Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Jadilah Sedikit Beradab!


__ADS_3

Sebenarnya aku ingin segera terbang untuk mencari di sekitar, tapi …


Ciel memandang ke arah sungai tidak terlalu jauh darinya. Di sana terlihat Elena sedang mencuci wajahnya. Melihat wanita itu, Ciel bingung harus merasa sedih atau bahagia.


“Apakah kamu baik-baik saja, Elena?” tanya Ciel.


“Saya baik-baik saja, Tuan.”


“Aku sudah bilang, seharusnya kamu tidak perlu ikut. Kamu lebih baik tinggal di Kastil Black Lily bersama dengan Camellia.” Ciel menghela napas panjang setelah mengatakan itu.


“Tidak!” seru Elena dengan ekspresi tegas.


“Kenapa kamu bersikeras terus mengikutiku, Elena?”


“Saya …” Elena menunduk. “Saya pikir bisa menjadi pedang terbaik bagi anda. Namun ternyata saya salah. Asterious … dia berada di level 4 (awal) sama dengan saya. Dia bertarung dengan sangat baik ketika berperang di Kota Blackrock. Sekarang anda juga memiliki Jean, iblis level 4 (akhir) yang lebih kuat dan berguna saat berperang.”


“Apa maksudmu?” Ciel memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.


“Jika saya seperti ini, saya akan menjadi tidak berguna!”


“Kenapa kamu merasa seperti itu? Bukankah kamu lebih kuat daripada Camellia?”


“Camellia berbeda! Dia telah bersama dengan anda selama lima tahun! Dia gadis baik, bisa membantu anda dalam mengurus urusan wilayah, dan juga pandai memasak!”


Ciel turun dari batu lalu segera menghampiri Elena. “Kamu juga membantuku dalam mengurus wilayah kekuasaanku, Elena. Jangan berpikir seperti-”


“TIDAK!!!”


Elena tiba-tiba berjongkok sambil memegangi kepalanya. Ingatan-ingatan buruk ketika dia dikirim ke medan perang dan kehilangan keluarga tiba-tiba terlintas dalam benaknya.


“Jika aku tidak berguna, balas dendam tidak mungkin. Jika aku tidak berguna, aku pasti akan dibuang,” gumam Elena dengan tatapan kosong. “Aku telah kalah bertaruh, aku akan dibuang … aku akan dibuang …”


Ciel yang melihat Elena tampak tertekan langsung berlutut di depannya sebelum langsung menarik tangan wanita itu. Matanya langsung menyipit.

__ADS_1


“Sudah aku duga,” gumam Ciel.


Mengabaikan Elena yang terus bergumam dan tampak tertekan, Ciel malah fokus ke sebuah bekas tanda gigitan kecil di pergelangan tangan Elena. Dia kemudian mengeluarkan sebotol potion dari tasnya lalu memberikannya kepada Elena.


“Minumlah,” ucap Ciel.


Elena melihat botol potion kemudian melihat ke arah Ciel yang memegangnya. Ekspresinya menjadi semakin pucat ketika dia terjatuh ke belakang dengan tatapan ketakutan.


“Tidak! Jangan bunuh aku … jangan bunuh aku …”


Ciel menduga, Elena mengira dirinya memberi wanita itu sebuah racun. Hal itu membuatnya tersenyum pahit. Pada akhirnya, Ciel mendekati Elena perlahan kemudian langsung memeluknya.


Melihat Elena yang mencoba lari dari dekapannya, Ciel berbisik, “Tidak apa-apa, Elena. Aku di sini. Aku tidak akan pergi. Aku juga tidak akan meninggalkanmu, okay?”


“Aku … aku …” Elena masih bergumam dengan ekspresi takut. Namun jelas, Ciel merasa kalau tubuhnya sudah tidak terlalu kaku.


Ciel mengelus belakang kepala Elena sambil terus berbisik, “Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidak akan membuangmu, okay?”


Melihat Elena sedikit lebih tenang, Ciel berhenti memeluknya. Dia hanya terus mengelus belakang kepala Elena yang sedang bersandar kepadanya.


Selesai membuat Elena meminum potion, Ciel diam di tempat sambil terus mendekap Elena yang meronta. Wanita itu terus mencakarnya. Setelah mulutnya tidak dijejali potion, dia bahkan mengigit Ciel.


