
“Itu agak berlebihan, Kak Alex.”
Ciel menghela napas panjang. Dia terlihat agak pucat. Meski mengetahui saudara kandungnya itu tidak memiliki niat membunuh, jika Ciel tidak memiliki kemampuan, lehernya benar-benar akan terpotong.
“Aku hanya memastikan,” ucap Alexander sambil menyarungkan pedangnya.
“Bagaimana kalau aku benar-benar terpotong?” gumam Ciel.
“Berarti kamu seorang pembohong.” Alexander menggeleng ringan sebelum mendekati Ciel dan memeluknya sebentar. “Aku tahu kamu pemalas, tetapi bukan pembohong.”
“Terima kasih … aku rasa?” Ciel tampak bingung. Dia sebenarnya dipuji, tetapi batinnya merasa agak terhina.
“Bukankah kamu tidak sopan, Alex? Kamu benar-benar mengabaikan ibu dan adik perempuanmu.”
Ratu Lilith menghela napas panjang. Jika putra bungsunya adalah pemalas yang memilih menyembunyikan kemampuannya. Putra sulungnya adalah … pemuda dengan tempramen aneh.
Bisa dibilang, dari kedua putranya, tidak ada yang bisa diandalkan.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu, Ibu? Lilia?” Alexander memiringkan kepalanya.
“Aku tidak menyangka kamu akrab dengan Ciel kecil.”
“Tentu saja aku baik. Lagipula, dia akan menggantikanku memikul tanggung jawab.”
Memikul tanggung jawab? Apa-apaan itu? Kenapa aku belum mendengarnya!
Ciel berseru dalam hati. Pemuda itu kemudian menatap ibunya untuk mengkonfirmasi.
“Mari kita masuk. Setelah Julia tiba, kita akan membahasnya.”
“...”
Ciel terdiam di tempat ketika melihat ibu dan adik perempuannya masuk ke dalam istana. Dia langsung menoleh ke arah saudara lelakinya.
“Ah! Aku lupa. Seharusnya kamu mengenalnya. Tunanganku, Leona Flamehart.”
“Kenapa kamu membawa orang luar … tunggu sebentar! Flamehart? Flamehart yang itu?”
“Kalau bukan yang itu, yang mana lagi? Leona adalah saudari perempuan sahabatmu-”
“Aku tidak bersahabat dengannya.”
Ciel menyela. Mengingat seseorang yang merepotkan, dia mulai sakit kepala. Ketika orang itu berkunjung di istana, tiada hari yang tenang sama sekali.
__ADS_1
Jelas … dia bukan sahabatku!
“Lupakan. Intinya, kami akan menikah pada musim gugur. Jadi mulai sekarang Leona akan sering berkunjung.”
“Senang bertemu dengan anda, Pangeran Luciel. Tidak menyangka, apa yang dikatakan adik saya itu ternyata kebenaran.”
Wanita berambut merah itu menunduk sopan ketika menyapa. Ciel segera membalas sopan sebelum menjawab, “Dia pasti melebih-lebihkan diriku … lagi.”
“Leona … Aku dan Ciel harus segera pergi. Kamu tunggu di ruang tamu dan jangan kemana-mana.” Alexander menyela.
“Baik, Sayang.”
Alexander mengangguk ringan sebelum menyeret Ciel pergi menuju ruang rapat keluarga.
Dalam perjalanan, Ciel tidak bisa tidak bertanya, “Kamu benar-benar akan segera menikah, Kak Alex?”
“Benar. Bukankah itu wajar? Lagipula, aku sudah berusia 20 tahun.”
“Meski Pangeran ke-3 belum menikah?” tanya Ciel.
“Orang itu …” Alexander menggeleng kepala. “Otak otot sepertinya tidak akan mengerti tentang cinta.”
Cinta? Serius? Kamu benar-benar mengatakan cinta, Kak Alex?
“Kenapa kamu menatapku dengan ekspresi seperti itu?”
“Tidak apa-apa.” Hanya kalimat singkat itu yang bisa terucap dari mulut Ciel.
Mereka akhirnya memasuki sebuah ruangan luas dengan sebuah meja lebar dan beberapa kursi yang tertata rapi di sisi tertentu. Di sana telah duduk ibu serta adik perempuan mereka yang paling muda.
