
“Tidak mungkin! Ibunda, apakah anda yakin tidak sedang bermimpi?”
Di dalam kamar mewah, megah, dan luas … tampak seorang gadis berusia kira-kira 12 tahun. Gadis itu memiliki wajah yang sangat imut, dia juga terlihat cukup pendek. Kulitnya seputih salju, rambutnya lurus panjang berwarna perak. Di atas kepalanya, ada dua tanduk hitam bak terbuat dari berlian. Irisnya berwarna ungu bagai bunga wisteria yang mekar di musim semi.
Gadis itu adalah Puteri ke-6 sekaligus anak terakhir dari Kaisar, Lilia Dawnbringer.
Lilia tampak sangat heran ketika melihat sosok wanita yang tampak seperti dirinya tetapi dalam versi dewasa. Orang itu adalah ibunya, Lilith. Apa yang membuat gadis kecil itu merasa aneh adalah sikap ibunya yang datang dan terus memuji salah satu dari kakak kandungnya, Luciel Dawnbringer.
Sang Ibu bilang, kakaknya telah melakukan hal yang baik di perbatasan selatan. Wanita itu bahkan memuji kakaknya sebagai seorang jenius. Jelas, itu terdengar seperti ilusi.
Menurut Lilia, kakaknya, Luciel adalah orang yang …
Pertama, dia adalah sosok yang selalu bangun paling lambat dan datang ke meja makan paling akhir.
Kedua, dia adalah orang yang malas untuk berolahraga. Jangankan berlatih pedang, menarik pedang dari sarung pun belum pernah orang itu lakukan.
Ketiga, dia adalah orang yang sangat pilih-pilih makanan. Orang itu sering ‘meminjam’ ramuan berharga di laboratorium untuk dijadikan hidangan santapannya.
Keempat, dia adalah orang yang lebih banyak berbaring sambil membaca buku-buku aneh daripada bersosialisasi dan pergi bersama teman-temannya.
Jika harus disebutkan, Lilia pasti harus membuat daftar yang sangat panjang. Satu hal yang pasti … kakaknya, Luciel adalah sosok pemalas dan memiliki sikap yang susah diatur. Bahkan jika dibandingkan Pangeran ke-5 yang dianggap memiliki bakat buruk, Lilia berpikir kalau kakaknya itu lebih buruk.
“Hehehe … Apakah kamu tidak senang? Padahal dulu kamu selalu menempel pada Ciel.” Lilith yang duduk di ranjang bersama dengan Lilia menopang dagu.
“Itu … Itu tidak dihitung! Lagipula, mungkin itu hanya cerita yang dibuat-buat oleh kakak agar dia bisa kembali ke Istana Kekaisaran. Ibunda seharusnya tidak mudah percaya,” ucap Lilia sambil menggembungkan pipinya.
“Ibu juga sempat berpikir begitu, tetapi rumor itu benar-benar terlalu jelas dan menyebar begitu cepat. Ibu harap rumor itu benar …”
“Kalau itu benar, kenapa Ibunda tidak tampak senang?” Lilia yang melihat aura hitam nan jahat keluar dari tubuh ibunya menjadi gugup.
__ADS_1
“Hehehe … Jika itu benar, ibu pasti sangat bahagia. Hanya saja, ibu ingin tahu, sejak kapan Ciel kecil berani berbohong kepada ibunya? Kelihatannya aku harus menanyainya ketika dia mampir.”
“Itu … Itu …”
Lilia tampak gugup, dia hanya bisa menunduk dan berdoa dalam hati.
Aku tidak tahu kenapa ibu sangat marah kepadamu, Kak. Aku hanya bisa berdoa agar kakak bisa mati dengan tenang.
...***...
Dalam Kastil Black Lily, Ciel yang sedang meminum secangkir teh pagi tiba-tiba merinding. Pemuda itu langsung mengawasi sekitar dengan ekspresi waspada.
Firasat buruk apa ini? Bukankah yang akan aku serang adalah seorang mantan Count? Kenapa aku bisa merasa tidak nyaman?
Setelah mengamati sekitar dan tidak mendapat apa-apa, Ciel menghela napas lega. Dari balik bayangan pilar, tampak siluet dengan pakaian serba hitam. Separuh atas bagian tubuhnya tidak terlihat karena gelapnya bayangan.
“Jadi kamu sudah tiba,” ucap Ciel. Tanpa menoleh ke arah siluet itu, dia melanjutkan, “Selama aku membawa pasukan untuk mengurus Nixon, kamu harus menyelesaikan misimu.”
Setelah menikmati teh pagi, Ciel segera turun bersama dengan Camellia dan Elena karena pagi ini mereka harus berangkat ke barat. Lebih tepatnya, ke daerah yang diperintah oleh Keluarga Nixon.
Sampai di halaman depan kastil, Ciel melihat lima ratus orang ksatria yang akan dia bawa. Tentu saja, ksatria ini hanya yang ada area sekitar kastil. Sedangkan untuk ksatria Kota Black Lily dan beberapa kota lain dia kelola secara pribadi, mereka telah menunggu di padang rumput luas tak jauh dari kota.
