Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Crimson Night


__ADS_3

Hmmm? Langsung menyerang? Di tempat seperti ini?


Melihat beberapa orang bergegas ke arahnya, Ciel menggeleng ringan. Melihat gerakan mereka yang tidak terkoordinasi, tatapan sedikit menghina terlihat di matanya.


Menghadapi pukulan yang diarahkan kepada dirinya, jangankan menarik pedang, dia bahkan masih duduk di tepi ranjang. Ciel dengan santai memegang pergelangan tangan orang yang mencoba memukulnya, memutar lalu membanting orang itu dengan mudah tepat di depannya.


Melihat beberapa iblis level 2 masuk ke dalam ruangan dan mencoba menyerang, Ciel menatap dingin. Sama sekali tidak menggunakan mantra khusus, pemuda itu menjentikkan jari. Menggunakan mana yang terkompresi di jari dan menghempaskannya menjadi energi es yang memenuhi ruangan.


Dalam sekejam mata, ruangan yang awalnya hangat dan romantis langsung menjadi gudang pendingin. Merasakan dinginnya, orang-orang itu terhenti dan menatap Ciel dengan ragu.


Sementara itu, orang yang memberi perintah sekaligus satu-satunya iblis level 4 di antara mereka tidak terlalu terpengaruh. Tubuhnya diselimuti aura merah yang membuat udara dingin di sekitarnya berubah menjadi kepulan asap ketika bersentuhan dengan aura merah.


Apa yang Ciel gunakan setara dengan sihir level 4 skala kecil. Tidak ditargetkan kepada siapa-siapa dan hanya dia gunakan untuk menghentikan orang-orang yang menerobos kamar secara tidak sopan itu.


“Kamu … siapa?” Pemimpin gerombolan orang itu menatap Ciel dengan ekspresi serius.


“Gin.” Ciel menjawab dengan tak acuh.


“Gin? Belum pernah mendengarnya. Kamu-”


“Cukup!”


Suara Cherry menyela. Gadis berpakaian tipis yang ditutupi selimut itu memelototi Ciel sambil menggigil kedinginan. Dibandingkan orang-orang yang berpakaian sangat tertutup itu, dia benar-benar yang paling menderita.


“Sebaiknya bawa orang-orangmu pergi dari sini sebelum menimbulkan kekacauan, Kak!”


“Tapi-”


“Tidak ada kata tapi! Pergi!”


Semua orang saling melirik. Sosok yang kelihatannya pemimpin kelompok itu menatap Ciel dalam-dalam seolah memastikan untuk mengingat. Dia kemudian dengan dingin berkata, “Mundur!”


Orang-orang langsung mundur. Kejadian itu terjadi terlalu singkat. Melihat orang-orang yang menghilang, Ciel menggeleng ringan.


“Kamu … sampai kapan kamu akan membuat ruangan sedingin ini?”


Tersadar dari lamunan, Ciel kemudian mengangkat kembali sihirnya. Beberapa saat kemudian, ruangan kembali menjadi normal. Dia kemudian melirik ke arah Cherry yang menggigil.


Pemuda itu melihat kalau Cherry tampak sangat pucat. Kelihatannya suhu dingin membuat kutukan wanita itu menjadi semakin ganas. Dia melihat ke arah Cherry lalu ke arah pintu yang rusak.


“Kita pindah kamar.” Cherry berkata singkat.


“Tidak. Transaksi kita selesai. Aku telah mendapat apa yang aku inginkan.”


Ciel menggeleng ringan. Dia kemudian mengeluarkan sebuah potion yang bisa menyembuhkan kutukan dari tas dimensi sebelum meletakkannya di samping Cherry. Namun, sebelum dia berbalik, pemuda itu merasakan tangan dingin yang menariknya.


“Anda tidak akan begitu tidak bertanggung jawab dan meninggalkan wanita lemah sendirian kan, Tuan Gin?”

__ADS_1


Melihat wanita yang tampak rapuh dan tidak berdaya, Ciel tiba-tiba mengambil kembali potion. Setelah menyimpannya, dia tiba-tiba meraih tubuh Cherry dan menggendongnya layaknya seorang putri. Hal yang membuat wanita itu kaget karena merasa tidak siap.


“T-Tuan Gin.” Cherry tergagap.


“Kamu ingin pindah kamar dan ditemani sampai pagi, kan? Kalau begitu mari kita lakukan.”


“M-Maksud saya …” Melihat tatapan mata Ciel, Cherry menelan kembali perkataannya. Wajahnya benar-benar merah karena malu. Dia hanya bisa menguburkan wajahnya dalam pelukan Ciel lalu menjawab pelan. “Baik.”



Keesokan paginya, di kamar lain.


Cherry duduk di atas ranjang dengan pakaian tipis yang basah dengan keringat. Ekspresinya tampak kuyu dan lemah. Wanita itu kemudian menatap ke arah sosok yang duduk di sofa sambil membaca buku. Dia menggertakkan gigi karena marah.


Semalam, Cherry membayangkan bagaimana dia melakukan yang pertama kali. Bagaimana dirinya ditaklukkan oleh pria tampan yang jahat dan tak dia kenal. Banyak fantasi masuk ke dalam otaknya. Namun, realita berkata lain.


