Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Menurutmu Aku Seperti Itu?


__ADS_3

“Apakah menurutmu kami kekurangan uang, Ciel?”


Mendengar pertanyaan ayahnya, Ciel langsung menggeleng ringan. Tentu dirinya tahu baik ayah atau ibunya tidak kekurangan uang. Mereka tidak kekurangan uang, tapi …


Ciel melirik ke arah ibunya secara diam-diam.


Sekali aku mendapat uang berlebih, Ibu pasti akan menyitanya atas nama pendidikan dan pengurangan pemborosan! Sekarang aku sudah dewasa … aku menolak untuk diperas!


Pemuda itu tampak penuh tekad, berseru di dalam hatinya. Ya … dia tidak berani berbicara langsung atau semua uang di kantong bahkan wilayah yang dia bangun dengan keringat dan air mata akan disita.


Meski semua sudah resmi dalam namanya, sebagai seorang anak, Ciel tidak berani melawan ibunya. Mungkin sesekali dia akan membantah, tetapi tidak sepenuhnya melawan perintah ibunya.


Melihat ekspresi putranya, Kaisar Julius akhirnya menghela napas panjang.


“Kamu boleh kembali ke kamar. Ada baiknya kamu tinggal beberapa hari sebelum pergi ke wilayahmu.”


“Saya mengerti, Ayah.”


...***...


Sore harinya.


Duduk di kamarnya, Ciel mendengar suara ketukan pintu. Dia segera membuka pintu. Melihat sosok kakaknya, pemuda itu menyuruhnya untuk segera masuk.


“Aku telah mendengar semuanya.”


Mendengar perkataan Julia, Ciel mengangguk ringan.


“Duduk dulu, Kak Julia.”


“Baik.”


Setelah melihat kakanya duduk, Ciel kemudian menyiapkan teh seperti biasa. Sesekali membuat hal semacam itu sama sekali tidak memberatkannya.


“Apakah kamu menebaknya sendiri atau mendengarnya dari ayah dan ibu, Kak Julia?”


“Setelah mendengar Pangeran Fenton dari Kerajaan Blood Diamond menghilang. Bahkan sebelum kamu pulang, aku juga sudah menduga kalau itu semua perbuatanmu.”


Mendengar ucapan itu, Ciel mengangguk ringan. Setelah menyeduh teh dalam teko lalu menuangkannya ke cangkir, dia menyerahkannya ke Julia sembari bertanya, “Jadi ... kesepakatan kita?”


“Tiga belas budak yang telah dilatih. Bisa membaca, menulis, menghitung, dan memiliki kebijaksanaan cukup tinggi. Seharusnya mereka cukup untuk membantumu, kan? Jika kurang … aku akan mencarinya lagi. Namun, itu akan memerlukan banyak waktu.”


“...”


Ciel menatap ke arah Julia dengan heran. Meski membeli 13 budak mungkin tidak seberapa bagi pemuda itu. Namun untuk Julia, itu masih cukup sulit. Belum lagi, apa yang dibeli oleh Julia bukan budak pada umumnya. Kebanyakan dari mereka pasti bangsawan jatuh dari kerajaan tetangga yang pada akhirnya diperbudak.


Memang, sebagai seorang Putri, Julia memiliki cukup banyak uang. Namun, jika dibandingkan dengan uang saku para Pangeran … apa yang didapat oleh para Putri bisa dibilang tidak seberapa.


Membeli 13 budak baik semacam itu … jelas menghabiskan banyak tabungan Julia.

__ADS_1


“Tidak perlu.” Ciel menggeleng ringan. “Tiga belas budak sudah cukup. Apa yang aku butuhkan adalah kualitas, kamu paasti tahu itu. Membeli 13 budak … bisa dibilang cukup banyak untukmu, Kak Julia.”


Melihat ke arah Ciel, Julia menghela napas lega. Karena memiliki hutang budi, dia merasa agak tertekan jika tidak bisa membalasnya. Meski demikian, Julia tahu kalau dana dan waktu yang dia miliki terbatas.


“Syukurlah kalau begitu,” ucap Julia.


“Lalu … apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Kak Julia?”


“Mungkin membantu ayah untuk mengurus dokumen. Tentu saja, hanya dokumen yang tidak terlalu penting. Lagipula … sebagai seorang putri, membantu di lokasi seperti itu akan membuat orang berpikir kalau aku mengincar sesuatu.


Itu tidak baik untuk citra Istana Utara, Ibu, dan Kak Alexander yang bersaing untuk tahta.”


“...”


Melihat Julia yang agak linglung dan terlihat bingung, Ciel hanya bisa menghela napas panjang. Dia kemudian menggeleng ringan, tidak ingin mengatakan apa-apa.


Julia bingung untuk menentukan masa depannya. Sebagai seorang putri, dia biasanya hanya mengikuti pengaturan yang diberikan oleh ayahnya. Jika tidak cocok, wanita itu hanya bisa mencoba menolak. Namun keputusan masih di tangan sang ayah.


