Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Situasi Aneh


__ADS_3

Sepuluh hari kemudian, di sebuah desa dekat dengan area luar Blacwood Forest.


Ciel dan rombongan akhirnya tiba. Setelah melakukan perjalanan yang lama, pemuda itu cukup bosan. Turun dari gerbong kereta diikuti oleh Shana dan Theodore, Ciel langsung menjadi pusat perhatian.


“Selamat datang di desa kami, Pangeran Luciel. Suatu kehormatan melihat anda datang secara pribadi ke tempat terpencil seperti ini.”


Kepala desa tua menyambut Ciel dengan wajah takjub dan kaget. Sepertinya heran karena Ciel mau repot-repot datang ke daerah terpencil.


Alasan dia datang tentu karena Viscount yang mengelola daerah ini. Meski sudah menyelidiki, orang itu bilang kalau hutan itu seperti biasa, tampak normal. Hanya saja, setelah dia kembali, serangan Demonic Beast kembali terjadi.


Tidak ada pertanda apa-apa. Meski diawasi, tidak ada perubahan pada hutan. Serangan binatang buas itu terjadi secara tiba-tiba. Datang dan berlalu dengan cepat, tetapi memakan banyak korban.


Apa yang ditakutkan adalah, serangan Demonic Beast skala besar tiba-tiba akan muncul dan menyerang beberapa desa dan kota kecil lain di sekitarnya. Hal yang memakan banyak korban sekaligus merugikan seperti itu benar-benar tidak diinginkan.


Oleh karena itu, Viscount meminta bantuan kepada Ciel. Meski agak takut dianggap tidak berguna, itu lebih baik daripada membuat kesalahan fatal. Jika sampai terjadi gelombang Demonic Beast yang merugikan dan memakan banyak korban, Viscount yakin Ciel tidak akan segan memenggal kepalanya di tempat.


“Bisakah kami beristirahat terlebih dahulu?” Ciel berkata dengan ekspresi bosan.


Dia sangat bosan duduk di dalam kereta kuda seperti orang konyol. Meski lebih lambat, mau tidak mau dia harus melakukannya karena membawa Shana, Theo, Zenara, dan 20 prajurit berkuda dari divisi utama. Tentu saja, itu bisa dianggap latihan bagi mereka.


Sebenarnya Ciel bisa saja datang sendiri lebih cepat. Dia mungkin bisa memecahkan masalah lebih cepat lalu segera pulang. Hanya saja, pemuda itu paham, jika dia melakukan semuanya sendiri … para ksatria hanya akan menjadi pajangan dan tidak akan berkembang.


Hal semacam itu akan merugikan dirinya sendiri pada saat terjadi perang skala besar.


“Tentu saja, Tuanku. Namun sebelumnya budak tua ini minta maaf jika tempatnya benar-benar apa adanya dan tidak sesuai dengan ekspektasi anda.”


“Lanjutkan.”


Kepala desa kemudian mengantarkan mereka ke rumah paling besar di desa yang berada di samping rumah kepala desa. Rumah itu dibuat dengan batu bata merah. Terlihat cukup indah meski sederhana.


Tempat itu bisa dianggap kantor resmi bagi para petugas yang mengambil pajak setiap musimnya. Selalu dibersihkan dan dirawat dengan baik, padahal hanya digunakan dua sampai tiga hari sebulan.

__ADS_1


“Maafkan budak tua ini jika tempatnya terlalu sederhana, Tuanku.”


“Tidak apa-apa.” Ciel terlihat santai.


Sebagai orang yang pernah hidup di zaman modern, Ciel tidak memiliki banyak penolakan dengan bangunan biasa atau makanan biasa seperti anak-anak bangsawan pada umumnya.


“Kalau begitu budak tua ini permisi. Jika anda memiliki permintaan, anda bisa menyuruh ksatria untuk memanggil budak tua ini, Tuanku.”


“En.” Ciel mengangguk singkat.


Setelah kepala desa pergi, Ciel menyuruh para ksatria beristirahat setelah mengurus kuda mereka. Sementara itu, dia sendiri memanggil Theo, Zenara, dan Shana.


