Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Hidup Itu Sebuah Pilihan


__ADS_3

Ciel memandang ke arah ketiga perempuan di depannya lalu menghela napas panjang.


“Kalian boleh kembali.”


“T-Tuanku?” Eileen tampak terkejut.


Bukan hanya Eileen, bahkan Jasmine dan Bianca juga amat terkejut. Ketiga perempuan itu tiba-tiba bersujud di depan Ciel sambil memohon.


“Apakah penampilan kami tidak membuat anda puas, Tuanku? Meski seperti ini, kami juga memiliki kelebihan. Tolong beri kami kesempatan. Kami … kami pasti akan melakukan apa saja untuk anda.”


“...”


Ciel menatap ketiga perempuan cantik yang bersujud di depannya dengan ekspresi aneh. Dirinya hanya menyuruh mereka kembali. Pemuda itu bingung, kenapa mereka begitu ketakutan.


“Kenapa kalian begitu takut? Apakah Raja akan membunuh kalian jika dikembalikan?” tanya Ciel setengah bercanda.


“Bukan. Bukan seperti itu, Tuanku.”


“Lalu apa? Apakah kalian tidak ingin bebas? Aku bisa memberi kalian kebebasan.”


Mendengar katak kebebasan, ketiga perempuan itu malah terlihat pucat. Eileen tampak sedikit lebih tenang. Wanita itu mulai berbicara.


“Hidup seperti ini lebih baik daripada kebebasan, Tuanku.”


“Eh? Kenapa kalian berpikir demikian?”


“Dengan paras kami, di dunia luar kami pasti akan menjadi target. Hasilnya pasti tidak akan baik. Jika bukan ditangkap secara ilegal dan dijadikan budak bangsawan yang dikurung dalam ruang bawah tanah yang gelap dan kotor …


Pasti kami akan ditangkap sekelompok bandit. Disekap di markas lalu dijadikan pemuas hasrat mereka. Bagi orang-orang kecil seperti kami, kecantikan adalah dosa dan pembawa bencana.


Lebih baik seperti ini. Menjadi budak resmi … peliharaan anda. Walau anda berbuat kasar, hidup kami tetap akan lebih baik. Paling tidak, kami tidak harus dikurung dalam ruangan yang gelap dan lembab tanpa bisa melihat cahaya.


Dengan penampilan kami … kehidupan yang seperti itu adalah yang terbaik.”


“...”


Mendengar bagaimana Eileen mengatakan itu bahkan dengan wajah malu-malu, Ciel terdiam. Dia melihat kedua perempuan lain. Mereka juga terlihat setuju dengan wanita cantik itu.


Memang, bagi perempuan cantik tanpa kekuatan, dunia luar itu berbahaya. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa hidup bahagia. Dalam kehidupan, mungkin mereka bisa meraih akhir bahagia. Tentu saja, resiko juga besar. Mungkin 50 banding 50, yang berarti cukup membuat ragu.


Mereka benar-benar telah dicuci otak. Belum lagi cuci otak semacam ini. Menakuti mereka dengan kenyataan … benar-benar efektif.

__ADS_1


Mengungkapkan sisi gelap yang lebih dalam agar mereka tidak takut dan malah senang hidup sebagai peliharaan. Mereka menganggap diri mereka terlahir sebagai pemuas hasrat. Menyukai kehidupan seperti itu dan merasa tidak ada yang salah dengan pilihan mereka.


Ciel akui, pemikiran mereka pun tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, sebagai sosok yang pernah hidup di zaman modern. Kehidupan seperti itu … terasa salah baginya.


Aku benar-benar tidak bisa sepenuhnya menyatu dengan dunia ini.


Menghela napas dalam hatinya, pemuda itu menggeleng ringan ketika melihat ketiga perempuan itu.


“Lalu kenapa kalian tidak ingin kembali? Bahkan jika bukan aku, kalian pasti juga memiliki bangsawan lain sebagai tuan.” Ciel memandang sosok Jasmine. “Eileen, kamu diam. Jasmine, jawab pertanyaanku tadi.”


“Menurut Raja, sosok kami sudah cukup pantas dihadiahkan kepada seorang Pangeran. Keempat kerajaan lain, kami tidak tahu yang mana baik atau buruk. Namun di antara tamu … Kekaisaran Black Sun anda adalah yang paling tinggi derajatnya, Tuanku.


Dengan kata lain, selama kami diberikan kepada sosok dari Kekaisaran Black Sun, kami akan hidup lebih baik. Bahkan jika diberikan kepada perwakilan Duke.”


“Selain aku, bukankah masih ada tujuh tamu dari Kekaisaran Black Sun?” tanya Ciel penasaran.


“Menurut Raja … anda adalah yang tebaik dari segi kekuatan, kecerdasan, juga kedudukan.” Jasmine memandang sosok Ciel dengan ekspresi memuja.


Di mata pemuda itu, dia seperti sedang melihat puppy kecil yang patuh. Ciel menggelengkan kepalanya, menghilangkan gagasan seperti itu.


