Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Batch Pertama dan Pergi


__ADS_3

Malam harinya, Ciel dihampiri oleh Camellia. Sejak kedatangan Zack, gadis itu sedikit menjaga jarak dari Ciel dan sibuk mengurus pembuatan potion.


“Saya datang untuk melapor, Tuanku.”


“Masuk.”


Masuk ke dalam kamar, Camellia segera menutup pintu lalu menghampiri Ciel yang duduk di tepi tempat tidur. Gadis itu duduk di sampingnya lalu menyandarkan kepala ke bahunya.


“Apakah ada berita bagus?” tanya Ciel.


“Iya,” ucap Camellia yang memejamkan matanya. “Batch pertama potion selesai.”


“Hmmm? Satu hari lebih awal dari jadwal?”


“Memang. Mereka bekerja keras untuk membalas kebaikanmu, Tuanku. Khususnya Tania.”


“Tania … dia memiliki bakat yang baik dalam pembuatan potion.” Ciel mengangguk.


Dalam sehari, para Alkemis baru termasuk Tania menghasilkan 10 potion per orang. Jika ditotal, sehari 20 orang menghasilkan minimal 200 potion. Dalam dua minggu berarti 200 x 14 … 2800 botol potion. Itu jumlah minimum yang didapat.


Tidak seperti divisi bayangan, Ciel tidak membuat semua orang dalam divisi normal mendapat potion. Dalam dua minggu sekali, 2500 orang terbaik dipilih untuk diberi potion.


Jika dibagi, 1000 orang divisi Striker, 1000 orang divisi Guardian, dan 500 orang divisi Watcher. Hal itu membuat mereka bersaing untuk posisi yang lebih baik agar menerima potion, hal yang mampu membuat mereka semakin kuat dengan sedikit lebih cepat.


Jadi, Ciel membutuhkan 2500 potion setiap dua minggu. Sisa 300 potion atau lebih, selain 40 potion yang Ciel berikan pada alkemis untuk konsumsi tiap minggu, dia berencana menjualnya. Hasil penjualan bisa digunakan untuk membesarkan para Alkemis. Memberi mereka peningkatan meski hanya bekerja di ruang obat dan jarang bertempur di luar.


Meski jarang keluar, kekuatan pribadi itu penting. Selain mencegah berbagai macam hal yang mungkin terjadi, lebih kuat berarti bisa meningkatkan efisiensi pembuatan potion.


“Kelihatannya kamu sangat menyukai Tania,” tambah Ciel sembari memandang Camellia yang memeluk tangannya.


“Begitulah.” Camellia sedikit mengangguk. “Lagipula, kami berdua Dhampir. Belum lagi … sebenarnya saya pernah ingin memiliki saudara atau saudari. Bagi saya, Tania sudah seperti seorang adik.”


“Aku tidak menyangka kamu memiliki pemikiran seperti itu.”


“Mungkin hal semacam itu yang dipikirkan para yatim piatu seperti saya,” ucap Camellia.


“Kamu memiliki aku dan yang lainnya … kamu tidak sendiri, Camellia.”


“Itulah yang saya syukuri, Tuan. Saya sangat bersyukur anda telah membeli saya di hari itu. Jika tidak, mungkin saya akan berakhir di ruang gelap dan sempit sebagai peliharaan orang-orang itu.” Camellia berkata dengan tenang. Namun Ciel bisa merasakan rasa syukur serta kebencian dalam setiap ucapannya.


“Kelihatannya kamu masih sangat membenci bangsawan.” Ciel menggeleng ringan.

__ADS_1


“Bukan hanya saya, hampir kebanyakan rakyat biasa membenci bangsawan, Tuan. Namun kami semua tidak berdaya untuk menghadapi kekuatan bangsawan dan hanya bisa pasrah. Lagipula … tidak banyak bangsawan yang baik seperti anda.”


“Bagaimana menurutmu tentang Zack? Dia juga memperlakukan semua orang dengan sama. Dia bahkan selalu optimis serta berpikiran positif.” Ciel melirik Camellia.


“Dia memang masuk kategori baik, Tuan. Hanya saja, menurut saya … Tuan muda dari Keluarga Flamehart itu hanya bodoh.”


Dalam kamarnya, Zack tiba-tiba bersin. Pemuda itu langsung menoleh ke kiri dan kanan dengan curiga. Melihat jendela yang masih terbuka, dia berseru, “Ah! Jadi karena itu.”


Sementara itu, Ciel yang melihat kejujuran Camellia tersenyum. Tangan kanannya memeluk pinggang gadis itu sementara tangan kiri memegang dagunya. Ciel kemudian memberi kecupan lembut di bibir Camellia.


“Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Meski Zack seperti itu, dia baik dan tidak bersembunyi dalam topeng seperti bangsawan lainnya. Itu alasan aku menganggapnya sebagai teman.”


