
Di lorong dalam Kastil Black Lily, tampak beberapa orang berjalan dan berpapasan. Namun bukannya saling menyapa singkat lalu lewat, kedua sisi berhenti berjalan dan saling berhadapan.
Sebelah kiri, tampak Isabella yang diikuti Theo dan ibunya. Ibu Theo yang bernama Jenny mengenakan pakaian maid seperti yang digunakan oleh Isabella. Sedangkan di sisi kanan, tampak Camellia yang diikuti oleh Tania. Sedangkan ayah Tania, pria itu telah dipindahkan ke rumah dekat keluarga Kun tinggal.
“Selamat siang, Nona Camellia.” Isabella membungkuk sopan, senyum terlintas di wajahnya. Jenny dan Theo juga mengikutinya dan memberi hormat.
“Isabella …” gumam Camellia ketika melihat Succubus cantik yang misterius dan penuh tipu daya itu. Mengalihkan pandangannya ke kedua orang di belakang Isabella, dia bertanya, “Mereka?”
Sadar kalau Camellia tidak mengenali keduanya, Isabella tersenyum lebih cerah. Dia melirik ke arah Theo sebelum kembali menatap Dhampir di depannya.
“Hehehe … karena Tuan Ciel tidak memberitahu, saya tidak berhak mengatakan apa-apa kepada anda, Nona Camellia.”
“Kamu.” Iris merah Camellia menatap Isabella dengan tidak puas, tetapi tidak melanjutkan.
“Bukankah anda harus mengantar Tania ke ruang belajar untuk membaca dan memahami dasar-dasar Alkemis bersama 19 orang lainnya?” tanya Isabella dengan ekspresi penuh kemenangan.
“...” Camellia hanya menatap wanita itu dalam diam.
Sementara itu, Theo dan Tania, anak berusia 12 tahun yang awalnya hidup sederhana benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi di sana. Keduanya saling memandang dengan tatapan polos. Sadar kalau mereka sama-sama pengikut Ciel, keduanya tersenyum sebagai salam perkenalan.
“Kalau begitu aku akan pergi mengantar Tania,” ucap Camellia sambil sedikit membungkuk sebelum pergi dengan Tania yang mengikutinya.
Sementara itu, senyum Isabella perlahan memudar. Ekspresinya menjadi dingin. Sadar kalau Camellia telah pergi, dia bergumam pelan.
“Kamu boleh berpuas diri sekarang, tetapi aku juga akan segera menyusul … menjadi salah satu selir Pangeran Ciel tersayang.”
Kilau dingin dan tidak menyenangkan terpancar dari mata wanita itu.
...***...
Di depan sebuah patung ular raksasa, Ciel tampak berdiri dan mengangguk beberapa kali. Di belakang pemuda itu tampak banyak ksatria yang berbaris dan menunggu dalam diam. Tidak berani mengatakan apa-apa.
Penampilan ini mirip dengan ‘Shadowflame Great Serpent’ … menarik.
Ciel sekali lagi mengangguk. Dikatakan, patung di depannya ini dibuat untuk menghormati tunggangan sekaligus rekan tuan kota pertama. Monster itu bernama Greenvine Great Serpent, makhluk yang tinggal di hutan dekat kota pertama kali dibangun.
__ADS_1
Cerita mengatakan, tuan kota kala itu yang merupakan iblis level 4 bertarung dengan ular itu, yang juga merupakan Demonic Beast level 4. Pertarungan itu terjadi selama tiga hari tiga malam.
Tuan kota pertama yang ditugaskan oleh Marquis kala itu tidak ingin pembangunan kota gagal karena Demonic Beast. Sementara itu, Greenvine Great Serpent sendiri marah karena daerah perburuan yang bisa dibilang halaman depan rumahnya dijadikan sebuah kota sehingga habitatnya menyempit.
Setelah pertarungan tiga hari tiga malam, entah karena keajaiban apa, keduanya malah menjadi rekan. Mereka saling memahami dan tinggal di daerah yang sama. Keduanya menjadi partner dalam mengembangkan daerah serta melindunginya.
“Sayang sekali, hal sebagus itu harus hilang karena keturunan yang tamak dan tidak berguna.”
Ciel menggeleng ringan. Merasa salut dengan sikap heroik tuan kota pertama sekaligus kasihan karena keturunannya benar-benar telah dihapuskan dari dunia.
“Baik. Mari kita masuk ke kastil.”
Setelah mengatakan itu, Ciel berbalik menuju jalan setapak yang mengarah pada sebuah kastil di atas bukit. Dibandingkan kastil di Kota Black Lily, ini memang lebih kecil bahkan mungkin kurang dari setengahnya, hanya saja … setiap bangunan memiliki pesonanya sendiri.
