Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Itu Sudah Cukup


__ADS_3

“Kenapa kamu tampak murung, Sayang?”


Mendengar pertanyaan Ariana, Ciel menghela napas panjang. Melihat di sekitar, suasana begitu bahagia dan ceria, berkebalikan dengan apa yang dia rasakan.


“Bukan apa-apa.” Ciel menggeleng ringan sebagai tanggapan.


Melihat tindakan Ariana dan Ciel yang begitu akrab, Camellia yang duduk tidak jauh dari sana hanya bisa mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Gadis itu merasakan hal yang belum pernah dia rasakan sebelumya. Hatinya terasa begitu berat, perasaannya tenggelam.


Putri Ariana adalah tunangan Tuanku. Aku sudah mengerti hal ini … tapi, tapi kenapa masih terasa begitu sakit?


Pikir Camellia sembari menggigit bibir dengan perasaan perih. Dia segera bangkit lalu membungkuk sopan sambil berkata, “Saya akan kembali untuk beristirahat terlebih dahulu, Tuan.”


“Apakah kamu baik-baik saja, Camellia? Bagaimana kalau aku mengantarmu?” tanya Ciel.


“Tidak perlu, Tuan. Kalau begitu … permisi.”


Setelah mengucapkan itu, Camellia segera kembali ke kamarnya. Namun sebelum dia masuk ke dalam kamar, gadis itu melihat seseorang yang membuntutinya di lorong. Peka dengan keadaan sekitar, dia langsung berkata, “Siapa?”


Dari balik bayangan lorong, siluet muncul di hadapan Camellia. Dia adalah seorang wanita cantik berpakaian pelayang, Isabella.


“Ini saya, Nona Camellia.”


“Untuk apa kamu mengikutiku, Isabella?” Camellia tampak waspada.


“Saya sadar kalau anda cemburu dengan Putri Ariana.” Isabella tersenyum misterius.


“Siapa yang cemburu-”


“Anda dapat menyangkalnya, tetapi hal itu terlihat sangat jelas. Anda sangat cemburu …”


“Apa yang kamu inginkan?” Camellia mengerutkan keningnya.


“Saya dapat membantu anda.”


“Maksudmu?”


“Saya dapat membantu anda memenangkan hati Pangeran Luciel. Namun saya juga meminta sebuah balasan.”


“Apa yang kamu inginkan?” Hati Camellia mulai goyah.


“Pangeran Luciel … saya juga ingin menjadi salah satu selir Pangeran Luciel.”


“...”


Melihat kalau Camellia diam saja, Isabella melanjutkan, “Saya tidak munafik seperti anda, Nona Camellia. Anda memang mencintai dan ingin bersama dengan Pangeran, tetapi saya berbeda … Saya memiliki ambisi saya sendiri.”


“Bodoh.” Camellia langsung mendengus dingin.


“Gadis kecil yang dibesarkan seperti peliharaan tidak akan mengerti yang saya maksud.”


Melihat Camellia menolak, Isabella sama sekali tidak marah. Dia membungkuk sopan sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis itu sendiri.


Aku … seekor peliharaan?

__ADS_1


Pikiran Camellia jatuh semakin dalam saat memikirkan perkataan Isabella. Pada saat kembali ke kamarnya, gadis itu duduk di kursi dekat jendela. Dia memandang langit malam penuh dengan bintang dengan ekspresi sedih di wajahnya.


...***...


Tengah malam, Ciel yang sedang tidur langsung membuka mata saat mendengar suara dalam kamarnya.


Ketika memperhatikan, terlihat sepasang mata merah dalam kegelapan. Siluet gadis cantik berambut perak muncul dari balik bayangan. Itu adalah Camellia. Gadis itu menggunakan gaun tidur, ekspresinya pucat dan matanya sedikit bengkak karena terus menangis. Tidak hanya itu … di tangan gadis itu, terlihat sebuah belati dengan kilau tajam.


Belati itu adalah pemberian dari Ciel untuk Camellia agar gadis itu bisa melindungi dirinya.


“Apa yang sedang kamu lakukan, Camellia?” tanya Ciel.


“Bukan apa-apa.” Camellia berkata dengan nada monoton. “Setelah mendapat mainan baru dan istri yang cantik, anda pasti sudah bosan dengan hewan peliharaan kecil ini, Tuan.”


“Camellia …”


“Jangan katakan apa-apa! Peliharaan kecil ini tahu kalau tuannya pasti sadar atas kedatangannya. Hewan kecil ini … darah kotor ini … benar-benar tahu kalau sudah tidak lagi dibutuhkan.


Hewan kecil ini mengerti, tetapi tetap saja … tetap saja hewan kecil ini selalu munafik padahal menginginkan lebih.


Cukup! Hewan kecil ini sudah cukup merasakan semuanya. Hewan kecil ini hanya ingin mati di depan tuannya!”


Selesai mengungkapkan seluruh perasaannya, Camellia langsung menusukkan belati ke tenggorokannya sendiri.


Sebelum belati itu menembus tenggorokannya, sebuah tangan memegang belati tersebut. Ciel yang menghilang langsung muncul di depan Camellia sambil memegang belati. Karena belati pemberiannya itu sangat tajam, telapak tangannya sendiri terluka. Darah mulai menetes di atas lantai.


“Gadis bodoh.”


