
Meninggalkan pasangan yang Ciel anggap menjengkelkan itu, dia pergi menuju ke kandang. Sampai di sana, dia langsung menghampiri sosok yang begitu familiar.
Dalam kandang, terlihat sosok Black Wyvern yang tampak lesu. Melihat sosok Ciel yang muncul di depannya, makhluk itu langsung bangkit dan bergegas ke arah Ciel. Dengan tatapan sedih, Deschia menggosokkan kepalanya ke tubuh Ciel.
“Aku kembali. Apakah kamu merindukanku, Deschia?”
Wyvern hitam itu meraung sedih sambil terus menggosokkan kepalanya ke tubuh Ciel. Merasakan kesedihan Deschia yang merasa ditinggalkan, Ciel tersenyum lembut sambil mengelus kepala makhluk itu.
“Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Hanya saja, perjalanan ini cukup lama. Maafkan aku.”
Ciel sekali lagi mengelus kepala makhluk itu.
“Apakah kamu ingin berkeliling? Bagaimana kalau nanti. Aku harus beristirahat sebentar dan mengurus masalah ini.” Ciel berkata sambil menunjuk rambutnya yang berwarna perak.
Melihat Deschia mengangguk setuju, Ciel tersenyum. Dia menghabiskan waktu cukup lama bersama dengan Wyvern hitam itu sebelum kembali ke kamarnya.
Setelah diantar oleh pelayan kembali ke kamarnya, Ciel segera meminum potion untuk mengembalikan warna rambut serta iris matanya. Kemudian dia memilih beristirahat sebentar sebelum mandi dan berganti pakaian.
Memakai pakaian bangsawan yang tampak simple dan elegan berwarna hitam, tempramen Ciel kembali terlihat seperti biasanya. Dingin, tak acuh, dan terlihat memiliki aura pemalas di sekitarnya.
Tidak ingin mengecewakan Deschia yang telah menunggu dirinya lama sampai kehilangan banyak berat badan, Ciel segera mengeluarkan Wyvern hitam itu dari kandang. Keduanya akhirnya berkeliling, terbang di langit sekitar kota sambil memandangi wilayah yang tertutup oleh salju putih.
Sore harinya, Ciel dan Deschia kembali. Setelah mengembalikan Black wyvern itu ke kandang, dia menuju Kastil Flamehart. Ketika kembali, dia disambut gadis kecil berambut biru. Ya, dia adalah adik Zack, Rey Flamehart.
“Kemari …” Ciel berkata santai.
Tanpa banyak komentar, Rey kecil mendekati Ciel. Gadis kecil itu terkejut karena Ciel tiba-tiba memeluknya lembut. Setelah melepaskan pelukan, pemuda tampan itu mengelus kepala Rey.
“Bagaimana kabarmu, Rey? Apakah kamu sudah banyak berlatih dan belajar ketika Kak Ciel pergi?”
“En.” Gadis kecil itu membuka lebar tangannya. “Rey sudah banyak belajar. Rey gadis baik.”
“Bagus.” Ciel sekali lagi mengelus kepala gadis kecil itu, membuatnya terkekeh.
Menggandeng tangan Rey, Ciel kemudian memasuki kastil dan bertemu dengan pasangan Zack dan Vexia.
“Entah kenapa kamu membuatku merasa jengkel, Rivalku!”
__ADS_1
“Berhenti berteriak di dalam kastil, Kakak Bodoh!” Rey kecil menunjuk ke arah Zack sambil melotot. Bukannya tampak menyeramkan, dia malah tampak imut.
“...”
Sementara Zack tercengang, Ciel dan Vexia tersenyum sambil menahan tawa.
“Anu … Kak Zack ini kakak kandungmu yang keren. Sementara Kak Ciel itu adalah teman kakak. Jadi … bukankah kamu harus mendukung kakak, Rey?”
Rey kecil langsung menggeleng dengan ekspresi penuh kepastian.
“Kamu tidak boleh seperti itu, Rey. Meski terlihat seperti itu … dia adalah kakakmu. Jadi kamu harus menyayanginya, mengerti?” Ciel menasihati.
“Hey … apanya yang terlihat seperti itu? Aku itu-”
“En. Meski Kak Zack suka membuat masalah, ceroboh, sering bertindak tidak sopan di depan umum, dia masih kakakku. Jadi Rey harus menyayangi Kak Zack.”
Mengabaikan kata sayang terakhir, Zack merasa hatinya menerima panah tak terlihat berturut-turut ketika adiknya sendiri menganggapnya sebagai contoh buruk. Dengan ekspresi tertekan, dia menatap ke arah tunangannya.
“Apakah aku seperti yang mereka katakan, Sayang?”
“Jujur saja. Sebenarnya … kamu terlihat kurang bisa diandalkan, Sayang.”
“...”
“Awas saja nanti malam.”
Belum sempat Rey mendengar sesuatu, Ciel sudah menutup kedua telinga gadis kecil itu dengan tangannya.