Benar-benar dibesarkan seperti hewan peliharaan. Bahkan cara berpikir mereka pun hampir sama.


Ciel agak menyesali itu. Pada akhirnya, pemuda itu masih mengangguk.


Mendengar ucapan Ciel, ketiga perempuan itu terlihat terkejut. Dari kejutan, mereka kemudian sangat bersemangat.


“Saya pasti akan menjadi yang paling patuh, Tuan.” Jasmine menatap Ciel dengan pemujaan, seperti anjing yang patuh.


“T-Tolong jangan terlalu kejam pada budak kecil ini, Tuan.” Bianca menunduk malu, bertingkah seperti kucing yang ingin dimanja.


“Asalkan Tuan senang. Perlakukan … perlakukan budak ini sesuka hati anda, Tuanku.” Tubuh Eileen gemetar menahan semangatnya. Wajahnya benar-benar tampak merah dan mempesona.


Ketiga perempuan itu kemudian duduk bersimpuh di lantai sambil mendongak untuk melihat Ciel yang duduk di tepi ranjang dengan ekspresi tak acuh. Ketiga perempuan itu berkata serempak.


“Tolong rawat kami mulai sekarang, Tuan!”


...***...


Sore hari berlalu, malam hari telah tiba.


Setelah membuat kontrak kepada ketiga perempuan itu, Ciel menyuruh mereka untuk kembali untuk mengemasi barang mereka. Pemuda itu terkejut ketika melihat ketiganya datang lagi dengan membawa sedikit barang.

__ADS_1


Di lantai tiga istana, selain kamar tamu, toilet umum, kolam renang, dan lainnya … juga ada kamar staff. Ya, kamar yang digunakan para maid yang bertugas di lantai tiga istana.


Meski kamar maid, kamar-kamar itu juga memiliki tingkatan. Meski ruangannya berukuran sama, ada kamar untuk empat orang satu kamar, dua orang satu kamar, dan yang terbaik adalah satu orang satu kamar.


Di bawah tatapan iri pelayan lain, Jasmine, Bianca, dan Eileen berjalan bangga ke kamar mereka yang merupakan kamar terbaik staff. Apa yang membuat Ciel cukup heran adalah sikap para pelayan lain. Mereka seperti binatang di shelter hewan (penampungan hewan) yang cemburu ketika melihat rekan mereka diadopsi oleh pemilik baru.


Apa yang membuat Ciel lebih heran dan agak tertekan adalah ketiga budak barunya. Tidak hanya tidak mau melepas ‘kalung’ hewan peliharaan mereka. Bahkan sekarang ada sebuah plat logam kecil yang menggantung di kalung. Aksesoris kecil itu bertuliskan ‘Milik Luciel Dawnbringer’.


Sementara Ciel agak malu, ketiga perempuan itu malah mengangkat kepala mereka tinggi. Terlihat bangga di depan para pelayan istana tamu.


Okay … ini telah menjadi berlebihan sekarang.


Ciel yang melihat itu tampak agak tertekan. Pada saat itu, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Menoleh ke sumber suara, pemuda itu melihat sosok Pangeran Heath.


“Apakah anda menyukai hadiah dari Ayah, Pangeran Luciel?” Heath datang ke arah Ciel dengan senyum ramah.


“Bukannya aku tidak menyukainya … ya, terima kasih untuk itu.” Ciel menghela napas panjang.


“Apakah kurang memuaskan? Saya rasa tidak, mereka adalah kualitas terbaik. Apakah kurang? Jika kurang, meski agak sulit … mungkin saya bisa menyarankan Ayah untuk menambahnya.”


“Itu sudah cukup, Pangeran Heath.”


Ciel terlihat cukup tertekan. Pemuda itu kemudian menghela napas panjang sebelum kembali bertanya kepada sosok ramah itu.


“Apakah ada yang bisa saya bantu, Pangeran Heath?”


“Saya ingin makan malam bersama dengan anda. Apakah anda memiliki waktu, Pangeran Luciel?”


Melihat bahwa Heath tidak memiliki permusuhan bahkan ramat kepada dirinya, Ciel akhirnya mengangguk.


“Tentu.”


“Terima kasih, Pangeran Luciel.”


Sosok Heath kemudian menatap ketiga perempuan yang telah menjadi budak Ciel. Dia kemudian mengangguk.


“Takdir yang bagus. Tidak dikurung dalam tempat gelap, tidak juga ditangkap bandit. Malah, menjadi pelayan Pangeran dari Kekaisaran Black Sun.


Ya, takdir hidup yang bagus.”


Mendengar ucapan Heath, Ciel yang awalnya tampak bosan menatap sosok lelaki ramah itu. Dia kemudian mengangkat sudut bibirnya sebelum berkata.

__ADS_1


“Daripada takdir ... saya lebih percaya bahwa hidup itu sebuah pilihan.”


>> Bersambung.


__ADS_2