Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Berbicara Begitu Santai


__ADS_3

“Apa yang kamu katakan, Ciel?”


Ratu Lilith tampak terkejut. Tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar sebelumnya.


Itu sebenarnya cukup wajar. Dalam keadaan normal seperti biasa, Ciel sama sekali tidak ingin bersentuhan dengan hal yang berbau politik. Bahkan untuk menghadiri pertemuan atau berkunjung ke rumah bangsawan pendukung fraksi Ratu Lilith, pemuda itu menolak keras.


‘Menemui orang-orang itu? Buang-buang tenaga.’


Kalimat dingin dan tak acuh itu membuat seluruh keluarga marah. Namun mereka juga sangat akrab dengan sifat Ciel dan akhirnya mengabaikannya. Dia adalah sosok pangeran yang sudah diatur.


Mendengar kalau pada saat genting, sosok pemalas yang ogah-ogahan itu benar-benar mau turun tangan, semua orang tentu akan terkejut. Bahkan mereka merasa sedang dalam ilusi.


“Saya bilang, putra yang malas ini akan pergi ke North Duchy dan menemui Duke Flamehart.” Ciel berkata dengan ekspresi tidak puas. Tidak menyangka keluarganya sendiri benar-benar menganggapnya seperti orang yang lepas tangan.


“Itu …”


“Sebelum ibu berbicara, izinkan saya menyela.” Ciel langsung berkata dengan nada malas. “Saya melakukan ini bukan berarti aku peduli dengan politik atau fraksi kita. Juga, saya sekali lagi bilang kalau saya tidak tertarik dengan posisi Putra Mahkota atau semacamnya. Jadi, Kak Alex dan Kak Julia … kalian berhutang padaku untuk masalah ini.”


Ratu Lilith menatap pemalas kecil yang keras kepala dan egois itu. Meski tidak terlalu puas, dia juga merasa hangat dalam hatinya. Ternyata sang putra itu bukan makhluk tanpa emosi. Pemuda itu benar-benar masih memikirkan keluarganya.


Mendengar ucapan Ciel, Alxeander dan Julia menatap ke arah adiknya dengan ekspresi heran.


Mata Alexander terlihat lebih cerah. Dia berkata dengan ekspresi tulus dan nada emosional.


“Terima kasih, Ciel.”


“Jangan berterima kasih. Masalah ini belum selesai dan aku tidak melakukan hal ini secara gratis.”


“Tetap saja-”


“Ibu, saya rasa ini solusi paling baik untuk saat ini.” Ciel mengabaikan kedua kakaknya. “Apakah ada masalah lain? Jika tidak …”


“Ibu mengerti. Karena masalah ini untuk sementara akan diurus oleh Ciel kecil, pembicaraan akan ditunda sampai perkembangan berikutnya. Sudah tidak ada hal yang akan dibahas, kalian bisa bubar.”


Semua orang dalam ruangan berdiri lalu meninggalkan ruangan. Setelah meninggalkan ruangan, Alexander menghampiri Ciel dan berbisik pelan.


“Untuk urusan tadi …”

__ADS_1


“Kita akan membicarakannya besok di manor Keluarga Flamehart. Aku lelah, Kak Alex. Aku akan kembali terlebih dahulu.”


Melihat punggung Ciel yang berjalan menjauh, Alexander tidak bisa tidak menghela napas panjang. Dia tidak menyangka, sekarang adiknya begitu bisa diandalkan.


...***...


Keesokan harinya.


Berdiri di depan manor besar dengan dinding putih dengan banyak jenis bunga berwarna merah di taman, Ciel menghela napas panjang. Benar saja, ketika dia masuk ke dalam manor, pemuda itu ternyum pahit.


Bahkan jika bangunan berwarna putih, banyak perabotan dengan warna merah. Karpet merah, beberapa aksesoris cantik yang bertatahkan rubi, dan semacamnya.


Keluarga Flamehart … mereka benar-benar menyukai warna merah.


Ciel menggeleng ringan. Dia ingin mengeluh, tetapi semua orang memiliki kesukaan tersendiri. Jadi akhirnya pemuda itu melupakan keluhannya.


“Akhirnya kamu datang, Ciel.”


Sosok Alex yang terlihat lebih cerah langsung menghampirinya. Pelayan yang mengantarkan Ciel memberi hormat sebelum pergi.


Ciel juga melihat istri kakaknya, Leona Flamehart yang mengikuti di belakang sosok Alexander. Wanita itu mengangguk sopan.


