Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Para Penjilat Sialan


__ADS_3

“Aku tahu kalian lapar, makan saja.”


Ciel berkata dengan nada tak acuh sebelum kembali ke tempatnya. Kedua saudari langsung saling memandang dengan ekspresi bingung.


“Terima kasih atas kebaikan anda, Senior.” Flora langsung berkata sambil membungkuk sopan.


“T-Terima kasih …” Fiona bergumam dengan suara seperti nyamuk, hampir tidak terdengar.


Karena terlanjur agak jengkel karena dianggap sebagai penjahat, Ciel tidak mengatakan apa-apa ketika dia mengangkat daging panggang dari atas api lalu meletakkannya di atas daun yang telah ditata.


Ciel memotongnya per bagian seperti kaki, paha, perut, dan sebagainya. Dia mengambil dua bagian yaitu paha dan perut yang terkenal paling enak. Pemuda itu kemudian melirik ke arah Deschia yang berbaring malas.


Setelah memperhatikan penampilan Wyvern yang cukup ganas dan mendominasi, Ciel diam-diam menarik sebuah kesimpulan. Kedua gadis itu pasti mengira dirinya seorang penjahat karena mengendarai Demonic Beast ganas seperti ini. Jadi … ‘Semua ini pasti salah Deschia’ adalah kalimat yang terlintas dalam benak Ciel.


Deschia yang membuka matanya terkejut melihat tuannya memandangnya dengan ekspresi dingin. Dia tidak merasa melakukan kesalahan dan menjadi bingung karena sikap Ciel. Makhluk itu memiringkan kepalanya sambil menatap bingung. Jika bisa berbicara, dia pasti menanyai tuannya itu.


Apakah ada yang salah denganmu, Tuan? Kenapa kamu memelototiku? Bukankah aku sudah bersikap baik? Aku bahkan sudah berburu makanan untukmu!


Melihat Deschia yang bingung, Ciel menghela napas panjang. Dia hanya bisa menggeleng ringan.


“Waktunya makan, Deschia. Selain yang aku ambil … kamu boleh memakannya.”


Deschia yang mendengar itu langsung menjadi bersemangat. Dia tahu kalau masakan tuannya luar biasa. Ditambah hari ini, mereka telah melakukan perjalanan empat hari. Selain dua hari di awal perjalanan ketika Ciel memakan makanan kering, kemarin pemuda itu mau memasak.


Ciel akan memakan makanan kering dan buah di pagi serta sore hari. Namun di siang kemarin dan hari ini, pemuda itu mau memasak.


Awalnya Deschia ragu apakah tuannya benar-benar bisa memasak. Namun mengendus bau dari masakannya, dia tahu kalau itu pasti enak. Benar saja, kemarin ketika pertama kali mencoba, Deschia langsung ketagihan dengan rasanya.


Mengabaikan Deschia yang mulai makan dengan ekspresi bahagia, Ciel mengambil pisau dan garpu perak dari tasnya. Dia menusuk daging dengan garpu lalu memotongnya dengan pisau. Jus daging langsung menetes, tanpa ragu pemuda itu langsung memasukkannya ke mulutnya.


Sensasi daging yang lembut terasa di lidahnya. Aroma rempah memenuhi mulutnya. Daging itu terasa juicy, tetapi bagian kulit luar yang terpanggang terasa crispy. Dalam beberapa kunyahan, dagingnya langsung menjadi lembut dan mudah ditelan. Tidak alot dan terasa sangat nikmat.


Memejamkan matanya, Ciel menikmati sensasi daging panggang di setiap gigitan. Dengan kecepatan yang dapat dilihat mata, hanya tersisa sebuah tulang paha di depan Ciel. Dia benar-benar menghabiskan begitu banyak makanan dalam waktu singkat tetapi perutnya sama sekali tidak sedikitpun membengkak.

__ADS_1


Flora dan Fiona yang melihat tuan dan tunggangannya memakan daging dengan nikmat tanpa sadar menelan saliva. Keduanya memandang daging paha di depan mereka lalu saling memandang. Pada akhirnya, mereka mengangguk dan memutuskan untuk mulai memakannya.


Merasakan rasa dari daging panggang, keduanya tampak terkejut. Mata mereka terbelalak, pipi mereka langsung terasa panas. Kedua saudari itu benar-benar merasa malu karena menuduh Ciel sebagai orang jahat hanya dalam sekali lihat. Namun karena lapar, mereka hanya bisa terus makan sambil menunduk.


Selesai makan, Flora yang agak ragu mendekati Ciel sebelum menyapa sopan.


