Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Iblis Putih


__ADS_3

BLARRR!!!


Ledakan dahsyat bergema, asap putih mengepul menutupi seluruh ruangan. Tidak hanya itu, bahkan seluruh bukit bergetar seolah sedang terjadi gempa.


Batu-batu kecil berjatuhan dari atas goa seolah tempat itu akan runtuh kapan saja. Setelah kepulan asap menghilang, sosok Ciel akhirnya terlihat.


Di dalam sangkar putih yang rusak, terlihat seorang pemuda tampan berambut perak berdiri dengan ekspresi tak acuh. Di sekitarnya, ada puluhan patung es. Baik yang masih berdiri utuh atau hancur berkeping-keping.


Ciel dengan santai mengambil pedang yang tertancap di tanah lalu menyarungkan kedua pedangnya. Pada saat itu juga, sisa dari sangkar putih dan puluhan patung retak lalu hancur menjadi kepingan es tak terhitung jumlahnya. Melayang-layang di sekitar Ciel sebelum jatuh ke tanah tanpa suara.


Melihat semua musuhnya telah dikalahkan, Ciel menggeleng ringan. Dia tidak menyangka kalau semua akan menjadi seperti itu. Namun, ekspresi pemuda itu tiba-tiba stagnan.


Errr … bukankah Duke Flamehart akan senang jika aku membawa lebih banyak kepala orang-orang penting dari Kerajaan Blood Diamond?


Ciel kemudian melihat tumpukan debu putih. Dia langsung terdiam.


Lupakan. Lain kali, jadikan beberapa kepala sebagai bukti. Membawa segenggam abu … tidak akan ada yang percaya itu adalah empat orang ksatria level 4.


Ciel hendak berbalik pergi, tetapi suara yang tidak asing terdengar di telinganya.


“Adik ipar … di sini! Hey, Adik ipar!”


“Kenapa aku mendengar suara wanita menyebalkan itu? Halusinasi?” gumam Ciel dengan ekspresi kosong.


Mengabaikan sel penjara berisi para tahanan dari kelompok Crimson Night, Ciel berbalik tanpa ragu. Pada saat itu juga, dia merasakan sesuatu di arahkan kepadanya. Melangkah ke samping, sebuah benda jatuh di tempat dirinya tadi berdiri.


Sepatu wanita?


Melihat itu, Ciel langsung menoleh ke salah satu sel penjara. Melihat Jeva yang menggigil sambil memegang jeruji besi beku dengan tatapan melotot, sudut bibir pemuda itu berkedut. Dia mengeluh dalam hati.


Apakah ditangkap pengkhianat? Begitu lemah?


Apa-apaan para pengkhianat itu? Kenapa tidak langsung membunuh para pendahulu mereka? Benar-benar amatir!


Melihat Jeva yang masih memelototinya, Ciel menggeleng ringan. Dia mengambil sepatu lalu berjalan menuju ke arah wanita itu. Ekspresinya tidak berubah, seolah tidak bersalah dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


“Oh, ternyata kamu … Kak Jeva.”


“Sepatuku …” ucap Jeva dengan ekspresi muram.


Mengembalikan sepatu, Ciel melihat wanita yang menggigil kedinginan. Karena ledakan terakhir, seluruh ruangan berwarna putih. Membeku dan dilapisi dengan es tipis. Suhu turun beberapa derajat, membuat sebagian orang merasa kurang nyaman.


“Keluarkan kami dari sini, Nak.”

__ADS_1


Mendengar suara tua dengan nada memerintah, Ciel langsung menoleh ke sumber suara. Dia melihat ke arah Wilton, penjaga Pangeran Adler memandangnya dengan ekspresi sombong.


“Oh? Kamu?”


“Aku Wilton, penjaga sekaligus pengawal Pangeran Adler.”


“Aku tidak mengenalmu.” Ciel berkata dengan nada tak acuh. “Hak apa yang kamu miliki sampai-sampai berani memerintahku?”


“Kamu adalah anggota Crimson Night! Berarti kamu adalah orang yang mendukung fraksi Pangeran Adler. Sudah tanggung jawabmu-”


“Tahan.” Ciel langsung menyela. “Aku bukan anggota dari Crimson Night dan tidak mengenal mereka. Aku di sini untuk menjalankan tugas. Tidak kurang, tidak lebih.”


“Kamu-”


“Diam.”


Ciel melirik ke arah Wilton dengan ekspresi dingin. Tatapan tak acuh seolah sedang melihat serangga kecil di depannya. Tatapan yang menggambarkan kalau dirinya tak akan segan untuk menginjak serangga kecil itu sampai mati.


“Sebenarnya aku berniat melepaskan kalian, tapi … lupakan saja.”


Ciel berbalik pergi dengan ekspresi dingin.


“Kamu tidak bisa melakukan ini, Gin! Jika sesuatu yang buruk terjadi denganku dan ketua, Cherry pasti akan membencimu!”


“Kalau begitu tunggu Cherry datang, atau … kalian bisa meminta pak tua sombong itu untuk mengeluarkan kalian.”


