Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Siapa Sebenarnya Anak Ini?


__ADS_3

Malam harinya.


Setelah membahas tugas yang akan diberikan kepada Ryo dan Gordon serta beristirahat cukup. Dalam ruang pribadi miliknya, Ciel duduk bersama keempat kekasihnya.


Ekspresi Ciel sama sekali tidak terlihat baik. Bahkan, pemuda itu tampak cukup suram.


“Bukankah itu berlebihan?”


Mendengar pertanyaan Ciel, keempat wanita itu saling memandang. Ariana kemudian menunduk sebelum menjawa dengan suara monoton seperti biasa.


“Maafkan saya, Sayang. Saya menghabiskan seluruh persediaan yang anda tinggalkan. Saya pikir … akan lebih baik segera meningkatkan kekuatan seluruh bawahan anda yang paling setia.


Sehingga ketika anda pergi … kami memiliki kemampuan untuk menjaga diri.”


“Tunggu … maksudmu?”


Tanpa sadar Ciel mengaktifkan skill Eye of The Lord miliknya. Dia kemudian melihat ke arah empat kekasihnya. Ekspresi terkejut langsung terlihat di wajahnya.


Kecuali Ariana yang ada di level 3 (akhir), tiga wanita lainnya ternyata berada di lievel 4 (akhir).


Memang, sebelum Ciel pergi ke Royal Capital, dia menitipkan banyak potion berharga kepada Ariana. Meski potion itu dapat membantu para bawahan paling setia miliknya naik level, tetapi juga harus dilakukan dengan latihan keras untuk melampaui batasan mereka sendiri.


“Jelaskan kepadaku, Ariana. Berada di level berapa orang-orang itu.”


“Selain Jean yang telah berada di level 4 (akhir) dan belum berkembang. Level yang lainnya telah berubah drastis …”


Ariana, level 3 (akhir).


Camellia, Elena, Isabella berada di level 4 (akhir).


Jean, Asterious, Clark berada di level 4 (akhir).


Flora, Fiona, Theodore berada di level 4 (awal).


Ditambah dengan Ryo yang berada di level 4 (awal) dan Gordon di level 5 (awal), seluruh bawahan Ciel bisa dibilang sangat kuat. Kekuatan mereka mungkin hanya sedikit lemah daripada pasukan seorang Duke. Sedangkan pasukan Marquis, tanpa bantuannya, Ciel yakin mereka bisa menghapus musuh setingkat itu.


Mengingat sosok anak baik dan polos yang menganggap dirinya seperti ayahnya sendiri, Ciel meghirup napas dingin. Dia tidak menyangka kalau Theodore memiliki bakat yang begitu kuat. Meski tidak seperti dirinya yang hanya makan untuk naik level, bakat itu jelas tidak jauh di bawahnya.


“Terima kasih atas kerja keras kalian. Namun, jangan terlalu berlebihan dalam mengejar sesuatu. Memang, kekuatan itu perlu.

__ADS_1


Aku hanya tidak ingin obsesi mengejar kekuatan justru akan membuat kalian berlebihan dan merusak tubuh kalian sendiri.”


“Tentu saja, Sayang. Kami semua sepakat untuk berhenti di level 4 (akhir) untuk membiasakan diri dan menguatkan fondasi. Lagipula … terobosan untuk menjadi iblis tingkat atas (level 5) itu sangat sulit.


Kami tidak berani macam-macam atau ketika menerobos justru menghadapi kegagalan dan terhenti di level itu.”


“Selain latihan keras, kalian juga pasti melakukan latih tanding untuk merasakan krisis pertarungan dan memicu potensi, kan? Di mana kalian berlatih?”


“Kami melakukannya di padang rumput ketika musim dingin. Selain itu, hal itu sudah diumumkan kepada warga agar mereka tidak panik ketika merasakan guncangan atau mendengar ledakan keras.”


Membayangkan bagaimana para bawahan setianya yang berlatih di bawah salju. Membuat kehancuran di sana-sini untuk memicu potensi dan naik level demi dirinya, Ciel merasa tersentuh. Namun daripada perasaan tersentuh, dia merasa agak malu.


Dibandingkan para pekerja keras itu … dia terlalu malas!


Malam itu, Ciel dan keempat kekasihnya tidak tidur sama sekali. Mereka tidak melakukan hal-hal yang berlebihan. Meski mereka sudah sangat menginginkannya, Ciel masih menahan diri. Mematuhi diri sendiri untuk melakukan hal itu setelah dia berusia 18 tahun.


Sebagai gantinya, mereka berbagi banyak cerita ketika mereka berpisah. Sesekali, pelukan hangat dan ciuman lembut mereka lakukan untuk melepas kerinduan.


Mendengar apa yang keempat kekasihnya lakukan ketika dirinya tidak ada, Ciel merasa bersyukur dan bangga kepada mereka. Bukan hanya tidak mengendur dalam melakukan tugas, mereka berlatih lebih keras dan berusaha tidak menjadi beban baginya.


Mendengar semua itu, Ciel tidak bisa lagi mengharapkan yang lainnya. Keempat wanitanya, sudah terlalu baik dibandingkan yang lainnya.


