
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja.
Ciel dan rombongannya telah pergi meninggalkan Kota Crimson menuju pusat pemerintahan South Duchy, tempat Keluarga Flamehart berada.
Setelah perjalan lancar melewati kota demi kota dengan kereta kuda, Ciel dan lainnya melihat tembok kota yang familiar. Melihat sebuah kota besar yang ditutupi oleh warna putih, senyum lembut muncul di wajah Ciel.
Melakukan perjalanan dan merasakan kehidupan … tidak buruk juga.
Kalimat itu terlintas dalam benak Ciel. Pemuda itu merasa kalau melihat luas dan indahnya dunia cukup menyenangkan. Bahkan menggerakkan hatinya. Hanya saja, dia tidak terlalu menyukai bahaya dalam dunia yang tidak memiliki kepastian.
Cari saja tempat indah yang aman dan tidak berbahaya.
Tanpa Ciel sadari mereka sudah sampai tujuan. Ciel kemudian mengajak yang lainnya menuju Kastil Flamehart. Melihat kastil berwarna merah yang begitu mencolok, dia tersenyum pahit. Entah kenapa … pemuda itu memiliki firasat buruk.
Pada saat Ciel dan rombongan sampai di depan kastil, gerbang tiba-tiba terbuka. Sosok pemuda dengan pakaian merah, jubah merah, bahkan rambut merah menyala muncul di depan semua orang.
“HAHAHA! Akhirnya kamu tiba juga-” Ekspresi Zack tiba-tiba stagnan. “Ada apa dengan rambutmu? Musim dingin membekukanmu? Itu pasti karena kurang olahraga.”
Mendengar Zack yang mulai mengoceh, sudut bibir Ciel bergerak-gerak. Tidak menyangka kalau sahabatnya itu masih begitu bodoh.
“Aku mewarnainya,” ucap Ciel. “Bisakah kamu mengatur tempat untuk mereka?”
“Oh. Ternyata kamu membawa banyak orang! Itu mudah! Biarkan mereka mengikuti pelayan.”
“Terima kasih atas keramahan anda, Tuan Muda Zack!” Orang-orang yang Ciel bawa langsung memberi hormat sambil membungkuk sopan.
“HAHAHA! Sama sekali bukan masalah. Kalian ikuti pelayan dulu, aku ingin berbicara dengan …” Melihat Ciel menatapnya dengan dingin, Zack menelan saliva. “Temanku ini.”
Ciel merasakan pakaiannya ditarik. Menoleh ke belakang, dia melihat Vahn dan Aiz yang menatapnya dengan ekspresi ragu. Dengan senyum lembut di wajahnya, pemuda itu mengelus kepala keduanya.
“Tidak apa-apa. Kalian ikuti pelayan dan beristirahat, ada yang harus aku lakukan terlebih dahulu.”
“B-Baik, Tuan.”
Ciel menatap ke arah Ryo. Melihat orang itu mengangguk, dia merasa agak lega. Setelah orang-orang yang datang bersama dengan Ciel pergi bersama para pelayan, ekspresi Ciel menjadi serius.
Zack juga berhenti tertawa. Memasang ekspresi serius, dia berkata, “Ayah ingin menemuimu.”
“Baik.”
Masuk ke ruang tamu Kastil Flamehart, Ciel melihat Duke Flamehart dan istrinya yang telah menunggu di sana.
“Maaf memanggilmu secara langsung tanpa membiarkanmu beristirahat terlebih dahulu, Pangeran Ciel.”
“Tidak perlu sungkan, Paman.” Ciel berkata dengan santai.
__ADS_1
“Putra tidak berbakti, berlutut untukku di sini sekarang!” Duke Flamehart berteriak marah ketika melihat Zack yang terlihat seenaknya.
“Aku?”
Zack menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tertegun. Melihat ekspresi ayahnya yang suram, pemuda itu tahu kalau dirinya sedang dalam masalah. Pada akhirnya, dia memilih untuk menurut dan berlutut di lantai.
“Apakah kamu masih berpikir tiba-tiba sembuh secara ajaib?”
“...”
Zack memikirkan sesuatu. Setelah memandang penampilan aneh Ciel, dia merasa ada sesuatu yang salah. Baru ketika dia berpikir keras dan menyatukan semua puzzle, ekspresi heran dan terkejut tampak di wajahnya.
“Jangan bilang …”
“Ya. Pangeran Ciel menyusup ke Kerajaan Blood Diamond untuk menemukan orang yang menyerangmu.”
“...” Zack tiba-tiba tersedak. Air mata terlihat di wajahnya. Namun ketika menyadari sesuatu, dia langsung menatap ayahnya. “Kamu tahu yang Ciel lakukan, Pak Tua! Kenapa kamu tidak menghentikannya! Bagaimana jika-”
“Aku yang memaksa diri sendiri untuk pergi.”
“Ciel … kamu …” Mendengar perjuangan Ciel, Zack terisak.