“Lepaskan! Lepaskan aku! Jika tidak … jika tidak … aku benar-benar tidak bisa membencimu.” Air mata kembali mengalir melewati pipi Camellia.


Mengabaikan luka di tangannya, Ciel berkata, “Kenapa kamu mengatakan hal bodoh seperti itu? Aku tidak pernah menganggapmu sebagai hewan peliharaan, Lia.”


Mendengar Ciel kembali memanggilnya dengan panggilan akrab yang sering diucap beberapa tahun lalu, Camellia membenamkan kepalanya dalam pelukan Ciel sambil menangis sejadi-jadinya.


“Tapi aku darah campuran yang kotor …”


“Aku tidak peduli.”


“Tapi aku sangat lemah …”


“Aku tidak peduli.”


“Tapi-”


“Aku tidak peduli. Kamu selalu membantuku. Kamu juga berusaha dengan sekuat tenaga. Yang terpenting … aku membutuhkanmu.


Itu sudah cukup.”


“Kalau begitu buktikan kepadaku,” gumam Camellia dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Mendengar itu, Ciel langsung memandang wajah Camellia yang mendongak menatapnya. Ciel mengusap air mata gadis itu sebelum lalu memegang dagunya. Pemuda itu langsung menunduk dan mencium bibir gadis itu.


Merasakan sensasi lembut dan sedikit basah disertai aroma buah yang manis, Ciel merasa sedikit mabuk. Camellia memejamkan matanya saat kedua tangannya meremas baju Ciel. Pada saat Ciel hampir kehilangan napas, barulah dia menghentikan ciumannya.

__ADS_1


“I-Ini …” Camellia menatap Ciel dengan ekspresi tidak percaya. Wajahnya benar-benar menjadi merah seperti apel.


“Apakah sekarang kamu percaya?” ucap Ciel dengan senyum menawan di wajahnya.


“I-Itu …”


Melihat Camellia yang malu, Ciel merasa dirinya terlihat imut dan langsung memberi gadis itu ciuman dalam. Kedua lidah mereka terjalin. Mata Camellia terbelalak tetapi mulai menikmatinya kemudian. Ketika selesai berciuman, gadis itu tampak mabuk.


“Jika aku berkata kalau diriku ingin kamu menjadi selirku, apakah kamu akan percaya?”


“Tuan …” Berkeringat dan mabuk, Camellia merasa jantungnya berdetak semakin cepat. “Aku … Aku …”


“Ini terlalu cepat. Paling tidak tunggu satu atau dua tahun lagi,” ucap Ciel sebelum terkekeh sambil menyentil kening Camellia.


Merasakan sedikit sakit di keningnya, Camellia yang merasa mabuk langsung tersadar. Wajah gadis itu merah bahkan sampai ke lehernya. Dia langsung melepaskan diri dari pelukan Ciel, menginjak kaki pemuda itu lalu melarikan diri.


“Dasar bodoh,” ucap Camellia sambil memelototi Ciel sebelum pergi meninggalkan kamar.


Melihat gadis itu pergi, Ciel hanya bisa menggeleng ringan. Hanya beberapa saat kemudian, wajahnya kembali tenang.


“Sebaiknya kamu menjelaskan ini semua, Isabella.”


Setelah mengucapkan itu, pintu kamar Ciel yang mengarah ke balkon terbuka. Dari luar, sosok Isabella memasuki ruangan.


“Tentu saja saya melakukan ini demi anda, Tuanku.” Isabella berkata dengan senyum menawan di wajahnya.


“Meski aku membesarkanmu secara diam-diam, seharusnya kamu tidak bertindak terlalu jauh.”


Ciel menghela napas panjang. Seperti yang dia katakan, karena melihat potensi dalam tubuh Isabella, dirinya menawarkan kontrak jiwa kepada wanita itu. Setelah budidaya secara diam-diam selama empat bulan, Isabella juga berhasil menembus level 4.


Tidak hanya itu, Ciel juga memberikan ‘Jade kecil’, ular hijau dengan cincin ungu di tubuh kepada Isabella. Hal itu memperkuat kemampuan Isabella dalam sihir ilusinya.


“Saya melakukan semuanya untuk anda, Tuanku. Ini hanya balas budi, okay?”


Tidak seperti gadis yang lugu dan pemalu, Isabella berjalan ke arah Ciel. Wanita itu memeluk leher Ciel dari belakang sambil menggosokkan tubuhnya ke punggung pemuda itu.


“Jika anda menginginkannya, budak ini masih tidak merubah penawarannya, Tuanku. Anda tinggal berkata … dan saya akan melakukan semuanya,” bisik Isabella tepat ke telinga Ciel.


“Itu sudah cukup, Isabella. Jangan buat aku mengulanginya …”


Merasakan tekanan dan niat membunuh mengerikan iblis level 6 dari Ciel yang diarahkan kepadanya, Isabella langsung melepaskan pelukannya dan langsung berlutut.


“Maafkan kelancangan budak ini, Tuanku.”


Melihat wanita itu menggigil ketakutan, Ciel menarik kembali niat membunuhnya. Dia terlihat tak acuh.


“Lanjutkan rencananya. Tidak seperti Elena, Asterious, dan Jean … kamu tidak boleh tampak di permukaan. Rencana pasukan khusus yang ingin aku buat akan segera dijalankan.”


Terlihat sangat hormat, Isabella buru-buru memberi jawaban.


“Sesuai keinginan anda, Tuanku.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2