Ciel akhirnya duduk di kursinya sendiri dengan ekspresi malas dan bosan. Meski sudah beberapa kali mengikuti apa yang disebut ‘rapat keluarga’, dirinya sendiri sama sekali tidak ada hubungannya. Biasanya rapat akan diadakan untuk memutuskan kepentingan Alexander atau Julia. Pernah juga rapat sekali untuk menentukan perkembangan Lilia.
Sedangkan Ciel … tidak pernah. Dia selalu bertindak sebagai tokoh pajangan.
Tidak lama kemudian, sosok gadis berusia sekitar 17 atau 18 tahun memasuki ruangan. Dia memiliki penampilan seperti kaisar dengan rambut hitam legam ditambah iris merah bak rubi. Gadis itu memiliki penampilan yang serius di wajahnya. Bahkan jika dilihat sekilas, gadis itu jelas tipe orang yang sulit untuk diajak bercanda.
“Maafkan keterlambatan saya, Ibunda.” Julia berkata sopan. Dia kemudian langsung menatap ke arah Ciel dengan ekspresi serius. Hal itu membuat si Pangeran Sampah tercengang.
Kenapa kamu menatapku dengan ekspresi seperti itu, Kak? Kenapa aku merasa dirimu ingin memakanku? Apa-apaan ini!
“Duduk,” ucap Ratu Lilith singkat.
Ketika Ratu Lilith melihat keempat anakya duduk, dia mengangguk.
__ADS_1
“Karena ini agak pribadi, mari kita mulai rapatnya sebelum Yang Mulia Kaisar datang.”
“...”
Ciel beserta saudara-saudarinya saling memandang dalam diam.
“Yang pertama … Ini permasalahan pernikahan Alexander yang akan diadakan bulan ke-2 musim gugur. Seperti yang kalian ketahui, dia akan menikahi Leona Flamehart, putri pertama Duke Utara,” ucap ratu Lilith.
Hmmm … Kalian yang mengetahuinya, bukan aku.
Ciel mengerutkan kening, merasa kalau dirinya sendiri terlihat konyol karena kurangnya informasi.
“Karena tidak ada masalah tentang Keluarga Flamehart, ditambah keduanya juga cocok … aku rasa hal ini sudah diputuskan.” Ratu Lilith menambahkan.
“Selamat, Kak Alex!” ucap Lilia dengan senyum tulus.
“Selamat, Kak Alexander.” Julia mengangguk sopan.
Ciel menatap kakaknya lalu menghela napas panjang. Dia berkata, “Selamat, Kak Alex. Aku harap hubungan kalian kekal dalam keabadian. Aku juga berharap kalian selalu bahagia.”
Melihat semuanya, Alexander mengangguk. “Terima kasih, Semuanya.”
“Berikutnya … Ini adalah usulan dari Alexander sendiri dan aku juga telah memikirkannya.” Ratu Lilith kembali membuka pembicaraan.
“...”
Semua orang mulai kembali fokus terhadap ucapan wanita itu.
“Ini masalah yang cukup sensitif. Sebenarnya … Alexander mengusulkan Ciel untuk menggantikannya dalam posisi perebutan gelar Putra Mahkota.”
Mendengar itu, Julia dan Lilia langsung menatap ke arah Ciel dengan ekspresi takjub. Sementara itu, si Pangeran Sampah tampak tertegun. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi di sini.
“Aku tahu para adik mempertanyakan kenapa aku ingin menyerahkan posisi ini kepada Ciel.
Sebenarnya itu sangat sederhana. Ciel adalah sosok berbakat sejati. Bahkan di usia 15 tahun … dirinya telah mencapai level 5 (menengah) yang bahkan lebih tinggi dariku. Aku sendiri menyadarinya dan merasa dirinya lebih cocok untuk memimpin Kekaisaran Black Sun daripada diriku.”
Setelah mengatakan itu, Alexander memejamkan matanya dengan ekspresi lega.
Pada saat itu, Ciel akhirnya sadar. Kakak lelakinya yang jahat ternyata memberi pelukan singkat sebagai rasa terima kasih. Orang itu jelas tertekan karena perebutan kursi Putra Mahkota. Karena itu, Alexander melemparkan tanggung jawab kepadanya.
Ciel benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dirinya hanya bisa berseru dalam hati.
Kakak sialan! Berhenti melemparkan tanggung jawab dan harapan orang-orang kepadaku!
__ADS_1
>> Bersambung.