
Keesokan harinya.
Kemarin Ciel memutuskan untuk tidak menemui Ryo, Gordon, Aiz, Vahn, atau Don beserta keluarganya.
Bangun tidur, Ciel mendapat berita kalau keluarga Don telah diberi tempat tinggal di lingkaran tengah kota. Tempat yang tidak buruk. Selain itu, dia juga diberi pekerjaan sebagai petugas patroli di kota. Ciel turut senang ketika mendengarnya.
Ciel awalanya ingin mengajak Don menuju wilayah miliknya. Hanya saja, setelah dipikir baik-baik, pemuda itu menolak gagasan itu. Alasannya sederhana …
Don terlalu baik dan polos. Orang seperti itu … kurang cocok dengan Ciel.
Meski bawahan Ciel baik, mereka juga memiliki sisi yang gelap. Hari-hari yang mereka jalani keras dan tubuh mereka akan dibasuh dengan darah iblis lain setiap beberapa waktu.
Don juga tidak bersih total. Dia juga pernah membunuh seseorang dalam misinya. Hanya saja, Don dan para bawahan Ciel berbeda. Orang-orang di bawah Ciel itu … ketika sang tuan berkata ‘bunuh’, mereka akan langsung maju untuk membunuh.
Lebih seperti … mereka memiliki sisi lain.
Pada saat normal, mereka seperti iblis lain. Namun ketika perang atau misi tiba, mereka akan menjadi mesin pembunuh yang tidak melihat apakah musuh itu baik, jahat, tua, muda, lelaki, atau perempuan. Hanya satu tujuan … bunuh.
Ciel sebenarnya bisa membuat Don menjadi penjaga Kota Black Lily. Hanya saja, pemuda itu masih agak egois. Dia ingin hubungan sebagai sesama tentara bayaran. Ciel ingin memiliki tempat di mana dirinya menjadi ‘orang biasa’ yang berbicara santai tanpa harus memikirkan banyak hal. Lawan bicaranya pun tidak terkekang karena dia adalah seorang pangeran.
Ada Zack sebagai sahabat. Hanya saja, Zack juga masih di kalangan bangsawan. Ciel juga ingin membangun pertemanan dan mengalami kehidupan biasa.
Karena Don telah dikirim pergi dari Kastil Flamehart, Ciel memutuskan untuk menunjukkan diri kepada Aiz dan Vahn. Dia tidak bisa bersembunyi selamanya karena dirinya telah menjadi tuan mereka.
Pada saat makan siang.
Ciel berjalan menuju tempat Ryo, Gordon, Vahn, dan Aiz makan. Sebelum masuk ruangan, dia menarik napas dalam-dalam. Mendorong pintu terbuka, pemuda itu memasuki ruangan.
“Bagaimana kemarin, apakah kalian tidur nyenyak?”
__ADS_1
Mendengar pernyataan itu, keempat orang langsung memandang Ciel. Pemuda itu terlihat sangat berbeda. Jika dalam penyamaran dia terlihat cukup sembrono, sekarang Ciel menunjukkan sosok tenang dan tak acuh. Terlebih lagi, dia juga memiliki tempramen seorang bangsawan yang mencolok.
“Terima kasih sudah bertanya, Tuanku. Saya benar-benar beristirahat dengan baik kemarin.”
Melihat penampilan Ciel yang luar biasa, Gordon menjadi lebih puas dan lebih fanatik. Dia merasa pilihannya sangat tepat. Ternyata tuan yang lelaki tua itu ikuti benar-benar bukan sembarang orang.
“Kami baik-baik saja. Jadi … karena misi telah selesai, apakah kita akan segera kembali ke Royal Capital, Pangeran Ciel?”
Melihat Ciel yang kembali seperti biasa, Ryo menghela napas lega dalam hatinya. Dia takut Ciel masih terlalu mendalami peran dan akhirnya malah mengacaukan segalanya. Pria tampan itu juga ingin segera kembali ke Royal Capital dan kembali menjalankan hidup normal.
Aku sudah lelah … mengikuti orang itu sangat melelahkan. Aku merasa menerima tekanan batin dari waktu ke waktu!
“...”
Sementara Ryo dan Gordon menjawab, Vahn serta Aiz tampak linglung. Bagi anak yang masih polos dan berpikiran sederhana seperti mereka, sosok Ciel di mata mereka seperti orang asing. Terlalu berbeda dengan sosok Tuan Gin yang mereka kenal!
