Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Perbedaan Pandangan


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


“Apakah jalannya benar-benar menuju ke arah ini?”


Ryo yang berjalan di samping Ciel melirik ke arah pemuda itu dengan ekspresi serius. Maksudnya cukup jelas, mereka berdua mengikuti Cherry keluar dari Kota Redstone. Mereka bermaksud untuk mengunjungi markas Crimson Night. Namun Ryo merasa kalau mereka berdua malah di bawa ke arah yang tidak menentu.


Tiga orang mengenakan jubah hitam berkerudung melewati dataran sepi dan kosong di timur laut Kota Redstone. Untuk menghindari kecurigaan orang, mereka menyelinap pergi dan tidak menaiki kuda atau binatang lainnya. Bagi Ciel sendiri, hal semacam itu juga merupakan pengalaman baru.


Melihat sekitar yang hanya dipenuhi dengan tanah merah yang tandus dan berdebu dengan pepohonan yang teramat jarang, Ciel menggeleng ringan. Meski sensasi baru, dia tetap lebih menyukai Wilayah Blackfield yang subur dan sejuk.


“Gin …” Ryo berbisik lirih.


“Apakah kamu takut disergap, Xan?” Ciel berkata dengan ekspresi tak acuh. “Jika itu benar-benar penyergapan, aku rasa malah sedikit menarik. Lagipula … sudah lama aku tidak berolahraga.”


“...”


Menatap Ciel yang begitu tak acuh, Ryo hanya menggeleng ringan.


Setelah beberapa waktu, ketiga orang itu sampai di daerah perbukitan batu. Mirip dengan bukit, tetapi tidak berwarna hijau dan hanya ada batu dan tanah merah di mana-mana.


Mereka kemudian terus berjalan semakin dalam ke pusat perbukitan. Di sana, terlihat sebuah goa besar yang dijaga beberapa orang dengan pakaian yang sama dengan orang-orang yang mendobrak kamar Ciel sebelumnya.


Orang-orang itu langsung menarik senjata di pinggang mereka.


“Tunjukkan identitas kalian!” Salah satu penjaga berteriak.


“Ini aku, Cherry …” Cherry membuka kerudung dan memperlihatkan wajah seorang wanita cantik berambut pink yang mencolok.


“Jadi itu Nona Cherry.” Para penjaga saling melirik. “Jadi dua orang di belakang anda …”


“Ya, mereka adalah tamu yang diundang oleh kakak.”


Para penjaga saling melirik.


“Kalau begtu para tamu harus meninggalkan senjata dan tas dimensi sebelum memasuki markas.”


“Heh …” Ciel terkekeh.


“Apa yang lucu!”


“Perampok kecil mau bermain denganku.”

__ADS_1


“Bukankah itu sudah wajar meninggalkan senjata? Lakukan saja.” Cherry berkata pada Ciel.


“Lalu kenapa dengan tas dimensi?”


“Itu …”


“Juga, jika kalian tidak ingin dicurigai. Coba bawa lebih sedikit orang. Empat puluh orang yang mengepung itu agak berlebihan. Belum lagi mereka semua masih amatir.”


“Apa maksudmu dengan empat puluh orang?” Cherry tampak bingung.


Ryo yang mendengar peringatan Ciel langsung menarik pedangnya.


Mata penjaga langsung menyipit. Orang itu langsung berteriak, “Bunuh keduanya dan tangkap wanita itu.”


Setelah ucapan itu terdengar, banyak orang muncul dari balik batu-batu besar di sekeliling. Jumlah mereka lebih dari empat puluh orang.


Melihat orang-orang yang mengelilingi mereka, Cherry berteriak, “Apa maksud dari semua ini? Kakakku adalah-”


“Tuan Noct, kakakmu, dan orang-orang yang setia sekarang telah terpojok. Kami tidak ingin mati bersama kalian dan bergabung dengan pasukan di bawah Mage Corny.”


“Bisa-bisanya kalian mengkhianati Tuan Noct! Dia telah menyelamatkan kalian semua!”


Orang-orang hendak menyerbu tetapi terkejut melihat Ciel sudah tidak ada di tempatnya. Semua orang langsung mengamati sekitar, ketika menatap ke arah yang sama, mereka tertegun.


Sosok Ciel ternyata berdiri di belakang penjaga goa yang sedari tadi bicara!


