
Tiga hari setelah pertunangan diputuskan.
Tidak ada pesta, tidak ada perayaan besar-besaran. Sebenarnya apa yang dikatakan pertunangan itu hanya sebuah persetujuan dari dua belah pihak. Sedangkan pesta pertunangan biasanya digelar ketika sang lelaki berusia 17 tahun. Biasanya pernikahan dilakukan pada usia 20 tahun. Tentu saja, terkadang ada yang lebih awal dan ada yang lebih lambat.
“Sudah pagi, Sayangku. Bangun.”
Merasa tubuhnya diguncang dan mendengar suara lembut, Ciel membuka matanya. Dirinya terlihat masih mengantuk karena tekanan yang diterima selama tiga hari.
Melihat ke samping ranjangnya, Ariana yang telah mandi dan berpakaian rapi duduk di sana berusaha membangunkannya. Ciel tiba-tiba menggosok matanya.
“Bahkan terbawa mimpi?” gumam Ciel. “Mana mungkin Ariana bisa masuk kamar padahal sudah aku kunci dengan kunci sihir yang rumit.”
“Ini bukan mimpi, Sayangku. Bangunlah, aku sudah membuat sarapan. Ibunda yang memberikan salinan kunci kamarmu tadi pagi.”
Mendengar penjelasan Ariana, sudut bibir Ciel berkedut. Pikirannya mulai jernih, dia langsung meraung dalam hati.
Sial! Bahkan sekarang aku tidak bisa tidur dengan tenang!
Ciel dan Ariana saling memandang. Pada saat mereka ingin mengatakan sesuatu, teriakan terdengar dari luar ruangan.
“RIVALKU, AKU DENGAR KAMU PULANG! AKU DATANG UNTUK BERKUNJUNG!”
Mendengar suara teriakan yang lantang dan penuh semangat, Ciel merasa kepalanya semakin sakit. Dia menoleh ke arah Ariana yang memandangnya dengan linglung.
“Stttt …” Ciel membuat sebuah tanda untuk diam.
“RIVALKU-”
“DIAM! Aku tidak tuli!” seru Ciel yang segera bangkit dari tempat tidurnya dan pergi menuju pintu.
Ciel hampir lupa kalau orang di balik pintu adalah sosok yang keras kepala. Bahkan jika Ciel diam, orang itu akan terus berteriak dengan lantang sampai akhir hari. Itu membuatnya semakin pusing.
Ketika membuka pintu, Ciel melihat pemuda seusianya berdiri dengan seringai di wajahnya. Pemuda itu memiliki rambut merah menyala, iris matanya juga merah cerah. Bahkan dia memiliki tempramen yang cerah dan membara. Hal itu membuat Ciel merasa silau karena kepribadian pemuda itu adalah kebalikannya.
“Kamu datang terlalu pagi, Zack.”
__ADS_1
Zack Flamehart. Putra Duke Flamehart dari North Duchy. Sosok yang dianggap jenius sejak kecil, tetapi selalu menganggap Ciel sebagai rival karena alasan yang kurang jelas. Pemuda itu adalah salah satu orang yang bisa dianggap ‘teman’ oleh Ciel. Ya, meskipun Ciel selalu dibuat kesal olehnya.
“Hahaha!” Zack mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Dia kemudian berkata, “Sebenarnya aku ingin datang dua hari yang lalu, Rivalku. Namun ayah melarang karena ada acara besar di Istana Utara. Aku dengar … kamu memiliki tunangan yang-”
Zack tiba-tiba diam ketika melihat sosok yang muncul di belakang Ciel. Dengan ekspresi wajah yang berlebihan, pemuda itu berkata, “Sungguh cantik dan menawan. Kamu benar-benar bertunangan sebelum aku. Kali ini aku kalah, Rivalku. Lihat saja … aku juga akan segera bertunangan dengan gadis yang lebih cantik!”
“Apakah ada yang salah dengan kepala orang ini, Sayangku?”
Mendengar pertanyaan Ariana yang lugas, Ciel tertegun. Sementara itu, Zack lebih tercengang.
“Sial! Dia bahkan memiliki mulut yang kejam seperti dirimu, Rivalku!” seru Zack dengan ekspresi takjub.
Siapa yang kamu bilang bermulut kejam! Sialan!
Ciel mengutuk dalam hati. Pemuda itu mengusap keringat di dahinya. Benar-benar merasa lelah secara mental karena harus menghadapi dua makhluk seperti itu di pagi hari.
“Ariana, perkenalkan … ini temanku, Zack Flamehart.” Ciel memperkenalkan keduanya. “Zack, perkenalkan … ini … tu-na-ngan-ku, Ariana.”
