
Keesokan harinya.
“Jadi … apa yang ingin kamu sampaikan? Sangat jarang sampai kamu sudi untuk menemui yang satu ini.”
Dalam ruangan kecil tertutup yang mirip seperti kantor tetapi sangat mewah, dua orang duduk berhadapan. Lebih tepatnya, satu orang sedang mengawasi yang lainnya.
“Uhuk! Tunggu sebentar, Yang Mulia. Biarkan aku menyelesaikan ini terlebih dahulu.”
Mendengar pertanyaan ayahnya, Ciel yang sibuk memakan camilannya nyaris tersedak. Melihat sudut bibir ayahnya berkedut, pemuda itu mengabaikannya. Dia sibuk makan kripik yang terbuat dari buah-buahan premium yang diimpor dari kerajaan sebelah.
Lupakan yang lainnya! Hal-hal semacam ini … aku harus menyelesaikannya dulu.
“Luciel …”
Mendengar Kaisar Julius memanggil, Ciel menelan apa yang ada di mulutnya sebelum menjawab, “Tunggu sebentar, Yang Mulia. Aku akan menyelesaikannya lebih cepat.”
Lebih cepat? Di mana etika makan itu, Nak? Memang benar aku ayahmu. Namun … kamu tidak boleh terlalu berlebihan, kan?
Sudut bibir Kaisar Julius berkedut. Dia menatap putra bungsu dengan ekspresi rumit. Lagipula, sifat Ciel benar-benar berbeda dari dirinya yang tegas dan bermartabat atau ibunya yang begitu pintar, baik hati, sekaligus ceria.
Pendiam, anti-sosial, suka menyembunyikan banyak hal, pemberontak, pelahap yang pelit, dan pemalas.
Aku rasa ayah atau ibuku tidak seperti itu? Atau jangan-jangan … sifat mertua seperti itu?
Diam-diam Kaisar Julius membayangkan ayah dan almarhum ibunya. Kemudian, dia mengingat sosok mertua yang berada di tempat yang sangat jauh. Karena orang tua dari pihaknya atau pihak Lilith sama-sama cukup misterius, Kaisar Julius hanya bisa menghela napas panjang dan mengeluh dalam hatinya.
Mungkinkah sifat buruk para pendahulu berkumpul di satu tubuh kecil itu? Benar-benar sial?
Mengabaikan Kaisar Julius yang menatapnya dengan ekspresi rumit, Ciel yang menyelesaikan makanan di atas meja tampak puas. Menyeka noda di sudut bibirnya dengan sapu tangan, ekspresinya yang awalnya agak ceroboh kembali menjadi tenang dan cukup berwibawa. Jika tidak melihat dengan matanya sendiri, sang ayah tidak percaya sosok pendiam di depannya adalah pelahap yang suka menghabiskan suguhan.
“Jadi … kenapa kamu sampai mendatangi Ayah, Luciel?”
“Sebenarnya ada yang ingin saya minta, Yang Mulia.” Ciel berkata dengan ekspresi serius.
__ADS_1
“Oh? Apakah itu urusan duel dengan Victor?” Kaisar Julius mengangkat alisnya. Memandang sang putra dengan ekspresi curiga.
“Tidak. Bukan itu. Soal duel atau semacamnya, anda bisa melupakan hal tidak penting itu.” Ciel menggeleng ringan.
Tidak penting? Kamu benar-benar mengabaikan kakakmu seperti itu? Tidakkah kamu tahu kalau dia begitu diabaikan, hatinya pasti terluka?
Melihat putra bungsu mengabaikan Pangeran Ke-3 seolah bukan apa-apa, Kaisar Julius sekali lagi terdiam. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di kepala bocah di depannya itu. Pria itu hanya bisa kembali bertanya.
“Lalu apa yang kamu butuhkan dari Ayah, Luciel? Ngomong-ngomong … ini bukan acara formal dan tidak berada di depan publik, kamu bisa memanggilku seperti biasa.”
Melihat ekspresi ayahnya yang tulus, Ciel yang awalnya tampak serius bersandar di kursi dengan ekspresi malas dan nyaman. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum menjelaskan.
“Jujur saja, aku tidak ingin repot-repot datang ke Istana Kekaisaran untuk menemui anda secara pribadi, Ayah. Namun saya tidak punya pilihan. Setelah banyak berpikir, saya masih belum bisa memecahkan masalah ini.”
“Oh?”
Kaisar Julius terkejut. Tidak biasanya putra bungsu yang malas tetapi jenius itu menanyakan hal-hal yang terkandung dalam buku. Bahkan tanpa dia sadari, bocah itu bersembunyi dengan baik dan memiliki banyak pemahaman tentang sihir. Tidak menyangka kalau Ciel juga bisa mengalami hambatan semacam itu.
Tidak menunggu lama, Ciel melambaikan tangannya. Sebuah tombak hitam dengan bilah berwarna giok ditambah ukiran halus khas benua timur berwarna emas muncul di tangannya. Aura berwarna cyan menyelimuti seluruh tombak, memancarkan sensasi kuat sekaligus lembut seperti aliran air.
