Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Sudah Menjadi Tanggung Jawab


__ADS_3

Mendengar jawaban dari Jenny, Ciel tampak cukup terkejut. Normalnya, wanita itu seharusnya kembali ke Kerajaan Silver Fang. Selain untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, dia juga bisa membuat Theo mendapatkan haknya.


Menurut Jenny sendiri, bersama Ciel adalah yang terbaik untuk mereka. Wanita itu sudah tahu bagaimana Kerajaan Silver Fang. Belasan tahun yang lalu, air di dalamnya sudah begitu keruh. Belum lagi sekarang.


Memang, di permukaan tampak begitu damai. Namun di balik semua itu, banyak bangsawan yang mencoba saling menjatuhkan. Bahkan para Pangeran tidak segan untuk menyingkirkan orang-orang yang menurut mereka tidak enak dipandang.


Mungkin kakaknya sendiri bisa dibilang berbeda dengan yang lain. Menurut Jenny, itulah yang membuat Charles ditunjuk sebagai Raja, baik oleh ayah mereka atau rakyat yang mendukungnya.


“Kenapa, Jenneva?” tanya Charles ketika mendengar jawaban adiknya itu.


“Aku dan Theo merasa nyaman tinggal di sini. Bukankah itu benar, Theo?”


“Ya. Saya senang tinggal di sini,” jawab Theo sembari mengangguk ringan.


“Karena Theo adalah keturunan dari Keluarga Ivercrown dan memiliki bakat yang sangat baik, dia boleh memperjuangkan gelar Putra Mahkota dan menjadi Raja Kerajaan Silver Fang berikutnya.


Bahkan ayah mendukung hal itu. Dengan adanya Theo, perkembangan Kerajaan Silver Fang akan menjadi lebih baik.”


“Kak Charles … tolong jangan seret kami ke perairan keruh itu lagi. Sudah cukup aku saja yang merasakan kekejaman Keluarga Ivercrown. Theo sudah terlalu banyak menderita. Aku tidak ingin membuatnya merasakan hal yang sama.”


“Aku bisa menjaminnya!” ucap Raja Charles.


“Sampai kapan? Ayah meninggal? Kamu meninggal? Bagaimana dengan istri dan putramu? Seharusnya kamu sudah berkeluarga, kan?


Sebagai pangeran … mereka akan mengizinkan orang asing untuk menduduki tahta? Selain itu, para bangsawan pasti akan menentang Theo. Kamu mengatakan hal semacam itu seolah tidak mengenal mereka saja.”


“...”


Charles hanya bisa diam. Itu karena yang dikatakan oleh Jenny benar. Dia sangat ingin adik dan keponakannya pulang ke Kerajaan Silver Fang. Namun Charles pun tahu, bahkan jika dia mencoba memaksa … Ciel juga akan menghentikannya.


“Bagaiamana dengan kabar Ibu?” tanya Jenny.


“Ibu …” Charles menghela napas panjang. “Beliau meninggal setelah 5 tahun kamu menghilang.”


“...”


Mendengar hal itu, tubuh Jenny langsung bergetar. Ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya. Bahkan, dua baris air mata mulai mengalir di sudut matanya.


“Apakah kamu baik-baik saja, Ibu?” Melihat kondisi ibunya, Theo tampak khawatir.


Tidak seperti Theo yang tidak memiliki kenangan manis sebelumnya, Jenny masih memiliki ingatan indah bersama dengan keluarganya. Tentu saja, sebagai seorang putri, dia merasa kehilangan setelah mendengar bahwa ibunya telah tiada.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari putranya, Jenny segera menyeka air matanya lalu menggeleng ringan.


“Tidak. Tidak apa-apa, Theo.” Setelah mengatakan itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah Charles. “Tolong kembalilah, Kak Charles. Lupakan saja kami. Semua ini sudah cukup.”


“...”


Raja Charles kemudian memejamkan mata sebelum menghela napas panjang. Ketika membuka matanya, pria itu memandang ke arah Ciel.


“Saya memiliki sebuah permintaan untuk anda, Pangeran Luciel.”


“Katakan saja,” jawab Ciel dengan ekspresi tenang.


“Tolong jaga adik dan keponakan saya. Meski sebagai kakak dan paman yang tidak berguna, saya tidak ingin melihat mereka kembali menderita.”


