Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Cara Membuat Marah Seseorang


__ADS_3

Edgar Vandiir, bocah kecil yang menjadi topik pembicaraan itu hanya diam di tempatnya. Duduk dengan patuh sambil melamun. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan situasi sekitar, tampak polos dan tidak tahu apa-apa.


“Sebenarnya aku juga memiliki saran lainnya,” ucap Raja Wade dengan ekspresi dingin.


“...”


Ketiga Ratu hanya diam sambil saling memandang, sama sekali tidak berani menyela.


“Selain Pangeran ke-3 yang melarikan diri, aku akan memberi kesempatan bagi suami para putri yang mau mewarisi posisi ini. Tentu saja, mereka harus bersaing dalam mendapatkannya.”


Kali ini Ratu Elizabeth yang mengangkat tangannya sebelum bertanya dengan sopan.


“Apakah apa yang anda katakan benar, Rajaku?”


“Tentu saja benar.” Raja Wade mengangguk ringan.


“Jangan bilang, anda ingin mencalonkan tunangan Putri Ariana, Ratu Elizabeth?” tanya Ratu Nura dengan senyum di wajahnya.


“Apa yang salah dengan itu?” Ratu Elizabeth mengerutkan kening.


“Meski saya mendengar Pangeran Luciel dari Kekaisaran Black Sun ternyata adalah pemuda jenius, saya juga mendengar rumor lain. Saya dengar … dia cukup malas untuk melakukan sesuatu.”


“...”


Tanpa sadar, Ratu Elizabeth mengingat bagaimana sahabatnya memaksa putranya untuk melakukan sesuatu. Dia mengingat sangat jelas ekspresi malas di wajah pemuda itu. Ratu Elizabeth kemudian menggeleng ringan.


“Apa yang anda katakan benar, Ratu Nura.”


“Saya rasa, daripada memberikan tahta kepada ‘orang luar’ yang belum tentu bisa membuat perubahan baik pada Kerajaan Black Star, Pangeran ke-3 jelas pilihan yang lebih baik.”


“S-Saya rasa Pangeran ke-4 lebih baik. H-Hanya saja, dia harus diberi beberapa waktu untuk tumbuh. S-Saya rasa … bakat Pangeran ke-4 lebih baik daripada Pangeran ke-3.”


Ratu Fryssa mengangkat tangannya dan berkata dengan nada agak takut, tetapi masih berusaha mendukung putranya. Sementara itu, Ratu Nura meliriknya dengan tatapan dingin. Merasa sangat tidak puas.


Tok! Tok! Tok!


Mendengar ketukan pintu, Raja Wade tampak tidak puas.


“Siapa!”


“S-Saya datang untuk menyampaikan berita yang mendesak, Rajaku.”


“Masuk!”

__ADS_1


Pintu terbuka, dua ksatria masuk ke dalam ruangan lalu segera berlutut.


“Katakan, ada masalah apa?” tanya Raja Wade dengan nada tidak sabar.


“Lapor, Rajaku! Pasukan gabungan dari Duke Zevirrius dan Duke Windrivers bergegas ke Ibukota. Dalam kecepatan mereka, kemungkinan pasukan tersebut akan tiba besok pagi.”


Mendengar laporan itu, Raja Wade mengerutkan kening. Dia merasa agak tertekan. Kelihatannya pihak lawan sudah sangat tidak sabar dan memutuskan untuk segera mengakhiri perang.


“Apakah ada lagi?”


“Lapor, Rajaku! Sosok yang diperkirakan sebagai The Doom Knight bergegas ke arah Ibukota. Kemungkinan besar akan tiba dalam waktu kurang dari tiga jam.”


“Apa?!” Raja Wade bangkit dari kursinya.


Dia segera mondar-mandir di ruang belajar, tampak sedang berpikir keras. Meski tahu bahwa The Doom Knight telah membantu dirinya merebut kembali Rowley’s Duchy. Kedatangan tamu yang merupakan iblis level 6 (awal) sepertinya membuat raja itu agak gugup.


Jika dirinya dalam kondisi baik, Raja Wade tidak akan terlalu gugup. Sedangkan sekarang, dia merasa gugup karena tidak tahu apakah The Doom Knight itu datang dengan niat baik atau buruk.


“Kumpulkan pasukan elit segera! Aku akan bersiap. Dua jam kemudian, berkumpul di atas tembok kota. Bersiap untuk bertempur!”


“Rajaku?” Ksatria yang melapor tampak bingung.


“Lakukan saja perintahku! Segera!”


Raja Wade tidak ingin banyak menjelaskan. Dia sendiri segera mengambil armor miliknya dan bersiap untuk menyambut kedatangan The Doom Knight. Jika sosok itu memang tidak datang dengan damai, terpaksa dia harus bertarung mati-matian dengan ksatria itu.


