
“Lusa kita akan pergi ke Royal Capital. Maaf jika kita tidak singgah di satu tempat terlalu lama.”
Ciel segera menyampaikan perintahnya. Dia ingin segera kembali ke Royal Capital untuk mengembalikan Ryo kepada ayahnya. Selain itu, pemuda itu merasa kasihan karena Ryo sepertinya terlihat stres karena suatu hal yang tidak dia ketahui.
Mungkinkah orang itu sebenarnya tidak menyukai misi di luar sehingga begitu depresi?
Jika Ryo tahu apa yang Ciel pikirkan, orang itu pasti akan menunjuk hidung si pangeran sambil mengeluh sepenuh hati.
Bukan karena aku membenci misi, tetapi karena kamu! Kamu benar-benar membuatku tertekan! Tidak merasa bersalah? Kamu tidak memiliki hati nurani!
Lupakan! Aku ingin kembali … aku ingin segera pergi jauh-jauh darimu!
Setelah makan siang bersama, Ciel memberi Gordon beberapa emas, menyuruh lelaki tua itu berkeliling untuk menemani Vahn dan Aiz berbelanja dan bersenang-senang. Ya, layaknya seorang penatua yang mengajak jalan-jalan cucu mereka.
Sebenarnya Ciel juga memiliki rencana lain. Rencananya adalah untuk membuat Gordon terbiasa dengan banyak anak-anak. Jadi pada saat mereka kembali ke Wilayah Blackfield dan sekolah telah dibangun, lelaki tua itu harus segera bekerja!
Untuk Vahn dan Aiz, dia akan menyuruh Theo untuk menjadi senior mereka. Theo adalah anak baik, jadi pasti bisa memimpin mereka dengan baik. Itu berarti … Ciel sudah lepas tangan. Sudah menempatkan orang-orang baru di tempat yang tepat.
Ciel kemudian mengingat perjanjian dengan kakaknya, Julia. Karena dirinya telah membereskan Fenton, jelas dia akan menerima belasan budak terpelajar. Dengan demikian, pada saat kembali ke Wilayah Blackfield dia tidak perlu mengurus tumpukan dokumen yang membuat mata gatal.
Membayangkan kehidupan nyaman ketika dirinya kembali ke Wilayah Blackfield …. Ciel menyeringai.
Seorang pemuda tampan duduk di gazebo pinggir danau buatan sendirian. Dia tersenyum sambil menatap danau beku. Senyum jahat yang membuat orang berpikir dia adalah tokoh antagonis dalam pandangan pertama.
Zack yang berencana menemui Ciel berhenti di tengah jalan. Melihat sahabatnya tersenyum aneh sendirian, dia menggelengkan kepalanya dengan senyum pahit. Pemda itu melihat Ciel dengan ekspresi kasihan.
Mungkinkah Ciel depresi karena merindukan gadis-gadis di sekitarnya sehingga agak gila? Mungkin aku harus memberinya tips … bermain dengan cara biasa agak membosankan.
Aku harus mengajarinya bagaimana cara melakukan dengan variatif. Di bawah, di atas, duduk, bahkan berdiri! Jika Ciel kembali … dia bisa melakukannya sepuas hati!
Ya! Aku harus memberi saran! Aku adalah sahabat yang baik!
Zack segera berbalik untuk kembali ke kamarnya. Dia ingin menulis beberapa catatan untuk membantu sahabatnya itu. Namun Zack tidak menyadari, jika dia menulis hal bodoh semacam itu, ekspresi Ciel pasti makin suram.
Tanpa terasa, waktu berlalu, sudah waktunya Ciel dan rombongan meninggalkan Kastil Flamehart.
Ciel sekarang merasa sangat senang. Sebelum berpamitan untuk kembali, Duke Flamehart memberinya sebuah kantong dimensi yang berisi banyak uang, oba-obatan, dan juga camilan.
Sebelum pergi, Zack tiba-tiba mendekati Ciel lalu memberinya sebuah gulungan yang cukup tebal.
“Ini tidak banyak. Namun hal ini akan banyak membantumu ketika kembali, Rivalku.”
Ciel memandang gulungan di tangannya dengan ekspresi aneh. Dia sama sekali tidka merasakan energi sihir di dalamnya. Memandang ke arah Zack, pemuda itu tahu kalau sahabatnya cukup mengenalnya. Ciel suka membaca ketika bosan, jadi … dia menebak Zack memberinya sebuah gulungan yang berisi sihir kuno atau semacamnya.
“Terima kasih, Zack.” Ciel mengangguk penuh arti.
__ADS_1
Ciel kemudian menaiki punggung Black Wyvern. Ryo menaiki Griffin miliknya, sementara Gordon, Vahn, dan Aiz menaiki pelican raksasa.
“Hati-hati di jalan, Pangeran Ciel.”
“Kalau begitu kami pergi …”
Ciel kemudian melambai sebelum pergi bersama dengan rombongan.
Ketika mereka telah menghilang di kejauhan, Duke Flamehart memandang putranya dengan ekspresi puas. Meski bodoh, Zack ternyata masih tahu cara berterima kasih.
“Apakah kamu memberi Pangeran Ciel gulungan tentang pengetahuan kuno, Zack? Itu memang berharga, tetapi memberi Pangeran Ciel hal yang dia sukai memang pilihan bijak.” Duke Flamehart mengangguk.