Setelah ketiga menghadap di depannya, Ciel mengajak mereka untuk jalan-jalan ke sekitar desa


Meski merasa agak aneh, ketiganya menemani Ciel berjalan-jalan santai sambil menikmati udara segar dan pemandangan pedesaan. Melihat lahan pertanian yang subur, Ciel mengangguk dengan puas. Kelihatannya usaha yang dia lakukan di tahun sebelumnya menghasilkan sesuatu yang baik.


“Kita akan menuju hutan,” ucap Ciel santai sambil berjalan menuju hutan di selatan desa.


Sampai di hutan dan berjalan di jalan setapak yang biasanya digunakan para penebang kayu atau pemburu, Ciel mengerutkan kening. Hutan itu terlalu sepi. Memang, biasanya tidak banyak hewan atau Demonic Beast di bagian terluar hutan.


Akan tetapi … itu terlalu sepi.


“Kenapa orang-orang yang datang sebelumnya tidak menyadari ini? Apakah belum lama ini menjadi semakin sepi?” Ciel bergumam pelan. Dia merenung sambil mengamati sekitar. “Jika benar. Kenapa para binatang dan Demonic Beast menghilang dari area ini?”


“Apakah ini terlihat aneh, Tuan?” tanya Theo yang tidak memiliki banyak pengalaman.


“Hutan ini terlalu sepi. Sangat tidak normal.” Shana yang dulunya tinggal di suku Abyssal Barbarian lebih peka dan sadar dengan lingkungan.


Ciel memandang ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Sadar kalau petang akan segera tiba, dia segera memerintah untuk mundur.


“Untuk sekarang, kita kembali terlebih dahulu.”

__ADS_1


“Baik, Tuan!” jawab ketiganya serempak.


Kembali ke tempat tinggal sementara, Ciel segera mandi dan berganti pakaian santai. Ketika dia keluar, para warga desa yang sebelumnya telah memasak di rumah kepala desa membawa banyak makanan ke tempat dia tinggal. Membuat jamuan sebagai perayaan kedatangan mereka.


Ciel yang duduk di sebuah potongan batang kayu besar tidak merubah ekspresinya. Dia melihat orang-orang yang berpesta, ksatria yang minum bersama warga desa, dan gadis-gadis cantik desa yang menari di sekitar api unggun dengan ekspresi kosong. Melihat para ksatria yang terhanyut dalam suasana pesta, Ciel menggeleng ringan.


Mereka masih terlalu ceroboh. Benar-benar tidak mencurigai sesuatu. Sepertinya aku harus membuat mereka melalui latihan yang lebih keras.


Ciel mengangkat sudut bibirnya. Meski dia telah menyadari tidak ada yang aneh dengan para penduduk desa, sebuah kewaspadaan itu masih harus dimiliki seseorang. Jika teledor, siapa yang tahu kalau ternyata dirimu diracuni?


“Untung saja penduduk desa ini baik dan ramah,” gumam Ciel.


Setelah berpesta sampai larut malam dan semua kembali untuk tidur. Ciel yang sedang memejamkan mata dalam kamarnya tiba-tiba membuka matanya. Mengganti pakaian tidur dengan pakaian santai tetapi membawa sebuah katana di pinggang, dia keluar dari rumah.


Ciel berjalan menuju selatan desa, menuju hutan sendirian. Benar saja, sampai di pinggiran hutan dia melihat beberapa siluet lain.


Sebelumnya, ketika pesta, Ciel merasa kalau ada yang memainkan semacam alat musik yang terdengar seperti seruling dari hutan. Kelihatannya suara itu memanggil dirinya, atau paling tidak … orang yang tertarik dengan suara samar dan tidak terlalu mencolok itu.


Memandang beberapa siluet di depannya, Ciel terlihat agak heran.


“Wah wah wah … aku heran. Prajurit dari suku Centaur benar-benar memanggilku untuk datang?” ucap Ciel dengan senyum di wajahnya.


Benar. Di depannya ada enam Centaur, lima pria dan seorang wanita. Masing-masing dari mereka menggunakan baju tempur yang terbuat dari kulit Demonic Beast tertentu yang telah diproses.


Mendengar ucapan Ciel, salah satu Centaur yang sepertinya adalah pemimpin kelompok menghampiri Ciel.


“Kepala suku kami ingin bertemu dengan anda, Pangeran Luciel.”


Melihat mereka mengenalnya, Ciel tampak sedikit terkejut. Sudut bibirnya semakin terangkat.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2