
“Pisahkan mayat laki-laki dan perempuan. Sedangkan yang selamat … tahan mereka untuk sementara.”
Setelah memberi perintah, Ciel berbalik. Pemuda itu pergi menuju ke kawah tempat dirinya dan Vesperr bertarung. Melihat sebuah tombak tertancap di tengah-tengah cekungan itu, dia tidak bisa tidak menghela napas panjang.
Seperti yang diharapkan dari senjata dalam kelas itu …
Ciel segera mendekat. Setelah itu, dia langsung memegang tombak dan menariknya. Namun dia merasa tombak benar-benar sangat berat. Dengan kekuatannya sekarang, sangat mudah mengangkat lebih dari puluhan ton dengan satu tangan, tetapi dirinya benar-benar gagal mengangkat tombak.
Karena gagal, Ciel mencoba menggunakan energinya dan memasukkannya ke dalam tombak. Memang, dia langsung terhubung dengan tombak itu. Hanya saja, ketika terhubung, jiwa naga meraung kepadanya dan menolak untuk patuh.
Batasan darah, kah?
Pada saat memikirkan itu, mata Ciel menyipit. Enam sayap hitam legam bagai tinta muncul di punggung pemuda itu. Otot tangannya menegang ketika dirinya menarik paksa tombak yang tertancap di tanah.
“Tunduk!” Ciel berkata dingin, mencabut tombak dari tanah.
Melihat kalau jiwa naga yang cukup lemah tidak bisa menolaknya, Ciel mengangkat tombak tinggi-tinggi. Akan tetapi, dia masih merasa kalau tombak cukup berat dan sulit digunakan. Belum lagi, karena menggunakan paksaan, dia dan jiwa naga tidak bisa sinkron. Hal itu akan memengaruhi peforma dalam bertarung.
Kelihatannya aku harus menemukan cara lain.
Ciel merenung. Menghela napas panjang, dia akhirnya menyimpan tombak dalam cincin dimensi. Pemuda itu kemudian kembali ke rombongan.
Melihat mayat yang sudah dipisahkan, Ciel mengangguk. Pemuda itu kemudian mengeluarkan dua kantong dimensi lalu menyimpan mayat-mayat para Vampir.
Ciel kemudian menghampiri lebih dari 30 Vampir yang tersisa dan membuat kontrak budak dengan mereka. Setelah selesai … dia terlihat cukup tertekan.
Melihat luka di jari telunjuknya yang telah pulih, Ciel sekali lagi menghela napas panjang.
“Terima kasih atas kerja keras kalian. Untuk saat ini … kalian bisa kembali.” Ciel kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Elena. “Kamu akan mengatur mereka di kastil, Elena. Ngomong-ngomong … jangan sampai para warga tahu kalau aku membawa Vampir kembali. Jika sampai berita bocor …”
Tatapan Ciel menyapu seluruh prajurit, membuat mereka gugup. Setelah merasa kalau orang-orang itu telah paham apa yang harus dilakukan, pemuda itu mengangguk. Dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Ya … dia menyadari kalau masih ada tunggangan Vesperr, Shadow Wind Winged Viper.
Melihat sosok sekarat yang berbaring di pinggir hutan dengan penampilan sekarat, Ciel langsung menghampirinya. Karena keterampilannya, makhluk itu benar-benar memiliki hawa keberadaan tipis. Bahkan jika ukurannya sangat besar, tidak ada yang menyadarinya.
Shadow Wind Winged Viper sekarat karena menerima dampak setelah tuannya mati. Melihat makhluk yang sedikit lebih buruk dibandingkan Abyssal Basilisk, mata Ciel berkilau. Meski kalah dalam kekuatan, makhluk itu memiliki apa yang tidak dimiliki Abyssal Basilisk. Itu adalah kemampuan bersembunyi sekaligus terbang!
__ADS_1
Melihat ular raksasa yang menatapnya dengan ekspresi tak acuh, Ciel mengangkat sudut bibirnya.
“Tuanmu telah mati. Jika kamu mau mengikutiku … aku memiliki cara untuk menyelamatkanmu. Jadi pilih … menjadi hewan peliharaanku atau menjadi stok daging untuk hewan peliharaanku.” Ciel berkata dengan dingin. Ada sedikit ancaman dalam ucapannya.
Melihat kepala ular raksasa yang menunduk di depannya untuk mengakui kesetiaan, Ciel tersenyum puas. Dia kemudian segera membuat kontrak dengan makhluk itu. Setelah selesai, pemuda itu agak kaget karena Shadow Wind Winged Viper ternyata membenci mantan tuannya, Vesperr.
Makhluk itu teryata dipaksa untuk menjadi tunggangan Vesperr. Lagipula, kebanyakan iblis memang melakukan hal seperti itu. Jarang ada yang meminta pengakuan dan membuat mereka menjadi rekan. Kebanyakan hanya menganggap mereka sebagai tunggangan, bantuan serangan, atau bahkan perisai daging.
“Bagus … kamu akan kembali bersama orang-orang. Aku akan meminta Elena untuk membawamu ke tempat tinggal baru. Untuk sekarang, minum ini dan sembuhkan lukamu.” Ciel berkata sambil menuangkan potion ke mulut ular raksasa itu.
