
“Apa kamu baik-baik saja, Elena?”
Melihat Elena yang membuka matanya, Cie yang duduk di sebelahnya segera memperhatikan wanita itu.
Setelah menangkap Purple Rings Emerald Viper, Ciel menyimpannya ke sebuah toples khusus yang digunakan untuk menyimpan bahan obat atau tanaman berharga. Tentu saja, ada lubang udara pada tutup toples kaca yang membuat makhluk itu tetap bisa bernapas.
Ciel memasukkannya ke salah satu tas di pinggangnya karena dirinya membawa dua tas. Salah satu tas yang tampak lebih kecil bukanlah tas biasa, melainkan tas dimensi yang bisa menampung 10 meter kubik. Namun makhluk hidup tidak bisa masuk ke dalamnya.
Jika ditanya apakah dunia ini juga memiliki cincin dimensi, Ciel akan menjawab ada. Hanya saja, konsep tas atau cincin dimensi sama sekali tidak umum. Karena sihir ruang itu sendiri sangat langka dan rumit, tidak semua pengrajin bisa membuatnya.
Bahkan di Kekaisaran Black Sun yang bisa dianggap salah satu kekaisaran terkuat di daratan, item semacam tas dimensi sangat jarang. Biasanya hanya bangsawan kelas atas (Marquis atau lebih) serta keturunannya yang memilikinya. Sementara cincin dimensi, benda itu lebih langka, hanya kepala keluarga atau pewaris yang memilikinya.
Dalam Royal Family, biasanya anak-anak yang menginjak usia 15 tahun diberi sebuah tas dimensi. Selain itu, ketika putra memasuki usia 20 tahun, mereka diberi sebuah cincin dimensi. Sedangkan seorang putri, mereka hanya mendapatkan tas dimensi. Meski lebih kecil, cincin dimensi minimal bisa menampung 100 meter kubik.
Biasanya Ciel tidak akan membawa tas dimensi karena di dalamnya terdapat koleksi berharganya. Benda-benda itu tentu saja barang dia rampok … uhuk! Maksudnya dia pinjam dari gudang senjata atau laboratorium Kekaisaran Black Sun.
Alasan Ciel membawanya tentu bukan karena dia takut tanpa sengaja terjebak masalah atau tertimpa kemalangan. Alasan pemuda itu membawa tas dimensi sebenarnya sederhana. Banyak benda dan tumbuhan berharga di Blackwood Forest dan Black Cloud Mountains.
Elena yang tersadar menatap Ciel dengan saksama. Wanita itu tiba-tiba memalingkan wajahnya. Rona merah muncul di pipinya, membuatnya terlihat lebih cantik.
“Apakah kamu baik-baik saja, Elena? Apakah masih pusing?” Ciel yang melihat wajah Elena merasa agak ragu.
Apakah dia demam? Dalam buku tidak menjelaskan itu. Mungkinkah gigitan bocah kecil ini benar-benar juga mengakibatkan demam?
Ciel segera mendekati Elena lalu menyentuh kening wanita itu. Merasakan suhunya tidak terlalu panas, dia merasa lega.
Sementara itu, Elena yang terkejut tiba-tiba mundur sambil berseru, “A … A-Apa!”
“Bukan apa-apa. Aku takut kamu demam jadi memeriksanya.” Ciel menjawab sambil mengangkat bahu dengan ekspresi tak berdaya.
__ADS_1
“...”
Melihat kalau Elena diam saja, Ciel menghela napas panjang. Dia kemudian bertanya, “Bagaimana kalau kembali?”
“Tidak!” seru Elena. Dia mengamati Ciel dengan ekspresi ragu sambil bergumam, “Bukankah anda berencana mencari tunggangan?”
“Memang,” ucap Ciel. Pemuda itu menatap tepat ke mata Elena. “Namun itu bisa ditunda. Kesehatanmu lebih penting, okay?”
“Saya tidak apa-apa, Tuan. Mari kita lanjutkan. Lagipula, anda tidak bisa kembali dengan tangan kosong.”
Aku tidak kembali dengan tangan kosong, ok? Sebenarnya aku punya ular kecil yang spesial di sini. Bocah kecil ini bisa …
Melihat ekspresi serius di wajah Elena, senyum lembut muncul di wajah Ciel. Dia menggeleng ringan tetapi tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
“Baiklah.” Ciel mengangguk ringan.
“Hmmm …” Ciel mengelus dagunya.
Sebenarnya Ciel belum menentukan makhluk apa yang ingin dia jinakkan dan jadikan tunggangan. Menurut pendapatnya sendiri, ada tiga kriteria yang wajib tunggangannya miliki. Mudah serta nyaman dinaiki, kuat, dan … terlihat keren. Jika makhluk itu bisa terbang, itu bisa dianggap bonus.