Melihat ke luar jendela di mana langit penuh bintang berada, Raja Wade berharap dalam hatinya.


Semoga saja ksatria itu tidak datang dengan niat buruk.


...***...


Ciel merasa bosan karena terus bergerak selama kurang lebih satu setengah bulan. Tidak lama lagi musim dingin akan tiba, dia benar-benar ingin berada di rumah pada saat itu.


Selesai mengurus masalah di Rowley’s Duchy, Ciel segera pergi menuju Ibukota. Malam ini akhirnya melihat kota yang tampak megah dari kejauhan. Pemuda itu menghela napas panjang. Dia bosan tidur di tenda. Meski juga nyaman, masih berbeda dengan ranjang empuk dan kamar yang luas.


“Mandi air hangat, wine dan camilan khas Kerajaan Black Star … aku datang,” gumam Ciel sembari memacu kudanya lebih cepat.


Sampai di dekat kota, ekspresi pemuda itu tiba-tiba berubah.


Melihat bagaimana ratusan ksatria dengan armor lengkap berbaris di atas tembok kota sambil mengangkat busur mereka, sudut bibir Ciel berkedut. Dia kemudian melihat ke arah tertentu. Lebih tepatnya, ke arah satu-satunya sosok dengan armor dan level yang mencolok.


Ya, itu adalah sosok Raja Wade.

__ADS_1


“Tolong berhenti di sana, Tuan Ksatria.”


“...”


Melihat sosok Raja Wade yang merupakan satu-satunya sosok iblis level 6 di Kerajaan ini membuat Ciel terdiam. Jika dipikirkan kembali, Raja Wade adalah ayah kandung dari tunangan Ciel, Ariana. Berarti … secara otomatis lelaki itu adalah ayah mertua Ciel.


Pengalaman ketika mertua membawa pasukan untuk mengepung? Ya … pengalaman ini agak unik.


Meski tahu alasan itu terjadi karena Raja Wade tidak tahu The Doom Knight adalah dirinya, Ciel merasa agak aneh. Pemuda itu merasa sedang menjadi aktor drama di mana pemeran lelaki tidak direstui oleh ayah kekasihnya. Ya, kira-kira semacam itu.


Ciel menghentikan Dark Unicorn. Pemuda itu merasa agak penasaran dengan apa yang coba dilakukan oleh ayah mertua itu.


“Tolong katakan kepada kami, apa alasan anda datang ke kota ini, Tuan Ksatria!” ucap Raja Wade dengan ekspresi serius.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Raja Wade, Ciel tertegun. Tanpa sadar, senyum muncul di balik topengnya. Tidak menjawab pertanyaan ayah mertua, pemuda itu malah tiba-tiba memacu kudanya dan bergegas menuju tembok kota.


Melihat gerakan Dark Unicorn yang begitu cepat dan ganas, Raja Wade buru-buru memberi perintah.


“Tembakkan anak panah!”


Mendengar perintah Raja Wade, para ksatria segera menembakkan panah. Berusaha mengincar dan menjatuhkan Ciel.


Sementara itu, Ciel sedikit menunduk sambil memacu kudanya lebih cepat. Keduanya bermanuver dengan luar biasa, menghindari ratusan atau bahkan ribuan anak panah yang datang bersamaan.


Dark Unicorn kemudian melompat sangat tinggi melewati tembok kota. Pada saat melompatinya, Ciel melemparkan tiga bola hitam dengan rune aneh ke arah para pasukan di atas dinding kota.


“Menghindar!” teriak Raja Wade.


Para ksatria langsung menghindari bola hitam aneh itu. Namun saat benda itu mengenai tembok kota …


BOOM!


Kepulan asap yang begitu padat langsung menyelimuti tembok kota dan daerah pemukiman kumuh di sekitarnya. Ya, apa yang Ciel lemparkan adalah bom asap yang dia dapat dari Mival.


Meski tidak memiliki dampak serangan, asap tebal yang menutupi area luas dalam waktu cukup lama itu sangat bagus digunakan untuk melarikan diri. Ciel merasa kasihan karena alat senyaman itu harus disimpan sampai berdebu dalam cincin penyimpanan Mival.


Uhuk! Uhuk!


Bukan hanya Raja Wade, para ksatria langsung batuk karena asap tebal yang muncul secara tiba-tiba. Menunggu beberapa waktu sambil waspada, asap perlahan-lahan menghilang.


Melihat bagaimana sosok ksatria berkuda hilang bersama asap layaknya ninja gadungan, sudut bibir Raja Wade berkedut.


“Orang ini …”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2