“Eh? Gulungan sihir kuno?” Zack menatap kosong.
Sadar ada sesuatu yang salah, Duke Flamehart langsung bertanya, “Lalu apa yang kamu berikan pada Pangeran Ciel, Nak?”
“Aku memberi sesuatu yang bermanfaat. Aku memberi Ciel gulungan asli tentang teknik yang aku mainkan dengan Vexia ketika malam. Aku sebenarnya ingin menyalin tulisan, tapi karena melelahkan … aku memberinya gulungan asli.
Tentu saja, gulungan itu lengkap dengan gambar!”
Zack mengangkat kepala tinggi dengan ekspresi bangga, seolah menunggu dipuji oleh ayahnya. Namun … suasana di sekitar tiba-tiba sunyi. Dia melihat Duke Flamehart memandangnya dengan sudut bibir berkedut.
Duke Flamehart tiba-tiba menghela napas panjang.
“Ayah akan mengajarimu banyak teknik dan sihir pertahanan. Jadi ketika Pangeran CIel bertemu denganmu di masa depan, paling tidak … kamu tidak akan mati dengan mudah.”
Apakah yang aku lakukan salah? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
...***...
Waktu kembali berlalu.
Setelah melakukan perjalanan yang aman dan nyaman, Ciel dan rombongan akhirnya sampai Royal Capital. Melihat tempat itu untuk pertama kali, bukan hanya Vahn dan Aiz … Gordon tampak terkejut. Mereka memiliki ekspresi penuh kekaguman.
Kembali ke Royal Capital, Ciel tidak langsung ke Istana Kekaisaran, tetapi malah ke manor milik Keluarga Flamehart di Royal Capital. Dia memilih untuk pergi ke sana untuk menemui kakaknya terlebih dahulu.
Sampai di manor, Alexander dan Leona menyambut mereka. Setelah basa-basi sebentar, Ciel segera meminta tolong kepada kakaknya.
“Kak Alex, aku ingin meminta tolong padamu untuk memanggil Kak Julia kemari.”
“Kenapa? Bukankah kamu akan pergi ke Istana Utara?” tanya Alexander dengan ekspresi aneh.
“Itu … ada beberapa hal yang terjadi. Aku perlu kembali ke wilayahku.”
Duduk di ruang tamu bersama dengan bawahannya, Ciel merasa agak tertekan. Dia ingin segera mengurus urusannya lalu kembali. Pemuda itu memiliki firasat buruk!
__ADS_1
Pada saat itu … suara penjaga terdengar.
“Ratu Lilith datang untuk berkunjung.”
Mendengar teriakan penjaga, ekspresi Ciel langsung stagnan. Suara sepatuh hak tinggi yang mengetuk lantai terdengar. Semakin lama menjadi semakin jelas.
“Sepertinya kamu masih tahu jalan untuk pulang, Ciel Kecil. Atau mungkin … kamu bahkan tidak ingin menemui ibu dan ayahmu?”
Ryo, Gordon, Aiz, dan Vahn terkejut ketika melihat wanita yang begitu cantik. Mereka semua langsung berdiri dan memberi hormat. Karena di luar, Ciel dan Alexander juga bersikap formal.
Setelah memberi hormat, Ciel yang biasanya tampak tak acuh dan dingin memiliki ekspresi ‘anak baik’ di wajahnya.
“Tentu saja tidak, Ibu. Putra ini hanya ingin mengantar titipan dari Duke Flamehart kepada saudari Leona. Setelah itu, putra ini akan kembali ke Istana Utara.”
“Hehehe … apakah kamu bersenang-senang di tempat Duke Flamehart?”
“...”
Melihat senyum di wajah ibunya yang begitu cantik, Ciel terdiam. Bagi orang lain, senyum itu pasti terlihat menawan. Namun baginya, senyum itu … mengerikan.
“Silahkan duduk dulu, Ibunda. Biarkan saya-”
“Kamu tidak keberatan kalau Ciel kecil pulang dulu dan membicarakan titipan ayahmu nanti kan, Leona?”
“Tentu saja saya tidak keberatan, Ibunda.”
“Bagus.” Ratu Lilith mengangguk.
Wanita cantik itu kemudian menghampiri Ciel. Di depan ekspresi terkejut semua orang, dia memegang kerah belakang pakaian Ciel lalu menyeretnya pergi.
Sedangkan Ciel sendiri hanya bisa terlihat pasrah … seperti anak kucing yang dipegang tengkuknya lalu dibawa pergi oleh sang induk.
Melihat bagaimana Ciel diseret seperti anak kucing ketika meninggalkan manor, semua orang terdiam.
Itu adalah pangeran gila yang membakar kota!
Itu adalah pangeran gila yang membantai banyak orang di wilayahnya!
Itu adalah pangeran gila yang mempermalukan kakaknya di Colosseum!
…
Semua penjaga tampak heran ketika melihat Ciel diseret seperti anak kucing. Sedangkan Vahn dan Aiz yang memiliki pikirkan lebih sederhana hanya memiliki ekspresi takjub di mata mereka.
Ibu Tuan kami … masih lebih kuat dan mengerikan!
__ADS_1
>> Bersambung.