“Sebagai Duke, aku juga memiliki penilaian. Dengan kekuatan yang luar biasa, Pangeran Ciel bisa dianggap aman. Selain itu … Pangeran Ciel tidak seperti bocah konyol yang pergi membabi buta lalu dengan bodohnya tertangkap dan membuat banyak orang cemas.” Duke Flamehart mendengus dingin.
Zack langsung merasa panah tidak terlihat menancap di jantungnya. Dia melihat ibunya untuk meminta dukungan, tapi …
“Ugh!”
Zack sekali lagi menerima panah tak terlihat. Pemuda itu langsung menoleh ke arah sahabatnya. Namun Ciel mengabaikannya. Bahkan tidak membuka mulut atau menatapnya.
“...”
Mengabaikan Zack yang terdiam, Duke Flamehart menatap Ciel lalu membungkuk sopan.
“Terima kasih atas bantuanmu, Pangeran Ciel. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap Keluarga Flamehart jika kamu tidak membantu.”
Tidak hanya Duke Flamehart, istrinya juga membungkuk sopan. Ciel yang melihat itu langsung membuka mulutnya.
“Itu sudah tanggung jawabku, Paman. Selain karena Zack adalah sahabatku, awalnya semua ini terjadi karena penolakan Kak Julia. Namun aku juga tidak setuju jika Kak Julia harus menikahi orang itu.”
“Tetap saja …”
“Tidak perlu sungkan, Paman. Bukankah kita masih bisa dianggap keluarga? Jika anda benar-benar merasa berhutang budi, makan perlakukan saja Kak Alexander dengan baik.”
“...”
__ADS_1
Melihat ke sosok pemuda yang sangat tampan, berbakat, dan begitu berbakti … lalu memandang ke arah putranya, Duke Flamehart merasa agak tidak puas. Diam-diam pria itu memutuskan untuk mendidik putranya itu dengan lebih baik.
Ya … tanpa Ciel sadari, dia telah menggali lubang dalam untuk mengubur Zack dalam penderitaan karena pelajaran dari Duke Flamehart.
“Anda harus berhati-hati, Pangeran Ciel. Menurut berita yang aku dengar, Pangeran Fenton adalah sosok pendendam. Melihat kamu membunuh bawahannya, dia pasti akan mencarimu.”
“Uhuk! Masalah itu … aku telah menyamar sebagai tentara bayaran bersama dengan Ryo. Orang di perbatasan akan mengenal kami sebagai Gin dan Xan. Sementara masalah Fenton …
Ya … kami membunuhnya.”
“...”
Zack beserta kedua orang tuanya langsung terdiam. Mereka tidak menyangka kalau pemuda yang tampak malas untuk bergerak itu sebenarnya sangat ganas.
“Jadi seperti ini …”
Ciel mulai bercerita. Tentu saja juga menutupi beberapa masalah yang tidak perlu dalam perjalanannya.
Setelah mendengar seluruh cerita, ruangan semakin sunyi. Duke Flamehart bahkan menatap Ciel dengan ekspresi rumit.
Menyamar untuk masuk ke kerajaan musuh, tidak hanya membunuh barisan ksatria kuat, dia juga membunuh seorang pangeran yang mungkin mewarisi tahta. Pemuda itu bahkan memperbudak ketua kasim yang dilatih dengan banyak waktu dan uang oleh Kerajaan Blood Diamond. Selain itu … dia bahkan masih merampok uang dari pangeran lainnya.
Mendengar bagaimana Ciel berbicara tentang merusak bagian dalam sebuah kerajaan seolah dirinya pulang dari perjalanan pariwisata membuat Duke Flamehart bingung harus berkomentar bagaimana.
Setelah itu, Ciel dan Zack pergi meninggalkan ruangan. Pada saat mereka berjalan bersama, sosok wanita pendek dan cantik menghampiri mereka. Ya, dia adalah tunangan Zack, Vexia.
“Senang berjumpa dengan anda, Pangeran Luciel.”
“En.” Ciel mengangguk santai.
“Kamu tidak terkejut melihat penampilan Ciel dan apa yang dia lakukan?”
“Bukankah itu sudah bisa diduga, Sayang. Tidak mungkin anda sembuh secara tiba-tiba, kan?”
“...”
Merasa kalau dirinya menjadi terlalu bodoh, Zack merasa tertekan. Dia kemudian memelototi Vexia.
“Sepertinya kamu harus dihukum malam ini.”
Mendengar ucapan Zack, Vexia langsung tersipu malu. Sementara itu, ekspresi Ciel langsung stagnan.
Sungguh? Kalian membicarakan hal semacam itu di depan umum? Malu!
Melihat pasangan mesra itu, sudut bibir Ciel berkedut. Dia mulai merindukan tunangan dan calon selirnya.
__ADS_1
Di sini sangat menyebalkan … lebih baik aku pulang saja.
>> Bersambung.