ke perbatasan antara Royal Capital dan South Duchy.


Melihat pegunungan dan hutan yang dilapisi dengan warna putih, Ciel yang berada di punggung Deschia tampak begitu nyaman. Merasakan embusan angin yang membelai wajahnya, senyum lembut muncul di wajah pemuda tampan itu.


Menepuk punggung Deschia, Black Wyvern itu langsung mengepakkan sayapnya dan naik lebih tinggi. Menembus awan, dia melihat lautan awan putih di bawah kakinya.


Pada saat Deschia melayang dekat dengan awan, Ciel mengulurkan tangan untuk meraih awan di bawahnya. Pemuda itu tampak cukup bahagia. Biasanya dia selalu mengabaikan hal-hal di sekitarnya. Namun, kali ini Ciel benar-benar menikmati perjalan pulangnya.


Banyak uang … banyak bakat baru … masa depan cerah, tunggu aku!


Ciel benar-benar membayangkan pemandangan yang sangat santai. Dia mengangkat sudut bibirnya dengan puas.


Beberapa hari kembali berlalu.


Melewati wilayah yang dikelola oleh Keluarga Roschild lalu sampai di perbatasan Wilayah Blackfield, Ciel menatap beberapa kelompok prajurit yang berpatroli di perbatasan. Hal itu membuatnya tidak bisa berkomentar bagaimana.


Melindungi wilayah ketika tuannya pergi? Aku benar-benar bangga dengan kalian!


Ciel mengangguk puas. Pada saat melihat dirinya dan rombongan, para ksatria yang berpatroli langsung menghampiri mereka dan menyambut dengan hormat.


...***...


Waktu kembali berlalu. Tanpa disadari, sudah di penghujung musim dingin.


Menaiki Griffin miliknya, Ryo merasa agak rumit. Dalam perjalanan di South Duchy, dia bingung harus berkomentar bagaimana. Ryo hanya tidak menyangka … orang-orang di South Duchy sangat menyambut Pangeran Luciel.


Belum lagi ketika memasuki Wilayah Blackfield, melewati berbagai kota, Ryo melihat Ciel disambut layaknya seorang pahlawan yang pulang ke kampung halamannya. Dari nenek tua sampai anak kecil yang baru bisa berjalan menghormatinya. Hal yang benar-benar tidak bisa Ryo duga.

__ADS_1


Ada apa dengan wilayah ini? Apakah ada yang salah dengan kepala mereka? Mungkinkah Pangeran Luciel mencuci otak seluruh rakyatnya?


Hal semacam itu … tidak mungkin, kan?


Sampai di Kota Black Lily, Ryo semakin bingung dan bimbang. Dari para ksatria yang menjaga perbatasan dan para ksatria di kota-kota lain dalam wilayah ini benar-benar memancarkan aura nyata. Tampak sangat disiplin dan bisa diandalkan.


Sedangkan para ksatria di Kota Black Lily, Ryo merasa terkejut melihat mereka. Orang-orang itu benar-benar sangat disiplin. Tidak hanya itu, Ryo juga bisa merasakan kalau orang-orang itu setidaknya sudah membunuh satu orang musuh.


Okay … bagaimana dengan ini? Kenapa aku merasa telah memasuki tempat yang begitu berbeda?


Tidak seperti kebanyakan wilayah dalam Kekaisaran Black Sun, Ryo merasa bahwa rakyat di Wilayah Blackfield sangat luar biasa. Di kota-kota wilayah lain, biasanya para warga akan takut kepada ksatria dan bangsawan. Ya … daripada hormat, itu lebih ke awah takut.


Sedangkan Wilayah Blackfield tampak berbeda. Para warga dari kuli panggul sampai saudagar terlihat menghormati para ksatria seolah percaya para ksatria memang pelindung mereka. Sebaliknya, para ksatria juga sangat ramah kepada warga dan sama sekali tidak merendahkan mereka.


Tidak terbiasa dengan pemandangan seperti itu, Ryo merasa pusing karenanya.


Kenapa aku merasa aneh? Apakah aku bermimpi? Apakah ini halusinasi?