Ketika orang itu melihat semua orang memandang ke arahnya, dia hendak menoleh ke belakang. Namun sebelum dia menoleh, orang itu mendengar saura angin berdesir. Dia merasa kalau lehernya dingin dan pandangannya bergerak dengan aneh.


Kepalanya langsung jatuh. Orang itu mati begitu saja.


“Itulah kenapa aku berkata kalian amatir. Kenapa banyak bicara? Bunuh saja.”


Suara bosan Ciel terdengar. Tiga orang yang berada di dekat penjaga tadi mencoba mundur, tetapi Ciel begitu cepat. Dengan pedang di kedua tangan, pemuda itu sekali lagi memenggal kepala satu orang dan menusuk satu orang tepat di jantungnya dengan tangan lain.


Orang terakhir hendak menarik pedang di pinggangnya. Namun saat itu, kaki Ciel berayun keras menendang tangan orang itu, mematahkan jari-jari di tangannya dan membuat orang itu menjerit kesakitan. Sebelum sempat bereaksi, sebuah pedang berayun membelah tubuhnya menjadi dua bagian.


Ciel menatap Ryo yang bersiap dengan ekspresi tak acuh.


“Menunggu aku menyelesaikan mereka semua?”


Mendengar ejekan Ciel, Ryo juga langsung bergerak. Sementara Cherry masih tercengang, suara teriakan demi teriakan terdengar di telinganya. Beberapa saat kemudian, lingkungan menjadi sepi.

__ADS_1


Ketika tersadar, Cherry melihat puluhan mayat dingin tanpa kepala, lengan, atau bahkan dipotong menjadi dua di mana-mana. Darah mengalir membuat pemandangan yang mengerikan sekaligus menjijikkan.


Di sana, terlihat sosok Ciel dan Ryo yang tampak tak acuh. Mereka sama sekali tidak terlihat seperti telah membunuh seseorang, tetapi membunuh seekor ayam. Meski ada beberapa goresan di pakaian Ryo, jelas … orang itu juga tidak terluka.


“Kenapa kalian harus membunuh mereka semua? Kalian bis-”


PLAK!


Ciel muncul di depan Cherry dan menampar wanita itu dengan keras sampai terjatuh di tanah. Wanita berambut pink itu menatap Ciel dengan ekspresi tidak percaya. Benar-benar kaget dan tidak tahu harus merespon bagaimana.


“Kamu pikir perang itu mainan? Mereka boleh membunuh, tetapi karena kami kuat, kami harus mengampuni? Bodoh.” Ciel berkata dingin. “Jangan mencoba membunuh jika takut dibunuh. Keluarga mereka? Memangnya hanya mereka yang memiliki keluarga? Aku dan rekanku juga memiliki keluarga.”


Ciel berbalik pergi. Dia memasuki goa diikuti dengan Ryo di belakangnya.


Sementara itu, Cherry yang duduk di tanah dengan puluhan mayat di sekitarnya menatap kosong. Dia tampak linglung dan hatinya merasa begitu rumit.


Di dalam goa.


Ciel dan Ryo yang baru masuk mengamati lingkungan sekitar. Melihat tempat itu luas dan tidak terlalu membatasi gerakan mereka, keduanya maju dengan ekspresi yakin.


Goa itu sendiri adalah bekas tambang yang telah ditinggalkan. Jelas, kelompok Crimson Night memanfaatkan itu sebagai tempat berlindung. Meski memiliki cukup banyak resiko, itu juga bukan pilihan yang buruk.


“Apakah kita akan masuk begitu saja?” tanya Ryo.


“Ini alam liar, tidak perlu berhati-hati seperti sedang mengepung kastil atau bangunan semacamnya.”


“Jika terlalu banyak musuh?”


“Bekukan saja mereka sampai mati.” Ciel berkata dengan ekspresi tak acuh.


“Menurutmu … apakah orang itu, Mage Corny, ada di tempat ini?”


Ciel mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh.


“Tidak tahu. Akan lebih baik jika dia ada di sana, jadi aku tidak perlu repot-repot mengetuk pintu Kastil Redstone.”


Mendengar Ciel berkata akan mendobrak pintu Kastil Restone dan melakukan dengan ekspresi santai membuat Ryo tidak bisa berkata-kata. Dia agak curiga kalau pangeran paling muda dari Kekaisaran Black Sun itu menderita kelainan mental.


Bukankah kamu akan melakukan pembantaian? Kenapa kamu berbicara seperti akan pergi ke pasar, membeli lalu menyembelih ayam?


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2