Melihat bagaimana seorang Raja menghilangkan martabat dan membungkuk ke arahnya, Ciel sedikit terkejut. Melihat tatapan tulus Charles, ekspresi Ciel menjadi lebih lembut.


“Saya bisa menjanjikan itu.”


Mendengar jawaban Ciel, Charles memandang ke arah pemuda itu sejenak. Dia kemudian mengangguk.


“Karena sudah memastikan dengan mata kepala saya sendiri, berarti sudah tidak ada alasan untuk saya berada di sini. Belum lagi, setelah mendengar cerita Jenneva, saya merasa khawatir orang itu akan melakukan hal buruk ketika saya tidak berada di Kerajaan Silver Fang.


Kalau begitu … saya akan kembali terlebih dahulu.”


“Tidak.” Charles menggeleng ringan. “Saya hanya ingin memastikan sesuatu. Setelah mengetahui jawabannya, itu sudah cukup.”


“Kalau begitu, tolong terima ini sebagai kompensasi atas kesalahpahaman tadi.”


Ciel melemparkan kotak kecil ke Charles. Orang itu menangkapnya, setelah membukanya, ekspresinya sedikit berubah. Dia menatap Ciel dengan ekspresi dalam sebelum mengangguk serius.


“Kalau begitu, saya tidak akan menahan anda lagi,” ucap Ciel dengan santai. “Izinkan saya mengantar anda pergi.”


“Baik.”


Setelah pembicaraan itu, Ciel bersama dengan Jenny dan Theo mengantar Raja Charles pergi. Melihat kereta kuda yang menghilang di kejauhan, Ciel menghela napas panjang sembari berpikir.


Semoga saja … dugaanku salah.


...***...


Malam harinya.

__ADS_1


Ciel berjalan di lorong gelap salah satu bangunan Kastil Black Lily. Pemuda itu kemudian berhenti di depan sebuah pintu lalu mengetuknya pelan. Beberapa saat kemudian pintu terbuka.


“A-Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”


Melihat ke mata Jenny yang merah dan berkabut, Ciel menghela napas. Meski wanita itu menolak pergi, dia tahu kalau Jenny pasti sangat sedih. Lagipula … orang normal akan sedih ketika ibunya meninggal dan ayahnya sakit.


“Bolehkah aku masuk?” tanya Ciel.


“S-Silahkan.”


Memasuki ruangan, Ciel menemukan tempat untuk duduk. Dalam ruangan itu, hanya ada mereka berdua. Sekarang Theo tinggal sendiri dan lebih mandiri sejak mengalami kebangkitan. Jadi, bagi Jenny itu sudah jelas. Pangeran itu memang berniat menemuinya.


“A-Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Jenny yang duduk di tepi ranjang.


“Kamu sebenarnya ingin pulang, kan?”


“...”


Mendengar pertanyaan Ciel yang tiba-tiba, Jenny langsung lengah. Dia tidak menyangka kalau tuannya menyadari hal yang telah dia sembunyikan.


“Katakan saja. Aku sama sekali tidak akan marah atau menghukummu.”


“S-Saya … Saya ingin pulang. Bukan untuk tinggal di sana, tetapi …” Jenny menunduk dengan ekspresi sedih. “Saya ingin menjenguk ayah dan mengunjungi makam ibu saya.”


“Kalau begitu lakukan saja,” ucap Ciel dengan santai.


Jawaban Ciel benar-benar langsung membuat Jenny terpana. Dia sudah siap menerima kemarahan tuannya. Namun jawabannya malah sebaliknya.


“Kemarilah.”


Mendengar Ciel, Jenny dengan agak ragu mendekat dan duduk di dekat pemuda itu. Hatinya merasa bimbang dan agak ragu. Jantungnya mulai berdegup kencang ketika memikirkan apa yang mungkin Ciel lakukan kepadanya setelah itu.


Akan tetapi, sekali lagi ucapan Ciel membuatnya terpana.


“Akan aku pinjamkan bahuku. Kamu tidak perlu memikul semuanya sendiri. Lagipula … aku adalah tuanmu.


Sudah menjadi tanggung jawabku untuk memikul sebagian dari beban dan ikut membantu dirimu.”


Mendengar ucapan itu, Jenny merasakan perasaan hangat dalam hatinya. Wanita itu kemudian bersandar ke bahu Ciel sambil memejamkan matanya. Meski aliran air mata terus mengalir, senyum lembut terlihat di bibirnya.


“Terima kasih atas segalanya … Tuan.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2