
Meski usia Theodore sudah 12 tahun, kerena terlambat berkembang, anak itu memiliki ketergantungan terhadap ibunya. Lagipula, keduanya telah dikurung dalam ruang bawah tanah lalu dipindahkan ke rumah budak.
Bisa dibilang, Theo tidak memiliki banyak pengetahuan dan tidak pernah melihat dunia luar. Untuk alasan itu, Theo masih tidur di kamar yang sama dengan ibunya. Tentu saja, di ranjang yang berbeda.
Melihat Theo yang kesakitan, Ciel langsung menoleh ke arah Jenny.
“Kamu pasti tahu, Theo akan segera bangkit. Apa yang dilakukan oleh para Lycan, Jenny?”
Jenny juga paham kalau Theo seharusnya akan melakukan kebangkitan, jadi dia terlihat sangat cemas.
“Dalam suku, biasanya para ayah akan membantu anak-anak mereka. Sedangkan para wanita, tidak boleh ikut campur.”
“Kenapa???” tanya Ciel heran.
“Karena itu berbahaya. Ketika sang anak melakukan kebangkitan, dia akan memasuki mode gila dan kehilangan kewarasannya. Sang ayah harus bertarung dan terus menahannya. Tidak mengalahkannya, tetapi membuatnya mengeluarkan seluruh tenaga dan potensinya. Dengan begitu … kebangkitannya akan sempurna.”
Kebangkitan sempurna dan tidak sempurna …
Ciel memikirkan itu. Jika kebangkitan tidak sempurna, Lycan itu akan dianggap kurang berbakat atau bahkan cacat. Alasannya adalah, kebangkitan berarti perubahan ke wujud serigala untuk pertama kali. Jika itu sempurna, orang itu bisa berubah sesuka hati. Jika tidak, orang itu akan sulit mengendalikan kekuatannya sendiri.
Melihat sosok Jenny yang sekarang adalah iblis level 3 (awal), jika bertarung dengan Theo yang berubah menjadi Lycan dan masuk dalam mode gila, itu jelas sangat berbahaya. Bukan hanya terluka, Jenny bisa saja terbunuh dalam pertarungan itu.
“T-Tuan, sudah tidak ada waktu lagi. T-Tolong izinkan saya membawa Theo pergi ke ruang latihan.” Jenny berkata dengan cemas.
“Tidak.” Ciel menggeleng ringan.
“T-Tuan … ini sangat mempengaruhi masa depan Theo. Saya mohon-”
“Tidak. Kamu tidak pelu melakukannya. Biarkan aku yang melakukannya.”
Ciel langsung memotong ucapan Jenny. Setelah itu, Ciel langsung menggendong Theo dan membawanya pergi dari kamar.
Jenny terkejut melihat itu, hanya saja dia langsung mengikuti Ciel tanpa banyak bicara.
“Tuan … anda ingin membawa Theo ke mana?” Jenny yang melihat Ciel membawa Theo tampak agak panik.
__ADS_1
Ciel mendongak sambil melihat langit malam tanpa awan. Bulan dan bintang terlihat begitu jelas dan memanjakan mata.
“Pergi ke lapangan latihan.” Ciel berkata dengan ekspresi tenang.
“S-Saya takut Theo akan melarikan diri atau kehilangan kendali lalu-”
“Dia tidak akan bisa melarikan diri bahkan jika mencoba.” Ciel masih menjawab dengan tenang.
“...”
Kali ini Jenny diam karena tidak bisa menyangkal. Memang, dibandingkan dengan Ciel yang dianggap dengan monster, Theo tidak ada apa-apanya. Memikirkan itu membuat Jenny tampak sedikit lega.
Sampai di lapangan latihan belakang kastil utama, Ciel meletakkan Theo dengan lembut di tanah sebelum berjalan menjauh. Empat atau lima meter untuk menjaga jarak.
Dua jam berlalu, petang telah berganti malam indah penuh sinar bulan dan bulan. Theo yang awalnya seperti sedang demam tiba-tiba mulai mengejang. Ekspresi kesakitan terlihat semakin jelas di wajahnya.
ROOOAARR!!!
Theo tiba-tiba meraung. Otot di tubuhnya bengkak dan terus bergerak dengan aneh seolah telah digali oleh ribuan cacing tanah. Pemandangan cukup ekstrem untuk dilihat. Namun Ciel juga tahu kalau Theo perlu melewati ini agar bisa menjadi lebih kuat.
Beberapa waktu berlalu, Theo tiba-tiba berdiri. Sekarang, tubuhnya telah berubah total. Seperti serigala yang berjalan dengan dua kaki, Lycan di depan Ciel memiliki surai biru gelap yang tampak halus dengan garis-garis perak. Ketika matanya terbuka, iris kuning dengan pupil mirip binatang buas memandang Ciel.