Rey agak terkejut, tetapi tidak mencoba menghindar. Melihat ekspresi kakaknya, sekali lagi dia menunjuk ke arah Zack.
“Kak Zack buruk! Kak Zack memasang wajah buruk seperti itu! Kata Ibunda, ketika besar … aku tidak boleh dekat-dekat dengan lelaki yang mendekat dengan wajah seperti itu!”
“...”
Bukan hanya Zack, Ciel bahkan terdiam ketika mendengar itu. Menatap wajah stagnan Zack, dia merasa agak iba.
Terlihat keren tetapi suka menggoda wanita di tempat umum … ya, memang bukan tipe yang baik.
__ADS_1
Sebelum Ciel mengatakan sesuatu, Rey menarik tangannya.
“Ayo pergi dari sini, Kak Ciel!”
Ciel tersenyum minta maaf sebelum pergi meninggalkan keduanya. Melihat Ciel pergi, Zack tersenyum masam.
“Setelah membuat ayah dan ibu menjadi lebih keras kepadaku, sekarang Ciel merebut adikku.” Menoleh ke arah Vexia, dia mengedip. “Kamu akan selalu ada untukku dan mendukungku kan, Sayang?”
“Sebagai seorang istri, tentu aku akan setia dan mendukungmu. Hanya saja … itu … mungkin menjadi lebih tenang dan bermartabat akan membuatmu terlihat lebih baik, Sayang.”
“...”
Setelah pergi meninggalkan Zack dan Deschia, Ciel kemudian mengikuti Rey berkeliling. Gadis kecil itu mengajaknya berkeliling sambil berkicau dengan ekspresi bahagia. Dia bercerita tentang hal-hal yang mulai dia pelajari. Belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mendengar itu semua, Ciel hanya diam dengan senyum lembut di wajahnya.
Di mata Ciel, Rey mirip dengan adiknya Lilia. Mendengar kicauan gadis kecil itu, Ciel sama sekali tidak menyela. Dia paham kalau gadis kecil itu sedang menyampaikan keluh kesahnya dengan cara sendiri. Meski dunia anak kecil lebih polos, tetapi mereka juga memiliki masalah sendiri.
Masalah yang dimiliki anak kecil biasanya adalah kurangnya kasih sayang dan tekanan dari keluarga mereka sendiri. Orang tua memaksanya untuk mencerna apa yang tidak bisa dia cerna. Menyuruh seorang anak untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Menyiapkan sebuah jalan tanpa mencoba mengerti apa yang anak itu inginkan.
Meski demikian, orang tua juga sepenuhnya salah. Mereka ingin seorang anak berhasil. Mereka tidak ingin anak yang tersesat dalam kehidupan. Mereka ingin menyiapkan masa depan yang lebih cerah untuk keturunan mereka. Hanya saja … terkadang semua tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama.
Sebagai seorang kakak … orang terdekat selain orang tua. Sudah tugasnya untuk membimbing jalan adiknya dan mendengar keluh kesahnya. Lagipula … seorang kakak lahir lebih awal dan menapaki jalan yang lebih jauh. Jadi ketika adiknya tersesat dan bimbang, memberinya petunjuk tanpa mendorong berlebihan adalah apa yang bisa dia lakukan.
Seorang kakak lebih paham tentang apa yang diinginkan orang tua mereka daripada sang adik. Jadi … alangkah baiknya dia menjadi penengah dan jembatan bagi kedua sisi.
Bagi Ciel, Rey sudah dia anggap seperti adiknya sendiri meski baru dua kali bertemu. Selain mendengar keluhannya, dia tidak keberatan untuk memberi sedikit masukan.
Untuk Zack … Ciel berniat memberinya banyak nasihat di lain waktu.
Setelah mereka jalan-jalan, Rey dijemput oleh pelayan untuk rutinitas sorenya. Gadis kecil itu cemberut dan masih ingin bermain dengan Ciel, tetapi pemuda itu memberitahu dengan lembut kalau Rey tidak boleh menyusahkan pelayan yang melakukan tugasnya. Dia harus sedikit belajar untuk menghormati orang lain.
Melihat gadis kecil yang melambai dari kejauhan dan pelayan yang menatapnya dengan syukur, Ciel mengangkat sudut bibirnya.
Meski egois, Ciel sendiri menghormati orang lain. Namun dirinya memiliki pilihan hidupnya sendiri. Bisa dibilang … urusanmu adalah urusanmu, urusanku adalah urusanku. Tipe yang tidak ingin diatur dan tidak mau terlalu ikut campur. Ya .. kecuali terdesak.
Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan Kekaisaran Black Sun. Ya … biarkan kakak-kakak tersayang yang mengurusnya.
Begitulah cara Ciel meyakinkan dirinya. Lebih tepatnya, membuat alasan karena dirinya tidak mau mengerjakan banyak hal. Intinya … dia membuat banyak alasan karena malas.
__ADS_1
Duduk di gazebo pinggir danau, pemuda itu menikmati sore sambil memandangi danau dengan senyum lembut di wajahnya.
>> Bersambung.