Lambat laun, Elena mulai tenang. Ekspresi kelelahan bercampur ekspresi mengantuk terlihat di wajah cantiknya. Ciel mengelus belakang kepalanya sambil berbisik pelan, “Beristirahatlah.”


Mendengar bisikan Ciel, Elena yang bersandar kepada pemuda itu mulai memejamkan matanya. Melihat itu, Ciel menghela napas lega. Sadar Elena telah terlelap, Ciel yang tadi khawatir mulai memikirkan hal lain.


Em … Lembut? Wangi?


Mata Ciel mengerjap. Dia melirik ke bawah, melihat wajah Elena. Pandangannya tiba-tiba terfokus ke bibir pink Elena yang tampak lembut. Tanpa sadar dia mendekatkan wajahnya ke wajah Elena.


Astaga … apa yang sedang aku pikirkan.


Ciel yang tersadar langsung menjauhkan wajahnya. Dia kemudian membaringkan Elena di atas rumput setelah memastikan tidak ada serangga atau makhluk berbahaya di sana.

__ADS_1


Ketika berdiri, Ciel tanpa sadar kembali melirik Elena yang tertidur. Dia mulai fokus ke kulit lembut, pakaian hitam, dan pikirannya mulai melayang.


Kaki yang panjang dan indah. Juga … bukankah ‘senjata’ itu agak besar? Tidak berat?


Sial! Apa yang aku pikirkan!


Ciel mengacak-acak rambutnya sendiri. Mengalihkan pandangannya ke arah dia dan Elena tadi lewat. Lebih tepatnya, daerah yang Elena lewati sebelumnya. Pada saat dia mendekati sebuah pohon di dekat sungai, mata Ciel menyipit.


Aku menemukanmu!


Pemuda itu tiba-tiba mendekati dedaunan lalu membuat gerakan meraih. Dia merasakan sesuatu bergerak dan berusaha lari dari genggaman tangannya. Setelah diamati, tampak ular yang amat cantik sedang berjuang melepaskan diri dari tangan Ciel.


Ular itu memiliki warna hijau dengan pola ungu seperti cincin. Ular itu juga memiliki dua tanduk di atas kepalanya serta duri di punggung sampai ekornya. Jika terkena cahaya, sisiknya akan terlihat seperti emerald dan amethys. Nama ular itu adalah … Purple Rings Emerald Viper.


Memang ular itu terlihat kecil dengan panjang kurang dari 15 cm. Namun ular itu jelas dewasa. Meski begitu, ini masih Demonic Beast level 3. Ular ini tidak memiliki pertahanan kuat, tidak terlalu cepat, dan bisa dibilang lemah. Namun yang membuat ular ini sangat berharga adalah racun serta betapa langkanya dia.


Racunnya tidak memiliki efek membekukan darah, korosif, atau semacamnya. Namun bisa dibilang lebih berbahaya. Racun dari ular ini bisa membuat orang berhalusinasi. Bukan berhalusinasi yang baik atau indah, tetapi sebaliknya.


Ular ini mampu menyihir orang yang digigitnya untuk merasakan kecemasan. Mengeluarkan kekhawatiran yang terpendam dalam dasar hati dan melebih-lebihkannya. Jika memiliki level lebih rendah dan mental buruk, tidak jarang korban bisa membunuh dirinya sendiri karena tertekan.


Makhluk ini seperti iblis yang selalu membisikkan kata agar sosok itu bunuh diri.


Meski memiliki efek seperti itu, racun Purple Rings Emerald Viper juga bisa digunakan untuk meramu obat. Bahan itu sangat langka dan berharga. Bahkan di benua iblis, Demonic Beast ini bisa dianggap langka.


Dengan racun bocah kecil ini, aku bisa membuat beberapa jenis obat yang sangat berguna. Yang paling mudah mungkin obat itu. Obat yang membuat wanita tunduk untuk … Uhuk! Lupakan itu!


Sial! Apa yang sebenarnya aku pikirkan.


Mengamati ular di tangannya, Ciel menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan.


Apakah karena aku berada di hutan, aku menjadi agak liar? Insting alami?


Tenang Ciel! Tenang! Kamu dari dunia modern, jadilah sedikit beradab!

__ADS_1


Ciel mengutuk dirinya sendiri, tetapi matanya terus memandang ular di tangannya seperti orang menemukan harta karun.


>> Bersambung.


__ADS_2