Sosok Theo menjadi lebih besar dan ganas, Ciel langsung melihat gigi Theo yang digantikan taring tajam. Tidak hanya itu, kuku tangannya tampak begitu tajam seolah-olah itu adalah pisau bedah.
ROOOAARR!!!
Theo sekali lagi meraung. Menatap Ciel dengan niat membunuh yang kental. Benar-benar seperti pemansa yang siap menerkam lawannya.
Melihat Theo menggunakan skill Berserk, Ciel tampak lebih bersemangat. Namun saat itu juga, sebuah cahaya tipis berwarna perak menyelimuti seluruh tubuh Theo dari ujung kaki sampai kepala.
Warnanya mirip dengan cahaya bulan yang samar. Seolah diberkahi oleh bulan itu sendiri, Ciel sadar kalau Theo telah mengaktifkan skill Lunar Knight.
“Bagus.” Ciel mengangkat sudut bibirnya.
Mengabaikan ucapan Ciel, Lycan itu langung melesat ke arah Theo. Theo benar-benar berniat untuk mencabik-cabik Ciel, menggigit, mengunyah, dan menelan lawannya. Benar-benar tidak ada belas kasihan dalam matanya.
__ADS_1
Melihat Theo yang muncul tiba-tiba di depannya, Ciel sama sekali tidak terkejut. Dia dengan santai melapisi tangannya dengan energi sihir dan menangkis setiap serangan. Melihat serangannya tidak berhasil, Theo mundur lalu meraung marah.
“Kecepatan … kekuatan … sudah mencapai level 3.” Ciel bergumam dengan ekspresi santai.
Pada saat itu, surai di sekujur tubuh Theo terangkat seolah terkena embusan angin. Warna biru melapisi kuku di kedua tangan Theo. Kemudian, bersamaan dengan suara berderak, kilat biru yang indah menari-nari di kedua tangan dan terfokus pada cakarnya yang tajam.
“Hahaha!” Ciel tiba-tiba tidak bisa menahan tawa.
Lunar Knight yang diwarisi dari keturunan tertinggi para Lycan. Stormbringer merupakan sihir petir yang diwarisi dari Marquis Lawyer. Meski tidak sekuat ‘petir hitam’ dari Keluarga Dawnbringer, sihir petir termasuk kategori cukup langka dan memiliki serangan dan kecepatan luar biasa.
“Datang!”
Menanggapi provokasi Ciel, Theo langsung menyerang Ciel. Menghadapi serangan bertubi-tubi dari Theo, Ciel terus menangkisnya. Meski cepat dan ganas, Ciel yang menggunakan menunjukkan kekuatan level 5 (akhir) tidak memiliki masalah untuk melawan. Semua itu tidak lebih dari permainan anak-anak di depan Ciel.
Lambat laun, Theo yang mengamuk kelelahan dan kehilangan kekuatannya. Pada saat itu juga, Ciel membuka kedua tangannya lalu memeluk Theo dengan hangat sambil menepuk punggungnya. Seolah sedang menghibur adiknya sendiri.
“Kerja bagus,” ucap Ciel dengan nada lembut.
Tubuh Theo yang mengalami transformasi Lycan kembali menyusut, kembali ke penampilan sebelumnya. Senyum bahagia terlihat di wajah tidur anak itu, membuat Ciel menggeleng ringan. Suara Jenny tiba-tiba terdengar di telinga Ciel.
“Tuan, ritual terakhir adalah membuat Theo meminum darah orang yang menahannya.”
“Darah orang yang menahannya?” Ciel memiringkan kepalanya.
Ciel langsung mengeluarkan belati lalu melukai telapak tangannya. Ketika darah mengalir, Ciel langsung mengarahkannya ke mulut Theo. Jenny yang berada di kejauhan langsung menghampiri terburu-buru.
Jenny lupa, ritual itu dilakukan agar kebangkitan semakin sempurna. Karena bakat bawaan juga bisa diturunkan melalui keturunan, biasanya hal itu bisa membuat kokoh pondasi. Hanya saja … hal itu biasanya dilakukan seorang ayah.
Ketika Theo menelan darah Ciel, situasi yang aneh dan ajaib terjadi. Tubuh Theo sedikit gemetar, kilatan petir biru keluar dari tubuhnya. Kemudian … petir biru berubah menjadi petir hitam yang tampak lebih kejam dan mendominasi.
Dengan ekspresi terkejut, Ciel mengaktifkan skill ‘Eye of The Lord’.
Sesuatu yang aneh terjadi pada salah satu skill Theo. Apa yang sebelumnya bernama ‘Stormbringer’ berubah menjadi skill lain …
‘Shadow Stormbringer.’
__ADS_1
>> Bersambung.