Ryo kemudian melihat ke arah pelican raksasa yang di atasnya ada Vahn, Aiz, dan Gordon. Melihat ekspresi pak tua yang menatap punggung Ciel dengan tatapan menyembah, Ryo langsung mengabaikannya. Sedangkan melihat dua anak polos yang terkagum-kagum, dia hanya bisa terdiam.


“Selamat datang kembali, Tuan!”


Melihat puluhan atau ratusan orang yang membungkuk sopan sambil berteriak serempak dengan ekspresi tulus sekali lagi membuat Ryo bingung. Melihat orang-orang terlihat amat merindukan tuan mereka, dia merasa telah pergi dengan orang yang salah.


Ryo menoleh ke arah Ciel yang turun dari punggung Black Wyvern. Pemuda itu tidak tampak menjengkelkan seperti sebelumnya. Sebaliknya, Ciel tampak tenang dengan senyum lembut di wajahnya.


Ciel berjalan perlahan menghampiri beberapa orang di tengah barisan.


“Apakah kalian merindukanku?” tanya Ciel dengan ekspresi lembut.


Empat orang langsung maju dan memeluk Ciel. Iblis cantik berambut pirang, Succubus, Dark Elf, dan Dhampir. Ciel balas memeluk mereka dengan lembut tampa malu ditatap oleh banyak orang.


Melihat ekspresi lembut di wajah Ciel yang terlihat seperti suami yang bisa diandalkan membuat Ryo tercengang. Dia tidak bisa mempertanyakan ingatannya sendiri.


Apakah ini benar-benar pangeran yang meninggalkan rekannya di medan perang? Kenapa benar-benar sangat berbeda?

__ADS_1


“Aku tahu kalian merindukanku. Namun kalian harus kembali terlebih dahulu. Kita bisa banyak berbicara sembari makan malam nanti.


Ngomong-ngomong, Ariana … tolong atur tiga belas pelayan baru itu. Mereka memiliki pendidikan yang baik. Seharusnya bisa membantu kalian mengurus wilayah.”


Melepaskan pelukan mereka, tunangan dan selir Ciel mundur. Ariana mengangguk ringan dengan ekspresi yang tidak berubah seperti biasa. Gadis itu mengangguk ringan.


“Sesuai keinginan anda, Sayang.”


Ciel kemudian menyuruh ketiga belas pelayan baru untuk mengikuti Ariana. Dia kemudian menatap Isabella.


“Isabella, kedua anak ini bernama Vahn dan Aiz. Tolong bawa mereka ke tempat tinggal baru di dekat Theodore.” Ciel tersenyum saat menatap Theodore. “Theo, kamu juga akan mengikuti mereka. Mulai sekarang kamu adalah senior mereka. Sebagai seorang senior … kamu harus bisa menjaga mereka, mengerti?”


“Sesuai perintah anda, Tuan!” Isabella dan Theodore menjawab bersamaan.


“Elena … aku ingin kamu mengingatkan para pelayan dan penjaga agar tidak lemngah hanya karena aku kembali. Kamu juga harus mengingatkan para ksatria yang menjaga tembok kota agar tetap fokus.”


“Baik.” Elena menjawab singkat, tetapi hormat dan penuh kasih sayang di balik nada dinginnya.


“Camellia, aku ikut denganku …” Ciel berkata santai sebelum menoleh ke arah Ryo dan Gordon. “Kalian juga akan mengikutiku. Aku punya pengaturan khusus untuk kalian.”


“Baik, Tuan!” Gordon dan ryo menjawab bersamaan.


“Untuk yang lainnya, terima kasih atas sambutan kalian. Sekarang … kalian boleh kembali.”


“Ya, Tuan!!!” jawab semua orang serempak.


Melihat semua itu, Ryo mengerjap. Mengikuti di belakang Ciel, dia benar-benar tidak bisa banyak bicara. Ryo hanya bisa mempertanyakan banyak hal dalam benaknya.


Semua berjalan begitu rapi dan tertib? Benar-benar luar biasa?


Ini … apakah ada kesalahan naskah? Bukankah seharusnya aku tiba di tempat yang begitu kacau?


Apa-apaan dengan wilayah ini? Siapa saja … ada yang bisa menjelaskannya kepadaku?


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2