Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Ritual Darah


__ADS_3

Larut malam di hari yang sama.


Di salah satu ruangan kosong dalam Kastil Black Lily. Ciel tampak agak sibuk sendiri. di lantai ini, kecuali dirinya dan beberapa orang yang dia tunjuk, tidak ada yang boleh memasukinya. Bahkan jika itu adalah bawahan setia Ciel.


Di lantai itu, selain kamar Ciel … bisa dibilang banyak rahasia milik Ciel. Beberapa hal dia bawa dari Royal Capital, sementara lainnya seperti ‘cangkang’ adalah hal yang pemuda temukan akhir-akhir ini.


Dalam ruangan kosong tersebut, Ciel tampak duduk di kursi dengan sebuah meja pendek yang lebar di depannya. Tangan kanannya memegang sebuah pisau tajam berlumuran dengan darah. Di atas meja itu, terlihat mayat seorang wanita. Ya … itu adalah mayat Vampir yang Ciel bunuh sebelumnya.


Kecuali pasangan ibu dan anak yang dia kubur dengan layak, tumpukan mayat dingin ada di atas meja. Dengan ekspresi tak acuh, Ciel menarik salah satu mayat wanita lalu merobek pakaiannya. Setelah itu, tanpa merubah ekspresi, pemuda itu membelah dada mayat itu. Mengungkapkan organ dalamnya.


Tangan kirinya mulai menggali lalu menyentuh jantung. Tangan kanannya dengan terampil memotong otot-otot yang terhubung dengan jantung. Dalam hitungan detik, Ciel ‘memanen’ sebuah jantung Vampir.


Setelah meletakkannya ke kotak yang terbuat dari batu putih aneh di sebelah kirinya dengan hati-hati, Ciel dengan dingin membuang mayat itu ke sebelah kanan meja. Di sana, terlihat tumpukan mayat yang sama dalam wadah besi besar. Setelah itu, dia kembali menarik mayat lainnya.


Satu demi satu jantung digali. Satu demi satu mayat mulai menumpuk. Setelah menyelesaikan mayat terakhir, Ciel menghela napas panjang. Dia kemudian menyimpan sejumlah kotak yang terbuat dari putih ke cincin dimensi miliknya.


Melihat genangan darah di atas meja, Ciel membekukan semua darah. Mengendalikan potongan darah beku, dia langsung melemparkannya ke wadah besi bersama tumpukan mayat. Pemuda itu kemudian menjentikkan jarinya, seekor ular yang seluruh tubuhnya terbuat dari api hitam muncul. Mengendalikan makhluk itu, Ciel langsung melemparkannya ke wadah besi, membakar semua mayat.


Aroma daging panggang memenuhi ruangan. Menatap kobaran api hitam di dalam wadah, tatapan Ciel begitu tenang. Tidak ada rasa takut, jijik, kecewa, atau semacamnya. Bahkan … tidak ada perasaan bersalah yang terlintas dalam tatapannya.


Dari apa yang Ciel lakukan, jelas pemuda itu melakukan beberapa hal yang mirip sebelumnya. Itu juga alasan kenapa dirinya bisa begitu terampil ketika melakukan hal semacam itu.


Melihat sisa tumpukan abu, Ciel mewadahinya ke dalam kantong yang terbuat dari kulit lalu menyimpannya ke dalam cincin ruang miliknya. Masih mengendus aroma daging di dalam ruangan, dia dengan santai mengambil sebuah botol bening dengan cairan hijau muda di dalamnya. Membuka tutup botol, Ciel kemudian menyipratkan cairan hijau itu ke segala arah.


Beberapa detik kemudian, aroma segar dari herbal dan bunga memenuhi ruangan. Melihat ruangan yang bersih tanpa aroma mencurigakan, Ciel mengangguk ringan. Pemuda itu kemudian membereskan peralatannya lalu pergi meninggalkan ruangan.


Ciel berjalan di lorong yang gelap menuju kamarnya. Dilihat dari sudut mana saja, pemuda itu terlihat begitu tenang dan kosong. Tidak ada yang bisa menebak, apa dalam pikiran pemuda tampan itu.


...***...


Keesokan paginya.

__ADS_1


Ciel yang telah mandi dan sarapan duduk di ruang kerjanya. Pemuda itu tampak bosan. Selesai mengurus pekerjaannya yang sedikit, karena kebanyakan telah diurus oleh Camellia dan Ariana … dia terlihat bosan.


Bagaimana kalau bersantai di halaman belakang?


Pada saat memikirkan hal semacam itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Mendengar itu, Ciel hanya bisa tersenyum pahit.


“Masuk.”


Pintu kembali terbuka dan sosok Isabella memasuki ruangan. Wanita itu menghampiri Ciel lalu membungkuk sopan.


“Anda mendapat surat, Tuanku.”