Dengan wajah merah dan ekspresi mabuk, Camellia mengangguk dalam diam. Dia kemudian mendongak sambil memejamkan mata, memberi isyarat kepada Ciel untuk memberi lebih.


Setelah pelukan hangat dan beberapa kecupan lembut, Camellia sekali lagi bersandar pada dada Ciel dengan wajah puas.


“Ngomong-ngomong … kapan anda juga menerima saudari Elena, Tuan?” tanya Camellia.


Ciel memiringkan kepalanya, memandang Camellia dengan bingung. “Saudari Elena?”


“Benar. Saya yakin kalau anda juga memilihnya, Tuan. Apakah saya salah?” tanya Camellia.


“Kamu … gadis kecil.” Ciel menggeleng ringan. “Biarkan waktu yang menjawabnya.”


“Sudah. Aku punya tugas untukmu.” Ciel menepuk kepala Camellia. “Besok kamu dan Elena akan membagikan potion sambil memberi para prajurit pengumuman. Dua minggu sekali, mereka akan dievaluasi, setiap divisi memiliki slot terbatas untuk pembagian potion.”


“Saya mengerti, Tuan.”


“Sudah larut. Kembalilah lebih dulu.”


“Tapi saya masih ingin bersama dengan anda, Tuan.”


“Untuk sekarang, aku masih membatasi apa yang dilakukan dalam hubungan. Banyak yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin dan tidak memiliki minat untuk melakukan hal yang berlebihan.”


Mendengar omelan Ciel, Camellia agak tidak senang. Namun dia masih menurut. Lagipula, Ciel terlalu rasional dan selalu mengetahui apa yang harus atau tidak dilakukan.


Camellia memberi kecupan lembut di pipi Ciel sebelum berdiri dan merapikan pakaiannya. Gadis itu membungkuk sopan sebelum berkata, “Kalau begitu saya pergi dulu, Tuan.”


Ciel mengangguk sebagai tanggapan.


Setelah melihat Camellia pergi, dia menghela napas panjang.

__ADS_1


“Apakah sebegitu menariknya menonton dalam bayangan, Isabella?”


“Itu sangat menarik, Tuan. Bahkan membuat budak ini sedikit bersemangat.”


Suara wanita yang elegan sekaligus manja terdengar dari kegelapan. Mendengar itu, Ciel menggeleng ringan.


“Kamu tahu aku tidak akan melakukannya kepadamu, kan?”


“...”


Ruangan menjadi sunyi. Setelah beberapa saat, suara kembali terdengar.


“Budak ini tidak akan menyerah, Tuanku. Kelak anda akan mengerti kesungguhan budak ini.”


Setelah kalimat itu terdengar, Ciel merasakan sosok Isabella yang meninggalkan ruangan. Pemuda itu hanya bisa menghela napas panjang. Dia bergumam dalam hati.


Mungkin jika kamu bisa membedakan apa yang dimaksud cinta dan obsesi … aku akan memperlakukanmu dengan berbeda.


...***...


Dua hari kemudian.


Ciel, Zack, dan rombongan ksatria yang datang bersama mereka telah bersiap. Karena mereka akan pergi ke pesta pernikahan Pangeran ke-4 sekaligus kakak Ciel, Alexander Dawnbringer, Ariana juga ikut bersama Ciel. Lagipula, dia adalah tunangan Ciel.


Ciel dan Ariana berada dalam gerbong yang sama. Karena Camellia dan lainnya memiliki tugas yang harus dilakukan, Flora dan Fiona ikut pergi bersama mereka. Keduanya juga dalam gerbong kereta yang sama.


Sementara itu, Deschia terbang di atas awan sambil mengawasi sekitar. Dan Zack … dia memilih untuk menaiki tunggangannya sendiri.


“Apakah kamu siap, Rivalku?” tanya Zack yang menaiki tunggangannya.


“Tidak, tetapi mau bagaimana lagi … ini pesta pernikahan kakakku sendiri.”


“Kenapa kamu tampak lesu, Rivalku? Perjalanan ini pasti menyenangkan!”


Menyenangkan kepalamu! Jika kamu dan para ksatria tidak datang … aku akan pergi sendiri bersama Deschia!


Selain lebih cepat, itu lebih bebas!


Ciel menghela napas panjang. Dia melirik Ariana, Putri Boneka sekaligus tunangannya. Dua pelayan kembar yang mengikutinya. Lalu Ciel melirik ke arah Zack.


Pemuda itu menghela napas panjang.

__ADS_1


Orang-orang yang tidak bisa diharapkan. Dalam perjalanan ini … sepertinya aku akan berperan menjadi pengasuh bayi.


>> Bersambung.


__ADS_2