Setelah Shadow Wind Winged Viper lebih baikan, Ciel segera menemui Elena dan menyerahkan sisanya kepada wanita itu. Dia meminta kekasihnya memimpin pasukan untuk mundur kembali ke Wilayah Blackfield. Sedangkan Ciel … dia dan Deschia bergegas menuju ke Kota Scarlet Roze.
Tiga hari kemudian.
Setelah melewati banyak kota yang ditaklukkan, Ciel menghela napas panjang saat melihat kondisi Kota Scarlet Roze.
Mendarat di depan gerbang kota, Ciel yang hendak masuk ke kota dihadang banyak prajurit. Pemuda itu menyipitkan matanya. Menatap para prajurit, dia siap menyerang kapan saja.
Salah satu ksatria yang kelihatannya adalah komandan pasukan berjalan ke depan Ciel lalu memberi hormat.
“Perkenalkan, nama saya Erick, Pangeran Luciel. Izinkan saya untuk mengantar anda untuk menemui tuan saya, Duke Raevern.”
Tanpa turun dari punggung Deschia, Ciel mengikuti sosok Erick menuju Kastil Scarlet Roze.
Berbeda dengan pemandangan kota yang bisa dibilang berantakan, Ciel bisa melihat Kastil Scarlet Roze yang nyaris utuh. Kecuali gerbang kastil yang dihancurkan dengan paksa, dia tidak melihat banyak bagian kastil yang rusak akibat pertarungan.
Ciel langsung menebak kalau Marcus dan orang-orang yang berlindung dalam kastil melarikan diri dengan lorong rahasia atau semacamnya. Turun dari punggung Deschia, dia mengikuti Erick untuk masuk ke dalam kastil.
Sampai di dalam kastil, Ciel bisa melihat Duke Raevern yang sibuk dengan banyak dokumen mencurigakan. Kemungkinan perkamen tersebut berhubungan dengan apa yang telah dilakukan Keluarga Bathory bersama dengan Curses Of Shadow.
Mendengar suara langkah kaki, Duke Raevern menoleh ke arah Ciel. Melihat pemuda yang datang lebih awal daripada dugaannya, pria itu agak terkejut. Kelihatannya cukup curiga apakah Ciel melakukannya dengan baik.
“Siang, Duke Raevern.” Ciel memberi salam sopan.
“Siang, Pangeran Luciel. Saya tidak menyangka anda datang begitu awal. Masalah perihal Keluarga Bathory-”
__ADS_1
“Saya telah menyelesaikannya.”
Ciel langsung menjawab sambil berjalan mendekati Duke Raevern. Pemuda itu kemudian meletakkan kantong dimensi di atas meja.
Mengambil kantong dimensi, Duke Raevern memejamkan mata untuk memeriksa apa yang ada didalamnya. Melihat lusinan mayat Vampir pria, dia terkejut. Pria itu langsung melirik ke arah Ciel.
“Para wanita?” tanya Duke Raevern dengan suara dalam.
“Mereka sulit menghindar dan dibunuh oleh salah satu Jenderal dari Curses of Shadow.” Ciel berbohong tanpa mengedipkan mata.
“Jenderal dari Curses Of Shadow???”
“Iya, namanya Vonda. Jadi seperti ini …”
Ciel mulai menceritakan masalah tentang Vonda dan bagaimana wanita itu membunuh prajurit di bawahnya untuk beregenerasi. Selain itu, Ciel juga menambahkan sedikit bumbu serta menghilangkan perihal melawan Vesperr.
Jika berita dirinya melawan Vesperr bocor, orang-orang pasti sadar kalau dirinya bukan iblis level 5 (akhir). Itu akan banyak membawa masalah. Karena itu, Ciel memutuskan untuk menyembunyikan masalah itu.
“Jadi begitu …” Mendengar cerita Ciel, Duke Raevern mengangguk. “Untuk sisa Vampir. Lupakan … kamu bisa memilikinya.”
Menyadari tatapan Duke Raevern yang penuh makna, sudut bibir Ciel berkedut. Orang itu jelas-jelas berpikir dirinya seorang kolektor wanita dan memilih untuk ‘merawat’ para wanita dari ras Vampir itu.
“Saya memiliki sesuatu yang mungkin membuat anda tertarik, Pangeran Luciel. Apakah anda ingin melihatnya?” tanya Duke Raevern dengan senyum yang menjengkelkan.
Apakah orang ini benar-benar ayah Savian? Sementara putranya begitu tenang dan cerdas, kenapa orang ini begitu menjengkelkan?
Ciel mengeluh dalam hati. Menghela napas pendek, dia akhirnya mengangguk ringan. Melihat jawaban positif darinya, Duke Raevern menjadi lebih bersemangat.
Duke Raevern membawa Ciel untuk pergi ke ruang bawah tanah. Setelah berkeliling sembari mengenalkan situasi, pria itu akhirnya mengajak Ciel ke lokasi utama. Tempat sebuah tabung penuh dengan cairan bernutrisi di dalamnya.
Awalnya, Ciel yang elihat banyaknya sistem pengaman mengerutkan kening. Namun ketika melihat apa yang ada di tengah ruangan dengan matanya sendiri, pemuda itu terkagum-kagum.
‘Cangkang.’
Satu kata terlintas ketika Ciel melihat apa yang berada di dalam tabung penuh dengan cairan nutrisi. Ekspresinya sempat stagnan, benar-benar agak bingung sekaligus kagum.
__ADS_1
Vonda itu … benar-benar jenius gila sampai bisa membuat hal semacam ini.
>> Bersambung.