Karena kastil dibagi menjadi beberapa bangunan, mereka juga memiliki fungsi yang berbeda-beda. Sebenarnya, selain bangunan utama yang digunakan untuk tinggal, ada juga bangunan yang bisa digunakan sebagai kantor, gudang makanan, gudang senjata, dan sebagainya.
Hanya saja, dalam Kastil Black Lily yang besar, Ciel biasanya lebih aktif dalam bangunan utama. Sedangkan bangunan lain bisa dibilang sangat sepi kecuali beberapa gudang yang harus dijaga atau tempat tinggal sementara ksatria yang bertugas menjaga area sekitar kastil.
Sebaliknya, dalam Kastil Greenscale ini, bangunan utama dikosongkan, sementara bangunan lain berfungsi sebagaimana mestinya. Alasannya sederhana, hanya pemimpin daerah atau bangsawan yang ditunjuk bisa tinggal di sana. Ksatria di kota ini masih belum berani melanggar perintah karena takut dengan hukuman berat yang mungkin dijatuhkan jika sampai ketahuan.
Ciel tanpa ragu langsung memasuki bangunan utama Kastil Greenscale. Karena lingkungan sekitarnya, dia merasa kalau udara di tempat ini sedikit lebih baik dibandingkan Kota Black Lily.
“Jika ada keperluan, tolong beritahu budak ini, Tuan.”
Setelah memasuki kastil, seorang maid segera mendekati Ciel lalu menyapa dengan sopan. Pemuda itu melihat maid lalu mengangguk ringan.
“Tolong buatkan minuman yang menyegarkan. Akan lebih baik jika minuman itu produk khas Kota Greenscale. Aku ingin mencoba mencicipinya.”
“Sesuai perintah anda, Tuanku.”
Melihat pelayan pergi, Ciel langsung menoleh ke belakang. Di luar kastil utama, tampak barisan ksatria yang berbaris rapi menunggu perintahnya.
“Selain Ksatria Ronald, yang lain boleh bubar. Untuk Ksatria Ronald … tolong ikuti saya.”
“Baik, Tuan!” seru ksatria paruh baya yang tegap dengan ekspresi penuh hormat.
__ADS_1
Keduanya kemudian masuk ke dalam bangunan utama Kastil Greenscale. Dengan bimbingan maid, mereka berdua sampai di ruang kerja. Tanpa ragu Ciel langsung duduk di kursi pemimpin lalu mempersilahkan.
“Ksatria Ronald … silahkan duduk!”
Mendengar ucapan Ciel, pria paruh baya itu dengan gugup menjawab, “B-Baik, Tuan!”
Ronald adalah pemimpin seluruh ksatria di daerah Greenscale. Di depan anak buahnya, dia akan terus bersikap tegas karena menjadi patokan bagi mereka. Tentu saja, itu juga karena harga dirinya.
Hanya saja, ketika berduaan dengan sosok yang dikenal sebagai Pangeran Gila, dia menjadi sangat gugup. Lagipula, siapa yang menyangka sosok yang dianggap sampah tiba-tiba menggila dan membakar seluruh kota lengkap dengan penghuninya.
Dia lebih muda dari putraku, tetapi dia benar-benar memancarkan tekanan yang mengerikan!
Pikir Ronald ketika menatap Ciel yang duduk berseberangan dengannya. Pemuda itu tampak begitu santai dan tak acuh. Namun Ronald ingat kedatangannya di pagi hari.
Mengendarai Wyvern hitam yang tampak ganas, membuat ksatria tidak bisa bergerak karena sihir aneh, menatap mereka semua dengan ekspresi merendahkan.
“Ksatria Ronald …”
“I-Iya, Tuanku?” jawab Ronald dengan gugup.
“Jajaran ksatria yang kamu pimpin … terlalu lemah.”
Ciel sama sekali tidak menghina, tetapi menyatakan fakta. Dibanding dengan jajaran ksatria lima Viscount, mereka terbilang lemah. Belum lagi jika dibandingkan dengan jajaran ksatria Kota Black Lily yang telah Ciel tingkatkan selama satu musim.
Setelah memikirkannya, kemungkinan besar Kota Black Orchid juga memiliki jajaran ksatria yang setara dengan Kota Greenscale. Ciel hanya bisa menghela napas panjang.
Karena keduanya juga daerah yang Ciel kelola secara pribadi, perlu ada perubahan!
Ya … perlu ada rencana perubahan total!
Merasakan tatapan dingin Ciel, Ronald berkeringat deras. Entah kenapa, pria paruh baya itu merasa sebuah peristiwa besar akan datang merubah seluruh Kota Greenscale.
Ciel kemudian mengambil setumpuk kertas dan meletakkannya di depan Ronald. Pemuda itu tersenyum santai. Seolah guru yang memberi tugas kepada muridnya, dia berkata,
“Baca semuanya dan pahami.”
__ADS_1
>> Bersambung.