Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
S?


__ADS_3

Arena latihan dalam kastil.


Dibandingkan dengan arena latihan luar ruangan atau pergi jauh ke pangkalan militer, Ciel lebih suka menggunakan ruang latihan. Lagipula, setiap ruang latihan dalam ruangan itu luas. Kira-kira memiliki luas sebesar lapangan basket profesional.


Ciel berdiri santai di sisi kiri lapangan, sementara Arla berada di sisi kanan. Di pinggir tempat latihan, ada juga tempat duduk untuk penonton. Tentu saja tidak banyak, tetapi bisa digunakan untuk belasan orang. Masih terlihat longgar jika diisi beberapa orang.


Meski dalam ruang tertutup lebih terbatas karena tidak bisa menggunakan banyak jenis serangan yang memerlukan area luas atau sihir besar yang berbahaya, untuk sekadar latihan, itu masih cukup.


“Kamu bisa menyerang kapan saja.”


Mendengar ucapan Ciel, Arla mengerutkan kening. Alasannya karena apa yang Ciel katakan sebelum mereka bertanding.


Karena memiliki tubuh fisik level 6 (akhir), Ciel tidak berniat menggunakan sihir untuk melawan Arla. Tentu saja, dia masih membatasi kecepatan dan kekuatan yang setara dengan Arla, level 4 (awal).


Ciel mungkin bisa menyembunyikan energi sihir, mengurangi kekuatan dan kecepatannya. Namun, tubuhnya yang kuat tidak bisa diubah menjadi lemah. Lagipula, itu adalah perubahan kualitatif. Tidak terlihat berbeda dengan penampilannya, tetapi pertahanan dan regenerasinya melebihi level rendah.


Itu juga salah satu alasan kenapa saat melawan Aragil, Ciel tidak terluka. Dia memiliki tubuh level 6 (awal), sekaligus dibentuk dengan skill Devour miliknya. Jika itu iblis biasa dengan level 5 (akhir) yang hanya mengandalkan sihir, orang itu mungkin benar-benar dipotong menjadi dua oleh serangan terakhir Aragil.


Selain karena memiliki tubuh fisik kuat, alasan Ciel memilih untuk tidak menggunakan sihir karena dirinya ingin mengasah ilmu pedangnya. Pamuda itu memang sudah banyak berlatih dan memiliki pencapaian baik dalam kemampuan berpedang. Hanya saja, dia belum menggunakan skill itu untuk melawan musuh yang sebenarnya.


“Anda terlalu meremehkan saya, Pangeran Luciel.”


“Aku tidak meremehkanmu.” Ciel menggeleng ringan.


Melihat ekspresi tak acuh di wajah Ciel, Arla menjadi semakin jengkel. Tanpa menunda, wanita itu langsung menghunuskan pedang. Bukan tipe pedang biasa, apa yang Arla gunakan adalah jenis great sword.


Sebagai tanggapan, Ciel menarik satu dari dua katana yang menggantung di pinggangnya. Memegang dengan santai kedua katana dengan ekspresi santai, dia berkata, “Maju.”


Arla langsung berlari menuju Ciel sambil mengayunkan pedang dengan cepat dan ganas.


Melihat serangan itu, Ciel sama sekali tidak panik. Dia bahkan tidak bergerak dari tempatnya dan mengayunkan pedang dengan malas. Meski gerakannya terlihat acak, ketika great sword dan katana beradu, great sword yang berayun kuat dibelokkan lintasannya oleh katana acak.


Ciel tidak menggunakan banyak tenaga. Yang dia lakukan hanyalah melihat titik lemah lalu memukulnya secara acak. Melihat Arla yang kehilangan keseimbangan, Ciel langsung bergerak ke depan sambil mengayunkan katana di tangannya. Namun bukannya menebas, dia malah mengetuk dahi Arla dengan gagang pedang.


Arla yang kehilangan keseimbangan hampir jatuh karena serangan itu. Dia terhuyung mundur lalu memelototi Ciel dengan ekspresi tidak puas. Wanita itu sekali lagi menyerang. Namun kali ini bukan hanya satu gerakan, tetapi serangan bertubi-tubi.


Ciel sama sekali tidak berniat menangkis. Dia melangkah mundur dengan santai. Kadang memiringkan badan, kadang membuat lompatan kecil ke belakang. Pemuda itu benar-benar melihat lintasan serangan Arla dan menghindarinya dengan mudah.


Melihat Arla kembali ceroboh dan kehilangan ketenangan, Ciel maju satu langkah tepat di depan wanita itu. Dia kemudian memukul pergelangan tangan Arla dengan punggung katana yang tidak tajam. Pukulan itu sedikit keras, membuat Arla tanpa sadar membuka tangannya. Hasilnya, pedang di tangan wanita itu terjatuh dari tangannya.


Ciel memutar tubuhnya tepat di depan Arla lalu kembali mengirim serangan. Lebih tepatnya, sekali lagi mengetuk dahi wanita itu dengan gagang katana.

__ADS_1


“Kamu kalah,” ucap Ciel dengan ekspresi bosan.


“Anda …”


Arla memegangi dahinya sambil memelototi Ciel. Wajahnya merah karena malu. Dia benar-benar merasa dipermainkan oleh pemuda di depannya. Meski enggan, dia harus menerima kekalahan.