Melihat kuda yang akan dia tunggangi, Ciel menghela napas panjang. Itu adalah Demonic Beast level 2 jenis kuda dengan nama Hellhorse. Makhluk itu memiliki bulu hitam, berbeda dengan jenis inferior dengan bulu abu-abu atau cokelat yang merupakan Demonic Beast level 1.
Memang tunggangan itu lebih baik daripada kuda biasa, tetapi Ciel masih agak kurang puas. Hellhorse adalah tunggangan umum para ksatria. Bahkan jika itu dengan kemurnian tinggi (level 2), Hellhorse masihlah jenis yang inferior. Tunggangan yang digunakan Ciel sama dengan tunggangan yang diguanakan oleh seorang Baron atau paling banter Viscount muda.
Pada saat itu, Ciel tiba-tiba teringat Shadow Lightning Unicorn miliki Pangeran pertama. Berbeda dengan Hellhorse yang sedikit lebih baik daripada kuda biasa, makhluk itu memiliki kecepatan luar biasa serta mempu menggunakan sihir elemen petir hitam yang langka.
Benar-benar membuat iri!
__ADS_1
Ciel mengutuk dalam hati. Dia bahkan bersumpah untuk pergi ke Black Mountains atau Blackwood Forest untuk mencari tunggangan. Pemuda itu bahkan menyimpan dendam kepada ayahnya karena tidak memberinya tunggangan yang baik.
Dengan ekspresi buruk di wajahnya, Ciel memimpin 500 cavalry menuju lokasi pertemuan. Sesampainya di sana, Ciel akhirnya bertemu dengan para ksatria lainnya. Tidak hanya ksatria, tetapi juga para pejuang dari berbagai ras yang akhirnya tunduk di bawah Ciel.
Tujuh hari tanpa terasa berlalu begitu saja. Ciel akhirnya sampai di dataran yang tidak jauh dari Kota Blackrock. Menurut informasi yang dia terima selama perjalanan, Keluarga Nixon dan seluruh bawahannya akhirnya bertahan di Kota Blackrock.
Tentu saja, kelima Viscount tidak menganggur dalam tujuh hari itu. Mereka memimpin pasukan untuk menaklukkan kota dan desa yang berada di wilayah Keluarga Nixon. Ciel sangat puas dengan kinerja mereka.
Saat Ciel sampai di tenda yang didirikan tidak jauh dari Kota Blackrock, dia segera mendapat laporan.
Kelima Viscount masing-masing membawa 4000 pasukan yang berisi 1000 cavalry dan 3000 infantri. Sedangkan Ciel sendiri hanya membawa 2000 pasukan yang berisi 500 cavalry dan 1500 infantri. Jadi total ksatria adalah 22.000. Jumlah seperti itu masih agak kurang untuk menaklukkan kota besar seperti Blackrock. Namun bukan hanya itu yang ada di wilayah Ciel.
Dalam wilayah Ciel, ada 6 suku Minotaur, 6 suku Troll, 4 suku Gnoll, 9 suku Goblin, dan 4 suku Orc. Tentu saja, sekarang tersisa 3 suku Orc karena Ciel telah menghapus salah satu dari mereka.
Setiap suku Minotaur mengirim 500 prajurit. Setiap suku Troll juga mengirim 500 prajurit. Setiap suku Gnoll mengirim 750 prajurit. Goblin yang memiliki populasi sangat banyak mengirim 1000 pejuang dari setiap suku. Dan Orc yang ingin mendapat pengampunan dan kepercayaan Ciel juga mengirim 1000 prajurit.
Jadi ada tambahan pasukan Heteromorphic yaitu 3000 dari ras Minotaur, 3000 dari ras Troll, 3000 dari ras Gnoll, 9000 dari ras Goblin, dan 3000 dari ras Orc. Jika dijumlah, itu adalah 21.000 pasukan. Berarti, ada 43.000 pasukan yang berada di bawah Ciel. Orang-orang yang siap dia kirim menuju kemuliaan atau kematian.
Mendapatkan laporan itu, Ciel mengangguk. Dia kemudian melihat Viscount Lawrence dan keempat Vicount lainnya.
“Setiap dari kalian, buat dua kelompok berisi 25 ksatria berkuda. Sepuluh kelompok itu ditugaskan untuk mengawasi setiap sisi dari Kota Blackrock. Mereka harus wajib melapor setiap 3 jam. Jangan biarkan orang-orang itu memiliki celah untuk kabur.
Juga … buat para ksatria beristirahat setelah makan malam. Besok akan menjadi pertempuran yang sangat melelahkan.”
“Sesuai perintah anda, Tuan!” seru kelima Viscount bersamaan.
Menatap langit senja, Ciel merasakan firasat yang kurang baik tetapi tidak mengerti apa itu. Dia telah mencoba membuat rencana terbaik dan memastikan kalau tidak terdapat celah. Pemuda itu hanya bisa bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk.
Aku harap … semuanya akan berjalan lancar besok.
__ADS_1
>>> Bersambung.