
“Mama! MAMA! MAMA!!!”
Suara imut dan manis terdengar. Sayangnya, itu bukan suara dari seorang gadis kecil, tetapi makhluk yang merangkak dengan wujud yang aneh dan menjijikkan. Hal itu membuat para ksatria ragu untuk melawan.
Elena yang sudah mengarahkan anak panah ke kepala makhluk terhenti dan tampak bimbang. Belum lagi dia yang seorang perempuan, Asterious atau Clark yang berpenampilan buas pun tampak ragu.
Pada saat itu, ratusan panah api berjatuhan dari langit. Setiap anak panah diarahkan ke kepala makhluk aneh itu. Panah api langsung menembus kepala dan membunuh makhluk itu di tempat.
Sosok Wyvern hitam melayang beberapa meter di udara, sosok di atasnya tiba-tiba berseru kepada semua orang.
“Untuk apa kalian ragu? Makhluk-makhluk itu adalah hasil percobaan Marquis Bathory. Daripada membiarkan mereka hidup, bunuh! Hal itu malah membuat mereka terbebas dari siksaan kehidupan yang menyedihkan itu!”
Mendengar ucapan Ciel, orang-orang sempat tertegun. Mereka kemudian menggertakkan gigi, menyerang makhluk-makhluk aneh itu dan membunuhnya. Mereka berteriak, menangis, dan sangat emosional ketika membantai makhluk aneh dan menjijikkan itu.
Karena banyaknya makhluk aneh yang berjumlah ribuan, para prajurit cukup kesulitan untuk membersihkan semuanya. Mereka terus muncul dari lubang seperti semut yang tertarik pada gula.
Meski terlihat mengerikan, kebanyakan dari mereka adalah makhluk level 1 biasa. Tentu saja, ada juga beberapa makhluk yang merupakan iblis level 2. namun, di depan pasukan yang Ciel besarkan, makhluk-makhluk aneh itu menerima pembantaian sepihak.
Darah mengalir di mana-mana. Rumput, tanah, semak, bahkan pohon … tidak ada yang luput dari cipratan warna merah.
Meski Ciel terbang di atas sambil mengawasi, dia sesekali membantu prajurit yang kelelahan dan hendak diserang makhluk itu. Dia terus mengawasi dengan ekspresi muram di wajahnya.
Jelas, Ciel mengerti kebenarannya.
Makhluk tanpa nama yang disebut Ciel sebagai Chimera itu adalah produk gagal buatan Marquis Bathory. Selain karena dia tidak mengingat makhluk semacam itu dari dalam buku, Ciel yang mengaktifkan skill Eye of The Lord melihat banyak skill (rusak) atau (cacat) dalam satu tubuh. Skill itu tidak bisa digunakan.
Jelas, skill itu diperoleh dengan cara dipaksakan dan berakhir dengan kegagalan. Menghitung jumlah Chimera yang sangat banyak, Ciel menduga kalau makhluk itu telah berada di lingkungan ini selama beberapa tahun dan terus berkembang biak.
Ciel menebak, Marquis Bathory memiliki lab tersembunyi di sekitar. Jika tidak, berarti para Chimera itu memang sengaja dibuang ke lokasi ini. Mereka pikir Chimera yang bisa dibilang ‘cacat’ tidak bisa bertahan. Namun dugaan mereka salah, Chimera yang dianggap kegagalan justru terus berkembang biak.
__ADS_1
Chimera itu bukan iblis, bukan hewan, dan bukan Demonic Beast. Keberadaan makhluk seperti itu pasti sudah ditantang oleh Kekaisaran Black Sun. Bukan hanya kekaisaran, tetapi juga ditentang oleh dunia!
Dari apa yang diucapkan oleh para Chimera, Ciel juga menduga kalau Chimera yang selamat dulunya adalah seorang anak. Karena sebelum kehilangan kesadaran dan kewarasan, dia pasti sangat ketakutan dan terus meminta tolong dan mencari bantuan ‘Mama’ miliknya.
Melihat mayat Chimera yang menumpuk seperti bukit, Ciel menggertakkan gigi. Dia sudah menganggap dirinya kurang waras karena memiliki banyak pemikiran ekstrem. Namun apa yang dia pikir kurang waras, masih lebih normal daripada yang dilakukan oleh Keluarga Bathory.
“Orang-orang itu …” Ciel bergumam dengan ekspresi dingin.
Pertarungan terus berlangsung sampai jam tiga sore. Pada saat itu, tidak ada lagi Chimera yang keluar dari lubang. Ciel kemudian menyuruh para prajurit untuk memindahkan mayat Chimera ke lokasi yang lebih terbuka dan menumpuknya di sana. Meski terlihat cukup enggan, para prajurit tetap melaksanakan perintah Ciel.
Ciel sendiri memeriksa lubang dan mengeluarkan sihir api tingkat tinggi dan mendorongnya memasuki lubang yang memiliki banyak jalur. Api itu jelas membunuh seluruh makhluk yang tersisa di dalamnya dan merubahnya menjadi abu.