Melihat bagaimana Vahn dan Aiz menatapnya dengan perasaan heran, kagum, dan gugup membuat Ciel mengangkat sudut bibirnya.
“A-Anda … Anda Tuan Gin?” tanya Vahn dengan tergagap.
“Lebih tepatnya, Gin adalah identitas palsu yang aku buat. Sedangkan identitasku yang sebenarnya …” Ciel menaruh tangan kanan di dada kiri sambil sedikit membungkuk. Menunjukkan etiket sopan seorang bangsawan. “Perkenalkan, namaku Luciel Dawnbringer … Pangeran ke-8 dari Kekaisaran Black Sun.”
“P-Pangeran!” seru Vahn dan Aiz bersamaan. Mereka berdua merasa otak mereka langsung blank. Pusing menyerang kepala mereka. Benar-benar terkejut dan belum bisa menerima kenyataan begitu saja.
“Kalian tahu, Vahn … Aiz. Tuan kita adalah seorang pangeran dari sebuah kekaisaran besar. Dalam statusnya saja, dia tidak lebih buruk dari Raja Gill.”
“L-Lebih baik dari Raja Gill!” Vahn dan Aiz sekali lagi berseru bersamaan.
Raja Gill, nama dari penguasa Kerajaan Blood Diamond saat ini. Bagi para warganya, dia selalu dipuja dan ditinggikan. Sedangkan untuk kedua anak itu sendiri, Raja Gill sudah seperti eksistensi paling kuat di dunia mereka. Namun mereka tidak menyangka, tuan mereka yang terlihat sangat baik … ternyata lebih baik dalam status dibandingkan dengan Raja Gill.
__ADS_1
Sebenarnya itu kurang tepat, tetapi bagi Gordon, Ciel pasti akan memenangkan gelar Putra Mahkota. Itu berarti Ciel akan menjadi Kaisar berikutnya. Dihadapan seorang Kaisar… Raja kecil dari tempat seperti Kerajaan Blood Diamond tidak ada apa-apanya.
Melihat ekspresi terkejut di wajah anak-anak itu, Ciel menghampiri mereka lalu mengelus kepala keduanya.
“Meski aku seorang pangeran … aku adalah aku. Tidak ada yang berubah sama sekali.” Ciel kemudian tersenyum lembut. “Kalian bilang ingin jadi pengikutku, kan? Menjadi pengikut seorang pangeran pasti butuh banyak usaha dan kerja keras … apakah sekarang kalian menyesal?”
Menyesal? Tentu saja tidak!
Bagi Vahn atau Aiz, apa yang terjadi benar-benar mimpi. Dari anak yang hidup di gang sempit dan bisa mati kapan saja, mereka menjadi pengikut seorang tokoh yang sangat kuat dan penting. Seorang Pangeran dari Kekaisaran Black Sun!
“Kami tidak akan mengecewakan anda, Tuan!” seru Vahn dan Aiz secara bersamaan.
Hmmm … dua bibit bagus. Benar-benar melegakan melihat tatapan penuh syukur dan bertekad mereka.
Ciel merasa setelah mereka tumbuh, dia bisa memiliki masa tua yang nyaman, damai, dan tentram. Mengurung diri di sudut benua, dia pasti tidak akan ikut campur banyak masalah yang tidak perlu.
Masa depanku yang tenang dan cerah … aku serahkan pada kalian!
Melihat tatapan Ciel yang menjadi lebih lembut, Gordon menganggapnya sebagai sosok penyayang dan tidak membedakan kasta. Benar-benar sosok yang luar biasa!
Sedangkan Ryo yang melihat itu, sudut bibirnya berkedut. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Ciel, dari tatapan itu, dia dapat menyimpulkan kalau pangeran itu memiliki ide jahat dalam benaknya. Diam-diam Ryo merasa menyesal serta sedih untuk Vahn dan Aiz.
Tetap kuat … anak-anak! Meski mungkin kelak kalian ditinggal tidur ketika sedang berperang, tetap kuat!
Ciel tentu saja mengabaikan tatapan memuja Gordon. Namun ketika melihat ke arah Ryo yang menatap kedua anak dengan iba, sudut bibir Ciel berkedut. Dia merasa kalau dirinya sekarang dianggap sangat buruk.
Apa-apaan dengan tatapan iba itu? Aku sama sekali tidak memperlakukan kedua anak ini dengan buruk, okay?
Jangan membuat fitnah yang tidak jelas!
__ADS_1
>> Bersambung.