
“Saya sebenarnya tidak terlalu menyukai gadis itu, tetapi … bukankah anda agak berlebihan, Tuanku? Gadis itu hanya takut anda gagal dan tertekan.”
Ciel duduk di balkon. Menikmati segelas wine sembari menatap lautan bintang yang indah di langit. Di belakangnya, Isabella berdiri sambil mengupas apel. Memotongnya tipis-tipis lalu meletakkannya di atas piring kecil, lalu meletakkannya di meja kecil samping Ciel.
Mengambil potongan apel lalu memasukkannya ke mulut, Ciel terlihat bosan. Merasakan manis dan berair di setiap gigitan sebelum menelannya, pemuda itu mengangguk.
“Aku sama sekali tidak marah. Bagaimana aku menggambarkannya … ya, hanya sedikit kecewa.” Ciel berkata dengan nada bosan.
“Kecewa?”
“Ya … kecewa. Meski aku tahu dirinya khawatir, tetapi aku lebih suka jika dirinya mendukung setiap keputusanku. Meski agak sembrono atau terkesan sok tahu, aku tipe yang mengetahui jalan mana aku harus melangkah.”
“Bagaimana jika anda gagal?” tanya Isabella.
“Lalu aku hanya bisa berharap seseorang tetap berada di sisiku untuk menghiburku. Karena … paling tidak aku sudah mencoba.”
“Bukankah sikap seperti itu … cukup egois, Tuanku?”
“Bukan cukup egois, tetapi sangat egois. Namun … beginilah diriku. Aku tidak sempurna. Aku juga tidak memaksa kalian untuk mengikutiku.” Ciel berkata santai.
“Maksud anda?” tanya Isabella ragu.
“Bukan apa-apa.” Ciel menggeleng ringan. “Kamu bisa kembali.”
“Sesuai perintah anda, Tuanku.”
Sendirian di balkon, Ciel menatap lautan bintang sebelum menghela napas panjang. Karena dalam kehidupan sebelumnya Ciel berada di dunia modern dan tahu seberapa pentingnya sekolah, pemuda itu bersikeras untuk membuatnya. Hanya saja, dia memang terlalu terburu-buru dan egois. Ciel tidak memikirkan perasaan orang lain.
Aku … memang benar-benar egois.
Pikir Ciel sembari menutup matanya.
...***...
Beberapa hari kemudian, Ciel tampak sedang memakai pakaian rapi. Selain itu, dia juga memakai jubah hitam yang menyelimuti tubuhnya.
“Apakah saya benar-benar tidak perlu ikut, Sayang?”
Ariana yang membenamkan diri dalam pelukan Ciel mengangkat wajahnya, menatap tepat di mata pemuda itu.
“Tidak. Tinggal di kastil, tunggu aku kembali. Pastikan untuk menjaga diri. Selain itu, tolong pastikan semua berjalan dengan lancar tanpa kehadiranku.”
__ADS_1
“Saya mengerti.” Ariana mengangguk patuh.
Dalam beberapa hari ini, tidak hanya hubungan Ciel dan Elena yang tidak membaik. Bahkan, Ciel menjadi agak jauh dengan Camellia karena sempat bersinggungan sebelumnya.
Meski Ciel tidak terlalu memikirkannya karena harus mengurus banyak hal, Camellia berbeda, dia merasa kalau Ciel sudah tidak terlalu membutuhkannya. Selain itu, gadis itu merasa semakin tertekan dengan kehadiran Ariana.
Ciel memejamkan matanya sebentar. Dia kemudian memikirkan Asterious dan Kun yang ada di Kota Blackrock. Setelah itu, dia juga membayangkan Jean dan kawan-kawan yang ada di Kota Greenscale.
Terus membayangkan, satu per satu bawahannya terpikir. Para Dark Elf di ruang bawah tanah, para Alkemis di ruang obat, Theodore dan para ksatria dalam divisi bayangan.
Ciel mulai memikirkan Elena yang menjadi semakin dingin, selalu terbang bersama Lil-White untuk mengawasi area sekitar. Selain itu, dia juga memikirkan Camellia yang sibuk mengurus dokumen di ruang kerja.
Membuka matanya, Ciel tersenyum agak pahit.
Semua ini … ada di jalur yang benar, kan? Tapi … kenapa aku merasa ada yang kurang?
Ciel menggeleng ringan. Melepaskan Ariana dalam pelukannya, dia kemudian menyadari kalau yang mengantar dirinya pergi hanya tunangannya. Semua orang, sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Naik ke punggung Deschia, Ciel menoleh ke arah Ariana.
“Kalau begitu aku berangkat.”
Ciel mengangguk ringan. Menepuk punggung Deschia, satu iblis dan satu Wyvern terbang ke angkasa. Keduanya segera pergi dari Kota Black Lily. Namun … pada saat Ciel menoleh dan menatap ‘rumahnya’, pemuda itu merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.
