Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Aku Tidak Peduli


__ADS_3

“APAKAH KAMU TAHU SIAPA KAMI?!”


“Bandit.” Ciel menjawab dengan nada tak acuh.


“Sialan! Kamu tahu kalau kami adalah utusan dari Kerajaan Black Star tetapi berpura-pura bodoh!”


Melihat pemimpin bandit yang sudah termakan emosi, Ciel menggeleng ringan.


“Apakah kamu bodoh?” Ciel berkata sambil memandang rendah orang itu.


“Sial! Beraninya-”


“Tidak ada gunanya.” Ciel berkata dingin. “Bahkan jika kalian adalah ksatria elite di bawah Pangeran ke-2 Kerajaan Black Star, kalian telah menyusup ke dalam kekaisaran ini.”


“Itu-”


“Jika berita itu bocor. Bahkan Raja kalian akan mengorbankan kalian untuk menenangkan kemarahan Yang Mulia Kaisar.”


Memang yang dikatakan Ciel benar. Bahkan jika mereka memang ksatria dari kerajaan tetangga. Jika masuk tanpa sepengetahuan, itu bisa dianggap sebagai penyusupan. Apalagi sebuah percobaan pembunuhan Pangeran. Itu bisa memicu terjadinya perang.


“Sebenarnya aku bisa menangkap kalian dan meminta keterangan dari Kerajaan Black Star. Namun untuk memberi wajah pada Ariana dan mencegah nyawa terbuang sia-sia dalam perang … hal seperti itu tidak diperlukan.” Ciel menambahkan.


“Jangan kira hanya karena kamu kuat, kamu bisa menang, Bocah!” seru pemimpin bandit yang geram.


Ciel melihat orang-orang yang tersisa. Karena jalan mundur mereka telah tertutup, orang-orang itu terlihat ganas. Seperti binatang yang terpojok, mereka akan menggunakan segenap kemampuan mereka untuk bertahan.


Bukannya takut, Ciel malah mengangkat sudut bibirnya. Pemuda itu menepuk lembut punggung Deschia, menyuruhnya untuk turun. Dia ingin mencoba melakukan sesuatu.


Karena jarak dengan tanah tidak terlalu tinggi, Ciel langsung melompat. Menginjakkan kaki di tanah yang membeku, tanpa ragu dia langsung menarik pedang di sisi kiri pinggangnya.


“Membuat kalian mati tanpa bisa mendekat itu membosankan, bukan? Sekarang aku memberi kesempatan … kalian semua, maju dan serang aku!” teriak Ciel.


Api hitam langsung membungkus pedang Ciel. Bukan hanya itu, lapisan tipis aura ungu juga membungkus seluruh tubuhnya.


“Beraninya kamu menghina kami!” salah satu bandit yang menggunakan tombak langsung berlari ke arah Ciel dengan ekspresi marah.


“Jangan ceroboh! Tunggu-”


Sebelum pemimpin bandit itu menyelesaikan ucapannya, Ciel tiba-tiba menghilang dan muncul beberapa meter di belakang bandit pemegang tombak. Sebuah garis muncul di leher si pemegang tombak sebelum kepalanya berguling.

__ADS_1


Betapa bodohnya aku. Kenapa aku baru sadar … sihir gravitasi bisa digunakan dengan cara seperti ini.


Ciel tersenyum. Dia melapisi tubuhnya dengan sihir gravitasi. Namun bukan untuk membuatnya berat, tetapi kebalikannya … membuat tubuhnya lebih ringan. Gerakannya bahkan hampir setara ketika pemuda itu menggunakan sayapnya.


Jika menggunakan sayap dan sihir gravitasi …


Membayangkan itu saja membuat Ciel merinding. Pemuda itu tiba-tiba kembali menghilang dari tempatnya. Suara daging yang terpotong disertai jeritan terdengar kemudian.


“Tidak! Tidak! Jangan kemari … Ah!” Seorang bandit menjerit ketika tangan kanannya yang memegang pedang tiba-tiba terpotong dan jatuh ke tanah.


“Kakiku! Ah! Kakiku!” teriak seorang bandit yang berguling di atas tanah sambil memegangi pahanya. Bagian bawah kakinya telah terputus tanpa sepengetahuannya.


“Ah! Tidak! Tolong ampuni aku … tolong!” Bandit lain menjerit ngeri melihat tubuhnya terpotong menjadi dua secara horizontal di bagian perut.


Pemimpin bandit mengawasi sekitar sambil menggertakkan gigi. Pria itu sangat waspada, tetapi bukannya menyerang dirinya, Ciel malah memotong satu demi satu anak buahnya tepat di depan mata orang itu.


“ARGHHH!!!” Pemimpin bandit berteriak keras, terlihat gila. “Tunjukkan dirimu, Keparat!”


Bukannya muncul, suara teriakan dari para bandit yang kehilangan anggota tubuhnya menggema di telinga orang itu. Seolah mimpi buruk berkelanjutan, dia marah dan mencoba menyelamatkan anak buahnya. Namun … dia tidak berdaya. Satu per satu, akhirnya kepala para bandit terpisah dari tubuhnya.