Tidak hanya mendengar, karena keempat wanita itu penasaran, Ciel juga menceritakan perjalanannya. Dari saat dirinya sampai di Royal Capital, mengalahkan Victor, sampai petualangannya di Kerajaan Blood Diamond dan membunuh Fenton.


Siang di hari berikutnya.


Di sebuah dataran luas, tampak dua sosok saling berhadapan. Tidak jauh dari sana, beberapa orang menonton.


Sosok yang berhadapan adalah Ciel dan Theo. Sedangkan beberapa orang yang menonton adalah Jenny, Flora, Fiona, Ryo, dan Gordon. Sedangkan yang lainnya … mereka tidka bebas karena harus mengerjakan tugas mereka. Untuk Aiz dan Vahn, tubuh mereka yang masih muda terlalu kelelahan setelah perjalanan panjang.


“Apakah kamu siap?” tanya Ciel dengan senyum lembut di wajahnya.


“Mohon bimbingannya, Tuan!”


Setelah memberi hormat sambil mengucapkan itu, Theo langsung menari pedang dari sarungnya. Memegang pedang dengan kedua tangannya, dia memandang Ciel dengan ekspresi serius.


Melihat sikap serius Theo, Ciel mengangguk ringan. Dia kemudian berkata, “Maju.”


Mendengar itu, Theo tanpa ragu melapisi pedangnya dengan energi sihir. Remaja itu kemudian langsung melesat ke arah Ciel. Sampai di depan sosok Ciel, Theo tiba-tiba merubah gerakan kakinya.

__ADS_1


Theo langsung muncul di belakang Ciel lalu berniat menebas belakang leher pangeran itu. Memiliki keyakinan absolute kepada Ciel, remaja itu tanpa ragu langsung menebas.


KLANG!


Suara dentingan logam terdengar. Menghadapi Theo yang mengayunkan pedang dengan dua tangan, Ciel memegang pedangnya dengan satu tangan sembari memberi remaja itu senyuman ramah.


“Perkembangan baik.”


Mendengar pujian Ciel, Theo sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaannya. Mana yang melapisi pedangnya tiba-tiba berubah. Dari warna cyan, mana yang melapisi pedangnya digantikan dengan petir hitam yang menari-nari.


Melihat pedang yang dilapisi petir hitam, mata Ciel menyipit. Api hitam tiba-tiba muncul dan melapisi pedang di tangannya.


Theo langsung melompat mundur, dia kemudian langsung membuat gerakan menebas. Energi pedang yang berbentuk bulan sabit hitam dan dilapisi petir langsung mengarah menuju Ciel. Benar-benar mirip dengan serangan Victor, hanya saja lebih kecil dan tampak lebih lemah.


Ciel langsung mengayunkan pedangnya dan membelah serangan energi itu menjadi dua. Sebelum Theo melanjutkan serangannya, Ciel tiba-tiba menghilang dan muncul di depannya.


Theo hendak memasang posisi bertahan, tetapi sedikit terlambat. Gagang pedang di tangan Ciel mengetuk lembut dahi remaja itu.


“Kamu kalah, Theo. Kekuatan dan kecepatanmu luar biasa, tetapi kamu terlalu fokus menyerang. Menyerang memang penting, tetapi jangan tinggalkan banyak celah. Jika pertahananmu bocor, itu akan berakibat fatal.”


Setelah mengatakan itu, Ciel kembali menyarungkan pedangnya.


Sementara itu, Theo memegang pedang di tangan kanan sambil menyentuh dahinya sendiri dengan tangan kiri. Dia tampak agak linglung dan kecewa. Theo ingin menunjukkan banyak hal dan membuat Ciel bangga, tidak menyangka kalau dirinya masih terlalu jauh dari kata ‘kuat’.


Aku harus berlatih lebih giat dan membuat Tuan lebih bangga kepadaku!


Jika ada yang tahu pemikiran batin Theo, mereka pasti sudah mengeluh. Bukannya Theo itu lemah, hanya saja lawannya terlalu abnormal. Bakat Theo sendiri sudah melampaui kebanyakan anak bangsawan atau bahkan pangeran di kerajaan sekitar.


Theo bangun dari lamunannya ketika melihat Ciel mengelus kepalanya sambil mengacak-acak rambutnya.


“Kamu pasti berlatih dengan keras. Jangan terlalu kecewa, kamu sudah sangat kuat. Aku sangat bangga kepadamu.”


Mendengar ucapan Ciel, Theodore tersenyum ceria. Seperti anak yang merasa senang karena dipuji ayahnya setelah menerima nilai rapor yang baik.


“Baik, Tuan!”


Sementara di tempat itu terlihat kejadian yang menghangatkan hati. Sebaliknya, para penonton telah menghirup napas dingin. Mereka tidak menyangka seorang bocah memiliki kekuatan semacam itu.


Yang paling terkejut adalah Ryo. Dia selalu berpikir bahwa bakatnya sudah sangat baik. Namun di antara para pengikut Ciel, dia terasa agak biasa saja. Namun ketika melihat gerakan Theo dan sihir petir hitam itu, Ryo tidak bisa tidak berpikir.

__ADS_1


Siapa sebenarnya anak ini?


>> Bersambung.


__ADS_2