Melihat beberapa surat yang masing-masing disegel dengan cap lilin merah dengan pola berbeda, Ciel tahu kalau surat ini adalah surat ‘resmi’ dan penting. Melihat lambang milik Savian di antaranya, dia merasa cukup tertarik.


“Letakkan di situ. Kamu boleh kembali,” ucap Ciel santai.


“Sesuai perintah anda, Tuanku.”


Setelah Isabella meninggalkan ruangan, Ciel segera membuka satu per satu surat dan membaca semuanya. Di antara surat tersebut, ada tiga surat yang paling penting.


Yang terakhir adalah undangan langsung dari Royal Capital yang ditunjukkan kepadanya. Itu adalah undangan pesta kecil. Ya … pesta kecil. Meski itu adalah pesta kecil, tetapi itu lebih penting karena …


Itu adalah pesta khusus para Pangeran Kerajaan Black Sun.


Bisa dibilang, dibandingkan pesta, itu lebih mirip rapat. Menjadi salah satu dari delapan pangeran, Ciel memiliki kewajiban untuk menghadirinya. Apapun alasan yang dia miliki, pemuda itu tetap harus tiba di pertemuan itu.


“Ini masih awal musim panas, sedangkan pertemuan dengan para kakak itu akan dilakukan di akhir musim panas …” Memikirkan itu, Ciel akhirnya memutuskan untuk mengesampingkannya terlebih dahulu.


Ciel kemudian memfokuskan diri kepada surat undangan pesta. Karena Savian berkata kalau itu penting, dia juga tidak akan menganggapnya dengan remeh. Dia segera mengambil sebuah perkamen kosong, wadah berisi tinta hitam, dan pena bulu. Pemuda itu segera menulis jawaban untuk Savian, dia akan datang ke pesta bersama dengannya dan Ferel.


Pesta akan dilakukan empat minggu kemudian, jadi Ciel masih santai dan memiliki cukup banyak waktu untuk melakukan banyak hal.

__ADS_1


Setelah menulis balasan dan menyuruh Isabella mengirimnya dengan burung pengantar surat, Ciel merenung. Setelah cukup lama … dia akhirnya memutuskan.


Ciel keluar dari ruang kerja miliknya dan pergi ke ruang kerja kedua kekasihnya. Memasuki ruang kerja, pemuda itu menatap sosok Camellia.


“Camellia, biarkan Jenny meneruskan perkejaanmu. Kamu … ikuti aku.”


Setelah menyerahkan tugasnya kepada Jenny, Camellia yang agak bingung mengikuti Ciel. Keduanya kemudian menuju ruang kerja Ciel.


“Duduk.”


Ciel berkata santai. Melihat sosok Ciel yang serius, Camellia juga tidak bermain-main atau mencoba bersikap manja. Gadis itu terlihat serius, menunggu perintah sang tuan. Duduk di depan meja dalam sisi yang berlawanan, keduanya saling memandang.


“Kamu pernah bilang kalau kamu ingin menjadi lebih kuat kan, Camellia?”


“Benar, Tuan. Saya ingin menjadi lebih kuat dan lebih berguna bagi anda.”


Camellia berkata dengan tulus sekaligus tegas. Dalam tatapan matanya, kejujuran bisa terlihat dengan jelas.


“Aku memiliki sebuah cara. Hanya saja …” Setelah jeda singkat, Ciel mengeluarkan sebuah kotak batu putih dan meletakkannya di atas meja depan Camellia. “Buka.”


Membuka kotak itu, Camellia tertegun di tempat. Di sana, terlihat sebuah jantung utuh dengan warna merah. Karena di simpan dalam cincin ruang berkualitas baik. Setelah beberapa waktu, jantung itu masih begitu segar


Setelah menyadari sesuatu, Camellia langsung menatap Ciel dengan mata terbelalak. Tidak percaya apa yang ada di depannya.


“Ya … Itu jantung Vampir.”


Ciel berkata dengan tenang. Ekspresi wajahnya terlihat begitu tak acuh, tidak peduli bagaimana Camellia memandangnya.


“Aku bisa melalukan suatu hal yang bernama ‘Ritual Darah’. Itu akan membangkitkan potensi dalam dirimu. Hanya saja, bisa dibilang … itu ritual yang keji.” Menatap tepat di mata Camellia, Ciel melanjutkan. “Jadi … apakah kamu masih mau melakukannya?”


Camellia tampak berpikir keras. Namun setelah beberapa waktu, gadis itu tampak lebih tenang dan rileks. Baginya, bisa lebih berguna untuk Ciel adalah tujuan utama hidupnya. Dengan senyum lembut penuh dengan kasih sayang di wajahnya, wanita itu akhirnya memberi jawaban.

__ADS_1


“Ya! Saya bersedia melakukannya.”


>> Bersambung.


__ADS_2