“Maaf telah mengganggu anda, Senior. Terima kasih atas keramahan anda.”


“Tidak perlu terlalu sopan.” Ciel yang telah mengemasi barangnya melirik ke arah Flora. “Kalian … kembar?”


“Maafkan ketidaksopanan kami, Senior! Benar. Kami kembar. Saya Flora, dan gadis itu adalah adik saya, Fiona.” Flora buru-buru menjelaskan.


“S-Salam kenal, Senior.” Fiona yang masih duduk di kejauhan membungkuk ke arah Ciel.


“Dari aura kalian … aku menebak kalian masih berada di level 2. Meski ini bukan kedalaman hutan, seharusnya kalian tidak berkeliaran di sini.”


Ciel jelas tidak akan mengatakan kalau dirinya tahu mereka di level 2 (akhir) atau bahkan bisa melihat bakat bawaan mereka. Alasan dia bertanya, tentu saja untuk memastikan apakah mereka berbohong atau tidak.


“I-Itu …” Fiona tampak agak bingung dan panik.


Memang, tidak semua orang memiliki kemampuan absurd seperti Ciel. Bagi bangsawan kecil atau sebuah kelompok ksatria, bertemu seekor Demonic Beast level 4 sudah dianggap sebagai peristiwa merepotkan. Belum lagi jika mereka tanpa sengaja terlibat dengan pertarungan dua Demonic Beast.


Meski iblis level 2 masih masuk kategori iblis tingkat rendah, mereka masih lebih baik daripada warga biasa. Jadi mereka masih bisa dibilang aman. Meski bisa saja mengantar mereka pergi ke tempat tujuan, Ciel tidak punya alasan untuk melakukannya. Lagipula, dia dan mereka hanyalah orang asing.


“Ini di area pinggir hutan. Setelah melewati hutan, akan ada jalan utama dan sebuah kota berada tidak jauh dari sana.” Ciel berkata dengan ekspresi tak acuh. “Aku bisa mengantar kalian keluar dari hutan dan menunjukkan jalan ke kota. Sisanya terserah kalian.”


“Terima kasih banyak, Senior.” Flora menunduk sopan. Adiknya pun juga melakukan hal yang sama.


Setelah berkemas, mereka langsung pergi sesuai dengan arahan Ciel. Tidak terlalu lama berjalan, mereka akhirnya sampai di jalan utama.


Ciel menunjuk ke arah sebuah kota di kejauhan.


“Itu kotanya. Kalian bisa berjalan ke sana sendiri.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Ciel langsung menaiki Deschia. Tanpa mengatakan apa-apa, dia segera terbang pergi dari sana melalui rute lain yang agak jauh dari kota.


“Sekali lagi terima kasih atas bantuannya, Senior.” Flora menunduk dengan ekspresi sopan.


Melihat Ciel yang telah menghilang dari pandangan, Fiona bergumam, “Paling tidak antar kami sampai ke kota.”


“Fiona!” seru Flora.


“Aku tahu, Kak! Aku tahu kita beruntung orang itu bukan orang jahat. Namun …”


“Ada apa?”


“Memang kita putri Marquis, Kak. Tetapi-”


“Kamu tidak perlu melanjutkannya,” potong Flora dengan ekspresi dingin.


“Senior itu jelas bukan karakter sederhana. Bagaimana kalau kita ditemukan?” gumam Fiona dengan ekspresi sedih.


“Lupakan itu. Kita harus segera mencari yang lain.”


“Baik.”


... ***...


Keesokan harinya di depan Istana Kekaisaran.


Ciel dan Deschia turun dari langit karena adanya larangan terbang di area istana. Ketika melihat mereka, para ksatria tampak terkejut. Sementara itu, ada beberapa orang berpakaian sutra yang bagus. Mereka adalah beberapa bangsawan kelas rendah yang bekerja di dekat area istana.


“Wah! Bukankah ini Pangeran Ciel yang luar biasa? Kami mendengar cerita heroic anda di perbatasan selatan.”


Gerombolan orang itu dipimpin oleh lelaki pendek berpakaian hijau dengan badan sedikit gempal. Ciel bahkan tidak repot-repot memperdulikan mereka. Orang-orang itu pada dasarnya hanyalah bangsawan tanpa kekuasaan yang diperintahkan tuan mereka untuk mendapatkan informasi dari Central Plains.


Cih! Para penggosip … penjilat sialan!

__ADS_1


Ciel mendengus dalam hati.


>> Bersambung.


__ADS_2