Menyebut Ariana sebagai ‘tunangan’ entah kenapa membuat lidah Ciel terasa berat untuk terucap. Pemuda itu melirik ke arah Zack dan langsung tercengang.
Mendengar perkataan Zack, Ariana mengangguk. Ciel yang melihatnya terdiam.
Sial! Kamu diam-diam setuju! Kamu sebenarnya ada di pihak mana!
Ciel bingung harus menangis atau tertawa. Baginya, dirinya sendiri bukanlah tipe orang yang memiliki mulut yang kejam. Dia merasa kalau dirinya cukup baik dan jarang berkata kasar. Ya … itu pendapat pribadi Ciel.
”Untuk alasan apa kamu datang, Zack?” tanya Ciel.
“Tentu saja untuk menantangmu!” seru Zack dengan pasti. “Kamu mungkin bisa bersembunyi dari orang lain, tetapi tidak dariku! Sejak awal aku tahu dirimu kuat, Sahabatku!”
“Berhenti terlalu bersemangat,” ucap Ciel sambil menggelengkan kepala.
Ciel mengingat kejadian ketika dia dan Zack masih berusia tujuh tahun. Pada saat itu, Ciel sedang asyik membaca bukunya sambil berbaring santai. Zack yang sangat penasaran dan tertarik dengan Ciel selalu mengajaknya berkeliling dan bermain, menikmati masa kecilnya.
Ciel menjelaskan kalau dirinya tidak suka bermain di bawah terik sinar matahari atau semacamnya. Namun, Zack yang polos dan bersemangat selalu mengajaknya bermain. Hal itu sudah terjadi sejak mereka berkenalan di usia lima tahun.
__ADS_1
Menghadapi sosok menyebalkan yang terus berputar di sekelilingnya selama dua tahun penuh, Ciel akhirnya tidak tahan. Dia benar-benar menggulingkan dan menjatuhkan Zack sampai pingsan dalam satu serangan.
Tentu saja, Ciel menutupi tragedi itu dengan kata-kata seperti Zack terpeleset tanpa sengaja atau semacamnya.
Menganggap Zack akan takut kepadanya, Ciel mengangguk puas. Namun ada yang salah dengan kepala bocah itu. Setelah bangun dari pingsan, dia selalu menyebut Ciel sebagai rivalnya dan terus menantangnya. Ya … terus menantangnya sampai detik ini. Dedikasi yang luar biasa sampai-sampai membuat Ciel benar-benar mati rasa, bingung bagaimana harus menyingkirkannya.
“Karena aku kalah dalam masalah hubungan, sekarang aku akan membuktikan dengan peliharaan! Belum lama ini aku telah bisa mengalahkan Crimson Fire Fierce Tiger dan menjadikannya tungganganku!” ucap Zack dengan kepala terangkat tinggi.
“Crimson Fire Fierce Tiger?” Ciel tampak terkejut.
“Luar biasa, bukan?” ucap Zack dengan nada sombong.
Makhluk yang Zack sebut adalah Demonic Beast level 4 dengan bentuk seperti harimau loreng raksasa dengan bulu merah menyala. Kepribadiannya ganas, di keempat pergelangan kakinya menyala dengan api merah dan memiliki dua taring panjang seperti harimau prasejarah.
Apa yang membuat Ciel terkejut adalah … Zack yang merupakan iblis level 4 benar-benar bisa melawan makhluk itu satu lawan satu. Meski dibandingkan dengan dirinya masih agak buruk, bakat Zack sendiri bahkan bisa dianggap melebihi kebanyakan pangeran Kekaisaran Black Sun.
Ya … meski dia bertingkah sedikit berlebihan.
Pikir Ciel dalam hati. Meski dirinya selalu menolak bersaing dengan Zack, Ciel sendiri sebenarnya cukup kompetitif. Melihat ekspresi bangga temannya itu, dia menggeleng ringan.
“Kamu pasti belum pergi ke kandang dan hanya menitipkan tungganganmu ke penjaga.”
Zack mengerutkan kening. “Memangnya ada yang salah dengan itu?”
Masih memakai pakaian tidur, CIel mengambil secangkir kopi yang disiapkan oleh Ariana lalu berkata, “Ikuti aku.”
Di kandang, Zack tampak tertegun ketika melihat sosok kadal hitam bersayap yang lebih besar dan nampak ganas dibandingkan dengan Crimson Fire Fierce Tiger miliknya.
Dengan pakaian tidur, secangkir kopi di tangan kiri, dan tangan kanan mengelus kepala Wyvern hitam … Ciel tersenyum lembut.
“Perkenalkan … ini Deschia.”
Melihat tatapan Ciel yang agak sombong, Zack takjub sementara Ariana terpana. Gadis itu tidak menyangka …
Tunangannya memiliki sisi yang seperti ini.
__ADS_1
>> Bersambung.