Firasat apa ini? Aku harap tidak akan ada yang terjadi pada wilayah ini ketika aku pergi.
Tanpa terasa, hari-hari berlalu begitu saja.
Setelah terbang dari satu daerah ke daerah lain, Ciel akhirnya sampai di sebuah kota makmur bernama Kota Jade Water. Itu adalah pusat wilayah yang dipimpin oleh Count Jadeline.
Keluarga Jadeline, meski hanya keluarga Count, memiliki status berbeda karena Count Jadeline dipilih langsung oleh Duke Raevern sebagai satu dari lima Count di bawahnya. Meski tidak setinggi seorang Marquis, Count Jadeline sendiri memiliki status yang luar biasa dibanding tiga Count yang diangkat oleh seorang Marquis.
Sebagai pemimpin wilayah, melihat Kota Jade Water, Ciel hanya bisa menghela napas panjang. Dibandingkan Kota Black Lily, tempat ini lebih ramai dan kelihatannya memiliki alur perdagangan yang amat banyak. Berbeda dengan Kota Black Lily yang agak sepi.
Ciel sendiri mengerti sebabnya. Sebelumnya, Kota Black Lily terkenal di South Duchy, tetapi wilayah itu menurun drastis baik dari segi keamanan atau perekonomian sejak Keluarga Lawyer dihapus. Namun Ciel tidak merasa terlalu putus asa. Sejak kedatangannya, dia telah merevitalisasi wilayah itu.
Perlahan tapi pasti, aku akan membuat wilayahku lebih makmur.
Pikir Ciel. Jika ada bangsawan lain yang mendengar apa yang dipikirkan Ciel, mereka pasti sudah muntah darah. Bagi para bangsawan itu, Ciel telah meningkatkan wilayahnya terlalu cepat. Bahkan pemuda itu masuk ke pandangan bangsawan kelas atas seperti Duke atau Marquis yang dipilih oleh Kaisar sendiri.
Ciel dan Deschia turun dari atas awan ke gerbang Kota Jade Water. Kedatangan mereka langsung membuat para ksatria tidak siap dan cukup panik. Namun ketika melihat sosok yang duduk di punggung Wyvern, mereka terlihat agak lega.
__ADS_1
Hmmm … Sepertinya ksatria di wilayah kekuasaanku lebih baik.
Itu yang Ciel pikirkan sembari mengangguk puas.
Meski dia bisa saja langsung turun tepat di Kastil Jade Water, Ciel masih memiliki tata krama. Sebagai pemimpin wilayah sekaligus tamu, dia harus datang melapor lewat pintu depan.
“Siapa pemuda itu? Benar-benar menaiki seekor Wyvern?” tanya salah satu pejalan kaki dengan heran.
Dikarenakan Ciel turun di dekat tembok kota, dia menjadi pusat perhatian bagi ksatria yang berjaga, warga yang keluar untuk bekerja, serta pedagang yang datang ke Kota Jade Water.
“Itu adalah Pangeran Luciel. Sosok Pangeran yang selalu dianggap sampah, tetapi menyembunyikan kekuatannya lebih dari delapan tahun.” Pejalan kaki lain menjawab.
“Delapan tahun … aku tidak bisa membayangkan seorang anak kecil bisa menahan diri selama itu.”
“Apa yang coba kamu bandingkan? Jika kita bisa seperti itu, apa bedanya seorang bangsawan dengan rakyat seperti kita? Lagipula, Pangeran Luciel bukan hanya bangsawan, tetapi seorang jenius.” Pejalan kaki berkata dengan nada pemujaan.
“Apakah itu Pangeran Luciel yang dirumorkan?”
“Dia lebih muda daripada yang aku pikirkan.”
“Ya. Dia bahkan terlalu muda.”
“Aku dengar, Pangeran Luciel sebenarnya … sangat kejam.”
“Sangat kejam?” tanya seseorang dengan heran.
“Aku dengar dia membakar seisi kota … lengkap dengan penghuninya sebagai peringatan untuk orang-orang di wilayahnya!”
“...”
Semua orang memandang Ciel. Menyadari betapa mudanya dia tetapi begitu kejam, para pejalan kaki itu menghirup napas dingin. Tidak berani bertindak sembrono di depannya.
Sementara itu, Ciel yang mendengar setiap bisikan hanya bisa menampilkan ekspresi bosan. Namun, dirinya sebenarnya merasa agak bangga. Pemuda itu melihat Deschia lalu diam-diam berpikir.
Apakah ini rasanya mengendarai mobil sport lalu memamerkannya?
Ciel menggeleng ringan. Memikirkan pesta yang akan dia hadiri, suasana hati pemuda itu malah turun. Ciel bergumam kepada diri sendiri.
“Aku harap mereka, bocah-bocah manja itu … tidak berlebihan. Lagipula, aku terpaksa datang karena ibu menerima undangan itu. Benar-benar menyebalkan.”
>> Bersambung.
__ADS_1