Ya. Itu adalah artifak yang dia dapatkan dari Vesperr.
“Artifak dengan jiwa naga di dalamnya?” Kaisar Julius mengangkat alisnya dengan ekspresi terkejut.
“Benar, Ayah. Anda pasti tahu, hal semacam ini memiliki batasan darah untuk menggunakan dan membuka seluruh potensinya. Tentu saja bisa digunakan dengan paksa, tetapi menghabiskan banyak energi fisik dan mana.”
Menggunakannya dengan paksa? Apakah kamu bercanda? Hal semacam itu memerlukan kekuatan fisik yang luar biasa untuk mencapainya. Tunggu!
Kaisar Julius menatap Ciel dengan ekspresi kaget. Berarti, putra bungsu yang terlihat lemah lembut di depannya memiliki fisik seperti monster. Dia langsung menatap Ciel dengan ekspresi serius.
“Katakan pada Ayah, Luciel. Jujur! Sebenarnya apa saja skill bawaan yang kamu miliki?”
Melihat ekspresi serius ayahnya, Ciel tersenyum pahit. Tampak tertekan, dia akhirnya berkata perlahan. Bergumam begitu pelan.
__ADS_1
“Elemental Lord, Gravity Manipulation, dan Abyssal Tempered Body.”
Ciel berakting dengan sangat baik. Dia menyebutkan skill yang hampir mirip tetapi rank yang lebih rendah daripada skill legendaris miliknya. Pemuda itu juga tahu, setiap skill yang dia sebutkan begitu langka dan kuat. Memiliki salah satunya sudah dianggap keajaiban kecil.
“Elemental Lord … sama dengan milik Maria. Kekuatan dari leluhur Kekaisaran Black Sun. Abyssal Tempered Body … sama seperti ayah mertua. Kekuatan dari leluhur kekaisaran itu. Gravity Manipulation … skill yang datang tanpa sengaja dengan keberuntungan.” Kaisar Julius bergumam pelan.
Menatap putranya yang memiliki sikap buruk yang dikumpulkan dari banyak generasi sebelumnya, Kaisar Julius tampak rumit. Semua sikap buruk diwariskan kepadanya, tetapi semua skill kuat dan langka juga diwariskan kepadanya. Benar-benar hal yang sulit dipercaya.
“Elemental Lord … pantas saja Maria mau menerimamu sebagai muridnya.” Kaisar Julius tersenyum kecut. “Jadi, apakah kamu juga menguasai seluruh sihir elemen seperti Maria, Luciel?”
“Tidak semuanya.” Ciel menggeleng ringan. “Aku tidak punya tempat dan waktu yang cukup. Jadi aku hanya menguasai sihir kegelapan, petir, angin, dan api dengan baik. Sedangkan sihir es dan air, itu agak buruk. Sihir tanah … aku sama sekali tidak tertarik. Itu terlihat kurang keren.”
Kurang keren? Banyak orang yang ingin menguasai sihir apa saja tetapi tidak bisa melakukannya tanpa bakat. Sedangkan kamu, kamu memiliki kesempatan untuk menguasai seluruh sihir elemen tetapi tidak mau belajar karena tidak terlihat keren?
Juga, alasan kamu tidak menguasai seluruh sihir jelas bukan karena kurang waktu. Jangan berbohong! Kamu hanya malas dan menggunakan banyak waktu untuk berbaring dengan santai seperti orang bodoh! Sial!
Meski terlihat tenang di permukaan, Kaisar Julius mengutuk dalam hatinya. Dia merasakan sensasi aneh di dalam pikirannya. Sebagai seorang kaisar, pria itu bangga memiliki keturunan yang luar biasa. Namun melihat bocah yang bersandar di kursi empuk dengan ekspresi malas … dia tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya sendiri.
“Kenapa kamu menyembunyikannya selama ini? Selain Ayah dan gurumu, siapa yang mengetahuinya?”
“Tidak ada.” Ciel berkata santai.
“Jawab Ayah, Luciel. Kenapa kamu menyembunyikannya? Jika kamu berkata, kakekmu pasti akan mencegah orang untuk menyakitimu. Kamu tidak perlu takut.”
“Tentu saja aku takut diracuni karena iri atau dibunuh sebelum tumbuh dewasa.” Ciel mengangkat bahu. “Sedangkan untuk meminta perlindungan kakek. Anda pasti bercanda, Ayah. Bukannya melindungiku, kakek pasti akan memberiku pelajaran yang baik. Berlatih banyak hal tanpa henti dan kehilangan kebebasan. Bekerja bagai kuda? Yang benar saja. Saya tidak mau.”
Eh? Begitu egois?
Sudut mulut Kaisar Julius kembali berkedut. Sekarang dia mulai sangat ragu.
Luciel … apakah kamu benar-benar putraku?
>> Bersambung.
__ADS_1