”Kita adalah keluarga. Jika tidak di depan publik, tidak perlu terlalu sopan. Panggil saja aku Ciel, Kak Leona.”


Mendengar ucapan Ciel, Leona sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau Ciel begitu lugas. Meski bisa dianggap sebagai keluarga, memanggil langsung dengan nama masih agak canggung. Khususnya kepada sosok dengan status tinggi seperti pangeran.


Biasanya, seorang pangeran akan memiliki kesombongan tersendiri. Bahkan oleh kerabat jauhnya, dia ingin dipanggil dengan gelar pangeran. Menunjukkan statusnya yang luar biasa.


Sebagai sosok dari dunia lain, Ciel tidak terlalu mempermasalahkan hal semacam itu. Tentu saja, dia masih harus mematuhi etiket dan semacamnya. Hanya saja Leona memang telah menjadi bagian keluarga. Jadi memanggil nama secara langsung bisa dianggap baik-baik saja.


“Ingin minum apa, Ciel? Aku akan bilang … anggur tidak baik untuk diminum siang hari.” Alexander menawarkan sekaligus mengingatkan.


“Sesuatu yang menyegarkan. Jus buah ditambah es. Siang ini cukup panas. Minum hal semacam itu akan menyegarkan.”


“Baik.”


Setelah menyuruh pelayan untuk menyiapkan minuman dan snack, Alexander mengajak Ciel untuk pergi ke halaman belakang. Duduk di teras sambil menatap kolam ikan serta kebun bunga. Embusan angin menambah sejuk suasana di sana.

__ADS_1


“Duduk.”


Setelah mendengar ucapan Alex, Ciel duduk dengan santai. Tiga orang duduk saling berhadapan. Tidak lama kemudian pelayan datang membawa minuman dingin serta camilan.


Melihat beberapa keripik buah, Ciel mengangguk. Dia senang kakaknya mengetahui salah satu camilan favoritnya di saat seperti ini.


“Minum dulu, nanti kita bicarakan permasalahannya.”


Ciel meminum jus buah dari campuran beberapa berry yang dingin dan menyegarkan. Meletakkan gelas kembali ke tempatnya, dia berkata dengan ekspresi bosan di wajahnya.


“Langsung saja, Kak Alex. Tidak perlu basa-basi. Apa yang akan kamu bayarkan kepadaku. Juga, jika ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, silahkan bertanya.”


Alexander melirik ke arah Leona. Melihat wanita itu mengangguk, dia kemudian menatap ke arah Ciel dengan ekspresi serius.


“Soal hadiah. Tentu saja aku akan membayar sesuai kemampuanku. Tentu saja, tanpa menggunakan bantuan atau uang dari Keluarga Flamehart. Hanya saja, apakah kamu yakin bisa memenangkan hati Duke Flamehart?”


“Aku yakin.” Ciel berkata dengan ekspresi tak acuh.


“Meski kamu kuat, tetapi Duke Flamehart dalah seseorang yang sangat menghargai perasaan dan cukup emosional. Jadi-”


“Aku mengerti itu, Kak Alex.” Ciel berkata dengan ekspresi tenang. Dia kemudian menatap ke arah Leona. “Jika ada pertanyaan, katakan saja Kak Leona.”


“Jika boleh tahu, bagaimana cara kamu memenangkan hati Ayah, Ciel?”


Leona tidak bisa tidak merasa ragu. Sebagai putri Duke Flamehart, dia sangat paham dengan sikap ayahnya. Sosok itu sangat emosional dan keras kepala. Melihat sosok Ciel yang begitu santai, wanita itu malah menjadi semakin ragu.


“Duke Flamehart adalah sosok pria yang lugas. Mata diganti dengan mata, itu apa yang dia pikirkan. Bukankah demikian?” Ciel berkata santai.


“...” Leona mengangguk.


“Tentu saja, cara memenangkan hatinya lebih mudah. Pertama, datang ke North Duchy secara langsung dan berbicara dengan beliau. Kemudian, tanyakan apa yang terjadi dan bagaimana kondisi Zack. Berikutnya, mencari informasi yang tepat. Yang terakhir …” Ciel mengangkat sudut bibirnya.


“Yang terakhir???” Alexander dan Leona terlihat semakin penasaran.


Ciel meminum jus berry sampai habis lalu memandang keduanya dengan ekspresi tak acuh.


“Menyusup saja ke Kerajaan Blood Diamond, bunuh orang-orang itu lalu pulang.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2