Ada kebiasaan yang dilakukan para bangsawan muda. Itu adalah menangkap dan menjinakkan tunggangan pertama mereka sendiri. Bisa dibilang itu seperti kompetisi kecil antara bangsawan muda. Semakin tinggi level tunggangan itu, semakin mereka dipuji.
Meski begitu, tunggangan yang biasanya mereka gunakan adalah tunggangan kedua yang disiapkan oleh keluarga bangsawan. Lagipula, hampir tidak mungkin seorang bangsawan muda normal menangkap tunggangan yang kuat.
Contohnya putra pertama setiap ratu. Pangeran pertama memiliki Unicorn yang kuat dan bisa menggunakan sihir petir hitam. Pangeran ke-3, putra Ratu kedua, orang itu memiliki tunggangan ular bersayap yang tampak keren dan mendominasi. Ukurannya juga besar dan sama seperti Unicorn, mampu mengendalikan sihir petir.
Sedangkan kakak kandung Ciel, atau Pangeran ke-4, dia memiliki tunggangan yang disebut Skoll. Serigala bertanduk yang ganas dan buas dengan kekuatan serta kecepatan luar biasa. Dia bisa mengendalikan angin dan bayangan. Dalam sebuah buku cerita, dikatakan bahwa makhluk itu masih keturunan Demonic Beast legendaris, Fenrir.
Bagi Ciel, memiliki tunggangan yang kuat dan tampak keren seperti memiliki sebuah mobil sport. Seluruh tunggangan mereka adalah makhluk level 4, bisa dibilang sangat kuat. Membayangkan ketiga orang itu, dia hanya bisa menghela napas panjang.
__ADS_1
Sebenarnya Ciel juga memiliki rencana untuk mendapat tunggangan yang disebut Griffin. Makhluk itu memiliki kepala elang, tubuh seperti singa dengan kaki depan seperti cakar elang serta memiliki sayap. Itu adalah makhluk yang cantik dan juga kuat.
Griffin sendiri sebenarnya adalah tunggangan para ksatria elit di bawah Kaisar. Bisa dibilang untuk menjadi ksatria elit, mereka harus menaklukkan Griffin. Ngomong-ngomong … Griffin adalah makhluk yang sombong dan tidak menerima sembarang orang sebagai tuannya. Hanya orang yang bisa mengalahkannya dalam pertandingan satu lawan satu yang mendapat pengakuannya. Mereka juga menjaga telur mereka dengan sangat ketat.
Alasan Ciel tidak melakukannya adalah jaraknya yang terlalu jauh serta satu lagi alasan pribadi. Itu karena Pangeran ke-2 juga memiliki tunggangan Griffin. Orang itu selalu membanggakan tunggangan serta perjuangan untuk mendapatkannya. Ciel tidak ingin membuat orang itu jengkel karena tunggangan sama dan sekali lagi menambah musuh.
Ciel tiba-tiba memikirkan tunggangan ayah atau kakeknya. Tunggangan ayahnya adalah makhluk tingkat 6 yang kuat bernama Vulcanic Dragon. Berpenampilan seperti naga barat dengan sisik hitam dengan garis-garis merah menyala seperti bebatuan dan lava.
Sedangkan tunggangan kakeknya, sama-sama tingkat 6 tetapi lebih langka. Makhluk itu disebut Shadowstorm Dragon. Berpenampilan seperti naga barat tetapi sedikit lebih ramping. Makhluk itu bisa mengendalikan angin, petir, dan membuat badai. Bisa dibilang makhluk itu seperti bencana berjalan.
Setiap naga bahkan lebih arogan daripada Griffin. Selain sulit dijinakkan, mereka sangat langka dan sulit ditemui. Mungkin hanya Kaisar atau Raja besar yang memiliki tunggangan sekuat itu.
Bukan hanya naga, keturunan naga juga masih memiliki arogansi besar. Sebenarnya Ciel sempat berpikir untuk menjinakkan Abyssal Basilisk, makhluk seperti kadal raksasa bertanduk dengan enam kaki dan racun yang kuat. Makhluk itu juga level 4, kuat, dan bahkan terlihat mendominasi. Namun makhluk itu terlalu ganas dan kurang akal, biasanya memilih bertarung sampai mati daripada tunduk.
Sial! Aku ingin tunggangan yang kuat dan keren! Memiliki mobil sport jelas impian para pria!
Setelah berseru dalam hati, Ciel tiba-tiba menghela napas panjang.
“Apakah anda baik-baik saja, Tuan?” tanya Elena yang khawatir.
“Tidak apa-apa.”
“Sebenarnya tunggangan apa yang membuat anda tertarik, Tuan?”
Mendengar pertanyaan Elena, Ciel memandang wanita dengan ekspresi kosong. Tiba-tiba dia membayangkan naga atau makhluk besar dan ganas lainnya. Dia kemudian membuka mulutnya.
“Sesuatu yang lebih besar … lebih baik.”
>> Bersambung.
__ADS_1