“SIAL! SIAL! SIAL! SERANG AKU! BUNUH AKU, KEPARAT!!!” Raungan gila yang memilukan bergema di hutan.


Pada saat itu, sosok Ciel muncul di antara potongan-potongan daging. Tidak peduli dengan apa yang dia injak, pemuda itu mendongak melihat langit.


Ciel menoleh ke arah pemimpin bandit. Bukannya wajah tenang seperti biasa, terlihat seorang pemuda dengan wajah tampan dan bersemangat. Dia tersenyum lebar. Senyumannya bahkan terlihat menyeramkan. Iris matanya juga memancarkan kilau yang tidak menyenangkan.


“PSIKOPAT BAJING-”


Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Pemimpin bandit itu merasakan sakit di wajahnya. Ciel benar-benar langsung menendang wajahnya sampai dirinya berguling beberapa kali. Merasakan darah anak buahnya dari sepatu Ciel yang masuk ke mulutnya, dia tampak semakin gila.


Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, rasa sakit datang menerpanya. Satu rasa sakit belum selesai, rasa sakit lain menyusul. Tangan dan kakinya tiba-tiba menghilang begitu saja.


Awalnya pemimpin bandit marah, tetapi pikirannya menjadi sadar dan dirinya menjadi ketakutan. Sebuah fakta terlihat di depannya. Sosok yang dianggap sebagai sampah tidak berguna … orang itu bahkan lebih sinting daripada Pangeran ke-2 di Kerajaan Black Star.


“Ampuni-”


Belum selesai mengatakan permohonan, orang itu merasakan pedang tajam dan panas menembus tenggorokannya.


Membunuh semua orang, tubuh Ciel tiba-tiba gemetar. Dia jatuh berlutut sambil menutupi wajah dengan tangannya.

__ADS_1


“Sial! Ini mengerikan. Ini menjijikkan. Aku tidak bisa memperlihatkan sisi ini kepada mereka,” gumam Ciel.


Pada saat itu, bayangan Ciel yang tampak biasa saja tiba-tiba meluas dan menggeliat seolah hidup. Bayangan pemuda itu membentuk sebuah makhluk abstrak dengan banyak mulut yang dipenuhi taring tajam.


Kemudian … pemandangan luar biasa terlihat di dalam hutan. Bayangan Ciel itu semakin meluas dan mulai ‘makan’. Satu per satu tubuh yang telah menjadi patung es sampai potongan daging terkecil ... hal-hal itu benar-benar disapu bersih.


Dalam hutan … di atas tanah luas yang membeku. Tampak Ciel yang berlutut seorang diri.


Ciel tiba-tiba bangkit, ekspresinya menjadi bosan dan tampak biasa saja seolah tidak pernah terjadi pembantaian kejam sebelumnya. Pemuda itu mengambil pedang yang tertancap di tanah sebelum berjalan ke arah tertentu.


Dari semak-semak yang Ciel tuju, terdengar suara sesuatu yang jatuh. Pada saat dirinya mendekat, pemuda itu melihat seorang ksatria yang menggigil sambil menatapnya dengan ekspresi ketakutan.


“Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Namun, kamu telah melihat apa yang seharusnya tidak dilihat …”


Ksatria yang ikut mengantar Ciel itu terus menggeleng ketakutan. Dia tidak bisa berbicara, tetapi jelas ingin bersumpah untuk merahasiakan apa yang dilihatnya.


“Rahasia, kah?” gumam Ciel dengan ekspresi menyesal. “Bagiku, orang yang paling bisa menjaga rahasia adalah … orang mati.”


... ***...


Di kemah yang didirikan, para ksatria tampak khawatir. Sedangkan Ariana yang mengenal kekuatan Ciel tampak begitu tenang.


Beberapa saat kemudian, sosok Wyvern turun dari langit dengan seorang pemuda yang menaiki punggungnya.


Turun dari Wyvern, Ciel terlihat dengan ekspresi seperti biasa.


“Apakah anda tidak apa-apa, Tuanku?” tanya pemimpin ksatria.


“Tidak apa-apa, tapi …” Ciel tampak menyesal. “Karena aku menggunakan sihir tingkat tinggi dalam pertarungan tadi. Bawahanmu yang mengawasiku …”


“Ugh!” Pemimpin ksatria tampak pahit. “Itu bukan salah anda, Tuan. Meski anda sudah memberitahu kami untuk menunggu dan bersiap jika ada sesuatu yang terjadi, saya malah menyuruhnya untuk mengamati situasi. Kematian pemuda itu … adalah salahku.”


Ciel menghela napas panjang. “Kalau begitu segera beristirahat, kita akan melanjutkan perjalanan besok pagi.”


“Baik, Tuan!” seru para ksatria serempak.


Ciel kemudian segera masuk ke dalam tendanya. Dia tampak begitu tenang.


Bagaimana jika itu dari kerajaan lain atau kekaisaran yang sama?

__ADS_1


Selama itu masuk kategori ‘musuh’ … nyawa itu … aku tidak peduli.


>> Bersambung.


__ADS_2