Daripada menaklukkan dirinya, sosok pria tampan itu benar-benar menyembuhkan kutukan dan menjaganya ketika dirinya kesakitan setelah meminum potion. Seluruh keringat di tubuhnya terjadi ketika proses pengangkatan kutukan.


Wanita itu mendengus dingin, tetapi hatinya merasa hangat. Cherry merasa kalau Ciel adalah lelaki baik yang tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Cherry bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah Ciel. Pakaian tipis yang basah oleh keringat membuat lekuk tubuh indah itu terlihat dengan jelas. Ditambah tatapan hangat dan wajah merah dan malu-malu, Cherry benar-benar seperti hidangan nikmat yang siap dicicipi.


Berhenti di depan Ciel, Cherry berkata dengan lembut dan agak manja.


“Terima kasih, Tuan Gin.”


“Kamu bau. Mandilah.”


“...”


Ekspresi Cherry langsung stagnan. Sudut bibirnya berkedut, dia mengendus aroma pakaiannya tetapi tidak mencium bau aneh, bahkan dirinya wangi. Wanita itu lalu memelototi Ciel sambil menghentakkan kakinya dengan tidak puas.


“Kamu yang bau!” ucap Cherry sebelum berbalik pergi ke kamar mandi.


Melihat sosok Cherry yang menghilang di kamar mandi, Ciel menghela napas dalam hati.


Kamu harus tahan, Ciel! Dia memang cantik, tetapi kamu punya tunangan dan selir yang menunggumu pulang! Tidak mungkin kamu dengan ceroboh membuang yang pertama kali di kerajaan lain yang jauh dengan orang asing! Tidak mungkin!


Ciel terus meyakinkan diri sendiri. Setelah Cherry dan dia mandi secara bergantian, mereka berdua keluar dari kamar lalu pergi untuk memesan makanan di lantai pertama. Tentu saja, mereka juga berganti pakaian.


Karena tubuhnya begitu lelah dan lemah, Cherry berjalan di samping Ciel sambil terus memegangnya. Benar-benar rekat seperti lem.


Ketika sampai di lantai pertama, banyak orang melihat keduanya.


“Lihat ke arah Nona Cherry, dia tampak lemah tetapi wajahnya lebih cantik daripada sebelumnya. Bagaimana itu bisa?”


“Aku dengar, seorang wanita akan menjadi lebih cantik setelah melakukan itu.”

__ADS_1


“Sungguh? Mungkinkah mereka benar-benar melakukannya?”


“Laki-laki dan perempuan dalam ruangan yang sama semalaman. Pada pagi hari, si wanita kelelahan dan lemas, kalau tidak melakukannya … lalu apa?”


“Argh! Ternyata Nona Cherry diambil dengan cara seperti ini.”


“...”


Telinga Cherry tampak merah karena malu. Dia sesekali melirik Ciel, siap kalau lelaki itu menyangkal ucapan orang-orang itu. Namun yang membuat wanita itu kaget, Ciel benar-benar mengabaikan opini publik tentang mereka.


Ciel dan Cherry memesan ruang khusus untuk makan. Ketika keduanya sedang sarapan, pintu ruangan terbuka dan kemudian di tutup. Sosok wanita cantik memasuki ruangan lalu berjalan menuju keduanya. Wanita itu kemudian duduk berhadapan dengan Ciel dan Cherry.


Melihat ke arah Cherry yang menempel dengan Ciel, dia mengerutkan kening.


“Kamu harus bertanggung jawab, Nak!”


Seolah mengingat suaranya entah di mana, Ciel memiringkan kepalanya.


“Kamu?”


“Aku kakak Cherry! Lebih sopan terhadap yang lebih dewasa!”


“Dia kakakku. Bukankah semalam kamu bertemu dengannya?”


Ciel tiba-tiba mengingat sosok yang memimpin orang-orang di malam sebelumnya. Suaranya mirip tetapi sengaja dibuat-buat seperti laki-laki. Pemuda itu kemudian menatap sepasang melon besar milik kakak Cherry lalu memiringkan kepalanya.


“Aku rasa berbeda.”


Sadar di mana sebelumnya Ciel menatap, wajah kakak Cherry merah. Dia memelototi lelaki tampan di depannya dan berkata dengan ekspresi marah.


“Itu karena aku menggunakan perban lalu menutupnya dengan pelindung dada!”


“Oh …”


Mendengar jawaban Ciel yang datar, wanita itu menggertakkan gigi. Tiba-tiba dia berkata dengan tidak sabar.


“Karena kamu melakukan itu dengan adikku, kamu harus bertanggung jawab! Juga, kamu pasti tahu kami adalah bagian dari Crimson Night. Jadi …


Kamu juga wajib bergabung dengan Crimson Night!”


Ciel menatap ke arah kakak Cherry seperti sedang menatap wanita bodoh. Fokus dengan sarapannya, pemuda itu berkata dengan nada datar dan membosankan.


“Aku menolak.”


Melihat kakak Cherry yang tertegun, Ciel menambahkan.


“Aku menolak untuk bergabung, tetapi aku ingin menemui ketua kalian. Ada hal baik yang ingin aku bicarakan.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2