Mata Arla mulai berkaca-kaca, wajahnya merah karena malu. Tanpa mengucapkan kata-kata lain, dia langsung berbalik dan berlari meninggalkan ruangan.


Melihat itu, Ciel terdiam.


“Anda terlalu berlebihan, Pangeran Ciel.” Savian tersenyum pahit.


“Savian benar, Pangeran Ciel. Saya tidak menyangka, anda benar-benar tipe seperti itu. Anda bahkan melecehkan seorang ksatria wanita di depan publik.”


Mendengar ucapan Ferel, sudut bibir Ciel berkedut. Apalagi Ferel berbicara dengan nada tinggi, seolah sedang berteriak. Jika itu didengar oleh orang lain, pasti akan buruk.


“Aku tidak melecehkannya.” Ciel berkata dengan nada hambar.


“Anda melecehkannya. Bagi seorang wanita dari suku Abyssal Barbarian, perilaku anda benar-benar melecehkan! Ekspresi anda yang tak acuh mengatakan semuanya!” ucap Ferel.


Mendengar ucapan Ferel yang semakin tidak karuan, Ciel menyarungkan katana miliknya. Dia kemudian mendekati Ferel dengan senyum ramah di wajahnya.


“A-Apa yang coba kamu lakukan, Pangeran Ciel! Aku-”


“...”


Merasa agak puas setelah memukul si mulut longgar itu, Ciel tampak sedikit lega.


“Apakah yang aku lakukan salah, Savian?” tanya Ciel.


“Sama sekali tidak, Pangeran Ciel.” Melihat salah satu rekannya dipukuli sampai orang tua mungkin tidak mengenalinya ketika pulang, punggung Savian basah oleh keringat dingin. “Hanya saja, para wanita dari ras Abyssal Barbarian merasa diremehkan jika lawannya tidak bertarung sekuat tenaga.”


“Seperti itu?” Ciel memiringkan kepalanya.


“Benar.” Savian mengangguk.


“Meski aku serius?” tanya Ciel.


“Jujur saja, anda benar-benar tidak terlihat serius, Pangeran Ciel.”


“...”

__ADS_1


Ciel tidak membalasnya. Namun dia sebenarnya juga serius. Apa yang dia lakukan adalah fokus memprediksi gerakan, menghitung, dan menemukan cara paling ‘tidak membuang tenaga’ untuk melawan musuhnya.


Itu juga salah satu pelajaran dari teknik yang dia pelajari. Tentu saja, itu teknik yang sangat menarik karena memerlukan tenaga, kekuatan, dan segala hal dengan minimal. Namun, setiap gerakan itu juga menggunakan ‘energi’ sesedikit mungkin dengan cara maksimal.


Di tangan Ciel, teknik yang seharusnya cukup ganas karena hanya dipraktekkan oleh yang kekurangan bakat fisik maupun sihir menjadi teknik pelecehan.


Ciel mengamati, menghitung, dan melawan dengan serius. Hanya saja, dengan ‘mode hemat daya’ yang terlihat sangat menyebalkan. Dari sudut manapun, itu terkesan mengejek lawannya.


Apalagi jika lawannya dari ras Abyssal Barbarian. Para wanita yang percaya kalau ‘singa bahkan harus berburu seekor kelinci dengan segenap kekuatannya’ pasti sangat membenci Ciel. Karena apa yang dilakukan Ciel adalah kebalikan dari keyakinan mereka.


Menghela napas panjang, Ciel akhirnya memutuskan untuk mencari Arla dan minta maaf. Sebenarnya itu tidak perlu. Namun karena Ciel masih menghargai Savian, dia merasa harus melakukannya.


Keluar dari ruang latihan, Ciel menuju arah Arla berlari. Di jalan, dia mendengar para pelayan berbisik.


“Apakah kamu mendengarnya?”


“Ada apa?”


“Tadi budak Tuan Savian berlari sambil menangis.”


“Ah! Aku dengar Tuan Ferel berteriak tentang Pangeran Luciel.”


“Iya. Katanya, Pangeran Luciel melecehkan budak Tuan Savian di ruang latihan.”


“Bukankah Tuan Savian dan Tuan Ferel juga di sana?”


“Benar.”


“Itu berarti … Pangeran Luciel melecehkan budak itu tepat di depan tuannya?”


“Ssst … Jangan berbicara terlalu keras! Pangeran Luciel akan mendengarmu.”


“T-Tapi … Aku tidak menyangka kalau Pangeran Luciel yang pendiam seperti itu.”


“Rumornya, Pangeran Ciel adalah orang yang suka ‘mendidik’ para budak wanita. Namun aku tidak menyangka, Pangeran melakukannya di depan orang lain … itu terlalu berani.”


“Ah! J-Jadi … Pangeran Luciel adalah Tipe S?”


“...”


Mendengar banyak pelayan yang berbisik dengan cara yang hampir sama seperti itu, ekspresi Ciel tampak muram. Dia terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata, tetapi meraung dalam hati.

__ADS_1


Keparat itu … Ferel … pemukulan sederhana tadi pasti masih kurang. Aku akan menambahkan bonus lainnya nanti.


>> Bersambung.


__ADS_2