Bukan hanya satu kali. Meski yakin kalau semua lubang menuju sarang yang sama, untuk keamanan, Ciel menembakkan sihir api ke lubang di setiap area hutan. Benar-benar memastikan kalau makhluk itu telah binasa.
Selesai melakukan itu, Ciel segera menuju padang rumput yang tidak terlalu jauh dari hutan. Dia melihat beberapa bukit kecil yang terbuat dari mayat Chimera. Setelah menghela napas panjang, pemuda itu melakukan kremasi. Membakar seluruh mayat menjadi abu.
Jika hal itu tidak dilakukan, Ciel takut mayatnya malah menjadi sumber polusi dan menjadi wabah penyakit. Hal-hal yang membusuk dan tercampur ke dalam sungai tidak jauh dari sana mungkin akan mencemari sungai dan membuat ekosistem rusak.
Selesai melakukan itu semua dengan bersih, Ciel dan pasukannya berniat pindah dan memilih menjauh dari tempat itu. Mencari lokasi terbuka dan tenang, tetapi cukup jauh dari lokasi pertempuran sebelumnya. Kemudian, mereka semua akhirnya mendirikan tenda.
Usai mendirikan tenda, mereka juga membuat beberapa api unggun besar. Biasanya, setelah itu mereka akan makan bersama. Namun, kali ini Ciel dan pasukannya berada dalam mood yang buruk. Mereka semua duduk diam di depan tenda sambil beristirahat, ada juga yang membersihkan peralatan, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak ada yang memiliki minat untuk makan.
Ciel masuk ke tenda miliknya. Di dalam, tampak Elena yang sedang duduk memunggunginya.
“Mereka terlalu kejam. Tuan, aku tidak ingin menangkap mereka. Aku ingin mereka semua mati.”
Mendengar gumaman penuh kemarahan dari Elena, Ciel menghela napas panjang. Dia sendiri merasakan hal yang sama. Percobaan dengan paksaan dan mengambil banyak korban seperti itu benar-benar terlalu berlebihan.
Melepas sepatunya, Ciel mendekati Elena lalu duduk di belakangnya. Pemuda itu memeluk lembut tubuh kekasihnya dari belakang. Elena yang merasakan kehangatan pelukan Ciel bersandar ke belakang.
__ADS_1
Tidak ada tawa meriah dan pesta makan malam. Semenjak mentari terbenam, kecuali adanya cahaya api, semua tampak sunyi. Orang-orang memilih beristirahat … menenangkan tubuh dan pikiran mereka.
Keesokan paginya.
Karena sudah sampai di lokasi, Ciel memutuskan untuk membuat camp sementara di sini. Dia juga langsung menyuruh semua orang untuk mengeluarkan bahan makanan. Kemudian pemuda itu menyuruh para prajurit untuk memasak dan makan sarapan.
Kebanyakan dari mereka terlihat enggan, tapi Ciel memaksa mereka makan. Pada akhirnya, mereka makan dengan lambat dan terlihat tidak memiliki nafsu makan.
Ciel sendiri yang makan dengan lahap, bahkan makan lebih banyak dari biasanya. Para prajurit melihatnya dengan ekspresi cukup kecewa. Mereka berpikir Ciel tidak memiliki hati karena sudah melupakan apa yang terjadi sebelumnya.
Mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya, Ciel terus makan sampai benar-benar terisi penuh. Setelah makan dan minum dengan puas, dia berdiri. Enam sayap muncul di punggungnya.
Ciel melayang ke atas perlahan dan berhenti di ketinggian beberapa meter, membuat semua orang bisa melihatnya. Dia tiba-tiba berseru sambil menghina seluruh anak buahnya.
“Kalian menyedihkan!”
“...”
“Apakah kalian pikir dengan bersedih kalian bisa merubah semuanya? Tidak! Itu adalah hal yang bodoh! Tidak ingin makan? Itu juga hal yang bodoh!
Apakah kalian tidak memiliki keluhan dan kebencian kepada Keluarga Bathory setelah kejadian yang kita alami? Kalian pasti bersedih, tetapi kalian bodoh!
Jika kalian kelaparan dan tidak memiliki tenaga, bagaimana kalian bisa menghentikan pelarian Keluarga Bathory? Bagaimana kalian bisa bertempur secara maksimal ketika melawan Keluarga Bathory? Bagaimana kalian bisa membalas kebencian terhadap Keluarga Bathory?
Dengarkan ucapanku, PARA PECUNDANG! MAKAN! MAKAN DAN ISI ENERGI KALIAN! SIAPKAN ENERGI KALIAN UNTUK BERPERANG!
PASTIKAN … TIDAK AKAN ADA SATU PUN ANGGOTA KELUARGA BATHORY YANG LOLOS!!!”
Mendengar ucapan Ciel, para prajurit memegang mangkok di tangan mereka dengan erat. Dengan tegas, mereka mulai makan. Mereka benar-benar terus makan sambil menguatkan tekad …
__ADS_1
Menguatkan tekad untuk menang dalam peperangan!
>> Bersambung.