Setelah menolak sesuatu, biasanya akan ada pengaturan lain untuk seorang putri. Apa yang membuat Julia bingung, sekarang dia cukup bebas untuk melakukan sesuatu. Melihat ke arah adiknya yang bisa dibilang menyusahkan kedua orang tuanya, Julia tampak rumit.


Meski dianggap sampah, meski diasingkan, adiknya yang pemalas itu terlihat begitu bebas dan bahagia. Hal yang membuat Julia terkadang iri kepadanya. Bukan karena berbakat atau semacamnya, tetapi karena kebebasannya.


Jika Ciel tahu apa yang dipikirkan kakaknya, dia pasti sudah mengeluh.


Bebas? Apa gunanya bebas jika tidak aman? Asal kamu tahu … banyak orang gila yang berkeliaran di South Duchy! Menghadapi mereka membuatku lelah!


“Apakah kamu memerlukan bukti, Kak Julia?”


Mendengar pertanyaan Ciel, Julia tampak heran.


“Maksudmu???”


“Aku membawa pulang mayat Pangeran Fenton sebagai oleh-oleh untukmu.”


“...”


Julia terdiam. Melihat ekspresi datar di wajah Ciel ketika mengatakan itu, dia hanya bisa menggeleng ringan.


“Tidak perlu. Aku belum pernah melihatnya dan tidak peduli dengannya. Selain itu … yang terpenting semua masalah dengan North Duchy telah selesai.”


“Baik.”


Ciel mengangguk ringan.


“Kalau begitu aku akan kembali. Besok aku akan membawamu untuk menemui budak-budak barumu.”


Melihat Julia yang meletakkan cangkir kosong lalu berdiri, Ciel mengangguk. Saat kakaknya itu meninggalkan ruangan, pemuda itu menghela napas lega.


Setelah menyelesaikan masalah budak dan mengirim mereka kembali terlebih dahulu, aku harus menemui ayah untuk menanyakan tentang batu aneh itu.

__ADS_1


Sesudah memutuskan rencana berikutnya, Ciel memilih untuk beristirahat. Meski fisiknya sama sekali tidak kelelahan, mentalnya agak lelah setelah diinterogasi oleh ayah dan ibunya. Selain itu … dia memang merindukan ranjang hangatnya.


Keesokan harinya.


Selesai memakan sarapan, Ciel yang hendak pergi dengan Julia dihentikan oleh adiknya, Lilia.


“Kalian mau pergi ke mana, Kak Ciel? Kak Julia?”


“Mengubah kepemilikan budak, transfer kepada Ciel.” Julia berkata dengan tenang.


“Mencurigakan …” ucap Lilia.


“Apa maksudmu, Lilia?” Julia mengangkat alisnya, terlihat agak kesal dengan gadis naif dan agak manja itu.


“Sepertinya kamu dan Kak Ciel menjadi semakin akrab?” ucap Lilia dingin.


“Itu wajar. Kita semua saudara-saudari. Lebih baik rukun daripada saling membenci satu sama lain.”


“Hehehe … rukun? Karena rukun, menyelinap ke kamar Kak Ciel tadi malam? Bukan hanya tadi malam, sebelum Kak Ciel pergi sebelumnya … kamu juga menyelinap masuk! Jangan mencoba mengelak, Kak Julia!”


Mendengar ucapan Lilia, ekspresi Julia menjadi dingin.


“Itu masalah pribadi kami. Untuk apa kami membicarakannya denganmu? Itu tidak ada hubungannya denganmu, Adik kecil!”


Melihat bagaimana Julia masih memperlakukannya seperti anak kecil, Lilia menggembungkan pipinya sambil memelototi saudara dan saudarinya itu.


“Aku akan melaporkannya kepada-”


“Melaporkan apa, Lilia?”


Suara wanita anggun terdengar di telinga ketiga orang itu. Menoleh ke arah sumber suara, mereka melihat Ratu Lilith.


“Ketika Kak Ciel berada di Istana Utara, Kak Julia selalu menyelinap ke kamarnya setiap malam, Ibu!”


“Lilia … kamu!”


Julia tampak marah. Dia tidak terlalu menyukai adiknya yang lebih dimanja. Belum lagi melihat bagaimana pengikut kecil Ciel yang memfitnahnya begitu saja karena cemburu, Julia bingung harus berkata apa.


“LUCIEL DAWNBRINGER …”


Melihat bagaimana ibunya menatapnya sambil mengucapkan namanya dengan jelas, sudut bibir Ciel berkedut. Jelas, Ratu Lilith mengabaikan kedua saudarinya dan malah fokus kepadanya. Tatapan itu … seperti tatapan seseorang yang melihat pendosa.


Merasakan tatapan ibunya, Ciel tersenyum pahit. Dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.


Bukankah kamu ibuku? Bukankah seharusnya paling mengenalku?


Apakah menurutmu … aku benar-benar orang seperti itu?


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2