Ketika suara Ciel mulai memudar, sosoknya telah meninggalkan ruangan. Di sel penjara yang dingin, semua orang langsung memandang ke arah Wilton dengan ekspresi buruk.


Tidak terkecuali Pangeran Adler. Dia sudah muak dengan sosok lelaki tua yang sombong itu. Bukan hanya sombong, tetapi juga bodoh. Meski tidak mendengar jelas percakapan antara Ciel dan para ksatria bawahan Pangeran Fenton, dari kekuatannya saja sudah bisa menjelaskan kalau latar belakang Ciel tidak sederhana.


Dari percakapan sebelumnya, aku bisa dengan jelas mendengar dia menyebutkan nama Corny.


Corny … Mage yang ditunjuk oleh Kak Fenton. Corny … jangan-jangan!


Ekspresi Pangeran Adler berubah. Dia langsung menebak kalau sosok Ciel dan rekannya pasti adalah salah satu prajurit elit Kekaisaran Black Sun yang berada di bawah Kaisar dari Kekaisaran Black Sun.


Pangeran Adler menduga kalau Ciel dan Ryo yang belum ditemuinya itu adalah bawahan langsung Kaisar Julius yang diutus untuk membantu mengurus masalah Duke Flamehart. Meski dugaannya kuat, dia tidak bisa membuktikan apa yang dalam pikirannya itu nyata. Bukti-bukti kurang jelas, Kekaisaran Black Sun tidak akan mengakui hal semacam itu.


Pada akhirnya, Pangeran Adler hanya bisa memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. Dia telah menghabiskan banyak sumber daya untuk meningkatkan kekuatannya, tetapi masih berada di level 3 (menengah).


Meski levelnya terbilang baik untuk iblis di usia yang sama, tetap saja dirinya masih kalah dengan para jenius yang menghabiskan sumber daya yang lebih sedikit tetapi mencapai level sama dengan dirinya. Melihat kalau kakaknya memprovokasi keberadaan yang mengerikan, Pangeran Adler menggertakkan gigi.


Aku harus melindungi Kerajaan Blood Diamond. Kerajaan ini tidak boleh hancur di tangan orang bodoh itu!

__ADS_1


“Tenang saja, Pangeran Adler. Setelah keluar, kita akan mengurus bocah itu. Beraninya dia-”


“Diam!”


Pangeran Adler langsung memotong ucapan Wilton. Dia benar-benar marah dengan lelaki tua yang tidak bisa membaca situasi. Mengalihkan pandangannya, pemuda itu melihat ke arah Noct dan Jeva di sisi lain. Keduanya tampak muram.


“Jeva, kan? Apakah adikmu benar-benar mengikuti orang itu?”


Melihat kalau seorang pangeran bertanya kepadanya, meski agak enggan, Jeva masih masih mau menjawab sopan.


“Ya. Sebelumnya saya melihat Gin bersama dengan adik saya.”


Mendengar jawaban Jeva, Pangeran Adler merenungkan sesuatu. Sedangkan Wilton, pria tua itu diam-diam menatap dengan ekspresi suram. Orang-orang tidak terlalu memperdulikannya, tetapi jelas dia memiliki pikiran berbahaya.


“Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Coba hibur adikmu, orang seperti Gin … mungkin tidak cocok dengannya.”


“Maksud anda?” Jeva mengangkat alisnya, tampak tidak senang.


“Jujur saja, identitas Gin itu pasti tidak biasa. Meski adikmu cantik, tetap saja … sulit untuk bersama dengannya.”


“...”


Meski sudah mengetahui itu, Jeva masih merasa agak tertekan. Dia ingin yang terbaik untuk adiknya. Hanya saja … mungkin itu terlalu sulit dan tidak realistis.


Tidak lama kemudian, sosok Cherry yang cantik muncul di hadapan banyak orang. Mereka memandang wanita itu dengan ekspresi penuh syukur sekaligus kasihan.


Sementara itu, di jalur lainnya. Inti dari markas Crimson Night.


Ryo terlihat sedang menghadapi banyak orang. Dua di antara mereka terlihat berbeda. Yang satu adalah pria berusia akhir 20-an. Sementara yang satu adalah pria paruh baya yang memakai pakaian bangsawan. Keduanya jelas adalah Corny dan Marquis Corellon.


Tidak hanya mereka berdua, banyak pasukan pembelot dari Crimson Night yang menyebabkan Ryo cukup kewalahan.


Pada saat itu, suara tak acuh terdengar dalam ruangan.


“Kamu terlihat putus asa, Ryo. Butuh bantuan?”


Mendengar suara Ciel, Ryo tampak sedikit lega. Sementara ekspresi Corny, Marquis Corellon, dan pasukan pembelot tampak buruk.


Seorang lelaki tampan berambut perak memasuki ruangan. Meski penampilannya sederhana dan elegan, benar-benar menyejukkan hati serta pikiran. Bagi para lawannya, itu jelas mimpi buruk.


Pemuda itu datang, berarti sisi yang satunya telah dibereskan. Yang berarti … pemuda itu tidak hanya tampan, tetapi juga kuat.


Iblis putih yang begitu kuat.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2